Komunitas “kurang gawean”

Minggu-minggu ini acara halal bi halal kerap digelar di lingkup PTI, biasanya bertempat di gedung pertemuan Ontaeluwu yang hany terpisah sepenggal jalan dari kantorku. Hari ini Sorowako Woman’s League (SWL) yang punya hajat. Puluhan ibu-ibu yang berdandan apik, termasuk juga sejumlah ibu-ibu berkulit putih dan berambut pirang disasak yang tampak luwes dalam balutan kebaya, berkumpul sejak pukul 9 pagi hingga usai jam makan siang.

Entah apa saja acara yang dilangsungkan di situ, soalnya ST yang kebagian meliput dan jeprat-jepret pakai kamera. Kabarnya, ibu-ibu bule tadi menari dengan kebaya di atas panggung. Wuih, kedengarannya ramai juga🙂

Tapi saya tak hendak membahas soal halal bi halal heboh ini, melainkan fenomena menjamurnya berbagai komunitas di Sorowako. Selain SWL, ada pula Sorowako Photographer Society (SPC), Golongan Lupa Umur (GLU), Sorowako Diving Club (SDC), Sorowako Hash, Sorowako Tennis Club (STC), Sorowako Golf Club (SGC), SOBEC (Sorowako Bicycle Club?), Toast Master, Sorowako Volunteers dan beberapa komunitas olah raga serta sosial lain yang pernah selintasan kudengar aktifitasnya namun belum kuketahui namanya.

Secara berkelakar aku pernah berasumsi pengikut kegiatan komunitas ini sebagai kelompok “kurang gawean” alias bingung mau mengerjakan apa. Agak masuk akal juga, karena sejumlah besar karyawan membawa serta keluarganya untuk tinggal di Sorowako, terutama di kawasan Old camp, Salonsa, Pontada dan Camp F. ketika suami/istri bekerja praktis yang ditinggal di rumah minim aktifitas. Padahal banyak diantara mereka, ketika masih tinggal di daerah asal, memiliki banyak aktifitas. Jadi asumsi hadirnya komunitas sebagai wadah penyaluran waktu luang nggak terlalu meleset, kan?

Sebagian besar komunitas didirikan dan dihidupi operasionalisasi dan kegiatannya oleh karyawan-karyawan PTI. Meski begitu tak sedikit warga lokal Sorowako yang juga bergabung dan menangguk manfaat dari komunitas yang dimasukinya. Sebut saja Tito, warga Sorowako yang pernah menjadi karyawan kontrak di PTI, yang menjadi salah seorang pemain golf cemerlang dari SGC.

Tito, yang kerapkali secara berkelakar kami panggil Tito Wood mengikuti nama pegolf tenar Tiger Wood, mengenal golf dari awal sekali. Ia mengaku dulunya hanya sering nongkrong di pinggir lapangan golf PTI, satu-satunya lapangan golf di kota ini, atau sesekali menjadi caddy, sembari mengamati para pegolf mengayun stick. Tak terbayang olehnya suatu saat ia menjadi salah satu diantara mereka. Gerak-gerik, tehnik, bahkan dandanan para pemain golf ini mencap benar dalam benaknya.

Watcher’s luck, barangkali ini idiom yang tepat untuk menggambarkan bagaimana Tito kemudian ditawari untuk mencoba mengayun tongkat golf oleh seorang pegolf. Ia sepenuhnya mengandalkan ingatannya mengenai tehnik memukul bola golf seperti yang selama ini disaksikannya. Berkali-kali mencoba, hanya beberapa kali stick melentingkan bola dengan benar.

Tito mengaku saat itu jadi susah tidur setelah pengalaman pertama mengayun stick, karena malam-malam berikutnya ia mendamba hari segera pagi sehingga ia bisa segera mencekal dan mangayun stick golf lagi. Setelah beberapa lama, ia segera akrab dengan lekuk liku lapangan golf sembilan holes yang dibangun pertengahan 1970-an ini. Setahun kemudian, dalam kejuaraan Japan Day Golf Competition, awal bulan ini, ia menyabet posisi teratas mengungguli pegolf lain yang jauh lebih senior. Ia menyimpan ambisi untuk merebut gelar yang sama pada acara Sorowako Golf Tournament yang ke-29 awal Desember mendatang.

Lain halnya dengan AJ yang bergabung dengan komunitas bahasa Inggris Toast Master. Berkumpul setiap rabu malam di teras Ontaeluwu atau Otuno, komunitas ini memanfaatkan metode toast master yang sudah mendunia untuk mengasah kefasihan berbahasa Inggris sekaligus kemampuan memberikan presentasi. AJ mengaku bahasa Inggrisnya semakin terasah dan ia kini cukup percaya diri mempresentasikan suatu topik dalam bahasa Inggris.

Dua contoh di atas mengilustrasikan bagaimana kebutuhan manusia sebagai hewan sosial mendapatkan penyaluran. Bukan, bukan karena kurang gawean atau tidak ada kerjaan. Malah sebaliknya, justru karena atmosfir pekerjaan begitu kental di Sorowako maka komunitas-komunitas bertumbuhan untuk mencairkannya. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s