100 untuk Rossi!

DSC06917

Adu balap Valentino Rossi dengan Jorge Lorenzo pada ajang MotoGP di Catalunya terulang di sirkuit Assen, Belanda, 27 Juni 2009. Pembalap berjuluk The Doctor ini kembali memaksa Lorenzo, dan Casey Stoner, mengekornya setelah saling kebut pada lap terakhir.

Kemenangannya kali ini mencatatkan Rossi sebagai pembalap kedua yang mencatat 100 kali finish di urutan pertama dalam ajang MotoGP. Pembalap pertama yang berhasil mengantungi 100 kemenangan adalah
Giacomo Agostini, yang juga berasal dari Italia. Agostini mencatat 122 kemenangan sepanjang karirnya.

100 untuk Rossi! Brummmm!

Animals Don’t Talk, Because They Don’t Lie

“Animals don’t talk, because they don’t lie” (seorang penjaja seks dalam film Breaking and Entering karya Anthony Minghella).

Siapa belum pernah berbohong? Pasti Anda sedang berpura-pura jika mengacungkan jari. Dalam kadar seminimal apapun, bahkan mungkin para nabi, sekali waktu pasti pernah mengucapkan kebohongan. Entah dengan tujuan lurus, atau sebaliknya.

Lantas, kenapa orang berbohong? Merujuk judul di atas, tentunya bukan karena orang–manusia–bukanlah hewan. Meski, para biolog memandang manusia adalah juga hewan,hanya saja ia dilengkapi atribut bisa berpikir alias thinking animal. Tetapi, justru atribut yang “hanya” inilah yang menjadi batas tegas yang mana manusia, yang mana hewan. Agaknya dengan kemampuan berpikir inilah, plus kemampuan berbahasa tentunya, manusia menjadikan bohong bagian dari hidupnya.

Sejarah mencatat kebohongan demi kebohongan terlampir pada peradaban yang bersulih. Kitab-kitab suci samawi menyebutkan Khabil (Cain) berbohong kepada Adam, bahwa Habil (Abel) minggat. Padahal jasad Habil dikuburnya setelah terbunuh saat mereka bersengketa memerebutkan seorang wanita. Mungkin inilah kebohongan kedua di dunia, dalam konteks keagamaan, setelah bujuk rayu iblis pada Adam dan Hawa untuk menyantap buah larangan di surga.

Masih dari kisah kitab suci, karena rasa iri atas timpangnya distribusi kasih sayang sang ayah, Ayub, saudara-saudara Yusuf meninggalkannya terperangkap di dalam sumur tengah gurun. Pada Ayub, suadara-saudara Yusuf mengisahkan cerita bohong bahwa adik mereka ditahan oleh prajurit kerajaan karena kedapatan mengutil alat timbang milik pedagang di pasar ibukota. Kebohongan mereka menghancurkan hati dan membutakan mata Ayub.

Pada konteks yang lebih baru, pada 1960-an, keberhasilan Apollo 11 mendarat di bulan memantapkan dominasi Amerika Serikat di dunia dalam bidang teknologi dan kompetisi luar angkasa. Namun, beberapa tahun lalu, orang terperangah ketika diulik kemungkinan pendaratan di bulan itu hanya isapan jempol saja. Tak hanya dalam bidang teknologi, Amerika Serikat dicatat sering menyebarkan kabar dusta sebagai dalih untuk berperang atau menutupi intensi imperialismenya.

James Bovard dalam tulisannya di Freedom Daily, memberikan beberapa ilustrasi. Tahun 1846, James K. Polk memicu perang Amerika melawan Meksiko dengan menyiarkan serangan pasukan Meksiko pada penjaga perbatasan AS. Belakangan, Abraham Lincoln mengecam bahwa aksi ini berpangkal dari informasi palsu. Pada 1945, Harry Truman mengibuli rakyat Amerika bahwa pasukan mereka menjatuhkan bom atom pada “pangkalan militer” di Hiroshima untuk meminimalkan korban sipil. Padahal ratusan ribu sipil meregang nyawa. Pemerintah AS menyortir foto-foto kerusakan dan korban di Hiroshima agar bukti kekejian bom atom tidak terpapar pada publik Amerika.

Belum lapuk dari ingatan kita aneksasi Iraq ke Kuwait pada 1990. Gorge Bush Sr.ikut gerah dan mengirimkan 500.000 tentara AS dengan dalih satelit mereka menangkap gerakan pasukan Iraq di perbatasan Arab Saudi, mengancam salah satu sumber minyak terkaya di dunia itu. Foto satelit itu tak pernah dirilis oleh Pentagon ke publik.

Sebuah harian Amerika, St. Petersburg Times membeli foto satelit dari Rusia yang merekam lokasi dan waktu yang sama dengan klaim Amerika dan mendapati gambar gurun yang kosong. Bush pun memperkaya alasan berperangnya dengan kesaksian seorang gadis Kuwait, yang belakangan terungkap berbohong, bahwa pasukan Iraq mencabuti selang-selang oksigen dari ratusan inkubator dan membiarkan ratusan bayi meregang nyawa. Cerita ini sering disitir Bush untuk mendulang dukungan kalangan konggres.

Satu dekade setelahnya, gliran Bush Junior mengobarkan perang pada Iraq. Kali ini alasan penguatnya adalah senjata pemusnah massal yang dikembangkan Iraq. Klaim ini belakangan juga tersingkap sebagai kebohongan. Namun Saddam Hussein dan ribuan rakyat Iraq, juga ribuan tentara AS, terlanjur tewas. Baghdad yang menyimpan bukti-bukti peradaban tinggi ribuan tahun lalu pun lantak.

Pada ranah yang lain, kebohongan pun meruak dalam bidang media. Tahun 1972, Clifford Irving diganjar hukuman 17 bulan penjara karena mengecoh penerbit besar McGraw-Hill. Ia memalsukan tulisan dan tanda tangan miliuner eksentrik Howard Hughes, menyaru sebagai si milliuner dengan merekam suaranya sendiri, dan menyatakan Hughes memintanya untuk menulis otobiografi. McGraw-Hill tertipu hampir US$ 1 juta, namun tipudaya Irving terkuak setelah Howard Hughes, yang bertahun-tahun menghilang dari publisitas, secara langsung membantahnya. Kisah Irving diangkat ke layar lebar dengan judul The Hoax (2006), dari buku berjudul sama karya Irving di tahun 1982.

Hampir sama, Stephen Glass, penulis muda cemerlang pada media terkemuka di AS, New Republic, memalsukan 27 artikel yang seolah hasil reportase brilian. Kisahnya pun diangkat menjadi film bertajuk Shattered Glass.

Isapan jempol, kabar burung, dusta, pura-pura, akting, lain di mulut lain di hati, hoax, prank, trick, scam, atau apapun istilahnya, sedikit banyak merujuk pada makna yang setara dengan bohong. Tetapi, kembali ke pertanyaan semula: kenapa orang berbohong?

Kejadian-kejadian diatas, sekian dari jutaan, bahkan mungkin miliaran kebohongan yang tercatat dalam sejarah manusia, mengungkap motif-motif kenapa orang berbohong. Pertama, untuk bertahan hidup. Kedua alasan ekonomi, bisa jadi karena kekurangan atau sebaliknya, keserakahan. Ketiga, demi kekuasaan atau kemegahan diri. Alasan ini kerap bertemali erat dengan alasan ekonomi. Keempat, untuk menyelamatkan muka, martabat, atau menutupi kebohongan sebelumnya. Kelima, mungkin, demi kebohongan itu sendiri. Apa lagi ya? Ada alasan lain yang bisa Anda tambahkan?

Sikap manusia atau masyarakat–diwujudkan dalam nilai atau norma–jelas terhadap praktik kebohongan: menganggapnya sebagai kejahatan. Namun berbeda dengan kejahatan lain, secara hukum kebohongan kerapkali hanya menjadi atribut untuk menutupi tindak jahat yang lain.

Kebohongan, bagaimanapun bentuknya, menggusarkan setiap peradaban. Berbagai cara dipakai untuk mengungkapnya, tak jarang dengan langkah-langkah konyol. Pada abad 12, pengadilan di Inggris menguji kejujuran tertuduh dengan menyuruhnya berjalan 9 langkah memanggul besi membara atau berjalan di atas 9 bajak membara.  Jika punggung atau kakinya terbakar, maka ia berbohong dan langsung digantung. Pengadilan lainnya menerapkan cara berbeda. Yakni dengan mengarungi tertuduh, kemudian menceburkannya ke danau. Jika karungnya terapung, orang itu berbohong sehingga layak digantung. Sebaliknya jika karung tenggelam, maka ia berkata benar. Cara-cara menggelikan ini dihapus pada tahun 1215.

Pada abad 16, mulai dipakai metode akal sehat. Yakni menggali kejujuran tertuduh dengan cecaran pertanyaan ilmiah dan logis. Perkembangan selanjutnya, pada abad 19, dilakukan pengaitan antara karakter fisiologis seseorang dengan kebohongan. Ahli-ahli phrenologi (ilmu yang meneliti benjol pada tengkorak manusia) mengaitkan bentuk benjol tertentu dengan kecenderungan untuk berbohong. Sedangkan para psikolog berkutat pada tipe-tipe masa lalu, bahkan mimpi, seseorang untuk mengukur kadar kejujuran seseorang.

Memasuki abad 20, mulai dipakai obat-obatan untuk uji kebohongan. Obat tidur yang mengandung scopolamine, sodium amytal dan sodium pentothal dicekokkan pada tertuduh sehingga ia kehilangan kendali diri dan muskil berbohong. Namun efektifitas obat ini dipertanyakan, karena yang muncul biasanya celoteh tak tentu arah dibanding kejujuran. Pada tahun 1963, Pengadilan Tinggi AS melarang praktik ini dan mengategorikannya sebagai bentuk penyiksaan.

Cara ilmiah terkini untuk mengungkap kebohongan adalah dengan mesin uji kebohongan (lie detector) yang menganalisa perubahan temperatur sendi mata ketika berbohong. Konon tingkat keberhasilannya mencapai 83%. Tetapi apakah mesin ini lebih terpercaya dibandingkan lie detector polygraf yang mendeteksi detak jantung, tekanan darah dan irama pernafasan, masih harus dibuktikan.

Bagaimanapun, walau musti menunggu, kebohongan toh pada saatnya terungkap. Seperti kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat..eih, salah! Sepandai-pandai menyimpan bangkai, busuknya akan tercium juga. Wah!

American Gangsters: Integritas Jutaan Dolar

Memulai pagi di Sabtu yang mendung, saya mendapati American Gangster kembali diputar di HBO. Saya menonton film besutan Ridley Scott, sutradara Inggris yang antara lain menelorkan Blade Runner, G.I. Jane, dan Gladiator ini, untuk kedua kalinya. Dibintangi dua peraih Oscar, Denzel Washington dan Russel Crowe, film ini bertutur tentang perseteruan penegak hukum versus pengedar heroin di New York pada akhir tahun 1960-an hingga awal 1970-an.

Frank Lucas, seorang preman kulit hitam dari Harlem, diperankan dengan apik oleh Denzel Washington, adalah sopir Ellsworth Bumpy Johnson, pemungut pajak keamanan yang menguasai jalan-jalan wilayah itu. Selama 15 tahun Lucas mendampingi sekaligus memelajari cara kerja Bumpy saat menagih uang keamanan pada pengusaha-pengusaha. Dengan atau tanpa kekerasan. Bergelimang harta dari bisnis ini, Bumpy mendulang simpati masyarakat Harlem dengan membagikan gratis paket-paket sembako saat Thanskgiving. Berkat aksinya, Bumpy acap disebut sebagai Robin Hood dari Harlem.

Sebelum putus nafasnya akibat serangan jantung, Bumpy sempat berkeluh kesah pada Lucas bagaimana sistem pemasaran modern, direpresentasikan melalui supermarket-supermarket besar  yang memapas jalur perantara atau distributor, telah mengurangi penghasilannya.

“Mereka membeli langsung dari pabriknya, meniadakan perantara. Membeli Sony ini, Toshiba itu, langsung dari China. Tak ada lagi pengusaha yang bisa diperas,” keluh Bumpy, sesaat sebelum tergolek lemas di dalam supermarket modern yang menjajakan peralatan musik. Kata-kata terakhir sang patron ini menancap kuat di benak Lucas.

Sembari meneruskan bisnis Bumpy, berebut pengaruh dengan kriminal-kriminal negro lainnya, Lucas mulai menjajakan heroin kelas dua yang diperolehnya dari jaringan mafia. Pada Lucas, seorang Don mengeluhkan rusaknya pasar narkoba gara-gara sejumlah polisi korup ikut terjun di bisnis ini. Polisi menyita heroin dari tangan pengedar, menyimpannya sebagai barang bukti, kemudian menggelapkan dan menjualnya kembali ke pasaran dengan kualitas dan harga lebih rendah.

Mengetahui situasi ini, di kepala Lucas terngiang-ngiang kata-kata Bumpy: membeli langsung dari pabriknya. Itulah yang kemudian dilakukannya. Menyimak berita televisi tentang maraknya kasus penggunaan heroin di kalangan tentara Amerika yang ditugaskan di Vietnam dan kemudian mendapatkan info dari tentara-tentara yang pulang kampung bahwa heroin Vietnam jauh lebih murni dibanding yang beredar di jalanan New York, ia tahu harus pergi ke mana. Lucas pun segera mengontak seorang tentara yang bertugas di Vietnam untuk melacak sumbernya.

Tak mengacuhkan perang dan liarnya hutan tropis, berbekal US$ 400 ribu uang pinjaman, Lucas menyusup ke padalaman Vietnam dan bertemu langsung sekelompok petani opium yang adalah mantan tentara Koumintang, para pembela Chiang Kai Sek. Seratus kilo heroin murni ia peroleh dari transaksi mula itu.

Lucas menggelontorkan US$100 ribu untuk menyogok prajurit sehingga heroinnya dipaketkan menumpang pesawat militer Amerika. Segera setelah sampai di Amerika, heroin rilisan Lucas menguasai jalanan di Harlem dan Bronx dengan omzet US$1juta per hari. Selain kadar kemurniannya yang lebih tinggi, keunggulan produk yang berlabel Blue Magic ini adalah harga jualnya yang separuh dari heroin yang dipasarkan oleh mafia Italia.

Pada lain sisi, Richie Roberts, diperankan Russel Crowe, detektif bagian pemberantasan narkoba kepolisian wilayah New Jersey, mendadak terkenal ketika ia dan rekannya menyetorkan uang US$1 juta ke markas kepolisian. Uang itu mereka temukan di bagasi mobil yang ditinggalkan oleh akuntan pengedar narkoba, yang mereka kuntit sebelumnya, dan dicurigai sebagai uang sogokan untuk polisi. Tindakan itu membuat Richie dan rekannya dikucilkan oleh polisi lain yang menganggapnya Richie sok suci. Ia sama sekali kehilangan dukungan untuk operasi-operasi lapangan.

Pada saat sama, terusik oleh menggilanya peredaran narkoba, pemerintah Amerika membentuk Kesatuan Khusus Anti Narkoba. Richie digamit untuk mengurusi New York. Ia diberi keleluasaan untuk tidak berkantor di kepolisian dan memilih rekan kerja. Setelah tim Richie terbentuk, mereka fokus pada transaksi-transaksi narkoba skala besar, dengan transaksi minimal 40 kilogram dan bernilai jutaan dolar. Perhatian mulai dipusatkan pada sosok-sosok mafia dan penjahat-penjahat dari Mexico, Kuba, dan Amerika selatan lainnya.

Ia kaget tatkala penyelidikan panjangnya berujung pada sosok Lucas, seorang gangster kulit hitam. Saat itu, kriminal kulit hitam tidak pernah menjadi pemain utama dalam kejahatan-kejahatan besar di bidang narkoba. Pengetahuan inipun diperolehnya secara kebetulan. Seorang penjahat medioker, juga kawan masa kecil dan ayah pemandian anak Richie, mencoba menyuap sang polisi dengan sebuah rumah musim dingin di Swiss sambil berpesan agar tak mengganggu operasi Frank Lucas. Dari situ, pertanyaan-pertanyaan tim Richie pun mengait dengan jawaban.

Tahun 1973, ketika Saigon jatuh ke tangan Vietnam Utara, pasukan Amerika mulai ditarik secara bertahap dari lokasi perang. Lucas melihat keberlangsungan untuk mendapatkan heroin dari sumbernya terancam. Lekas ia terbang kembali ke Vietnam. Dua ribu kilogram heroin ia kumpulkan dan dengan cerdiknya diselundupkan dalam peti mati prajurit AS yang tewas (cerita sebenarnya ternyata tidak demikian 🙂.

Dari anak buah Lucas yang tertangkap dan bersedia menjadi informan, rencana pengiriman ini dikuak oleh Richie. Mereka merangsek ke bandara. Setelah mengobrak-abrik badan pesawat Hercules di bawah protes keras kalangan militer, hasilnya nihil. Malah atasan Richie marah-marah dan mengancam memecatnya gara-gara tindakan Richie yang dianggap menodai perjuangan para tentara marhum.

Richie dan rekan-rekannya melewatkan belasan peti mati karena sang atasan mencegahnya membuka kantung mayat. Si atasan menganggap kecurigaan Richie sebagai lelucon, apalagi ketika ia mengungkap dalang penyelundupan ini seorang gangster kulit hitam, bukan mafia Italia, kelompok Irlandia, atau gangster Mexico. Nekat, Richie tetap mengirim anak buahnya menguntit perjalanan peti mati-peti mati tersebut dan mendapati anak buah Lucas membongkar ribuan kilo heroin dari alas peti mati.  Mereka membawanya ke rumah susun kelas bawah yang kemudian terbongkar digunakan menjadi lokasi pengemasan heroin siap edar. Lokasi inipun segera digerebek puluhan polisi. Setelah dar der dor yang sengit, belasan kaki tangan Frank Lucas pun diringkus. Lucas dicokok saat beranjak pulang dari gereja. Di tangga gereja, untuk pertama kalinya Lucas dan Richie bersirobok pandang.

Dalam persidangan, Richie, yang juga nyambi kuliah hukum, menjadi penuntut. Suatu saat, dalam rehat persidangan yang memungkinkan keduanya bertemu empat mata, Lucas mencoba menyuapnya dengan tawaran jutaan dolar. Richie tak goyah, malah ia mampu menekan Lucas untuk membantunya. Alih-alih meminta si gangster menyingkap jaringan mafia, Richie menyudutkannya untuk membeberkan nama-nama polisi korup yang selama ini melindungi operasi, sekaligus memeras Lucas.

Singkat cerita,  berkat informasi Lucas 3/4 dari seluruh polisi bidang pemberantasan narkotika di New York pun diberangus. Richie mengundurkan diri dari kepolisian dan beralih profesi menjadi pengacara. Klien pertamanya adalah Lucas.

Dituntut hukuman 70 tahun penjara, pada 1976 Frank Lucas akhirnya divonis 15 tahun menimbang kerjasamanya dengan polisi. Tahun 1991 ia dibebaskan dan meneruskan pertemanannya dengan Richie. Oleh Ridley Scott keduanya dilibatkan dalam penggarapan American Gangster di tahun 2007. What a story!

Kabel-kabel Gegar Budaya?

P1010016

Menjadi pekerja lepas menyodorkan luang yang terkadang bingung untuk saya isi kegiatan apa. Jika tiba enggan untuk menulis, melukis, membuat sket atau bikin komik online, kerapkali, sembari menjagai toko kelontong milik mertua, saya merebahkan diri di sofa lama yang apek dan keras meski telah ditumpuki dengan kain-kain selimut tebal. Kemudian jari-jariku memainkan tombol remote control televisi.

Pilihan saya antara berita politik, yang semakin hari kian membosankan, di TV One atau Metro, yang berselang-seling dengan update kasus Manohara, Prita, Siti Hajar, dan kecelakaan pesawat AU, atau liputan travelling di Trans 7-TV, maka saya akan berlama-lama menyimak National Geographic Channel, HBO atau (Cine)Max. Barulah ketika kanal-kanal itu mulai kehilangan pesonanya, jemariku kembali menekan pilihan kanal naik-turun, mendapati imaji yang berloncatan dari puluhan kanal stasiun televisi nasional, lokal, dan mancanegara.

Semua siaran itu kami (baca: sebagian besar penduduk Sorowako) peroleh dari jaringan teve kabel lokal yang menyampuradukkan paket-paket Telkomvision dan Indovision. Sejak awal 90-an, jaringan ini dikelola oleh tiga “bandar” yang masing-masing setidaknya memiliki seribu pelanggan. Para pelanggan ini dahulunya mengandalkan parabola untuk mendapatkan siaran teve, karena wilayah Sorowako yang dikepung pegunungan Verbeek termasuk wilayah blank spot siaran televisi.

Biaya sambung televisi kabel pun relatif murah, cukup mengangsurkan Rp.250ribu untuk biaya pemasangan awal dan iuran bulanan berkisar Rp.25-30ribu (tergantung bandar), 42 kanal televisi pun siap dijelajahi. Selain kanal-kanal nasional dan lokal, termasuk Sorowako Channel yang baru menampilkan foto itu-itu saja plus backsound cempreng entah-lagu-apa, terdapat pula 4 kanal olahraga, MTV, Channel Asia, Al Jazeera, V Channel, F-TV, Cartoon Network, TV 5, hingga Z Channel Music dari India, TVTL-nya Timor Leste, plus beberapa saluran berbahasa Arab dan China.

Tetapi, bukan ihwal teve yang akan saya bicarakan. Menurut saya, berlimpahnya saluran televisi boleh jadi menjadi faktor dari gegar budaya tahap kedua yang dialami masyarakat Sorowako. Gegar pertama bermula dari beroperasinya PT Inco pada paruh akhir 1960. Saat itu, segelintir masyarakat lokal bersitumbuk dengan pendatang dari berbagai latar budaya, jenis-jenis pekerjaan yang tak terbayang sebelumnya, juga silang sengketa pertanahan.

Masyarakat lokal yang menjalani profesi-profesi utama sebagai petani/pekebun, pemburu, dan nelayan danau, tiba-tiba dihadapkan, dan sebagian besar tergoda dengan pilihan menjadi pekerja konstruksi, eksplorasi, operator kendaraan berat, mesin-mesin tanur peleburan, hingga pembantu rumah tangga. Tentu ini lompatan sosiologis yang signifikan. Belum lagi berubahnya irama kerja secara drastis dan penghasilan dari tak tentu waktu dan besarnya mendadak menjadi rutin dan jauh, jauh, jauh lebih besar.

Interaksi sosial yang intensif dengan ribuan pekerja pendatang, kala itu konon tak hanya datang dari penjuru nusantara tetapi juga sekurangnya dari 20 negara, yang tinggal berjubel di barak-barak semi permanen, kontainer, atau kolong-kolong rumah panggung, tak pelak menimbulkan benturan nilai dan budaya yang tak kecil dampaknya bagi tatanan kultural pemukim lokal, secara positif maupun negatif.

Percepatan, atau lompatan sosiologis yang lekas dari komunitas agraris menjadi industrial, memunculkan gamang dan gagap. Sebagian besar anak muda Sorowako yang lahir ketika roda industri telah bergulir, tidak meguasai bahasa lokal, enggan pula mewarisi profesi lama yang dipandang marjinal.

Kathryn May Robinson, antropolog dari Australian National University, lewat bukunya yang bertajuk Stepchildren of Progress: The Political Economy of Development in an Indonesian Mining Town, dengan tajam memotret dinamika sosial yang dialami penduduk lokal Sorowako. Dari penelitian yang dilakukannya pada rentang 1978-1982, ia mengurai pergeseran sosial dapat dirabai lewat munculnya kelas-kelas sosial, tata nilai dan kegiatan ekonomi baru yang muncul di kota kecil tepi Danau Matano ini. Hasil telisik Kathryn hampir tiga puluh tahun lalu itu, menurut saya, sebagian besar masih relevan pada konteks saat ini.

Kembali ke televisi, kalaupun terlalu berlebihan untuk dikatakan sebagai penyulut gegar budaya kedua, ia tetap bisa dibilang sebagai pemantap gegar pertama. Paling tidak dari perspektif bahwa siaran-siarannya telah mengukuhkan nilai-nilai baru yang digosokkan sebelumnya. Jadi….ufff! Spiderwick Chronicle main di HBO!! Saya nonton dulu ye! Hehe…