Animals Don’t Talk, Because They Don’t Lie

“Animals don’t talk, because they don’t lie” (seorang penjaja seks dalam film Breaking and Entering karya Anthony Minghella).

Siapa belum pernah berbohong? Pasti Anda sedang berpura-pura jika mengacungkan jari. Dalam kadar seminimal apapun, bahkan mungkin para nabi, sekali waktu pasti pernah mengucapkan kebohongan. Entah dengan tujuan lurus, atau sebaliknya.

Lantas, kenapa orang berbohong? Merujuk judul di atas, tentunya bukan karena orang–manusia–bukanlah hewan. Meski, para biolog memandang manusia adalah juga hewan,hanya saja ia dilengkapi atribut bisa berpikir alias thinking animal. Tetapi, justru atribut yang “hanya” inilah yang menjadi batas tegas yang mana manusia, yang mana hewan. Agaknya dengan kemampuan berpikir inilah, plus kemampuan berbahasa tentunya, manusia menjadikan bohong bagian dari hidupnya.

Sejarah mencatat kebohongan demi kebohongan terlampir pada peradaban yang bersulih. Kitab-kitab suci samawi menyebutkan Khabil (Cain) berbohong kepada Adam, bahwa Habil (Abel) minggat. Padahal jasad Habil dikuburnya setelah terbunuh saat mereka bersengketa memerebutkan seorang wanita. Mungkin inilah kebohongan kedua di dunia, dalam konteks keagamaan, setelah bujuk rayu iblis pada Adam dan Hawa untuk menyantap buah larangan di surga.

Masih dari kisah kitab suci, karena rasa iri atas timpangnya distribusi kasih sayang sang ayah, Ayub, saudara-saudara Yusuf meninggalkannya terperangkap di dalam sumur tengah gurun. Pada Ayub, suadara-saudara Yusuf mengisahkan cerita bohong bahwa adik mereka ditahan oleh prajurit kerajaan karena kedapatan mengutil alat timbang milik pedagang di pasar ibukota. Kebohongan mereka menghancurkan hati dan membutakan mata Ayub.

Pada konteks yang lebih baru, pada 1960-an, keberhasilan Apollo 11 mendarat di bulan memantapkan dominasi Amerika Serikat di dunia dalam bidang teknologi dan kompetisi luar angkasa. Namun, beberapa tahun lalu, orang terperangah ketika diulik kemungkinan pendaratan di bulan itu hanya isapan jempol saja. Tak hanya dalam bidang teknologi, Amerika Serikat dicatat sering menyebarkan kabar dusta sebagai dalih untuk berperang atau menutupi intensi imperialismenya.

James Bovard dalam tulisannya di Freedom Daily, memberikan beberapa ilustrasi. Tahun 1846, James K. Polk memicu perang Amerika melawan Meksiko dengan menyiarkan serangan pasukan Meksiko pada penjaga perbatasan AS. Belakangan, Abraham Lincoln mengecam bahwa aksi ini berpangkal dari informasi palsu. Pada 1945, Harry Truman mengibuli rakyat Amerika bahwa pasukan mereka menjatuhkan bom atom pada “pangkalan militer” di Hiroshima untuk meminimalkan korban sipil. Padahal ratusan ribu sipil meregang nyawa. Pemerintah AS menyortir foto-foto kerusakan dan korban di Hiroshima agar bukti kekejian bom atom tidak terpapar pada publik Amerika.

Belum lapuk dari ingatan kita aneksasi Iraq ke Kuwait pada 1990. Gorge Bush Sr.ikut gerah dan mengirimkan 500.000 tentara AS dengan dalih satelit mereka menangkap gerakan pasukan Iraq di perbatasan Arab Saudi, mengancam salah satu sumber minyak terkaya di dunia itu. Foto satelit itu tak pernah dirilis oleh Pentagon ke publik.

Sebuah harian Amerika, St. Petersburg Times membeli foto satelit dari Rusia yang merekam lokasi dan waktu yang sama dengan klaim Amerika dan mendapati gambar gurun yang kosong. Bush pun memperkaya alasan berperangnya dengan kesaksian seorang gadis Kuwait, yang belakangan terungkap berbohong, bahwa pasukan Iraq mencabuti selang-selang oksigen dari ratusan inkubator dan membiarkan ratusan bayi meregang nyawa. Cerita ini sering disitir Bush untuk mendulang dukungan kalangan konggres.

Satu dekade setelahnya, gliran Bush Junior mengobarkan perang pada Iraq. Kali ini alasan penguatnya adalah senjata pemusnah massal yang dikembangkan Iraq. Klaim ini belakangan juga tersingkap sebagai kebohongan. Namun Saddam Hussein dan ribuan rakyat Iraq, juga ribuan tentara AS, terlanjur tewas. Baghdad yang menyimpan bukti-bukti peradaban tinggi ribuan tahun lalu pun lantak.

Pada ranah yang lain, kebohongan pun meruak dalam bidang media. Tahun 1972, Clifford Irving diganjar hukuman 17 bulan penjara karena mengecoh penerbit besar McGraw-Hill. Ia memalsukan tulisan dan tanda tangan miliuner eksentrik Howard Hughes, menyaru sebagai si milliuner dengan merekam suaranya sendiri, dan menyatakan Hughes memintanya untuk menulis otobiografi. McGraw-Hill tertipu hampir US$ 1 juta, namun tipudaya Irving terkuak setelah Howard Hughes, yang bertahun-tahun menghilang dari publisitas, secara langsung membantahnya. Kisah Irving diangkat ke layar lebar dengan judul The Hoax (2006), dari buku berjudul sama karya Irving di tahun 1982.

Hampir sama, Stephen Glass, penulis muda cemerlang pada media terkemuka di AS, New Republic, memalsukan 27 artikel yang seolah hasil reportase brilian. Kisahnya pun diangkat menjadi film bertajuk Shattered Glass.

Isapan jempol, kabar burung, dusta, pura-pura, akting, lain di mulut lain di hati, hoax, prank, trick, scam, atau apapun istilahnya, sedikit banyak merujuk pada makna yang setara dengan bohong. Tetapi, kembali ke pertanyaan semula: kenapa orang berbohong?

Kejadian-kejadian diatas, sekian dari jutaan, bahkan mungkin miliaran kebohongan yang tercatat dalam sejarah manusia, mengungkap motif-motif kenapa orang berbohong. Pertama, untuk bertahan hidup. Kedua alasan ekonomi, bisa jadi karena kekurangan atau sebaliknya, keserakahan. Ketiga, demi kekuasaan atau kemegahan diri. Alasan ini kerap bertemali erat dengan alasan ekonomi. Keempat, untuk menyelamatkan muka, martabat, atau menutupi kebohongan sebelumnya. Kelima, mungkin, demi kebohongan itu sendiri. Apa lagi ya? Ada alasan lain yang bisa Anda tambahkan?

Sikap manusia atau masyarakat–diwujudkan dalam nilai atau norma–jelas terhadap praktik kebohongan: menganggapnya sebagai kejahatan. Namun berbeda dengan kejahatan lain, secara hukum kebohongan kerapkali hanya menjadi atribut untuk menutupi tindak jahat yang lain.

Kebohongan, bagaimanapun bentuknya, menggusarkan setiap peradaban. Berbagai cara dipakai untuk mengungkapnya, tak jarang dengan langkah-langkah konyol. Pada abad 12, pengadilan di Inggris menguji kejujuran tertuduh dengan menyuruhnya berjalan 9 langkah memanggul besi membara atau berjalan di atas 9 bajak membara.  Jika punggung atau kakinya terbakar, maka ia berbohong dan langsung digantung. Pengadilan lainnya menerapkan cara berbeda. Yakni dengan mengarungi tertuduh, kemudian menceburkannya ke danau. Jika karungnya terapung, orang itu berbohong sehingga layak digantung. Sebaliknya jika karung tenggelam, maka ia berkata benar. Cara-cara menggelikan ini dihapus pada tahun 1215.

Pada abad 16, mulai dipakai metode akal sehat. Yakni menggali kejujuran tertuduh dengan cecaran pertanyaan ilmiah dan logis. Perkembangan selanjutnya, pada abad 19, dilakukan pengaitan antara karakter fisiologis seseorang dengan kebohongan. Ahli-ahli phrenologi (ilmu yang meneliti benjol pada tengkorak manusia) mengaitkan bentuk benjol tertentu dengan kecenderungan untuk berbohong. Sedangkan para psikolog berkutat pada tipe-tipe masa lalu, bahkan mimpi, seseorang untuk mengukur kadar kejujuran seseorang.

Memasuki abad 20, mulai dipakai obat-obatan untuk uji kebohongan. Obat tidur yang mengandung scopolamine, sodium amytal dan sodium pentothal dicekokkan pada tertuduh sehingga ia kehilangan kendali diri dan muskil berbohong. Namun efektifitas obat ini dipertanyakan, karena yang muncul biasanya celoteh tak tentu arah dibanding kejujuran. Pada tahun 1963, Pengadilan Tinggi AS melarang praktik ini dan mengategorikannya sebagai bentuk penyiksaan.

Cara ilmiah terkini untuk mengungkap kebohongan adalah dengan mesin uji kebohongan (lie detector) yang menganalisa perubahan temperatur sendi mata ketika berbohong. Konon tingkat keberhasilannya mencapai 83%. Tetapi apakah mesin ini lebih terpercaya dibandingkan lie detector polygraf yang mendeteksi detak jantung, tekanan darah dan irama pernafasan, masih harus dibuktikan.

Bagaimanapun, walau musti menunggu, kebohongan toh pada saatnya terungkap. Seperti kata pepatah, sepandai-pandai tupai melompat..eih, salah! Sepandai-pandai menyimpan bangkai, busuknya akan tercium juga. Wah!

2 thoughts on “Animals Don’t Talk, Because They Don’t Lie”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s