Menimbang Tanaman Transgenik

Ibarat gerak bandul jam, kontroversi mengenai tanaman transgenik terus mengayun. Penyertaan gen tertentu—disebut transgene—ke dalam spesies tanaman pangan, terutama untuk meningkatkan produktifitas dan daya tahannya terhadap hama, menciptakan dua kubu yang saling mempertarungkan pendapat dan analisa mengenai aman atau tidaknya tanaman transgenik untuk dikonsumsi manusia dan pengaruhnya bagi keseimbangan lingkungan hidup.

Memang sejak pertama kali dikembangkan oleh Herbert Boyer dan Stanley Cohen di tahun 1973, teknologi transgenesis dengan cara rekombinasi DNA telah memicu perdebatan baik di kalangan akademisi maupun masyarakat umum. Saat itupun pendapat sudah terbelah menjadi dua, antara yang setuju dan menentang pengembangan penemuan ini untuk diterapkan pada mahluk hidup.

Seperempat abad kemudian kondisi serupa terulang, yakni ketika produk-produk pertanian yang dikembangkan dengan teknologi transgenik mulai membanjiri pasaran dunia, sementara kesimpulan mengenai status keamanannya masih belum jelas. Mulai tahun 1994 areal pertanian tanaman transgenik mengalami lonjakan cukup signifikan hingga mencapai luas 44,2 juta ha di tahun 2000. Sekitar 33,5 juta lahan terdapat di negara-negara maju, seperti AS, Kanada, Australia, Prancis dll, sementara sisanya tersebar di negara-negara berkembang. Potensi pasarnya juga memang luar biasa, sebagai gambaran di rentang tahun 1994-1997 laju pertumbuhannya mencapai 173%, sementara pada lima tahun sesudahnya diperkirakan stabil pada angka pertumbuhan 32%.

Dunia pertanian Indonesia sampai saat ini sudah “ketamuan” setidaknya 10 tanaman transgenik, diantaranya jagung, kapas, kacang tanah, kakao, kentang, tembakau, padi, tebu dan ubi jalar. Bahkan kapas transgenik jenis Bt (artinya rangkaian gen tanaman kapas ini disisipi gen bakteri tanah Bacillus thuringiensis yang mengandung racun mematikan untuk hama tertentu), telah mendapat legalisasi pemerintah, lewat SK Menteri Pertanian No. 107/Kpts/KB/430/2/2001, untuk ditanam sebagai varietas unggul di tujuh kabupaten di Sulawesi Selatan. Keputusan tersebut kontan ditentang oleh para aktifis lingkungan hidup karena dinilai melompati prosedur analisa AMDAL (Analisisi Mengenai Dampak Lingkungan) yang dipersyaratakan bagi setiap pelepasan jenis hewan atau tanam baru.

Kekhawatiran kalangan aktifis lingkungan di Indonesia hanyalah bagian kecil dari akumulasi kekhawatiran serupa yang disuarakan di berbagai negara. Jepang belum lama ini mewajibkan pemberian label pada 28 produk yang mengandung material hasil rekayasa genetika. Sementara itu, jauh sebelumnya, pada tanggal 21 Oktober 1999, muncul “Surat Terbuka Ilmuwan Dunia kepada Seluruh Pemerintah Dunia” yang ditanda tangani 136 ilmuwan dari 27 negara. Isi surat tersebut antara lain meminta penghentian segera pelepasan tanaman dan produk makanan hasil rekayasa genetika. Kelompok pecinta lingkungan, Green Peace mengajukan petisi pada EPA (Environmental Protection Agency) agar membatalkan perijinan tanaman hasil rekayasa genetik, menolak pendaftar baru dan menguji dampak lingkungan sesuai standar EPA.

Sebagian besar negara Eropa juga membatasi tanaman ataupun produk rekayasa genetik, dan mengharuskan pencantuman label tanaman transgenik pada produk makanan. Masyarakat Eropa berpendapat bahwa rekayasa gen bertentangan dengan kodrat, hasilnya berbahaya untuk manusia dan berdampak buruk bagi lingkungan. Namun belum bisa dipastikan kemana ayun bandul kontroversi akan mengarah, apalagi bisnis ini di tahun 1998 menghasilkan transaksi sebesar AS $ 1,5 triliun!

5 thoughts on “Menimbang Tanaman Transgenik”

  1. assalam…
    semestinya harus ada penelitian yang dapat memastikan bahwa tanaman hasil transgenik memang dapat membahayakan lingkungan ataupun manusia, sehingga apabila memang benar kenyataan bahwa tanaman hasil transgen itu berbahaya bagi manusia ataupun lingkungan para peneliti dibidang teknologi genetika atau transgenik dapat mengarahkan penelitiannya terhadap antisipasi bahaya yang akan ditimbulkan oleh tanaman hasil transgen..sehingga antara penelitian pengembangan tanaman transgenik dan antisipasi bahayanya dapat seimbang dan terkontrol..dengan demikian kekhawatiran akan bahaya tanaman transgenik dapat terjawab secara ilmiah dan tepat sesuai dengan manfaatnya…
    wassalam..
    Ade

  2. mungkin untuk tahun-tahun ke depan bisa dilakukan penelitian untuk mengembangkan tanaman-tanaman tersebut agar dapat bermanfaat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s