Kabel-kabel Gegar Budaya?

P1010016

Menjadi pekerja lepas menyodorkan luang yang terkadang bingung untuk saya isi kegiatan apa. Jika tiba enggan untuk menulis, melukis, membuat sket atau bikin komik online, kerapkali, sembari menjagai toko kelontong milik mertua, saya merebahkan diri di sofa lama yang apek dan keras meski telah ditumpuki dengan kain-kain selimut tebal. Kemudian jari-jariku memainkan tombol remote control televisi.

Pilihan saya antara berita politik, yang semakin hari kian membosankan, di TV One atau Metro, yang berselang-seling dengan update kasus Manohara, Prita, Siti Hajar, dan kecelakaan pesawat AU, atau liputan travelling di Trans 7-TV, maka saya akan berlama-lama menyimak National Geographic Channel, HBO atau (Cine)Max. Barulah ketika kanal-kanal itu mulai kehilangan pesonanya, jemariku kembali menekan pilihan kanal naik-turun, mendapati imaji yang berloncatan dari puluhan kanal stasiun televisi nasional, lokal, dan mancanegara.

Semua siaran itu kami (baca: sebagian besar penduduk Sorowako) peroleh dari jaringan teve kabel lokal yang menyampuradukkan paket-paket Telkomvision dan Indovision. Sejak awal 90-an, jaringan ini dikelola oleh tiga “bandar” yang masing-masing setidaknya memiliki seribu pelanggan. Para pelanggan ini dahulunya mengandalkan parabola untuk mendapatkan siaran teve, karena wilayah Sorowako yang dikepung pegunungan Verbeek termasuk wilayah blank spot siaran televisi.

Biaya sambung televisi kabel pun relatif murah, cukup mengangsurkan Rp.250ribu untuk biaya pemasangan awal dan iuran bulanan berkisar Rp.25-30ribu (tergantung bandar), 42 kanal televisi pun siap dijelajahi. Selain kanal-kanal nasional dan lokal, termasuk Sorowako Channel yang baru menampilkan foto itu-itu saja plus backsound cempreng entah-lagu-apa, terdapat pula 4 kanal olahraga, MTV, Channel Asia, Al Jazeera, V Channel, F-TV, Cartoon Network, TV 5, hingga Z Channel Music dari India, TVTL-nya Timor Leste, plus beberapa saluran berbahasa Arab dan China.

Tetapi, bukan ihwal teve yang akan saya bicarakan. Menurut saya, berlimpahnya saluran televisi boleh jadi menjadi faktor dari gegar budaya tahap kedua yang dialami masyarakat Sorowako. Gegar pertama bermula dari beroperasinya PT Inco pada paruh akhir 1960. Saat itu, segelintir masyarakat lokal bersitumbuk dengan pendatang dari berbagai latar budaya, jenis-jenis pekerjaan yang tak terbayang sebelumnya, juga silang sengketa pertanahan.

Masyarakat lokal yang menjalani profesi-profesi utama sebagai petani/pekebun, pemburu, dan nelayan danau, tiba-tiba dihadapkan, dan sebagian besar tergoda dengan pilihan menjadi pekerja konstruksi, eksplorasi, operator kendaraan berat, mesin-mesin tanur peleburan, hingga pembantu rumah tangga. Tentu ini lompatan sosiologis yang signifikan. Belum lagi berubahnya irama kerja secara drastis dan penghasilan dari tak tentu waktu dan besarnya mendadak menjadi rutin dan jauh, jauh, jauh lebih besar.

Interaksi sosial yang intensif dengan ribuan pekerja pendatang, kala itu konon tak hanya datang dari penjuru nusantara tetapi juga sekurangnya dari 20 negara, yang tinggal berjubel di barak-barak semi permanen, kontainer, atau kolong-kolong rumah panggung, tak pelak menimbulkan benturan nilai dan budaya yang tak kecil dampaknya bagi tatanan kultural pemukim lokal, secara positif maupun negatif.

Percepatan, atau lompatan sosiologis yang lekas dari komunitas agraris menjadi industrial, memunculkan gamang dan gagap. Sebagian besar anak muda Sorowako yang lahir ketika roda industri telah bergulir, tidak meguasai bahasa lokal, enggan pula mewarisi profesi lama yang dipandang marjinal.

Kathryn May Robinson, antropolog dari Australian National University, lewat bukunya yang bertajuk Stepchildren of Progress: The Political Economy of Development in an Indonesian Mining Town, dengan tajam memotret dinamika sosial yang dialami penduduk lokal Sorowako. Dari penelitian yang dilakukannya pada rentang 1978-1982, ia mengurai pergeseran sosial dapat dirabai lewat munculnya kelas-kelas sosial, tata nilai dan kegiatan ekonomi baru yang muncul di kota kecil tepi Danau Matano ini. Hasil telisik Kathryn hampir tiga puluh tahun lalu itu, menurut saya, sebagian besar masih relevan pada konteks saat ini.

Kembali ke televisi, kalaupun terlalu berlebihan untuk dikatakan sebagai penyulut gegar budaya kedua, ia tetap bisa dibilang sebagai pemantap gegar pertama. Paling tidak dari perspektif bahwa siaran-siarannya telah mengukuhkan nilai-nilai baru yang digosokkan sebelumnya. Jadi….ufff! Spiderwick Chronicle main di HBO!! Saya nonton dulu ye! Hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s