Matano dan merah putih obar abir

Bangun jam 11.00 Wita dengan kepala berat. SB tidak muncul sebagaimana ia janjikan. Makan siang di Yanti, salah satu kantin di Pontada, kemudian ngamar lagi. Jam 3 sore ST mengajak keluar. Sebentar kemudian kami sudah menapaki jalan setapak di antara kontainer-kontainer yang telah disulap jadi tempat tinggal ber-AC, dilengkapi kamar mandi dalam dan dua ruang tidur. Beberapa bertuliskan ATCO dan beberapa lainnya, yang dari warna catnya tampak lebih baru, bersih tanpa tulisan apapun.

Setelah sekitar 15-20 menit berjalan, kami sampai ke Pantai Idee di bibir Danau Matano. Terlihat beberapa keluarga tengah bersantai, satu dua pasang remaja asik pacaran, dan beberapa anak muda tengah mencuci sepeda motor di teluk kecil.

Matano memang luar biasa sore itu. Meski permukaannya turun sekitar 100 centimeter dari permukaan maksimal di musim penghujan, terlihat dari bekas air pada dinding pinggir danau, sore itu ombaknya mengingatkan saya pada ombak-ombak tanggung pantai utara Jawa. Bebatuan serupa karang seolah membenarkan teori yang pernah saya baca di sebuah blog bahwa aktifitas lempeng tektonik jutaan tahun lalu telah mengangkat dasar lautan menjadi jajaran pegunungan Verbeek yang membentuk rupa Sulawesi seperti saat ini.

Menurut kajian para geolog, dari analisis batuannya diperkirakan mangkuk Matano terbentuk sekurangnya 4 juta tahun lalu, jauh lebih tua dibanding dua danau di dekatnya, Danau Towuti dan Mahalona, yang diperkirakan terbentuk kurang dari 1 juta tahun lampau. Selain dinilai sebagai danau terdalam di Indonesia dan terdalam ke delapan di dunia, yakni 594 meter, sehingga hampir 200 meter dasar danau berada di bawah pemukaan laut, Matano juga memiliki sejumlah keistimewaan lain. Sebut saja airnya yang demikian jernih sehingga kita bisa melihat sampai kedalaman 23 meter dari permukaan, perbedaan suhu antara permukaan danau dengan dasarnya hanya terpaut 2 derajad Celcius, dan adanya sejumlah spesies air endemik khas danau ini. Dengan karakteristik ini, kabarnya Matano bisa diusulkan menjadi salah satu “world heritage”.

Dari Matano, kami menapaki jalan pintas menembus sisi belakang kompleks perumahan karyawan PTI  yang nampaknya belum lama didirikan. Meski bentuknya nyaris sama dengan rumah-rumah yang ada di sekitar dormitory, mereka kelihatan berbeda dengan cat warna cokelat gelap serupa warna natural  dan ukurannya yang lebih besar dan sosoknya yang lebih jangkung. Bagiku rumah-rumah ini terlihat lebih keren dibanding yang bercat hijau, putih atau biru menyala yang banyak terlihat di Pontada dan Salonsa. Lokasi yang disebut belakangan ini adalah kompleks pemukiman karyawan PTI level atas.

Di belakang rumah-rumah itu, berdekatan dengan danau, terlihat sejumlah rumah kayu berukuran kecil, beratap rumbia sehingga bagiku lebih mirip dangau dibanding tempat tinggal. Satu dua orang tampak beraktivitas di luar rumah, tengah menyiangi gulma diantara batang-batang padi yang baru setinggi lutut. Aku nggak tahu apakah mereka dibebaskan PTI untuk bertani di kawasan ini atau memang itu tanah mereka. Para petani yang tersisa dari daerah yang telah mengkota ini.

Melewati gang di sesela perumahan panggung, kami muncul di halaman luas dojo Tae Kwon Do cabang Sorowako. Hall dengan arsitektur atap –kayaknya–tradisional itu terlihat sepi. Di sisi depan kanan bangunan ini kami mendapat kejutan.

Pada salah satu dari tiga tiang bendera yang ada di situ berkibar bendera Indonesia yang telah lusuh dan compang-camping berkibar dengan gagahnya. Warna merahnya telah luntur dan ukurannya pun tinggal sebagian karena sisanya telah berupa robekan-robekan kain yang seolah siap menjadi serpih-serpih. Obar-abir, dalam bahasa Jawa. Kibarannya mengingatkan saya pada bendera-bendera perompak yang rapuh dimakan uap asin air laut dan terik matahari. Ia seolah mengabarkan ketegarandan kegagahan yang tak lekang dimakan usia. Ataukah kebandelan yang tak tahu diri? Wallahualam. Hidup Indonesia! Salam.

Free, Public Hot Spot di Yogyakarta

Ini daftar yang disusun temen-temen di forum mac.web.id…Sementara baru ada 28 27 lokasi, silahkan kalau ada yang mau menambahkan. Yang penting free dan bisa diakses publik, palagi yang ada bonus gorengannya…wah yummi 🙂

No Places Address

1 Kedai Kopi Jl. Bougenvile, Selokan Mataram
2 Watu Cafe Jl. Urip Sumohardjo
3 Momento Jl. Jembatan Merah, Gejayan
4 Blatz Cafe Jl. Kaliurang KM 6
5 Centro Billiard & Lounge Jl. Ring Road Utara
6 Debucks Coffee Jl. Babarsari
7 STIE YKP Jl. Seturan, Condong Catur
8 STMIK AMIKOM Jl. Ring Road Utara, Condong Catur
9 It’s Coffee Jl. Melati Wetan 58, Baciro
10 KPTU Fak Teknik UGM UGM
11 Selasar Fak Ekonomi UGM UGM
12 DPRD DIY Jl. Malioboro Yogyakarta User id: pakdirman
Password: dprd
13 Galeria Jl. Sudirman Yogya
14 Ambarrukmo Plasa Jl.Laksda Adisucipto, Yogyakarta
15 OWN Cafe Seturan, Selokan Mataram
16 FISIPOL UGM UGM
17 Gedung Pusat UGM UGM
18 Natour Garuda Hotel Jl. Malioboro Yogya
19 Rama Coffee Lounge (Rama Net) Seturan
20 Addicted Jl. Gejayan
21 Empire Cafe Jl. Gejayan
22 Dixie Easy Dining Jl. Gejayan
23 O La La Cafe Saphir Square
24 Espresso Cafe Jl. Bougenville 1, Selokan Mataram Gejayan

25 Soda Lounge Jl. Solo, Yogyakarta
26 Fakultas Farmasi UGM
27 Parsley Jl Kaliurang Km 5, 5 Continue reading Free, Public Hot Spot di Yogyakarta

Belajar “Telanjang” di Internet

Korupsi sudah berurat-akar di negara kita. Itu sih bukan berita baru, mungkin demikian tanggapan Anda. Apalagi seringkali kita mendengar frase sinis yang berbunyi “budaya korupsi”, yang artinya korupsi sudah dianggap menjadi bagian dari pola pikir dan pola tindak alias budaya dari bangsa kita. Apakah tengara itu benar?

Dari sigi yang dilakukan oleh Transparency Internasional, sebuah lembaga yang setiap tahun menyusun ranking berdasar tingkat korupsi di seluruh negara di dunia, pada tahun 2006 Indonesia menempati posisi 140 dari total 159 negara. Posisi ini di bawah Kamerun dan Ethiopia dan di atas Iraq dan Liberia. Coba bandingkan dengan ranking negara tetangga kita, Singapura dan Malaysia, yang masing-masing menempati ranking ke-5 dan ke-39. Kita tertinggal jauh sekali, bukan?

Keberhasilan Singapura menduduki ranking ke-5 (mengungguli Jerman, Amerika dan Prancis yang berturut-turut pada ranking 16, 17, dan 18) bukanlah proses yang pendek. Dalam salah satu upayanya, sejak tahun 1970-an pengelola negara ini telah merintis teknologi informasi (TI) yang memudahkan mekanisme pelayanan publik. Pemanfaatan TI memungkinkan pengawasan oleh publik, sehingga meminimalkan potensi terjadinya penyelewengan dan korupsi.

Meski dinilai terlambat, pemerintah kita pun bukannya tinggal diam. Salah satu gebrakan yang dilakukan adalah dengan membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2002. Komisi ini antara lain berhasil mengungkap kasus mark-up (penggelembungan anggaran) dalam pengadaan logistik pemilihan umum oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan kasus korupsi pengadaan helikopter oleh Gubernur Aceh. Meski demikian KPK jauh dari berhasil dalam mengikis habis praktek korupsi di negara kita.

Celah korupsi masih menganga di mana-mana. Seperti halnya yang telah diungkap KPK, salah satu celah yang paling lebar adalah proses pengadaan barang dan jasa (procurement) dari suatu institusi pemerintah, baik di pusat maupun daerah serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik daerah (BUMD). Proses procurement kerapkali dilakukan secara tidak transparan dan sarat nuansa korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Untuk menyiasatinya, mulai tahun 2003 dikembangkan upaya-upaya transparansi proses pengadaan barang dan jasa melalui sistem yang dikenal sebagai e-procurement.

****
E-procurement adalah sistem manajemen pengadaan atau pembelian barang dan jasa yang dilakukan secara elektronik melalui internet. Selain mengefisienkan proses pengadaan barang dan jasa, e-procurement juga dinilai sebagai cara yang efektif untuk transparansi proses pengadaan dan memangkas biaya. Sudah bukan rahasia lagi jika proses pengadaan barang dan jasa secara konvensional sarat dengan “biaya siluman” atau “ongkos bawah meja” yang berujung pada pembengkakkan anggaran.

Embrio e-procurement di Indonesia adalah Keputusan Presiden (Keppres) No 80 Tahun 2003 yang menetapkan prinsip-prinsip pengadaan barang dan jasa yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dengan mempergunakan teknologi informasi, terbuka, bersaing, transparan, dan tidak diskriminatif. Prosedur e-procurement yang belum termuat dalam Keppres di atas kemudian dijabarkan dalam Peraturan Presiden No 8 Tahun 2006.

Dalam tataran praktik, sejumlah instansi telah menjalankan pendekatan ini, antara lain melalui proyek percontohan di lima departemen, yaitu Bappenas, Departemen Keuangan, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Komunikasi dan Informasi, dan Menteri Koordinator Perekonomian.

Selain itu e-procurement juga telah diterapkan di lingkungan Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Perhubungan, Pemerintah Kota Surabaya, dan beberapa BUMN seperti PT Telkom, PT Pertamina, dan PT Kereta Api Indonesia. Pemerintah menargetkan pada tahun 2010 semua pemerintah daerah di Indonesia sudah mempaktikkan e-procurement.

****
Pemerintah Kota Surabaya seringkali disebut-sebut sebagai contoh keberhasilan penerapan e-procurement di tingkat pemerintah daerah. Melalui website yang beralamat di http://www.surabaya-eproc.or.id aneka penawaran dan proses lelang pengadaan barang dan jasa di lingkup Kota Surabaya bisa diikuti secara online. Hingga bulan Oktober 2006, telah dilakukan sekurangnya 12 putaran lelang dengan nilai lebih dari Rp 300 milyar.

Layanan e-procurement Pemkot Surabaya dikembangkan berdasar Keppres No 80 tahun 2003 dan dikuatkan dengan Peraturan Walikota Surabaya Nomor 10 Tahun 2005, tentang Pedoman Pelaksanaan Proses Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pemerintah Daerah Dengan Sistem E-Procurement.

Website ini dilengkapi dengan tautan (link) informasi yang cukup mendetail mengenai jadwal dan ketersediaan lelang pengadaan barang dan jasa, persyaratan dan prosedur lelang, termasuk penggambaran alur lelang dan uraian mengenai paket pekerjaan yang ditawarkan. Informasi-informasi ini sangat memudahkan perusahaan-perusahaan calon peserta lelang, yang sebelumnya diharuskan mendaftar secara on-line, untuk mengetahui peluang lelang yang bisa diikuti, para pesaing lelangnya hingga informasi mengenai hasil lelang.

Melalui mekanisme ini, proses lelang menjadi ajang persaingan terbuka yang meminimalisir terjadinya praktik kongkalingkong (kolusi) antara peserta lelang dengan pengelola lelang. Selain transparansi, cara ini rupanya juga menghemat biaya pengadaan barang dan jasa antara 20% hingga 30% pada setiap putaran lelang.

Nah, jika semua kalangan sudah tak sungkan lagi untuk belajar “telanjang” alias transparan, tentunya pemerintahan yang baik (good governance), efisen dan bebas korupsi bukanlah mimpi di siang bolong.

Slow down, you move too fast…

aat mendengar orang bergosip!”. Demikian jawaban seorang kolega ketika saya tanya kesenangan terbesarnya saat bersepeda. Ia selalu datang berlulur peluh di kantor setelah satu jam penuh mengayuh pedal. Jawabannya di atas pasti membuat siapapun berkerut kening. Jamaknya, jawaban pertanyaan kenikmatan dalam bersepeda tak jauh dari alasan karena lebih mengirit ongkos transportasi, membuat badan sehat, atau jawaban semi-idealis semacam “agar punya kontribusi pada pelestarian lingkungan”.

Ternyata, gara-gara bersepeda teman saya itu kerap berkesempatan mencuri dengar obrolan serombongan pengayuh sepeda, yang beriringan dari arah Bantul menuju kota Yogyakarta. Sambil bersepeda mereka bertukar cerita tentang kondisi rumah tangga, pekerjaan atau berkeluh kesah tentang hidup yang kian susah dan rejeki yang semakin seret dihantam kenaikan BBM plus gempa. Inilah hiburan utama teman saya saat harus mengayuh pedal 16 kilometer pulang balik setiap harinya.

“Slow down, you move too fast…”. Pada kesempatan lain frasa ini membawa ingatan saya pada ujaran seorang teman lain yang tinggal dan bekerja di Jakarta, kota yang menjadi pusat segala sibuk dan gegas. Ya, saya ingat dia pernah mengajak saya untuk beberapa jenak duduk berbincang sembari minum kopi di puncak siang, justru ketika deadline pekerjaan tengah memburu.

Dalam perbincangan, sang teman yang seingat saya tidak pernah bersepeda ini berkisah tentang tradisi siesta (tidur ayam) di Portugal, Spanyol dan negara-negara berlatar kebudayaan Latin. Saat hari melewati setengah perjalanan, setelah makan siang, sebagian besar penduduk usia dewasa meluangkan seperempat sampai setengah jam waktu istirahat makan siang untuk relaksasi. Tak sedikit yang menyempatkan diri untuk tidur. Setelahnya, mereka akan kembali melanjutkan aktifitas dengan tubuh dan pikiran yang lebih segar.

siesta

Kini, saya seolah menemu benang merah dari dua frasa di atas, tentang gosip dan slow down, dengan aktifitas bersepeda. Aktifitas bersepeda, sembari misalnya mengisi kayuhan demi kayuhan dengan gosip, punya hasil ikutan tubuh dan pikiran yang sehat segar seperti halnya yang dicapai dengan siesta. Sedangkan siesta dalam bingkai kesadaran untuk ‘slow down’ telah memunculkan kesempatan rehat dan mengevaluasi pencapaian dalam hari itu sebelum kembali beraktifitas dengan gegas baru.

Di jaman orang keranjingan dengan segala yang berbau kecepatan ini, ajakan untuk slow down boleh jadi menemukan penerjemahan idealnya lewat kegiatan bersepeda. Kenapa? Saat bersepeda, Anda tidak bisa terlalu cepat berkendara dengan sepeda tanpa resiko menubruk atau ditubruk orang, karenanya lebih aman berkendara dengan pelan. Dus, justru karena pilihan untuk pelan inilah maka bersepeda jadi bernilai lebih. Anda lebih punya banyak kesempatan untuk mencerap kejadian, suasana dan pengalaman ruang yang berbeda. Dengan bersepeda akan tersadari banyak hal yang tak pernah terlihat, apalagi terpikirkan, saat berkendara dengan sepeda motor atau mobil.

Bagi saya, setelah mencobanya untuk sekian bulan, bersepeda seolah telah memberi “mata baru” untuk memandang, mencermati dan memikirkan ruang-ruang yang saya lalui. Sebuah mata baru yang menjadi pembuka bagi bentuk-bentuk pengenalan, dan semoga, berlanjut pada kepedulian. Sebuah kesempatan untuk menemukan alasan mencintai sebuah ruang dan dinamika di dalamnya.

Maka, ketika Anda merasa melaju terlalu cepat sehingga melupakan sekeliling, slow down…atau mulailah bersepeda!

Merdeka Bersama Copyleft

1_copyleft
Apabila berpuluh tahun lalu kemerdekaan kita raih dengan perjuangan yang berdarah-darah, saat ini semakin banyak orang yang menawarkan “kemerdekaan” yang bisa kita peroleh tanpa harus menitikkan darah, atau bahkan sekedar keringat saja. Salah satu contoh muncul belakangan ini adalah kemerdekaan yang ditawarkan dunia teknologi informasi melalui konsepsi open source alias sumber terbuka. Istilah ini mengacu pada pengertian pemanfaatan, pendistribusian dan pengembangan piranti lunak secara bebas tanpa terikat lisensi.

Sebelum maraknya praktek open source, dikenal juga istilah copyleft. Meskipun lebih terdengar sebagai plesetan atau permainan kata-kata dari copyright yang lebih dikenal umum, copyleft diakui sebagai landasan ideologis bagi pengembangan open source. Praktek ini berupa cara untuk membuat sebuah program menjadi free software (piranti lunak bebas), dan menjamin kebebasan untuk memodifikasi program tersebut berdasar lisensi.

Konsep copyleft diperkenalkan pertama kali oleh Richard Stallman pada tahun 1984 gara-gara dia tidak diijinkan untuk mengakses hasil pengembangan program Lisp oleh perusahaan Symbolics. Padahal awalnya Lisp dibangun oleh Stallman yang membebaskan pemakaian dan pengembangannya untuk umum. Merasa berang dengan perlakuan Symbolics, Stallman lantas mempraktekkan aksi “penimbunan piranti lunak” (software hoarding), yakni melakukan pembatasan akses ke piranti-piranti lunak terbuka yang sudah dikembangkan olehnya.

Belakangan, Stallman merasa praktek penimbunan tidak praktis dan malah merugikannya dalam menghadapi pranata Hak Kekayaan Inteletual (HaKI). Dia lantas mengubah strateginya dengan memilih cara main yang sama dengan HaKI, namun dengan melakukan modifikasi penerapannya. Sama halnya dengan piranti lunak berhak cipta yang dilindungi dan didistribusikan berdasar lisensi, produk Stallman juga memiliki lisensi. Bedanya, pemegang lisensi produk Stallman memperolah jaminan untuk melakukan modifikasi dan distribusi lanjutan secara bebas. Lisensi tersebut kemudian dinamai General Public License (GPL–Lisensi Publik Umum). Inilah lisensi copyleft yang pertama,

Copyleft lantas sering diartikan sebagai perlawanan atau penolakan terhadap copyright dan menentang perlindungan terhadap hak cipta. Padahal sebenarnya copyleft memanfaatkan aturan copyright untuk tujuan yang bertolak belakang. Artinya, jika copyright bertujuan melindungi kepemilikan pribadi dari pembajakan, copyleft sebaliknya karena tidak berambisi menjadikannya sebagai milik pribadi, tetapi justru menginginkan agar perangkat lunak itu tetap bebas (free software). Selain membebaskan modifikasi dan distribusi lanjutan oleh pengguna, penjaminan melalui copyleft mengantisipasi penyalahgunaan oleh para pengembang piranti lunak yang mungkin berkeinginan mejadikannya piranti lunak terbatas.

Nah, ketika merdeka setara artinya dengan bebas, tentu copyleft bisa diartikan sebagai satu lagi tawaran untuk “merdeka”. Setuju?

Apakah Hanya Kraton?

Kraton Yogyakarta terletak di Jeron Beteng, sebuah kawasan di selingkar dalam (bekas) Benteng Baluwarti yang kini secara administratif tercakup dalam Kecamatan Kraton. Sebagai titik awal perkembangan kota Yogyakarta 250 tahun lampau, kawasan Jeron Beteng laksana gudang dari kisah-kisah historis, kultural dan aspek-aspek fisik serta sosial yang membentuk karakter kota Yogyakarta sebagai kota budaya.

Sejalan dengan fungsinya sebagai (bekas) pusat pemerintahan Kasultanan Yogyakarta, wilayah ini mewarisi bermacam-ragam peninggalan kultural yang tak ternilai. Kraton Kasultanan Yogyakarta bak museum hidup dari kehidupan tradisional yang telah berusia ratusan tahun, termasuk diantaranya ritual Sekaten yang kini tengah berlangsung.  Dalem-dalem kuno tempat tinggal para bangsawan, bangunan-bangunan tradisional yang dimiliki para abdi dalem, hingga lorong-lorong plengkung benteng masih setia merekam dinamika kota yang mulai gagap diantara modernitas dan tradisionalitasnya.

Keterjagaan kekayaan budaya itulah yang menumbuhkan eksotisme yang kemudian memikat ratusan ribu wisatawan untuk mengunjungi wilayah Jeron Beteng, terutama Kraton dan Tamansari. Tak dapat disangkal, kedua lokasi tersebut memang masih menjadi jujugan utama wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Menurut catatan dari Tepas Pariwisata Kraton Yogyakarta, pada tahun 2005 angka kunjungan wisatawan dengan tujuan Kraton Yogyakarta saja mencapai lebih dari 320 ribu pengunjung. Sekitar 30.000 diantaranya wisatawan mancanegara.

Sebenarnya, selain Kraton dan Tamansari, kawasan Jeron Beteng masih menyimpan aneka daya tarik dan potensi wisata yang belum tergarap. Apa lagi? Sebelum pertanyaan ini terjawab, agaknya kita harus menyepakati dahulu terminologi “potensi wisata” yang dipakai di sini.

Apakah potensi wisata masih melulu dimaknai sebagai atraksi wisata yang berupa bangunan fisik, pranata sosial maupun elemen-elemen budaya yang berciri pada tradisi atau budaya saja? Jika ya, maka “potensi wisata” yang ada di Jeron Beteng memang hanya sebatas Kraton, Tamansari, dan beberapa Dalem serta obyek wisata formal lainnya (misalnya Masjid Agung dan museum).

Tetapi jika Anda menjawab “tidak”, maka kita bisa menyodorkan elemen-elemen lain yang berperan dalam dinamisasi kehidupan sosial-budaya kawasan Jeron Beteng. Lepas dari label apakah ia “tradisional”, “eksotis” atau malah “kontemporer”.  Sebagai contoh, coba amati  sejumlah mural yang tergambar pada beberapa dinding bangunan di kawasan ini. Tengok juga kantung-kantung aktifitas budaya kontemporer seperti Yayasan Seni Cemeti di Patehan dan kelompok fotografi Mess 56, komunitas pembuat film Four Colors di Nagan. Jangan lupakan juga kawasan Rotowijayan dengan kios-kios Dagadu “asli”-nya dan Jalan Wijilan dengan deretan warung gudeg-nya yang tersohor. Mereka pun sebenarnya memiliki “sihir” wisata yang tak kalah memikat.

Semuanya (walaupun tidak memiliki sisi “tradisionalitas” yang seringkali diidentikkan dengan aktifitas wisata di Jeron Beteng) mewakili “potensi wisata” yang tidak banyak diperhatikan di kawasan ini. Meskipun tidak sampai ribuan, lokasi-lokasi ini juga mampu mendatangkan wisatawan, terutama dari kalangan yang memiliki minat khusus. Perannya dalam menduniakan nama dan reputasi kota Jogja sebagai pusat kebudayaan juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan adanya mereka, paling tidak kita bisa mengatakan bahwa potensi wisata Jeron Beteng bukanlah Kraton saja.

Only the Good Die Young?

Sekali berarti, kemudian mati. Kurang lebih begitu tulis penyair Chairil Anwar. Tapi, dalam dunia yang geraknya semakin absurd tak terpahami kini, apakah tiap-tiap orang akan sempat memberi arti pada dirinya sebelum mati? Tengok saja, kematian di hari ini mungkin datang dalam rupa ledak mesiu yang merajam daging tubuh menjadi serpih-serpih. Atau dalam bentuk sambaran mesin besar di jalan raya yang melumat daging-tulang dalam potongan-potongan kecil tanpa engkau sempat sadar apa yang telah menimpamu.

Dan sialnya, ada kemungkinan engkau hanya akan dikenali dalam angka-angka. Jika jalan kematian demikian yang ditemui, akan masih berartikah nyawa yang tercerabut? Kalau pun kematianmu cukup berarti sehingga sempat membuat sekian ratus kepala bercucur air mata dan menyebut-sebut namamu dalam pembicaraan selama seminggu dua minggu berikutnya, toh tetap saja bagi sebagian besar orang lain maknamu tak lebih dari angka-angka. A mere statistic!

Padahal, statistik adalah kebohongan paling telanjang!—(sayangnya, aku lupa siapa yang mengatakan ini). Namun tidak sedikit orang yang merasa nyaman dengan kebohongan yang tak empatik ini, agaknya. Betapa tidak, hanya dengan angka-angka engkau bisa menggantikan gambaran nyawa-nyawa meregang–ketika kulit terkelupas disembur api, tubuh dibolongi timah runcing, kaki-tangan, kelamin, rambut, usus terburai dihumbalangkan oleh ledak mesiu. Hanya dengan angka-angka!

Harap dicatat, angka 143 korban mati tertimbun sampah di Leuwigajah, Cimahi, yang mungkin tertera pada tabel di papan pengumuman sebuah kantor kecamatan hingga ruang kerja gubernur Jawa Barat misalnya, adalah sama halnya dengan 143 rasa sakit yang menerpa dengan luka-luka, pedih yang sangat, dan, tanya MENGAPA yang barangkali tak pernah terjawab! Bisakah engkau bayangkan dirimu cacat atau malah mati bersama segala penasaran tanpa jawab? Atau, dan ini menjadi semakin absurd, apakah mereka mati untuk menjadi contoh, menjadi preseden, bagi manusia-manusia sejaman atau setelahnya? Ha. Mereka yang alasan penciptaannya sama-sama menjadi khalifah bumi, akhirnya mati hanya untuk jadi contoh bagi yang lainnya!

Punya arti barangkali adalah masalah eksistensial yang kerap kali menggugat-gugat isi kepala banyak orang. Meski pun toh nilainya relatif satu sama lain, orang selalu mencoba mencari ukuran yang bisa dikenakan ke setiap siapa untuk menentukan seberapa berarti kamu di konteks tertentu. Katakanlah dalam lingkup sebuah universitas, seberapa berarti engkau jika dirimu adalah seorang mahasiswa tua yang sudah bertahun-tahun lalu seharusnya telah menyelesaikan studi? Mungkin birokrat fakultas akan banyak mencibir dan para administrator kampus sibuk mencari alasan untuk segera menendangmu keluar dari kampus.

Juga, berartikah bagimu sekian ratus nyawa yang melayang hampir setiap hari di Iraq atau Palestina sana? Mungkin akan lebih menyedihkan bagimu kematian biasa seorang paman dari pihak ibu yang selalu membawakan permen di kala kecilmu, daripada kematian seratus atau dua ratus kanak-kanak atau pemuda di belahan bumi sana karena timah panas dari rezim yang sangat tidak adil.

Benar, kita lantas bicara masalah kehilangan. Tentang sebuah ruang kosong yang tak dikehendaki, yang dimunculkan oleh setiap kematian dari bagian yang intim dengan kita. Jika demikian, apakah keberartian selalu ditentukan oleh keintiman? Jika memang keberartian bergantung pada tingkat keintiman, apakah ketika engkau dalam lingkup yang intim telah dianggap cukup memiliki arti, maka engkau dapatlah mati dengan tenang. Begitukah?

Aku sendiri tidak tahu jawabannya, tetapi jika musti menjawab, maka jawaban yang akan kuberikan adalah: tidak! Toh masalah kapan engkau, atau aku, mati tidak pernah ada sangkut pautnya dengan telah seberapa jauh atau seberapa besar engkau punya arti, kan? Dalam Qur’an dinyatakan, setiap hidup berjodoh dengan maut, tanpa peduli apakah engkau sempat hidup sekian tahun untuk menyatakan eksistensimu atau belum. Buktinya, dari waktu ke waktu tetap angka kematian bayi tetap tinggi (here is another statistic…:), entah karena kekurangan gizi atau dicekik si pelahir yang tak menghendakinya.

Berlatar pemikiran ini, jangan percaya dengan frasa “only the good die young”! Karena boleh jadi orang akan secara nakal memaknainya secara terbalik, “it’s good that you die young!”, yang maknanya “baguslah engkau segera mati karena keberadaanmu tak lagi dikehendaki oleh masyarakat”. Nah, lho!