Sulitnya Bertani di Jakarta!

Panas terik yang menyengat Jakarta pada akhir bulan Oktober lalu, seolah tidak dirasakan oleh Zamidi, lelaki berusia 57 tahun yang tinggal di Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat. Tangannya yang sudah berkeriput sebat memapas rumpun-rumpun lebat daun ketela pohon. Setelah mendapatkan beberapa ikat besar, ia kemudian mengambil dua ember kecil bekas kaleng cat untuk menciduk air kali yang hitam pekat karena limbah untuk menyirami “sawahnya” yang terletak di bawah sebuah jembatan penyeberangan busway.

Yang disebut “sawah” oleh Zamidi sebenarnya hanya berupa sepetak tanah kering seluas 4 x 15 meter di bibir aliran Sungai Angke. Sejak tiga bulan lewat ia menanami petaknya dengan ketela pohon dan kacang tanah. Sendirian, Zamidi telah mengolah tanah bantaran sungai itu sejak 7 tahun yang lalu. “Lumayan untuk menyambung hidup,” ujarnya, sembari menambahkan hasil panenannya kali ini telah dipesan oleh seorang pedagang sayur keliling.

Mestinya ia bukanlah satu-satunya petani di bantaran Kali Angke, karena puluhan petak “sawah” lain yang ditanami ketela pohon, ubi rambat, kacang tanah dan jagung dapat dengan mudah ditemui di sepanjang jalan menuju Bandar Udara Soekarno Hatta itu. Menurut data dari Dinas Pertanian Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, pada tahun 2005 sedikitnya 20.000 orang bekerja di bidang pertanian di seluruh propinsi ini. Hasil pertanian utama berupa sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman hias dan padi. Sebagian besar hasil pertanian baru cukup memenuhi kebutuhan pasar di Jakarta saja.

Namun di kota seluas 650 km2 dengan kepadatan penduduk mencapai 11.360 orang /km2 (tahun 2005) ini, kegiatan pertanian seolah tenggelam oleh hiruk pikuk kegiatan industri dan jasa. Coba saja Anda tanyakan pada penduduk Jakarta, pasti sebagian besar kebingungan untuk menunjukkan lokasi-lokasi pertanian di kotanya. Padahal menurut hasil pendataan Dinas Pertanian (2002), di kota ini hampir 17% wilayahnya, atau seluas 11.240 hektar, dipergunakan sebagai lahan pertanian. Dari lahan seluas itu, 2.845 hektar adalah lahan sawah dan 8.395 hektar sisanya tanah darat.

***
Berdasar hasil penelitian Ning Purnomohadi, pakar lingkungan dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta, yang berjudul “Jakarta: Urban Agriculture as an Alternative Strategy to Face the Economic Crisis” (Jakarta: Pertanian Kota sebagai Sebuah Strategi Alternatif untuk Menghadapi Krisis Ekonomi), sektor pertanian di Jakarta berkembang menyusul krisis ekonomi yang mulai menerpa Indonesia sejak paruh akhir tahun 1997. Saat itu ribuan orang kehilangan pekerjaan formal. Di sisi lain, arus urbanisasi dari berbagai daerah ke DKI Jakarta juga tidak serta merta menyusut walaupun lapangan pekerjaan menipis.

Dengan latar kondisi seperti inilah kegiatan pertanian, yang sebelumnya hanya terdapat di kawasan-kawasan pinggiran kota dan bantaran-bantaran sungai saja, muncul menjadi lapangan kerja alternatif bagi masyarakat urban yang tengah kesulitan mencari pekerjaan.

“Saya dulu bekerja jadi buruh bangunan. Anak saya juga. Setelah di PHK karena krismon (krisis moneter-red), saya mulai bertani, anak saya pulang kampung,” kisah Zamidi. Bersama sebelas tetangganya di Rawa Buaya, pada tahun 1999 ia membersihkan petak-petak tanah di bantaran Kali Angke dari semak-semak. “Saya ingat, tanah itu kemudian saya tanami kacang tanah,” kenangnya. Mereka tidak meminta izin pada siapapun ketika memanfaatkan tanah itu.

Selain pengalihan guna lahan seperti bantaran sungai, lahan pertanian di Jakarta juga meluas melalui aksi penjarahan. Segera setelah reformasi pada tahun 1998, kebebasan juga diterjemahkan sebagai keleluasaan rakyat untuk menguasai tanah. Tanah-tanah milik megara dan mantan pejabat negara, termasuk milik keluarga mantan presiden Soeharto dan kroni-kroninya, menjadi sasaran utama penjarah. Ning Purnomohadi mencatat, sekurangnya 300 orang mematok tanah di sekitar lapangan pacuan kuda Pulo Mas, Jakarta Timur, pada pertengahan tahun 1998. Pada saat yang sama, ratusan orang lainnya merambah tanah peternakan milik keluarga Soeharto di pinggiran Jakarta.

Selain melalui penjarahan, lahan pertanian juga diperoleh dengan cara menyewa kepada pemilik lahan. Sutiyoso, gubernur Jakarta yang mulai menjabat tahun 1997, memberikan ijin pemanfaatan lahan-lahan menganggur untuk kegiatan pertanian, dengan syarat meminta ijin dahulu ke pemilik lahan alih-alih melalui penjarahan. Lahan calon jalan tol yang tertunda di wilayah Jakarta Barat misalnya, dipenuhi tanaman bayam dan chaisim. Demikian juga lahan-lahan calon kompleks perkantoran dan perusahaan di kawasan Kuningan (Jakarta Selatan) dan Priok (Jakarta Utara) serta tanah-tanah kosong di seputaran bekas bandara Kemayoran. Tak ketinggalan pula tanah-tanah yang terdapat di sepanjang rel kereta api dan bantaran sungai di pusat kota.

Sebagian besar petani di Jakarta sebagian besar berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Banyak diantara mereka adalah buruh-buruh konstruksi yang yang terpaksa kehilangan pekerjaan karena terpuruknya sektor properti akibat deraan krisis ekonomi. Dengan upah antara Rp 10.000-15.000/hari, mereka terlibat dari proses penanaman, pemeliharaan hingga pemanenan tanaman pertanian.

***
Bagi Marco Kusumawijaya, pakar masalah perkotaan dan perintis gerakan Peta Hijau di Indonesia, selain menjadi solusi masalah ekonomi, pertanian kota memiliki juga memiliki peran untuk memperluas ruang terbuka hijau sekaligus memperindah wajah Jakarta.

“Pertanian kota berperan besar membantu keluarga miskin menambah penghasilan dan makanan segar, serta meningkatkan ketahanan pangan,” terang Marco. Senada dengan Purnomohadi, arsitek yang kini menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta ini menilai muasal pertanian kota di Jakarta adalah permasalahan ekonomi. Pada saat awal perkembangannya, bentuk pertanian semacam ini menjadi jawaban sementara mengatasi pengangguran sekaligus mencukupi kebutuhan produk pertanian murah bagi warga Jakarta. Sayangnya, menurut Marco, pertanian kota tidak kemudian diakomodasi menjadi bagian dari perencanaan dan tata guna lahan perkotaan.

Marco membandingkan dengan Inggris yang telah mengesahkan undang-undang pertanian kota sejak tahun 1925 dan Kanada pada tahun 1924-1947. Saat ini, tambah Marco, sejumlah kota seperti Amsterdam, London, Stockholm, Berlin, Montreal dan New York telah menjadikan pertanian kota dalam perencanaan dan tata guna lahan perkotaan mereka.

Belakangan, luasan lahan pertanian kota di Jakarta mengalami penyusutan drastis. Antara lain karena Pemerintah Kota DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan untuk memperlebar badan-badan sungai di Jakarta untuk mengantisipasi banjir. Alhasil, petak-petak pertanian di bantaran sungai pun ikut tergusur. Misalnya, petak-petak tanah yang ditanami sayuran di sepanjang saluran banjir kanal, dari wilayah Jakarta Timur hingga Jakarta Pusat, digusur untuk perluasan aliran saluran pencegah banjir yang konon juga akan dimanfaatkan untuk jalur angkutan air.

Pulihnya sektor properti dalam lima tahun belakangan ini berpengaruh besar pada menyusutnya luasan lahan pertanian kota. Di kawasan Kuningan misalnya, petak-petak tanah yang sebelumnya dihijaukan dengan sayur-sayuran atau kacang tanah dan jagung, kini dipenuhi tiang pancang dari beton bakal gedung-gedung perkantoran. Demikian juga di sejumlah titik pertanian di kawasan Priok dan Kelapa Gading yang siap berubah menjadi pemukiman mewah.

“Padahal saat membuat Peta Hijau Menteng dua tahun lalu, kami menemukan lebih dari 100 titik pertanian kota di pinggir-pinggir sungai,” ucap Marco.

Zamidi, seperti halnya para petani di Jakarta lainnya, boleh jadi tak sempat berhitung seperti yang dilakukan Purnomohadi dan Marco. Mereka tinggal menghitung hari hingga saat lahan mereka beralih peruntukan. Ah, susahnya jadi petani di Jakarta!

********

Bacaan:

Penelitian Ning Purnomohadi

Marco Kusumawijaya|Pertanian Kota

Baca juga:

Advertisements

Powerbook G4 dan Tetanus

korosi

Tetanus memang bukan penyakit yang setenar flu burung atau HIV-AIDS. Demikian juga Powerbook bikinan Apple yang boleh jadi kalah populer oleh Dell atau IBM, setidaknya di tempat mukimku saat ini. Tapi, tentunya bukan karena sama-sama tidak populer lantas keduanya saya jadikan judul tulisan ini.

Dalam pengetahuan saya yang awam, salah satu penyebab tetanus adalah luka akibat terkena logam berkarat. Gara-gara pemahaman awam ini, semasa masih kuliah beberapa tahun lalu, olok-olok sumber tetanus sempat dialamatkan pada saya. Apa pasal? Motor antik IFA MZ keluaran Jerman Timur akhir tahun 1960-an yang saya kendarai waktu itu dianggap lumayan kuno, dan karenanya diasosiasikan dengan barang karatan. Setiap kali saya muncul dengan motor ini, sejumlah teman langsung berloncatan menjauh sembari berteriak-teriak, “Awas, ketabrak kena tetanus. Ketabrak kena tetanus!”. Padahal motor saya yang bercat merah hitam itu bodinya mulus-lus, nyaris nggak ada bagiannya yang berkarat.

Ada pula, menurut sejumlah teman pada masa kecil saya, keyakinan yang mengatakan tetanus disebabkan tahi kuda. Konon, jika ada bagian tubuh kita yang memiliki luka terbuka, hendaknya jangan sampai terpapar tahi kuda yang, kabarnya, dipenuhi kuman-kuman penyebab tetanus. Konon lagi, tak hanya satu dua orang yang meninggal karena tahi hewan penghela andong, dokar dan semacamnya yang kini musti mengenakan “cawat” agar kotorannya tidak pating glundhung di jalan itu.

Nah, karena saya masih berpegang pada pemahaman dasar bahwa salah satu penyebab tetanus adalah logam berkarat, saya sempat berkerut kening juga sewaktu mendapati pada bagian palm rest kanan powerbook G4 second yang barusan saya beli terdapat garit-garit karat yang meskipun tak begitu kentara tapi terasa di telapak tangan.

Iseng saya browsing mengenai soal ini, saya menemukan beberapa thread di forum-forum pengguna macintosh yang mengangkat masalah karat pada powerbook G4. Pada seri-seri awal, powerbook G4 yang berbalut casing titanium (konon ini jenis metal yang dipakai untuk melapisi pesawat ulang alik dan dikenal memiliki durabilitas tinggi) juga dikeluhkan gampang terkelupas dan berkarat, terutama di bagian palm rest.

Mulai seri Powerbook G4 12″ 867Ghz yang dirilis awal tahun 2003, casing titanium yang diperkenalkan sejak Januari 2001 digantikan pelat-pelat alumunium yang dianggap lebih tahan lama dan ringan. Mestinya juga anti karat. Namun toh, masalah karat pada casing powerbook alu, demikian seri ini biasa disebut, masih juga muncul meski tidak sebanyak yang menimpa seri-seri titanium.

Pada beberapa kasus (yang sebenarnya sangat sedikit, tetapi karena sebagian besar pemakai produk-produk Apple selalu berharap produk yang mereka miliki sempurna tanpa cacat, maka cacat remeh temeh pun menjadi kasus), karat muncul dalam rupa bintik-bintik korosi di bagian palm rest, alias dudukan pergelangan hingga telapak tangan di sisi kanan-kiri trackpad.

Pada kasus powerbook g4 15″ 1.33ghz yang saya pakai saat ini, pada palm rest sisi kanan, terutama pada bagian tepi di mana saya biasa menempatkan pergelangan tangan, terdapat beberapa garit tipis dan deretan titik-titik berwarna kehitaman dan terasa agak kasar ketika diraba. Memang karat, tak diragukan lagi.

Soal penyebabnya, saya tidak tahu. Apalagi laptop ini baru di tangan saya sekitar satu minggu yang lalu, setelah mengalami “perjalanan” ribuan kilometer dari Jakarta ke satu kota kecil di selangkangan Sulawesi.

Boleh jadi ini masalah kimiawi. Lah? Pada beberapa thread yang saya singgung di atas, disebutkan sejumlah dugaan penyebab munculnya karat pada bagian palm rest powerbook aluminium dikarenakan keringat si pemakai. Tak sembarang keringat, melainkan keringat yang barangkali mengandung garam yang berlebihan sehingga memancing karat pada bagian-bagian “aus” di tubuh powerbook.

Konon, menurut Bos B yang menjual laptop ini ke saya, pemilik sebelumnya adalah ekspatriat yang membelinya dari Prancis. Beralasan memang, karena layout keyboardnya memang mengikuti layout yang lazim di pakai di Prancis dan Belgia. Tombol huruf Y, sebagai contoh, terletak pada lokasi di mana biasanya terdapat tombol huruf Z pada layout keyboard ala Amerika. Sebaliknya, tombol key huruf Z menempati lokasi Y. jadinya susunan layout keyboardnya bukanlah QWERTY, melainkan QWERTZ…

Nah, apakah layout keyboard QWERTZ ini berpengaruh pada akan meluas atau tidaknya bidang berkarat pada palm rest dan membuat saya rentan terkena tetanus, tentu anda tahu jawabannya. Jelas tidak ada hubungannya. Jadi, apakah powerbook Anda juga berkarat?

Manusia Pas-pasan

01

Pathetic sekali judul di atas ya? Saya tak hendak mengatakan pikiran kita mengenai kata pas-pasan seragam, tetapi saya kok yakin anda mengartikan kata itu sebagai suatu kondisi yang serba tanggung, setengah-setengah. Atau kondisi lain yang tak maksimal, tapi bukan juga minimal, tak pucuk namun bukan pula pangkal, bukan top meski bukan juga bongkot. Separuh-separuh, atau nge-pas, ya persisnya pas-pasan tadi.

Kalau dalam konteks penghasilan, pas-pasan barangkali bisa kita ilustrasikan sebagai kondisi keuangan yang mencukupi untuk kebutuhan dasar, tetapi tak tersisa untuk memenuhi tuntutan-tuntutan sekunder, apalagi tersier. Malah kadang untuk tabungan saja tak tersisa (btw, menabung itu sebenarnya termasuk kategori kebutuhan sekunder, tersier, atau malah primer?).

Dalam konteks keahlian atau intelektualitas, penguasaan atas suatu keahlian atau pengetahuan pas-pasan artinya hanyalah cukup untuk berhadapan dengan tuntutan-tuntutan yang biasa-biasa saja. Taruhlah sebagai contoh, saya menyukai fotografi dan desain grafis, menggambar, dan utak-atik komputer. Saya juga lumayan suka membaca, berdiskusi, dan menulis. Tapi ya itu, semuanya hanya sekadar bisa saja. Tak ada yang istimewa.

Bahwa saya pernah bekerja di beberapa media cetak dan menjadi penulis lepas untuk majalah yang lumayan berkelas, dan sekarang kuli kata-kata dan citra sebuah perusahaan besar, itu memang benar. Tapi tulisan-tulisan yang saya buat tak pernah sampai pada tataran inspiratif atau kreatif-idealis (hayah!) Demikian juga dengan kemampuan saya dalam desain grafis yang gitu-gitu saja, meski pernah juga saya mendesain sampul dan menata perwajahan sekitar 12 buku, beberapa poster, dan sejumlah tata letak advertorial yang dirilis oleh tempat kerja saya saat ini. So so.

Demikian halnya dengan fotografi, menggambar, oprek komputer, dan lainnya, juga aktifitas membaca, atau berdiskusi yang hanya mentok sampai tataran kelas kampung atau komunitas kecil saja. Belum pernah lebih.

Beralasan kiranya ketika, sekitar dua tahun yang lalu, aku pernah “menegaskan” pada L bahwa diriku ini manusia pas-pasan. Tapi, jangan sangka kalau penyebabnya adalah munculnya kesadaranku akan kemampuan dan intelektualitas yang segitu-segitu saja, melainkan karena angka. Iya, karena angka!

Sebetulnya, sejak enam bulan sebelum aku mengatakan hal pas-pasan tadi ke L, aku sudah kerap menemui kejadian ini: mendapati angka-angka pada kombinasi yang “pas”, baik pada arloji, kalender, jam meja, jam komputer, jam HP, dan alat-alat penunjuk angka lainnya. kalau hanya sekali dua kali sih mungkin aku nggak kepikiran, tetapi kejadian ini aku alami 7-10 kali dalam sehari, dan hampir setiap hari.

Misalnya, suatu saat ketika saya mengambil HP dari tas karena hendak mengirim sms, saya mendapati jam HP berkedip pada angka 10:01. Atau saat saya menyalakan laptop, begitu log in, jam memperlihatkan angka 05:50, 12:21, 12:34, 17:07 (ini tanggal dan bulan lahir saya). Hari kemarin, saya menerima email dari bos yang dikirim jam 4:44, malamnya menerima sms dari L jam 00:00.