Pertanian Organik, Jawaban Pemberdayaan Petani?

Pertanian organik sebagai bagian dari gerakan pemberdayaan petani, memang baru dikenal satu dekade lalu. Dimulai di Yogyakarta oleh kelompok-kelompok tani yang menjadi kelompok dampingan beberapa LSM, gerakan ini kemudian meluas ke wilayah-wilayah lain di Pulau Jawa serta provinsi-provinsi di Indonesia bagian timur.

MENILIK prinsip-prinsip pertanian organik, yakni pola pertanian yang menghasilkan bahan makanan sehat dan diusahakan dengan cara yang ramah lingkungan, bisa dikatakan sejalan dengan pola pertanian tradisional pra-revolusi hijau. Sebagian besar petani-petani di Indonesia –khususnya di luar Jawa—adalah para petani organik yang terbentuk secara tidak sengaja justru karena mereka tidak menjadi target atau berpartisipasi dalam “revolusi hijau” dan masih tetap melanjutkan metode pertanian tradisional. Jadi pada tataran praktis, sudah sejak jauh-jauh hari sistem pertanian kita sebenarnya sudah “organik”.

Namun sebagai sebuah gerakan yang sadar, pertanian organik memang baru dimulai ketika beberapa kelompok petani dan LSM melihat pertanian organik sebagai cara melawan dampak buruk revolusi hijau dan membebaskan para petani dari dominasi revolusi hijau – seperti ketergantungan terhadap pupuk kimia, pestisida dan bahan-bahan pertanian lainnya yang sejenis. Selain itu diintrodusir pula sistem perdagangan adil (fair trade) yang menjadi atribut gerakan pertanian organik. Sistem perdagangan adil menekankan adanya , sehingga bisa menyejahterakan petani.

Di Yogyakarta, gerakan ini secara riil telah mewujudkan idealisasi pola pertanian organik dari sisi produksi, organisasi dan distribusi. Sejumlah 14 kelompok tani yang tersebar di wilayah propinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menggabungkan diri dalam sebuah usaha bersama (UB) yang diberi nama Sahani, singkatan dari Sahabat Niaga Petani, untuk mengelola pertanian organik, memperkuat kelembagaan petani dan mendistribusikan produk organik secara mandiri.

Lahan Potensial
Secara geologis, geografis maupun kultural, Indonesia merupakan negara yang sangat potensial untuk mengembangkan produk organik. Negara kita memiliki kekayaan sumberdaya hayati tropika yang unik, kelimpahan sinar matahari, air dan tanah, serta budaya masyarakat yang menghormati alam. Lahan yang potensial untuk dikembangkan menjadi pertanian organik di Indonesia masih sangat besar. Dari 75,5 juta ha lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian, baru sekitar 25,7 juta ha yang telah diolah untuk sawah dan perkebunan (BPS, 2000)

Ketersediaan lahan tersebut menjadi keunggulan komparatif Indonesia untuk bersaing di pasar internasional. Lagipula teknologi untuk mendukung pertanian organik sudah dikuasai para petani, seperti pembuatan kompos, tanam tanpa olah tanah, pestisida hayati dan lain-lain. Saat ini areal tanam pertanian organik terluas berada di Australia dan Oceania, yaitu mencapai 7,7 juta ha. menyusul kemudian Eropa, Amerika Latin dan Amerika Utara masing-masing sekitar 4,2 juta; 3,7 juta dan 1,3 juta hektar. Areal tanam komoditas pertanian organik di Asia dan Afrika masih relatif rendah yaitu sekitar 0,09 juta dan 0,06 juta hektar. Sementara untuk jenis produk organik yang paling banyak diserap pasar internasional adalah sayuran, kopi dan teh serta produk peternakan.

Memang, hingga saat ini potensi pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, terbatas pada masyarakat golongan ekonomi menengah ke atas. Alasannya adalah produk pertanian organik masih relatif mahal. Saat ini, sebagai contoh harga beras organik rata-rata mencapai Rp. 4.000,00 per kilogram, sementara untuk beras yang diahsilkan dengan pola pertanian non-organik paling mahal hanya Rp. 3.500,000 per kilo. Faktor harga mahal tersebut ditengarai akibat belum ada insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia, dan keengganan petani untuk memproduksi komoditas organik karena belum adanya kepastian pasar, sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.

Saat ini banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang bergerak mempromosikan sistem pertanian organik di tengah masyarakat. Gerakan yang disemai setidaknya sejak sepuluh tahun yang lalu itu lebih pada koridor pemberdayaan petani, bukan sebagai upaya untuk memburu keuntungan ekonomis. LSM seperti jaringan Aksi Pestisida Indonesia, SPTN-HPS, ELSPPAT, Sahani dan Sintesa hanyalah beberapa nama yang secara konsisten memperkenalkan pola pertanian organik pada petani, terutama untuk memutus ketergantungan petani pada pupuk kimia dan sistem pasar yang tidak berpihak pada kaum ini.

Isu mengenai reformasi agraria, dengan ujung tujuan mengembalikan penguasaan tanah pada para petani, dipandang juga menjadi titik strategis untuk kemandirian petani.

Gaya Hidup Hijau
Selain gerakan-gerakan yang secara sadar dijalankan masyarakat, trend dunia agaknya sedang berpihak pada gerakan pertanian organik. Gerakan “back to nature” yang diantaranya mengedepankan gaya hidup hijau, yakni cara hidup yang berkesesuaian dengan prinsip keseimbangan dan kelestarian lingkungan, tengah menjadi bagian dari kesadaran global masyarakat dunia abad ke-21. Dalam dunia pertanian, gaya hidup ini mewujud dalam bentuk produksi dan konsumsi makanan sehat yang bebas dari pemakaian bahan kimia sintetis atau non-alami atau pertanian organik.

Tujuan utama pertanian organik untuk menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan, relevan dengan prinsip hidup hijau. Melihat perkembangannya, secara internasional, gerakan ini kemudian didukung oleh kebijakan yang mensyaratkan bahan makanan beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes).

Sebagian di dorong oleh munculnya trend hidup hijau ini, pasar produk pertanian organik dunia meningkat 20% per tahun dan volume produk pertanian organik mencapai 5-7% dari total produk pertanian yang diperdagangkan di pasar internasional. Sebagian besar produk organik dipasok oleh negara-negara maju seperti Australia, Amerika dan Eropa. Sementara itu di Asia, pasar produk pertanian organik lebih banyak didominasi oleh negara-negara timur jauh seperti Jepang, Taiwan dan Korea.

Dalam perkembangannya, produk-produk pertanian organik pun mulai diusahakan secara modern. Sementara ini, label modern baru dimaknai sebagai upaya meninggalkan pemakaian pestisida sintetis. Namun dengan makin berkembangnya pengetahuan dan teknologi kesehatan, lingkungan hidup, mikrobiologi, kimia, molekuler biologi, biokimia dan lain-lain, pertanian organik terus berkembang. Pada sektor kebijakan, perkembangan itu mencakup dikembangkannya standar mutu produk organik.

Salah satu cara untuk menerapkan standar mutu, dilakukan dengan penerapan sertifikasi produk organik. Ini dilakukan sebagai bentuk perlindungan terhadap konsumen. Sertifikasi yang ada saat ini mencakup dua kriteria, yakni Sertifikasi Lokal untuk pangsa pasar dalam negeri dan Sertifikasi Internasional untuk pangsa ekspor dan kalangan tertentu di dalam negeri.

Sertifikasi jenis pertama masih mentoleransi penggunaan pupuk kimia sintetis dalam jumlah yang minimal atau Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA), namun sudah sangat membatasi penggunaan pestisida sintetis. Tim sertifikasi di Indonesia dibentuk oleh Departemen Pertanian dan melibatkan ahli-ahli dari perguruan tinggi. Sertifikasi Internasional mensyaratkan pemenuhan beberapa parameter seperti masa konversi lahan, tempat penyimpanan produk organik, bibit, pupuk dan pestisida serta pengolahan hasilnya harus memenuhi persyaratan tertentu sebagai produk pertanian organik. Sertifikasi Internasional diantaranya dikeluarkan oleh IFOAM (International Federation of Organic Agriculture Movements).
Jikalau benar pertanian organik menjadi jawaban untuk memberdayakan petani, yang sama artinya dengan 60% dari total penduduk di Indonesia, maka upaya ini tentu sejalan dengan kehendak pemerintah untuk menyejahterakan masyarakat. Sebuah langkah yang layak mendapat dukungan, bukan?

BOX

SAHANI, Sahabat Petani Organik

UPAYA PEMASYARAKATAN : Salah satu cara efektif untuk memasyaratkan produk organik adalah dengan membuka toko organik. Ini dibuktikan oleh toko SAHANI (Sahabat Niaga Petani), yang beralamat di Jalan Magelang km. 7, Jombor, Sleman, Yogyakarta.

TOKO ini memulai kegiatannya sejak bulan Juli 1997, dan diancangkan sebagai media praktik atau contoh langsung penerapan prinsip pemasaran yang berkeadilan (fair trade).

Awalnya SAHANI mencoba membantu terobosan pemasaran produk-produk dari perajin kecil dan petani yang menjadi kelompok dampingan dari beberapa LSM di Jawa Tengah dan DIY. Namun menginjak tahun 1998, SAHANI lebih menekankan pada pemasaran produk pertanian terutama padi non-pestisida kimia. Terobosan SAHANI dalam memperkenalkan prinsip pemasaran berkeadilan untuk produk beras non-pestisida dan beras organik, memunculkan wacana baru mengenai produk beras sehat, pola pertanian ramah lingkungan dan pemasaran berkeadilan di tengah masyarakat.

Logika pasar dewasa ini dinilai seringkali meminggirkan pemain kecil. SAHANI berupaya membantu petani, perajin dan produsen kecil, baik laki-laki maupun perempuan, dengan cara memerangi ketidak adilan perdagangan yang menimbulkan ketimpangan akses pada sumberdaya, modal, pasar dan teknologi untuk meningkatkan kesejahteraan mereka. SAHANI juga memerangi perdagangan yang tidak adil, yang menyebabkan tereksploitasinya buruh, terutama kaum perempuan dan anak-anak, serta eksploitasi sumberdaya alam atau lingkungan

Saat ini SAHANI berbentuk usaha bersama (UB SAHANI) yang bermitra dengan 14 kelompok tani organik di beberapa wilayah di Jawa Tengah dan Yogyakarta, yang setidaknya beranggotakan orang 500 petani. Setiap bulan tak kurang dari 4,5 ton beras organik—dari jenis Rojolele, Menthik Wangi, Pandan Wangi, Lestari. Merah dan Andelrejo— serta aneka jenis sayuran organik, disalurkan pada konsumen di beberapa kota di Jawa Tengah dan DIY. Dalam waktu dekat UB SAHANI berencana membuka toko kedua di Jalan Cik Di Tiro, Yogyakarta. – man

Kontak :
UB SAHANI, Jl Magelang km 7 No 46, Jombor, Sleman, Yogyakarta
Telp (0274) 865762 email: sahani@eudoramail.com

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s