Teluk Bayur dan Aqua muahal!

Mungkin ini makan siang terenak selama dua minggu lebih sejak kedatangan kami di Sorowako. Kali ini kami, ST, M, SB dan saya, menjejalkan diri di antara antrian berjubel di rumah makan padang Teluk Bayur, persis di pertigaan lapangan Persesos. Deretan mobil dan motor, sebagian besar kendaraan dinas karyawan atau kontraktor PTI, parkir hingga seberang jalan. Hari ini memang hari pertama warung Teluk Bayur melayani pelanggannya setelah lebih dari sebulan tutup ditinggal pulang kampung ke Padang sana. Lokasi Teluk Bayur sekitar 4 kilometer dari kantor.

Secuil paha ayam rebus yang diguyur sambal berminyak baru datang hampir setengah jam setelah kami mendapatkan meja. Gara-garanya, nasi habis dan kami harus menunggu nasi berikutnya tanak. Untunglah di meja tersaji kerupuk, pisang dan segelas es jeruk yang yummi, beda jauh dengan es jeruk yang dihidangkan warung-warung di Jogja yang rasanya alakadarnya itu (kecuali di warung si mak, pogung:). Nasi datang, dengan segera obrolan kami berganti acara kunyah mengunyah. Setelah dua tiga sendok terkunyah, baru tersadar nasi masih belum sepenuhnya matang. But, a hell with that, nasi padang je!

Saatnya membayar: bergiliran kami menyebut apa-apa yang telah kami ganyang. Selain dua porsi nasi berlauk ayam sambal, saya juga menyikat tiga pisang dan dua  plastik kerupuk. Untuk semuanya saya membayar Rp 20.000. Saya menyambar sebuah pisang lagi ketika tahu buah ini, seperti halnya air putih, dihidangkan secara gratis. Wah. Meski  jauh lebih mahal dibanding harga masakan padang di warung sekelasnya di Jogja, yang bisa dinikmati hanya dengan membayar sekitar Rp 8000 untuk porsi yang sama, tapi saya merasa puas sekaligus kekenyangan. Dua minggu lebih makan di yanti, sevariatif apa pun masakannya, lama-lama bosan juga. Kiranya, Teluk Bayur cukup mampu mengobati.

Tapi, malamnya kami “terpaksa” mengunjungi yanti lagi🙂. malam itu, sup kepala ikannya terasa keasinan. Lumayanlah masih ada pisang hijau dan jeruk sebagai penutup. Usai santap malam, kami mampir di warung Dengkeng untuk membeli air mineral merk Aqua satu galon sekaligus tempatan plastiknya. Harganya Rp 65.000, tidak terpaut jauh dari harga rata-rata di Jogja yang berkisar antara 40-50 ribu rupiah. Hanya kami terbelalak ketika tahu harga isi ulangnya Rp 30.000. Alamak! itu artinya tiga kali lipat harga isi ulang di Jogja.

Yah, barangkali kami harus sering-sering keluyuran di Teluk Bayur untuk menyeruput air putih gratis!  Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s