Laundry tukar-tukar

Kaus kaki saya tertukar setelah masuk laundry, hanya sebelah lagi. Memang sih warna, dan ukurannya hampir sama, tapi jelas stilirnya berbeda. Kepunyaan saya bermotif garit hingga ujung  dan kainnya masih halus. Sementara kaus kaki sebelah kanan ini motif garitnya hanya setengah pergelangan dan benangnya sudah banyak yang mbradhul alias koyak.

Ternyata, memakai kaus kaki beda merek, kualitas dan usia bisa memicu gatal-gatal di kaki. Alhasil, di kantor sepatu sempat saya copot untuk sekedar menggaruk telapak kaki kanan yang gatal nggak ketulungan. Saat jalan pulang ke pondokan, saya hanya memakai kaus kaki sebelah saja, satunya lagi, yang ternyata telah berbau, saya jejalkan ke dalam tas laptop.

Kejadian tak mengenakkan dengan laundry bukan cuma persoalan barang tertukar. Satu minggu lalu, saya juga baru tersadar kalau celana pendek favorit dan sehelai t shirt gombrong warna misty juga lenyap. Saya sempat berpikiran telah meninggalkannya di Jogja-kah?  Tapi saya jelas-jelas ingat pernah memakainya ketika masih tinggal di dormitory. Juga sehelai kaos yang semula berwarna putih saya temukan menjadi kebiruan setelah dipulangkan dari laundry.

AJ bilang memang kejadian seperti itu kerap terjadi, kalau tidak tertukar ya hilang karena terbawa bersama cucian orang lain atau rusak minor. Ya, saya pun sempat memiliki satu t shirt yang nggak jelas pemiliknya sebelum saya kembalikan via pengambil cucian. Entah kembali ke pemiliknya atau enggak, saya kurang tahu.

Tapi, berlangganan laundry di sini memang enak. Selain gratis karena sudah ditanggung perusahaan, selesainya cepat pula. Di ambil pagi sekitar jam 8, pukul 3 sore sudah siap pakai. Sudah disetrika dan, terkadang, cukup wangi baunya. Bayangkan kalau tak ada layanan ini, repot benar mau mencuci di kamar mandi yang lumayan sempit, belum lagi harus beli ember, sabun cuci dan tali jemuran. Sejumlah pengelola laundry di Pontada, yakni para kontraktor yang diharuskan mengikuti tender setiap tahun, agaknya saling adu kualitas agar bisa mendapatkan kontrak terusan di akhir tahun. Tapi, meski cepat, rapi dan wangi, kalau masih saja ada “layanan” tukar-tukar yang memperlihatkan kecerobohan, apa ya masih layak dipertahankan?

Nah, yang ada di pikiran saya sekarang, kalau suatu saat bersua dengan orang yang mengenakan t-shirt atau celana yang saya yakin itu milik saya, apa yang akan saya lakukan ya? Memberi tahu si pemakai bahwa yang dikenakan milik saya? Atau, dengan diam-diam menguntitnya untuk mencari tahu tempat mukimnya, kemudian mencari kesempatan untuk memungutnya dari box laundry yang umumnya pada ditaruh di muka pintu? Hmmmm..ada saran? Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s