American Gangsters: Integritas Jutaan Dolar

Memulai pagi di Sabtu yang mendung, saya mendapati American Gangster kembali diputar di HBO. Saya menonton film besutan Ridley Scott, sutradara Inggris yang antara lain menelorkan Blade Runner, G.I. Jane, dan Gladiator ini, untuk kedua kalinya. Dibintangi dua peraih Oscar, Denzel Washington dan Russel Crowe, film ini bertutur tentang perseteruan penegak hukum versus pengedar heroin di New York pada akhir tahun 1960-an hingga awal 1970-an.

Frank Lucas, seorang preman kulit hitam dari Harlem, diperankan dengan apik oleh Denzel Washington, adalah sopir Ellsworth Bumpy Johnson, pemungut pajak keamanan yang menguasai jalan-jalan wilayah itu. Selama 15 tahun Lucas mendampingi sekaligus memelajari cara kerja Bumpy saat menagih uang keamanan pada pengusaha-pengusaha. Dengan atau tanpa kekerasan. Bergelimang harta dari bisnis ini, Bumpy mendulang simpati masyarakat Harlem dengan membagikan gratis paket-paket sembako saat Thanskgiving. Berkat aksinya, Bumpy acap disebut sebagai Robin Hood dari Harlem.

Sebelum putus nafasnya akibat serangan jantung, Bumpy sempat berkeluh kesah pada Lucas bagaimana sistem pemasaran modern, direpresentasikan melalui supermarket-supermarket besar  yang memapas jalur perantara atau distributor, telah mengurangi penghasilannya.

“Mereka membeli langsung dari pabriknya, meniadakan perantara. Membeli Sony ini, Toshiba itu, langsung dari China. Tak ada lagi pengusaha yang bisa diperas,” keluh Bumpy, sesaat sebelum tergolek lemas di dalam supermarket modern yang menjajakan peralatan musik. Kata-kata terakhir sang patron ini menancap kuat di benak Lucas.

Sembari meneruskan bisnis Bumpy, berebut pengaruh dengan kriminal-kriminal negro lainnya, Lucas mulai menjajakan heroin kelas dua yang diperolehnya dari jaringan mafia. Pada Lucas, seorang Don mengeluhkan rusaknya pasar narkoba gara-gara sejumlah polisi korup ikut terjun di bisnis ini. Polisi menyita heroin dari tangan pengedar, menyimpannya sebagai barang bukti, kemudian menggelapkan dan menjualnya kembali ke pasaran dengan kualitas dan harga lebih rendah.

Mengetahui situasi ini, di kepala Lucas terngiang-ngiang kata-kata Bumpy: membeli langsung dari pabriknya. Itulah yang kemudian dilakukannya. Menyimak berita televisi tentang maraknya kasus penggunaan heroin di kalangan tentara Amerika yang ditugaskan di Vietnam dan kemudian mendapatkan info dari tentara-tentara yang pulang kampung bahwa heroin Vietnam jauh lebih murni dibanding yang beredar di jalanan New York, ia tahu harus pergi ke mana. Lucas pun segera mengontak seorang tentara yang bertugas di Vietnam untuk melacak sumbernya.

Tak mengacuhkan perang dan liarnya hutan tropis, berbekal US$ 400 ribu uang pinjaman, Lucas menyusup ke padalaman Vietnam dan bertemu langsung sekelompok petani opium yang adalah mantan tentara Koumintang, para pembela Chiang Kai Sek. Seratus kilo heroin murni ia peroleh dari transaksi mula itu.

Lucas menggelontorkan US$100 ribu untuk menyogok prajurit sehingga heroinnya dipaketkan menumpang pesawat militer Amerika. Segera setelah sampai di Amerika, heroin rilisan Lucas menguasai jalanan di Harlem dan Bronx dengan omzet US$1juta per hari. Selain kadar kemurniannya yang lebih tinggi, keunggulan produk yang berlabel Blue Magic ini adalah harga jualnya yang separuh dari heroin yang dipasarkan oleh mafia Italia.

Pada lain sisi, Richie Roberts, diperankan Russel Crowe, detektif bagian pemberantasan narkoba kepolisian wilayah New Jersey, mendadak terkenal ketika ia dan rekannya menyetorkan uang US$1 juta ke markas kepolisian. Uang itu mereka temukan di bagasi mobil yang ditinggalkan oleh akuntan pengedar narkoba, yang mereka kuntit sebelumnya, dan dicurigai sebagai uang sogokan untuk polisi. Tindakan itu membuat Richie dan rekannya dikucilkan oleh polisi lain yang menganggapnya Richie sok suci. Ia sama sekali kehilangan dukungan untuk operasi-operasi lapangan.

Pada saat sama, terusik oleh menggilanya peredaran narkoba, pemerintah Amerika membentuk Kesatuan Khusus Anti Narkoba. Richie digamit untuk mengurusi New York. Ia diberi keleluasaan untuk tidak berkantor di kepolisian dan memilih rekan kerja. Setelah tim Richie terbentuk, mereka fokus pada transaksi-transaksi narkoba skala besar, dengan transaksi minimal 40 kilogram dan bernilai jutaan dolar. Perhatian mulai dipusatkan pada sosok-sosok mafia dan penjahat-penjahat dari Mexico, Kuba, dan Amerika selatan lainnya.

Ia kaget tatkala penyelidikan panjangnya berujung pada sosok Lucas, seorang gangster kulit hitam. Saat itu, kriminal kulit hitam tidak pernah menjadi pemain utama dalam kejahatan-kejahatan besar di bidang narkoba. Pengetahuan inipun diperolehnya secara kebetulan. Seorang penjahat medioker, juga kawan masa kecil dan ayah pemandian anak Richie, mencoba menyuap sang polisi dengan sebuah rumah musim dingin di Swiss sambil berpesan agar tak mengganggu operasi Frank Lucas. Dari situ, pertanyaan-pertanyaan tim Richie pun mengait dengan jawaban.

Tahun 1973, ketika Saigon jatuh ke tangan Vietnam Utara, pasukan Amerika mulai ditarik secara bertahap dari lokasi perang. Lucas melihat keberlangsungan untuk mendapatkan heroin dari sumbernya terancam. Lekas ia terbang kembali ke Vietnam. Dua ribu kilogram heroin ia kumpulkan dan dengan cerdiknya diselundupkan dalam peti mati prajurit AS yang tewas (cerita sebenarnya ternyata tidak demikian🙂.

Dari anak buah Lucas yang tertangkap dan bersedia menjadi informan, rencana pengiriman ini dikuak oleh Richie. Mereka merangsek ke bandara. Setelah mengobrak-abrik badan pesawat Hercules di bawah protes keras kalangan militer, hasilnya nihil. Malah atasan Richie marah-marah dan mengancam memecatnya gara-gara tindakan Richie yang dianggap menodai perjuangan para tentara marhum.

Richie dan rekan-rekannya melewatkan belasan peti mati karena sang atasan mencegahnya membuka kantung mayat. Si atasan menganggap kecurigaan Richie sebagai lelucon, apalagi ketika ia mengungkap dalang penyelundupan ini seorang gangster kulit hitam, bukan mafia Italia, kelompok Irlandia, atau gangster Mexico. Nekat, Richie tetap mengirim anak buahnya menguntit perjalanan peti mati-peti mati tersebut dan mendapati anak buah Lucas membongkar ribuan kilo heroin dari alas peti mati.  Mereka membawanya ke rumah susun kelas bawah yang kemudian terbongkar digunakan menjadi lokasi pengemasan heroin siap edar. Lokasi inipun segera digerebek puluhan polisi. Setelah dar der dor yang sengit, belasan kaki tangan Frank Lucas pun diringkus. Lucas dicokok saat beranjak pulang dari gereja. Di tangga gereja, untuk pertama kalinya Lucas dan Richie bersirobok pandang.

Dalam persidangan, Richie, yang juga nyambi kuliah hukum, menjadi penuntut. Suatu saat, dalam rehat persidangan yang memungkinkan keduanya bertemu empat mata, Lucas mencoba menyuapnya dengan tawaran jutaan dolar. Richie tak goyah, malah ia mampu menekan Lucas untuk membantunya. Alih-alih meminta si gangster menyingkap jaringan mafia, Richie menyudutkannya untuk membeberkan nama-nama polisi korup yang selama ini melindungi operasi, sekaligus memeras Lucas.

Singkat cerita,  berkat informasi Lucas 3/4 dari seluruh polisi bidang pemberantasan narkotika di New York pun diberangus. Richie mengundurkan diri dari kepolisian dan beralih profesi menjadi pengacara. Klien pertamanya adalah Lucas.

Dituntut hukuman 70 tahun penjara, pada 1976 Frank Lucas akhirnya divonis 15 tahun menimbang kerjasamanya dengan polisi. Tahun 1991 ia dibebaskan dan meneruskan pertemanannya dengan Richie. Oleh Ridley Scott keduanya dilibatkan dalam penggarapan American Gangster di tahun 2007. What a story!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s