Ke Himalaya, Hasan, atau Inalahi?

Pilihlah, Himalaya atau Hasan? Atau  ke Harapan saja? Kalau masih belum bisa memutuskan, masih ada sederet pilihan lain kok. Tinggal tunjuk Hollywood, Anoa, Koro, atau Butoh.  Jangan bingung, nama-nama di atas bukanlah nama gunung, kota atau pun orang, apalagi tarian klasik dari Jepang. Melainkan penamaan untuk bukit-bukit di kawasan penambangan PTI di sekitar Sorowako.

Bukan bukit saja yang dinamai serupa nama orang atau tempat-tempat populer, tetapi juga pond atau kolam serta dam-dam air yang difungsikan sebagai tempat pengendapan jika tejadi erosi di musim hujan. Fungsi utamanya adalah mengendapkan chrome yang banyak terkandung dalam tanah-tanah dan batuan yang ditambang. Pond dan dam-dam tersebut semuanya di beri nama perempuan. Berbeda dengan bukit yang masih ada nama Indonesia, nama-nama pond dan dam adalah nama-nama asing. Nama-nama perempuan lagi, misalnya Fiona, Debbie, …

Sampai saat ini saya belum bertemu orang yang bisa bercerita banyak mengenai asal muasal penamaan itu. Dari salah satu tulisan di terbitan internal PTI edisi lama, bukit Himalaya, mengikuti nama puncak tertinggi di dunia, dinamai demikian karena dari puncak bukit ini seantero kawasan penambangan dan kota Sorowako serta lanskap berlatar danau terlihat semua. Puncak Himalaya, yang sering dipakai sebagai tempat seremoni penanaman pohon lokal oleh tamu-tamu penting PTI, mulai dari para menteri, dirjen hingga tokoh-tokoh nasional.  Pohon-pohon yang ditanam pun diambilkan dari jenis lokal, misalnya pohon dengen, beringin, albasia, dan eukaliptus.

Ada pula lokasi yang namanya mengundang tanya sekaligus tawa, yakni Inalahi. Yang ini bukan nama bukit atau pun pond, melainkan padang rumput dengan tanah tandus yang penuh rekahan. Menurut Pak Kai, seorang teknisi pengecekan sampel air yang hapal dengan liku-liku jalan di kawasan tambang, di bawah tanah tandus itu terdapat lapisan lumpur lunak yang saking dalamnya bisa menyedot siapapun yang terperosok ke dalamnya tanpa ampun. Karena potensi mematikannya, lokasi ini dinamai Inalahi, pengucapan pendek dalam lidah lokal dari ucapan bahasa Arab Innalillahi Wa Inna Illaihi Rajiun yang biasa menyertai berita kematian.

What’s in a name, kata Shakespeare. Tetapi ketika nama Inalahi akan mengingatkan kita untuk waspada dari ancaman yang mematikan, tentunya nama itu bukanlah suatu hal yang main-main. That’s something in a name, mister!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s