Godaddy Coupon $1.99

Lama nggak update blog ni, lagi sibuk ngobyek offline soalnya
Kalau ndak ada kabar baek perihal godaddy coupon $1.99, belum tentu juga saya bikin postingan baru, haha!
Back to subject, yang lagi pada ngincar domain murah buruan deh. Mau daftarkan .com, .net, .org atau sekian jenis TLD yang lain hanya kena $1.99 plus $0.20 untuk biaya ICANN. Jadi totalnya $2.17. Lumayan banget, wong biasanya memanfaatkan kupon-kupon promo yang beredar, paling banter saya dapet harga diskon $7.17. Itu sudah yang paling murah.
Tapii, ada tapinya ni. Promo ini hanya berlaku untuk pembelian satu domain per-orang/akun, untuk domain baru dan transfer saja. Jadi yang mau renewal musti kecewa
. Waktunya pun terbatas, hanya berlaku untuk hingga pertengahan November 2009 atau setelah ada 7500 pemakai kupon. Artinya, kalau akhir Oktober ini sudah ada 7500 pembeli domain baru di godaddy yang memanfaatkan kupon tersebut, program promo otomatis habis. So, buruannnn!
O iya, promo codenya kupon promo godaddy ini geo199.
Nge-Blog Ringkas dengan Posterous
Dari jalan-jalan ke Technosight.com, perhatian saya terantuk oleh posting Ken Yarmosh mengenai fenomena kesegeraan atau timeliness dalam layanan-layanan berbasis web, termasuk blog.
Setelah sebelumnya para blogger mengandalkan aggregator dan RSS untuk memeroleh informasi dari situs (blog) yang mereka ikuti secara cepat, kemudian twitter, kini muncul Posterous. Layanan gratis yang dirilis Sachin Agarwal dan Garry Tan ini belakangan dianggap merepresentasikan fenomena real-time web dalam artian konten tersaji (di banyak layanan publikasi) begitu tombol publish diklik.
Wuih, menggoda juga ya? Dari pengalaman saya membuat satu akun di Posterous, tak berlebihan jika saya katakan layanan ini sebagai fasilitas nge-blog paling ringkas, namun tetap se-powerfull layanan blog lain seperti WordPress, Blogger, atau Typepad. Langkah-langkah pembuatan akun pun sederhana saja.
Ada dua cara untuk mendapatkan akun Posterous. Pertama, melalui email. Ya, cukup mengirimkan email kosong, atau berisi tulisan apapun yang pengin anda online-kan ke post@posterous.com. Anda bahkan bisa melampirkan image, video, atau MP3. Aplikasi bisa menggunakan email Google, Yahoo, Hotmail, atau layanan email lainnya. Sebentar kemudian akun anda akan diaktifkan dengan URL http://nama-anda.posterous.com.

posterous sign up process 1

posterous sign up process 2
Cara yang kedua, kunjungi blog-blog yang telah online di Posterous (gambar paling atas, ditampilkan di bagian bawah halaman muka), kemudian klik “Get your own posterous” yang terletak di bagian kanan atas halaman. Isi nama akun anda dan email yang akan digunakan untuk mengupdate blog nantinya.


Akses email yang anda pakai untuk mendaftar, kemudian konfirmasikan aplikasi anda. Jendela baru akan terbuka yang menginformasikan validasi email yang telah dilakukan. Asyiknya, anda bisa menambahka email lain untuk mengupdate blog.

Selain melalui email, anda juga bisa mengirimkan posting langsung dari akun Posterous. Buka menu Manage, kemudian pilih drop down list pada button Post by Gmail (atau email lain yang anda daftarkan), kemudian pilih post by web. Halaman new post muncul. Bagi pengguna layanan wordpress.com atau blogger.com tentu tak asing dengan menu-menu pada halaman ini.
Gitu saja? Eits, masih banyak fitur keren lainnya. Tengok menu FAQ di menu bar bagian bawah. Selain muncul aneka pertanyaan dan jawaban, pada menubar bagian atas terdapat berbagai pilihan. Coba klik Bookmarklet. Dengan memasang bookmarklet button pada menubar browser (cara pasangnya klik dan drag ke menubar), Anda bisa dengan cepat memposting berbagai file dokumen, image, dan multimedia ke blog posterous. Snap!

Caranya begini.


Yang tak kalah ciamik, menggunakan fitur Autopost, dalam sekali upload kita bisa menampilkan posting kita di Facebook, Flickr, Twitter, Picassa, Tumblr, juga blog di WordPress.com/org dan Blogger.com!

Jika blog punya RSS, Posterous menawarkan menu MySubscriptions untuk mengikuti blog-blog berbasis layanan ini. Ada belasan ribu blog siap menerima kita sebagai pelanggan konten-konten mereka, termasuk diantaranya Guy Kawasaki. Ia meringkas Posterous dengan menarik, “For everything that’s slightly less than a blog post but slightly more than a tweet”

Memang tampilan blog berbasis posterous sangat simpel. Tak banyak informasi bisa dimasukkan pada sidebar selain link RSS feed, tag postingan, dan informasi pengelola blog. Tidak ada blogroll, kategori, apalagi widget warna-warni yang acap dipasang pada blog berbasis WordPress atau Blogger.
Tapi tenang saja, kabarnya pengembang Posterous akan segera mengeluarkan theme untuk blog yang menggunakan layanan ini. Sip tho? Enak tho? (dengan suara serak-serak Surip
)
Gagal Dapat Komisi dari Tuan Tapis

Empat belas sketsa, kata temanku. Masing-masing 200 juta, lanjutnya. Rupiah, tegasnya. Wadow, sketsa macam apa 200 juta rupiah? Emang karya siapa? Si teman lantas mengangsurkan kamera digital. Layarnya memperlihatkan sketsa serangga pada kertas yang memburam. Detail dan warnanya memudar. Ada tanda tangan tak terbaca dan angka tahun 1932. “Karya Walter Spies”, jawab temanku.
Walter Spies, nama itu acap tertera dalam katalog-katalog jual beli lukisan yang digelar balai lelang di dalam negeri. Sejumlah karyanya mengenyak dunia ketika laku belasan milyar rupiah saat dilelang Sotheby’s di Singapura pada 2003. Meski populer dibalai lelang, dan juga diidentikan dengan pembaruan senirupa Bali, nama Walter Spies rupanya sayup-sayup saja di kalangan perupa muda Indonesia. Beberapakali saya bertemu mahasiswa perguruan tinggi seni yang tak kenal perupa berdarah Jerman yang lama mukim di Bali ini.
“Kayaknya sih nama dia pernah disebut dosen, tapi lupa nih”, demikian jawaban yang umum. Boleh jadi masa yang terentang antara mereka terlalu panjang. Maklum saja Walter Spies berkarya di Indonesia (Hindia Timur pada waktu itu) pada tahun 1920-an hingga kematiannya sebagai tahanan perang pada awal 1940-an. Pun ia hanya meninggalkan tigapuluhan karya (lukisan) saja, puluhan sketsa, dan tari kecak!
Ya tari kecak. Spies adalah salah seorang yang berperan besar menggubah tari dinamis yang berakar pada kisah Ramayana dan diminati wisatawan itu. Tak heran jika di Pulau Dewata nama Walter Spies diingat secara berbeda. Menurut Didi Kwartanada, sejarawan muda Indonesia, kaum tua di Ubud lebih mengingatnya sebagai sebagai Tuan Tapis, pelafalan lokal dari nama Barat-nya. Selama di Hindia Timur, Spies memang menghabiskan sebagian besar waktunya di Ubud dan Iseh, Karangasem.
Tak salah bila masyarakat Bali mengistimewakan sosok Walter Spies. Selain menggubah tari kecak, ia mengolah corak lukis tradisional Bali sehingga seperti yang kita kenal saat ini. Beberapa film dan buku mengenai Bali tak lepas dari peranannya. Ia pula yang memperkenalkan Bali pada para seniman dan peneliti Eropa, beberapa diantaranya akhirnya memutuskan tinggal di pulau ini. Sebut saja Theo Meier, Arie Smith, Le Mayeur dan Margaret Mead. Karenanya pula Charlie Chaplin, komedian tenar di tahun 1930-an berkunjung ke Bali.
Spies tinggal di Bali selama 14 tahun, dari total delapan belas tahun yang dihabiskannya di Hindia Timur. Empat tahun sebelumnya, Spies tinggal di Yogyakarta, setelah beberapa bulan sebelum itu bermukim di Bandung.
Kisah kedatangannya di Hindia pun penuh liku. Spies dilahirkan di Russia pada tahun 1895, waktu itu ayahnya menjadi diplomat Jerman yang ditempatkan di Russia. Menjalani masa remajanya di Jerman, Spies berhubungan erat dengan Frederich Murnau, sutradara terkemuka di Jerman, bahkan dikisahkan berbagi kasih sebagai pasangan homoseks. Lewat Murnau, Spies mengenal dan belajar dari Otto Dix dan Oskar Kokoschka, dua perupa besar yang mewarnai seni rupa garda depan di Jerman. Namun Spies mengagumi Marc Chagall dan Paul Klee.
Jenuh dengan irama hidup Eropa dan kekangan Murnau, Spies melamar menjadi kelasi kapal muatan yang berlayar menuju Asia. Hiruk pikuk pelabuhan Sunda Kelapa di Batavia memikatnya, iapun menanggalkan pekerjaannya sebagai kelasi dan menapakkan kaki di Batavia. Waktu itu tahun 1923.
Daya tarik Batavia rupanya cepat memudar, segera ia pindah ke Bandung dan bekerja sebagai pemain dan pengajar kursus piano yang piawai. Namanya dengan cepat kondang diantara orang-orang Eropa yang tinggal di Hindia. Namun ia tak kerasan tinggal di Bandung. Pucuk dicinta ulam tiba, Spies diminta bergabung dengan orkes kecil di Yogyakarta sebagai pemain piano. Namun beberapa bulan berselang, kontraknya kerjanya usai.
Tak lama menganggur, ia diminta raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, untuk membenahi orkes musik Barat yang ada di Kraton Yogyakarta. Dengan segera kelompok musik yang dibinanya berkembang menjadi orkes simfoni yang mampu menampilkan gubahan karya-karya Bach, Haydn, Beethoven, dan Mozart. Spies bahkan sempat memulai proyek penotasian nada-nada/partitur gamelan Jawa. Empat tahun berkarya di Yogyakarta, pada 1927 Spies memutuskan pindah ke Bali yang pernah dikunjunginya pada tahun 1925.
Di Bali ia menjadi legenda. Namun akhir hidupnya sangat tragis. Pada 1942, Spies ditangkap pemerintah Hindia Belanda menyusul penyerbuan Jerman ke Belanda oleh Hitler. Ketika Perang Dunia II memanas dan ancaman Jepang menguat, para interniran Jerman di Hindia dipindahkan ke Ceylon (Srilanka). Naas, dalam perjalanan menuju Ceylon, kapal Van Imhoff yang ditumpangi para tahanan dihantam torpedo kapal perang Jepang, sehingga karam di perairan barat Sumatera. Kapten kapal menolak membebaskan mereka yang terkunci di sel tahanan tanpa perintah resmi dan membiarkannya tenggelam ke dasar lautan. Hidup Walter Spies berakhir di sini.
Kembali ke sketsa yang dijual teman saya, belakangan diketahui sketsa-sketsa itu karya palsu. Setidaknya demikian hasil pengamatan seorang kurator di Jakarta dan kolektor ternama yang tinggal di Magelang. Menurut mereka, sketsa satu-200-juta itu adalah bagian dari kejahatan sindikatif pemalsu lukisan. Uff.
So, gagallah saya mengantongi komisi jualan sketsa Tuan Tapis
(sumber foto: blog.baliwww.com)
Ayo Sedot Jutaan eBook gratis di World eBook Fair 2009!
Bagi penggila ebook, acara ini pasti layaknya surga.Bagaimana tidak? Bulan ini tersedia dua juta dua ratus limapuluh ribu judul siap diunduh, gratis pula! Yap, tepatnya 2.252.000 judul! Tapi, kesempatan untuk mendownload hanya satu bulan lho, sampai awal Agustus 2009. Makanya buruan!
Ke mana?
O iya, maaf, maaf. Kelupaan saking semangatnya. Langsung saja ke TKP World Ebook Fair (WeBF) di sini. Cari tombol “Collection”, pilih link lembaga penyedia ebook, langsung siap sedot sepuasnya.
Sekadar info, tahun ini WeBF memasuki gelaran ke-4. Jutaan koleksi ebook yang ditawarkan dalam WeBF antara lain diperoleh dari Project Gutenberg (100ribuan judul), the World Public Library (500ribuan judul), The Internet Archive (1.385 ribu judul), 250.000-an judul dari eBook About Everything, dan 17.000 judul lebih dari IMSLP. Ditambah pula kontribusi dari seratusan lebih eLibrary (perpustakaan digital) dari seluruh dunia.
Selain dalam format PDF, ebook-ebook tersebut tersedia juga dalam format yang bisa dibaca melalui software ebook reader pada beberapa merk handphone.
Rencananya, seusai WeBF pada 4 Agustus mendatang,kita masih diberi kesempatan untuk memilih dan mengunduh gratis 500.000 ebook dalam format PDF. Kesempatan ini terbuka hingga akhir 2009. Hanya saja, kali ini ada syaratnya.Tapi mudah kok, tinggal gabung saja dengan The World Public Library dengan membayar iuran tahunan US$8.95. Super murah kan? Nah, tunggu apa lagi?
Di bawah ini beberapa link koleksi ebook dari lembaga-lembaga pendukung WeBF 2009.
Alex Catalogue of Electronic Texts Collection
adalah koleksi dokumen digital dengan topik antara lain Sastra Amerika, Sastra Inggris, dan filsafat Barat.(706 PDF eBook)
1234
Asian Classics Input Project
Menawarkan 4300 koleksi ebook dalam format PDF dan TXT dengan tema filsafat Asia.
Author’s Community Collection
387 ebook fiksi dan non fiksi kontemporer dengan berbagai genre.
CIA’s Electronic Reading Room
Informasi-informasi CIA yang telah dirilis untuk publik.
Center For World Indigenous Studies (CWIS)
Koleksi ebook mengenai upaya-upaya peningkatan akses pengetahuan dan gagasan, peningkatan kerjasama, dan demokratisasi hubungan antarmanusia, bangsa, dan negara.
Setengah Hati Menolak Paid Review dari Blogvertise
Hari ini lima penugasan (tasking) dari Blogvertise (BV) nongol di inbox email saya. Wait a minute, mestinya sudah pada tahu Blogvertise kan? Itu tuh, salah satu broker paid to review (PTR) alias review berbayar. Yakni mem-posting iklan yang disamarkan sebagai artikel review, biasanya sepanjang 200-an kata atau lebih, yang diimbuhi tautan ke layanan atau produk komersial dari pemberi tugas/pengiklan.
Selain Blogvertise, populer pula ReviewMe, BuyBlogReview, Smorty, BlogToProfit, SponsoredReview, dan lain-lain. Mulai marak pada 2006 , kini PTR menjelma jadi salah satu dambaan para blogger yang me-monetasi (hayah, apa lagi ini?) blog-nya.
Ok, balik ke lima tasking tadi ya. Pada minggu sebelumnya BV juga telah mengirimkan enam tasking senilai masing-masing US$ 10 ke email saya. Hitung punya hitung, sedikitnya US$100 bisa masuk kantung di akhir bulan. Lumayan buat nombok beli minyak tawon
Sebetulnya, heran juga kok ada pengiklan yang tertarik dengan blog ini. Wong blog sendaljepit ini masuk prioritas kesekian dalam hidup saya. Jadinya lumayan terlantar, jarang berisi posting baru, dan tampilan seadanya dan dikunjungi tak lebih dari 100 netter saja setiap harinya. Page rank-nya sih 3, termasuk lumayan, tapi Alexa-nya di atas empat juta! Profil yang kurang meyakinkan untuk pengiklan PTR yang rata-rata menghendaki ranking Alexa di bawah 1 juta.
Tapi nyatanya, total sebelas tasking saya terima dalam dua minggu ini. Satu review telah saya kerjakan dan terupload di blog ini, sepuluh sisanya, dengan hati tersayat, saya tolak. “Deny” istilah yang dipakai di layanan ini. Kenapa gerangan?
Begini. Sesaat selesai mengirimkan hasil review pertama, saya iseng mencermati Term of Service (TOS) Blogvertise dan mendapati pasal yang berbunyi ‘blog berbasis layanan gratis WordPress.com tidak diterima. Alasannya, WordPress menyebutkan dalam TOS-nya blog dalam layanannya tidak boleh diisi dengan iklan-iklan komersial.Ini nih cuplikannya:
We have a very low tolerance for blogs created purely for search engine optimization or commercial purposes, machine-generated blogs, and will continue to nuke them, so if that’s what you’re interested in WordPress.com is not for you. A self-hosted solution would be much more appropriate for you; suitable hosts can be found at http://www.wordpress.org/hosting (lengkapnya ada di sini)
Tercakup diantaranya Adsense, Yahoo, Chitika, TextLinkAds, paid to review, affiliate/referral marketing, adsense, atau jenis iklan lain. Jika melanggar, WordPress tak segan menutup sementara (suspend) blog bersangkutan. Alamak, merananya hidup menumpang!
Buru-buru saya browing tentang ini. Sumpah saya baru tahu kalau ada aturan seperti itu. Dengan keyword “wordpress + paid to review” saya dapat kan beberapa link yang membahas hal ini, termasuk laporan pemilik blog yang sudah kena penalti dari WordPress. Blognya di-suspend. Ada pula blogger yang dikembalikan akses pada akun-nya setelah bersedia menarik posting paid review.
Memang sih kasus-kasus itu kebanyakan terjadi di tahun 2007 dan satu-dua kasus pada 2008. Walau belum menemu kejadian di tahun 2009, tapi demi amannya saya tolak semua tasking baru dari BV meski konsekuensinya dollar urung nyampir di saku. Hik.
Yang masih menggayuti pikiran saya, jika TOS di kedua layanan ini jelas-jelas berbunyi blog gratisan WordPress dilarang ikutan PTR, kenapa juga blog ini, yang jelas-jelas mengandung nama domain .wordpress.com masih juga diterima oleh Blogvertise? Ada yang punya jawaban?
Ketika Safety Ditelan Raungan Knalpot
Barangkali mereka hanyalah anak-anak muda yang menganggap kemenangan suara sebagai unjuk eksistensi. Atau ekspresi. Walau, tak tertutup kemungkinan raungan knalpot adalah ungkapan agitasi, agresi atau dominasi. Yang tak saya ketahui, aksi semacam ini entah mereka tujukan pada siapa.
Sejak akhir tahun 2008 lalu, ketika saya mulai bermukim (kembali) di Sorowako, kawasan pertambangan nikel di selangkangan Pulau Sulawesi, adu kencang suara motor agaknya mulai lumrah. Tak puas hanya adu suara knalpot, seringnya pengendara motor adu kebut di jalanan umum yang sempit nan ramai. Tak sekali dua kali terjadi kecelakaan fatal. Saya kurang tahu persis angkanya, yang pasti ratusan kecelakaan lalu lintas, dari kelas lecet-lecet sampai tubuh hancur terjadi setiap tahunnya. Terhitung tinggi prosentasenya, mengingat jumlah penduduk Sorowako dan sekitarnya baru di bilangan 30-an ribu jiwa saja.
Kejadian itu adalah ironi bagi kampung yang berjuluk “kota nikel” ini. Pasalnya, isu keselamatan alias safety sebetulnya bukan barang baru. Malah bisa dikatakan sebagai isu yang hot lagi seksi alias kerap didengungkan sebagai wacana utama. Meski lebih sering dalam konteks kegiatan pertambangan.
Dari yang saya ingat, pada tahun 2007 dan 2008, selain mengadakan pelatihan keselamatan berkendara secara aman (safety driving/riding training) bagi ribuan pekerja tambang, beberapa kali diadakan juga pelatihan untuk masyarakat umum. Pengojek dan kalangan muda menjadi sasaran utama. Bagi karyawan, pelatihan yang disusul ujian praktik ini adalah syarat dasar memerolah surat ijin mengemudi (SIM) perusahaan. Yakni lisensi yang menyatakan ia tahu dan mampu melintasi rupa-rupa jenis medan dan situasi di kawasan tambang. Sedangkan para pengojek dan anak-anak sekolah lebih memburu helm gratis dan diskon 75%!
Pelatihan yang dipandu trainer profesional dari Indonesian Defensive Driving Training (IDDT) ini menekankan perilaku berlalulintas secara defensif atau antisipatif. Pengendara mobil atau motor dibekali teori mengantisipasi celaka berkendara, mencakup pengetahuan akan rambu lalu-lintas, spesifikasi dan kemampuan teknis kendaraan, risiko-risiko berkendara, bahkan cara perawatan kendaraan bermotor. Usai teori, praktik perawatan kendaraan dan mengemudi wajib dijalani.
Yang mengesan bagi saya, waktu mencari SIM perusahaan, adalah sesi commentary driving. Saat berkendara, oleh instruktur kita diminta melisankan situasi jalanan dan tindakan yang kita ambil. Pokoknya disuruh bicara sendiri, bisa bergumam atau lebih baik lagi dengan suara kencang.
Misalnya, ketika kita sedang menyetir mobil melalui kompleks sekolah dasar, idealnya kita mendeskripsikan suasana seperti “limapuluh meter meter lagi sekolah, sepertinyas sedang jam istirahat, banyak anak sekolah menyeberang jalan dan belarian di kanan kiri jalan. Di depan ada polisi tidur cukup tinggi, kurangi kecepatan, turun ke gigi dua, bunyikan klakson untuk berkomunikasi. Di kiri jalan bus sekolah parkir menghalangi separuh jalan, belakang aman, klakson lagi untuk memastikan…dst”.
Prosedur commentary driving dimaksudkan untuk membiasakan kita mengamati situasi, dan bertindak antisipatif pada setiap potensi kecelakaan. Dari sekadar gumaman, kesiagaan akan terlatih. Tapi, kini gumaman keselamatan diri agaknya terancam raib ditelan bunyi knalpot! Wah!
Baca juga:
Shopwiki: A Wiki-ternative to Online Shopping
Have you guys had any experience with online shopping? I myself do have little history with such kind of purchasing. From my experience, and many other as some research revealed, usually, search engines are the first harbor for people doing internet shopping. Open up Google, Yahoo!, or other engines, type the brand you quest for, and voila! A usual mix up search results left you puzzling. Haha.
Relatively in par with Google’s Froogle and Yahoo Shopping for Yahoo, but in a more specific approach, a site is stand out in terms of online shopping assistant. That is Shopwiki. Like the two search engines do, the wiki-based service also crawling for information into the web jungle. But it has single mission: to list (only) stores and products on the sale. This way, Shopwiki diverge its operation with most online shopping sites, which list only stores paid to them.
To search products on sale with Shopwiki is easy. Let’s say you hear your favorite shoe brand launched a new running collection. Your hands are itching to get one, nevertheless need to compare it with competing product from other brands. Instead of hitting search button in Google or Yahoo, you could find the info by simply typing ‘running+shoes’ in the wiki search box. Aside of showing results filtered by price and color range, a list of brands related to the search results accompanied the searched information. This give you, a brand-conscious buyer, a chance to further compare the product brands by brands.
If you want to start with a general choices, better you scroll down the directory list for Shoes, under Accessories category, which actually ended up to the same result if you type-search for ‘shoes’. Sometimes the exactly same keyword also listed in a lower category of a general category. Put as an example, there are shoes under wedding category. Developed in such a way, the category will help you to narrow down your search and find what you’re looking for.
In spite of its simple look, the site provides the visitor with general introduction as an addition to product reviews and tips, too. For me, Shopwiki is a perfect alternative, if not my main site to shop online.
100 untuk Rossi!

Adu balap Valentino Rossi dengan Jorge Lorenzo pada ajang MotoGP di Catalunya terulang di sirkuit Assen, Belanda, 27 Juni 2009. Pembalap berjuluk The Doctor ini kembali memaksa Lorenzo, dan Casey Stoner, mengekornya setelah saling kebut pada lap terakhir.
Kemenangannya kali ini mencatatkan Rossi sebagai pembalap kedua yang mencatat 100 kali finish di urutan pertama dalam ajang MotoGP. Pembalap pertama yang berhasil mengantungi 100 kemenangan adalah
Giacomo Agostini, yang juga berasal dari Italia. Agostini mencatat 122 kemenangan sepanjang karirnya.
100 untuk Rossi! Brummmm!
American Gangsters: Integritas Jutaan Dolar
Memulai pagi di Sabtu yang mendung, saya mendapati American Gangster kembali diputar di HBO. Saya menonton film besutan Ridley Scott, sutradara Inggris yang antara lain menelorkan Blade Runner, G.I. Jane, dan Gladiator ini, untuk kedua kalinya. Dibintangi dua peraih Oscar, Denzel Washington dan Russel Crowe, film ini bertutur tentang perseteruan penegak hukum versus pengedar heroin di New York pada akhir tahun 1960-an hingga awal 1970-an.
Frank Lucas, seorang preman kulit hitam dari Harlem, diperankan dengan apik oleh Denzel Washington, adalah sopir Ellsworth Bumpy Johnson, pemungut pajak keamanan yang menguasai jalan-jalan wilayah itu. Selama 15 tahun Lucas mendampingi sekaligus memelajari cara kerja Bumpy saat menagih uang keamanan pada pengusaha-pengusaha. Dengan atau tanpa kekerasan. Bergelimang harta dari bisnis ini, Bumpy mendulang simpati masyarakat Harlem dengan membagikan gratis paket-paket sembako saat Thanskgiving. Berkat aksinya, Bumpy acap disebut sebagai Robin Hood dari Harlem.
Sebelum putus nafasnya akibat serangan jantung, Bumpy sempat berkeluh kesah pada Lucas bagaimana sistem pemasaran modern, direpresentasikan melalui supermarket-supermarket besar yang memapas jalur perantara atau distributor, telah mengurangi penghasilannya.
“Mereka membeli langsung dari pabriknya, meniadakan perantara. Membeli Sony ini, Toshiba itu, langsung dari China. Tak ada lagi pengusaha yang bisa diperas,” keluh Bumpy, sesaat sebelum tergolek lemas di dalam supermarket modern yang menjajakan peralatan musik. Kata-kata terakhir sang patron ini menancap kuat di benak Lucas.
Sembari meneruskan bisnis Bumpy, berebut pengaruh dengan kriminal-kriminal negro lainnya, Lucas mulai menjajakan heroin kelas dua yang diperolehnya dari jaringan mafia. Pada Lucas, seorang Don mengeluhkan rusaknya pasar narkoba gara-gara sejumlah polisi korup ikut terjun di bisnis ini. Polisi menyita heroin dari tangan pengedar, menyimpannya sebagai barang bukti, kemudian menggelapkan dan menjualnya kembali ke pasaran dengan kualitas dan harga lebih rendah.
Mengetahui situasi ini, di kepala Lucas terngiang-ngiang kata-kata Bumpy: membeli langsung dari pabriknya. Itulah yang kemudian dilakukannya. Menyimak berita televisi tentang maraknya kasus penggunaan heroin di kalangan tentara Amerika yang ditugaskan di Vietnam dan kemudian mendapatkan info dari tentara-tentara yang pulang kampung bahwa heroin Vietnam jauh lebih murni dibanding yang beredar di jalanan New York, ia tahu harus pergi ke mana. Lucas pun segera mengontak seorang tentara yang bertugas di Vietnam untuk melacak sumbernya.
Tak mengacuhkan perang dan liarnya hutan tropis, berbekal US$ 400 ribu uang pinjaman, Lucas menyusup ke padalaman Vietnam dan bertemu langsung sekelompok petani opium yang adalah mantan tentara Koumintang, para pembela Chiang Kai Sek. Seratus kilo heroin murni ia peroleh dari transaksi mula itu.
Lucas menggelontorkan US$100 ribu untuk menyogok prajurit sehingga heroinnya dipaketkan menumpang pesawat militer Amerika. Segera setelah sampai di Amerika, heroin rilisan Lucas menguasai jalanan di Harlem dan Bronx dengan omzet US$1juta per hari. Selain kadar kemurniannya yang lebih tinggi, keunggulan produk yang berlabel Blue Magic ini adalah harga jualnya yang separuh dari heroin yang dipasarkan oleh mafia Italia.
Pada lain sisi, Richie Roberts, diperankan Russel Crowe, detektif bagian pemberantasan narkoba kepolisian wilayah New Jersey, mendadak terkenal ketika ia dan rekannya menyetorkan uang US$1 juta ke markas kepolisian. Uang itu mereka temukan di bagasi mobil yang ditinggalkan oleh akuntan pengedar narkoba, yang mereka kuntit sebelumnya, dan dicurigai sebagai uang sogokan untuk polisi. Tindakan itu membuat Richie dan rekannya dikucilkan oleh polisi lain yang menganggapnya Richie sok suci. Ia sama sekali kehilangan dukungan untuk operasi-operasi lapangan.
Pada saat sama, terusik oleh menggilanya peredaran narkoba, pemerintah Amerika membentuk Kesatuan Khusus Anti Narkoba. Richie digamit untuk mengurusi New York. Ia diberi keleluasaan untuk tidak berkantor di kepolisian dan memilih rekan kerja. Setelah tim Richie terbentuk, mereka fokus pada transaksi-transaksi narkoba skala besar, dengan transaksi minimal 40 kilogram dan bernilai jutaan dolar. Perhatian mulai dipusatkan pada sosok-sosok mafia dan penjahat-penjahat dari Mexico, Kuba, dan Amerika selatan lainnya.
Ia kaget tatkala penyelidikan panjangnya berujung pada sosok Lucas, seorang gangster kulit hitam. Saat itu, kriminal kulit hitam tidak pernah menjadi pemain utama dalam kejahatan-kejahatan besar di bidang narkoba. Pengetahuan inipun diperolehnya secara kebetulan. Seorang penjahat medioker, juga kawan masa kecil dan ayah pemandian anak Richie, mencoba menyuap sang polisi dengan sebuah rumah musim dingin di Swiss sambil berpesan agar tak mengganggu operasi Frank Lucas. Dari situ, pertanyaan-pertanyaan tim Richie pun mengait dengan jawaban.
Tahun 1973, ketika Saigon jatuh ke tangan Vietnam Utara, pasukan Amerika mulai ditarik secara bertahap dari lokasi perang. Lucas melihat keberlangsungan untuk mendapatkan heroin dari sumbernya terancam. Lekas ia terbang kembali ke Vietnam. Dua ribu kilogram heroin ia kumpulkan dan dengan cerdiknya diselundupkan dalam peti mati prajurit AS yang tewas (cerita sebenarnya ternyata tidak demikian
.
Dari anak buah Lucas yang tertangkap dan bersedia menjadi informan, rencana pengiriman ini dikuak oleh Richie. Mereka merangsek ke bandara. Setelah mengobrak-abrik badan pesawat Hercules di bawah protes keras kalangan militer, hasilnya nihil. Malah atasan Richie marah-marah dan mengancam memecatnya gara-gara tindakan Richie yang dianggap menodai perjuangan para tentara marhum.
Richie dan rekan-rekannya melewatkan belasan peti mati karena sang atasan mencegahnya membuka kantung mayat. Si atasan menganggap kecurigaan Richie sebagai lelucon, apalagi ketika ia mengungkap dalang penyelundupan ini seorang gangster kulit hitam, bukan mafia Italia, kelompok Irlandia, atau gangster Mexico. Nekat, Richie tetap mengirim anak buahnya menguntit perjalanan peti mati-peti mati tersebut dan mendapati anak buah Lucas membongkar ribuan kilo heroin dari alas peti mati. Mereka membawanya ke rumah susun kelas bawah yang kemudian terbongkar digunakan menjadi lokasi pengemasan heroin siap edar. Lokasi inipun segera digerebek puluhan polisi. Setelah dar der dor yang sengit, belasan kaki tangan Frank Lucas pun diringkus. Lucas dicokok saat beranjak pulang dari gereja. Di tangga gereja, untuk pertama kalinya Lucas dan Richie bersirobok pandang.
Dalam persidangan, Richie, yang juga nyambi kuliah hukum, menjadi penuntut. Suatu saat, dalam rehat persidangan yang memungkinkan keduanya bertemu empat mata, Lucas mencoba menyuapnya dengan tawaran jutaan dolar. Richie tak goyah, malah ia mampu menekan Lucas untuk membantunya. Alih-alih meminta si gangster menyingkap jaringan mafia, Richie menyudutkannya untuk membeberkan nama-nama polisi korup yang selama ini melindungi operasi, sekaligus memeras Lucas.
Singkat cerita, berkat informasi Lucas 3/4 dari seluruh polisi bidang pemberantasan narkotika di New York pun diberangus. Richie mengundurkan diri dari kepolisian dan beralih profesi menjadi pengacara. Klien pertamanya adalah Lucas.
Dituntut hukuman 70 tahun penjara, pada 1976 Frank Lucas akhirnya divonis 15 tahun menimbang kerjasamanya dengan polisi. Tahun 1991 ia dibebaskan dan meneruskan pertemanannya dengan Richie. Oleh Ridley Scott keduanya dilibatkan dalam penggarapan American Gangster di tahun 2007. What a story!
Powerbook G4 dan Tetanus
Tetanus memang bukan penyakit yang setenar flu burung atau HIV-AIDS. Demikian juga Powerbook bikinan Apple yang boleh jadi kalah populer oleh Dell atau IBM, setidaknya di tempat mukimku saat ini. Tapi, tentunya bukan karena sama-sama tidak populer lantas keduanya saya jadikan judul tulisan ini.
Dalam pengetahuan saya yang awam, salah satu penyebab tetanus adalah luka akibat terkena logam berkarat. Gara-gara pemahaman awam ini, semasa masih kuliah beberapa tahun lalu, olok-olok sumber tetanus sempat dialamatkan pada saya. Apa pasal? Motor antik IFA MZ keluaran Jerman Timur akhir tahun 1960-an yang saya kendarai waktu itu dianggap lumayan kuno, dan karenanya diasosiasikan dengan barang karatan. Setiap kali saya muncul dengan motor ini, sejumlah teman langsung berloncatan menjauh sembari berteriak-teriak, “Awas, ketabrak kena tetanus. Ketabrak kena tetanus!”. Padahal motor saya yang bercat merah hitam itu bodinya mulus-lus, nyaris nggak ada bagiannya yang berkarat.
Ada pula, menurut sejumlah teman pada masa kecil saya, keyakinan yang mengatakan tetanus disebabkan tahi kuda. Konon, jika ada bagian tubuh kita yang memiliki luka terbuka, hendaknya jangan sampai terpapar tahi kuda yang, kabarnya, dipenuhi kuman-kuman penyebab tetanus. Konon lagi, tak hanya satu dua orang yang meninggal karena tahi hewan penghela andong, dokar dan semacamnya yang kini musti mengenakan “cawat” agar kotorannya tidak pating glundhung di jalan itu.
Nah, karena saya masih berpegang pada pemahaman dasar bahwa salah satu penyebab tetanus adalah logam berkarat, saya sempat berkerut kening juga sewaktu mendapati pada bagian palm rest kanan powerbook G4 second yang barusan saya beli terdapat garit-garit karat yang meskipun tak begitu kentara tapi terasa di telapak tangan.
Iseng saya browsing mengenai soal ini, saya menemukan beberapa thread di forum-forum pengguna macintosh yang mengangkat masalah karat pada powerbook G4. Pada seri-seri awal, powerbook G4 yang berbalut casing titanium (konon ini jenis metal yang dipakai untuk melapisi pesawat ulang alik dan dikenal memiliki durabilitas tinggi) juga dikeluhkan gampang terkelupas dan berkarat, terutama di bagian palm rest.
Mulai seri Powerbook G4 12″ 867Ghz yang dirilis awal tahun 2003, casing titanium yang diperkenalkan sejak Januari 2001 digantikan pelat-pelat alumunium yang dianggap lebih tahan lama dan ringan. Mestinya juga anti karat. Namun toh, masalah karat pada casing powerbook alu, demikian seri ini biasa disebut, masih juga muncul meski tidak sebanyak yang menimpa seri-seri titanium.
Pada beberapa kasus (yang sebenarnya sangat sedikit, tetapi karena sebagian besar pemakai produk-produk Apple selalu berharap produk yang mereka miliki sempurna tanpa cacat, maka cacat remeh temeh pun menjadi kasus), karat muncul dalam rupa bintik-bintik korosi di bagian palm rest, alias dudukan pergelangan hingga telapak tangan di sisi kanan-kiri trackpad.
Pada kasus powerbook g4 15″ 1.33ghz yang saya pakai saat ini, pada palm rest sisi kanan, terutama pada bagian tepi di mana saya biasa menempatkan pergelangan tangan, terdapat beberapa garit tipis dan deretan titik-titik berwarna kehitaman dan terasa agak kasar ketika diraba. Memang karat, tak diragukan lagi.
Soal penyebabnya, saya tidak tahu. Apalagi laptop ini baru di tangan saya sekitar satu minggu yang lalu, setelah mengalami “perjalanan” ribuan kilometer dari Jakarta ke satu kota kecil di selangkangan Sulawesi.
Boleh jadi ini masalah kimiawi. Lah? Pada beberapa thread yang saya singgung di atas, disebutkan sejumlah dugaan penyebab munculnya karat pada bagian palm rest powerbook aluminium dikarenakan keringat si pemakai. Tak sembarang keringat, melainkan keringat yang barangkali mengandung garam yang berlebihan sehingga memancing karat pada bagian-bagian “aus” di tubuh powerbook.
Konon, menurut Bos B yang menjual laptop ini ke saya, pemilik sebelumnya adalah ekspatriat yang membelinya dari Prancis. Beralasan memang, karena layout keyboardnya memang mengikuti layout yang lazim di pakai di Prancis dan Belgia. Tombol huruf Y, sebagai contoh, terletak pada lokasi di mana biasanya terdapat tombol huruf Z pada layout keyboard ala Amerika. Sebaliknya, tombol key huruf Z menempati lokasi Y. jadinya susunan layout keyboardnya bukanlah QWERTY, melainkan QWERTZ…
Nah, apakah layout keyboard QWERTZ ini berpengaruh pada akan meluas atau tidaknya bidang berkarat pada palm rest dan membuat saya rentan terkena tetanus, tentu anda tahu jawabannya. Jelas tidak ada hubungannya. Jadi, apakah powerbook Anda juga berkarat?
Manusia Pas-pasan
Pathetic sekali judul di atas ya? Saya tak hendak mengatakan pikiran kita mengenai kata pas-pasan seragam, tetapi saya kok yakin anda mengartikan kata itu sebagai suatu kondisi yang serba tanggung, setengah-setengah. Atau kondisi lain yang tak maksimal, tapi bukan juga minimal, tak pucuk namun bukan pula pangkal, bukan top meski bukan juga bongkot. Separuh-separuh, atau nge-pas, ya persisnya pas-pasan tadi.
Kalau dalam konteks penghasilan, pas-pasan barangkali bisa kita ilustrasikan sebagai kondisi keuangan yang mencukupi untuk kebutuhan dasar, tetapi tak tersisa untuk memenuhi tuntutan-tuntutan sekunder, apalagi tersier. Malah kadang untuk tabungan saja tak tersisa (btw, menabung itu sebenarnya termasuk kategori kebutuhan sekunder, tersier, atau malah primer?).
Dalam konteks keahlian atau intelektualitas, penguasaan atas suatu keahlian atau pengetahuan pas-pasan artinya hanyalah cukup untuk berhadapan dengan tuntutan-tuntutan yang biasa-biasa saja. Taruhlah sebagai contoh, saya menyukai fotografi dan desain grafis, menggambar, dan utak-atik komputer. Saya juga lumayan suka membaca, berdiskusi, dan menulis. Tapi ya itu, semuanya hanya sekadar bisa saja. Tak ada yang istimewa.
Bahwa saya pernah bekerja di beberapa media cetak dan menjadi penulis lepas untuk majalah yang lumayan berkelas, dan sekarang kuli kata-kata dan citra sebuah perusahaan besar, itu memang benar. Tapi tulisan-tulisan yang saya buat tak pernah sampai pada tataran inspiratif atau kreatif-idealis (hayah!) Demikian juga dengan kemampuan saya dalam desain grafis yang gitu-gitu saja, meski pernah juga saya mendesain sampul dan menata perwajahan sekitar 12 buku, beberapa poster, dan sejumlah tata letak advertorial yang dirilis oleh tempat kerja saya saat ini. So so.
Demikian halnya dengan fotografi, menggambar, oprek komputer, dan lainnya, juga aktifitas membaca, atau berdiskusi yang hanya mentok sampai tataran kelas kampung atau komunitas kecil saja. Belum pernah lebih.
Beralasan kiranya ketika, sekitar dua tahun yang lalu, aku pernah “menegaskan” pada L bahwa diriku ini manusia pas-pasan. Tapi, jangan sangka kalau penyebabnya adalah munculnya kesadaranku akan kemampuan dan intelektualitas yang segitu-segitu saja, melainkan karena angka. Iya, karena angka!
Sebetulnya, sejak enam bulan sebelum aku mengatakan hal pas-pasan tadi ke L, aku sudah kerap menemui kejadian ini: mendapati angka-angka pada kombinasi yang “pas”, baik pada arloji, kalender, jam meja, jam komputer, jam HP, dan alat-alat penunjuk angka lainnya. kalau hanya sekali dua kali sih mungkin aku nggak kepikiran, tetapi kejadian ini aku alami 7-10 kali dalam sehari, dan hampir setiap hari.
Misalnya, suatu saat ketika saya mengambil HP dari tas karena hendak mengirim sms, saya mendapati jam HP berkedip pada angka 10:01. Atau saat saya menyalakan laptop, begitu log in, jam memperlihatkan angka 05:50, 12:21, 12:34, 17:07 (ini tanggal dan bulan lahir saya). Hari kemarin, saya menerima email dari bos yang dikirim jam 4:44, malamnya menerima sms dari L jam 00:00.











