Tag Archives: sketsa

Gagal Dapat Komisi dari Tuan Tepis

walter spies

Empat belas sketsa, kata temanku. Masing-masing 200 juta, lanjutnya. Rupiah, tegasnya. Wadow, sketsa macam apa 200 juta rupiah? Emang karya siapa? Si teman lantas mengangsurkan kamera digital. Layarnya memperlihatkan sketsa serangga pada kertas yang memburam. Detail dan warnanya memudar. Ada tanda tangan tak terbaca dan angka tahun 1932. “Karya Walter Spies”, jawab temanku.

Walter Spies, nama itu acap tertera dalam katalog-katalog jual beli lukisan yang digelar balai lelang di dalam negeri. Sejumlah karyanya mengenyak dunia ketika laku belasan milyar rupiah saat dilelang Sotheby’s di Singapura pada 2003. Meski populer dibalai lelang, dan juga diidentikan dengan pembaruan senirupa Bali, nama Walter Spies rupanya sayup-sayup saja di kalangan perupa muda Indonesia. Beberapakali saya bertemu mahasiswa perguruan tinggi seni yang tak kenal perupa berdarah Jerman yang lama mukim di Bali ini.

“Kayaknya sih nama dia pernah disebut dosen, tapi lupa nih”, demikian jawaban yang umum. Boleh jadi masa yang terentang antara mereka terlalu panjang. Maklum saja Walter Spies berkarya di Indonesia (Hindia Timur pada waktu itu) pada tahun 1920-an hingga kematiannya sebagai tahanan perang pada awal 1940-an. Pun ia hanya meninggalkan tigapuluhan karya (lukisan) saja, puluhan sketsa, dan tari kecak!

Ya tari kecak. Spies adalah salah seorang yang berperan besar menggubah tari dinamis yang berakar pada kisah Ramayana dan diminati wisatawan itu. Tak heran jika di Pulau Dewata nama Walter Spies diingat secara berbeda. Menurut Didi Kwartanada, sejarawan muda Indonesia, kaum tua di Ubud lebih mengingatnya sebagai sebagai Tuan Tapis Tepis, pelafalan lokal dari nama Barat-nya. Selama di Hindia Timur, Spies memang menghabiskan sebagian besar waktunya di Ubud dan Iseh, Karangasem.

Tak salah bila masyarakat Bali mengistimewakan sosok Walter Spies. Selain menggubah tari kecak, ia mengolah corak lukis tradisional Bali sehingga seperti yang kita kenal saat ini. Beberapa film dan buku mengenai Bali tak lepas dari peranannya. Ia pula yang memperkenalkan Bali pada para seniman dan peneliti Eropa, beberapa diantaranya akhirnya memutuskan tinggal di pulau ini. Sebut saja Theo Meier, Arie Smith, Le Mayeur dan Margaret Mead. Karenanya pula Charlie Chaplin, komedian tenar di tahun 1930-an berkunjung ke Bali.

Spies tinggal di Bali selama 14 tahun, dari total delapan belas tahun yang dihabiskannya di Hindia Timur. Empat tahun sebelumnya, Spies tinggal di Yogyakarta, setelah beberapa bulan sebelum itu bermukim di Bandung.

Kisah kedatangannya di Hindia pun penuh liku. Spies dilahirkan di Russia pada tahun 1895, waktu itu ayahnya menjadi diplomat Jerman yang ditempatkan di Russia. Menjalani masa remajanya di Jerman, Spies berhubungan erat dengan Frederich Murnau, sutradara terkemuka di Jerman, bahkan dikisahkan berbagi kasih sebagai pasangan homoseks. Lewat Murnau, Spies mengenal dan belajar dari Otto Dix dan Oskar Kokoschka, dua perupa besar yang mewarnai seni rupa garda depan di Jerman. Namun Spies mengagumi Marc Chagall dan Paul Klee.

Jenuh dengan irama hidup Eropa dan kekangan Murnau, Spies melamar menjadi kelasi kapal muatan yang berlayar menuju Asia. Hiruk pikuk pelabuhan Sunda Kelapa di Batavia memikatnya, iapun menanggalkan pekerjaannya sebagai kelasi dan menapakkan kaki di Batavia. Waktu itu tahun 1923.

Daya tarik Batavia rupanya cepat memudar, segera ia pindah ke Bandung dan bekerja sebagai pemain dan pengajar kursus piano yang piawai. Namanya dengan cepat kondang diantara orang-orang Eropa yang tinggal di Hindia. Namun ia tak kerasan tinggal di Bandung. Pucuk dicinta ulam tiba, Spies diminta bergabung dengan orkes kecil di Yogyakarta sebagai pemain piano. Namun beberapa bulan berselang, kontraknya kerjanya usai.

Tak lama menganggur, ia diminta raja Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, untuk membenahi orkes musik Barat yang ada di Kraton Yogyakarta. Dengan segera kelompok musik yang dibinanya berkembang menjadi orkes simfoni yang mampu menampilkan gubahan karya-karya Bach, Haydn, Beethoven, dan Mozart. Spies bahkan sempat memulai proyek penotasian nada-nada/partitur gamelan Jawa. Empat tahun berkarya di Yogyakarta, pada 1927 Spies memutuskan pindah ke Bali yang pernah dikunjunginya pada tahun 1925.

Di Bali ia menjadi legenda. Namun akhir hidupnya sangat tragis. Pada 1942, Spies ditangkap pemerintah Hindia Belanda menyusul penyerbuan Jerman ke Belanda oleh Hitler. Ketika Perang Dunia II memanas dan ancaman Jepang menguat, para interniran Jerman di Hindia dipindahkan ke Ceylon (Srilanka). Naas, dalam perjalanan menuju Ceylon, kapal Van Imhoff yang ditumpangi para tahanan dihantam torpedo kapal perang Jepang, sehingga karam di perairan barat Sumatera. Kapten kapal menolak membebaskan mereka yang terkunci di sel tahanan tanpa perintah resmi dan membiarkannya tenggelam ke dasar lautan. Hidup Walter Spies berakhir di sini.

Kembali ke sketsa yang dijual teman saya, belakangan diketahui sketsa-sketsa itu karya palsu. Setidaknya demikian hasil pengamatan seorang kurator di Jakarta dan kolektor ternama yang tinggal di Magelang. Menurut mereka, sketsa satu-200-juta itu adalah bagian dari kejahatan sindikatif pemalsu lukisan. Uff.

So, gagallah saya mengantongi komisi jualan sketsa Tuan Tapis Tepis 😦

(sumber foto: blog.baliwww.com)

Advertisements