Mencelupkan diri di Matano dan Mata Buntu

Dari ketinggian Dash 7 Pelita Air Service yang akan mendarat dua minggu lalu, Danau Matano tampak keperakan di bawah cahaya siang.  Satu hari berikutnya, ST dan saya sempat menghabiskan sore di bibirnya yang berbatu dan ombaknya yang hempas. Setelah itu, praktis kami hanya selintas menengoknya dari kejauhan ketika berangkat ke kantor. Ya, antara kantor kami yang berada di ketinggian dengan Danau Matano hanya dipisahkan jarak kurang dari 1 kilometer.

Memang, pada hari Minggu minggu pertama kami berada di Sorowako, ST dan saya sempat melenggang dengan raft di atas Matano, menyusuri tepian danau hingga sekitar 3 kilometer ke arah barat. Kami mendapat kesempatan ini ketika kantor menjamu sejumlah wartawan lokal yang usai meliput kunjungan menakertrans sekaligus meng-entertain Syafii Maarif, mantan ketua umum Muhammadiyah yang menjadi pembicara dalam acara halal bihalal antara perusahaan dan masyarakat pada malam harinya.

Saat itu, di sekitar lokasi yang disebut sebagai goa bawah air, salah satu sumber mata air Matano yang berupa goa kecil di dasar tebing karang dengan separuh mulutnya terbenam air, ketika raft bersandar, kami sempat selama setengah jam mendayung kano di seputar raft. Meski jernihnya air dan dangkalnya dasar danau menggoda untuk direnangi, saya sungkan dengan para tetamu. Apalagi saya tidak membawa handuk dan pakaian ganti, dan saat itu masih mengenakan atasan batik🙂

Nah, hari ini, kami berkesempatan menceburkan diri dalam kesejukan Matano. Sehari sebelumya M menawarkan untuk mengantar kami berenang di yacht club, lokasi renang ekslusif dan dermaga raft untuk karyawan PTI di Salonsa. Mungkin ia kasihan melihat kami seringkali membahas kemungkinan berenang di danau tanpa pernah kesampaian. Sayangnya, karena dermaga di pakai untuk acara sebuah departemen, terpaksa kami pindah ke Pantai Ide, satu kilometer lebih ke timur yang ramai dijejali pengunjung.

Dilengkapi dermaga-dermaga (piers) kayu yang menjorok hingga 100 meter ke arah danau, kami memilih tempat berenang di ujung dermaga yang memiliki kedalaman sekitar 2-3 meter. Saat  itu air tengah surut hingga 1 meter lebih rendah dari ketinggian air maksimal akibat musim kemarau. Di lokasi ini air masih relatif jernih, dasar danau masih terlihat, sedangkan 25 meter lebih ke pinggir air keruh sangking banyaknya orang yang berenang di bagian yang kedalamannya hanya berkisar 1,5 meter.

Hanya tahan lima belas menit memandangi orang berenang-renang, ST dengan celana jeans dan t-shirt akhirnya nekat ikut nyebur. Padahal sebelumnya ia ragu untuk ikut nyemplung karena sama sekali tidak bisa berenang. Jernihnya Matano rupanya telah mengalahkan takutnya pada air.

Setelah sekitar sejam lebih direndam air, saya susah payah mengangkat diri dari air dan tergeletak dengan napas ngos-ngosan di atas dermaga. Berbaring miring, saya bisa melihat Desa Nuha sekitar 7 kilometer di seberang danau. Pada peringatan hari kemerdekaan tahun ini, diadakan lomba renang menyeberangi danau dari yacht club ke Nuha. Ya, 7 kilometer ke seberang danau sedalam 594 meter ini! Huah…saya renang tak sampai 50 meter non stop saja sudah KO gini…

***

Full and contend, segar setelah mengguyur badan di shower, kami segera ke kantor karena SB  menunggu di sana. Setelah sempat setting mac mini untuk burn beberapa file pesanan AJ, kami beranjak ke plan site untuk isi bensin dan jemput S, istri SB. Ajakan S untuk mengisi perut dengan bakso di Wawondula kami angguki. Sekitar lima kilometer sebelum danau Towuti yang masih banyak buayanya itu, tepat sebelum gerbang batas desa Wawondula (?), warung bakso kecil yang dijalankan oleh Yono, orang Sukoharjo yang ternyata juga pernah menjadi tetangga SB, menjadi jujugan kami.  Tak seberapa enak, tapi lumayanlah karena warung bakso ini satu-satunya dalam radius 20-an kilometer. Wah, asal punya masakan sedikit enak saja, warung di Sorowako dan sekitarnya pasti cepat terkenal, ujar saya waktu itu. SB dan S mengangguk setuju.

Dalam perjalanan menuju Wasuponda, kami bertukar rumor antardepartemen. S yang menjadi salah seorang auditor di PTI punya banyak cerita soal rencana take over pemilik saham terbesar PTI oleh perusahaan pertambangan asal negeri Samba. Yang mengejutkan, perusahaan ini ternyata hanya CV! Ya, padahal sebagian besar dari ratusan kontraktor yang menjadi vendor outsourcing PTI sudah berbentuk PT dan sisanya CV. Lah, CV dari Brasil ini kok luar biasa bisa membeli perusahaan tambang lain dengan nilai tak kurang dari 190 trilyun?, kami nanya begitu. Dengan kalem S menjawab, “Maklumlah, nama lengkap CV ini adalah CVRD (Companhia Vale Ro Doces ) yang beroperasi di 9 negara, memiliki karyawan 39.000 dan total aset …. trilyun”. Pantaslah, ternyata CV palsu tho?😛

Setelah mengantarkan S ke rumahnya, untuk menghabiskan separuh hari tersisa kami bergerak ke  air terjun Mata Buntu. Sejumlah kalangan di Wasuponda, kota kecil yang menjadi ibukota Kecamatan Nuha, Luwu Timur, sekitar 25 kilometer arah selatan Sorowako, memilih menyebutnya dalam bahasa lokal Meruruno atau suara yang bergemuruh. Sedang Mata Buntu, menurut SB, adalah nama lokal untuk mata air yang berada di sekitar air terjun.

***

Separuh jalan menuju lokasi ini, yang hanya sekitar 6 kilometer dari Wasuponda, masih berupa jalur  tanah yang penuh lubang. Di beberapa tempat terdapat batu mencuat dan jembatan darurat dari kayu. Tampaknya Pemda Luwu Timur masih menempatkan pariwisata sebagai prioritas ke sekian. Asumsi ini semakin menguat ketika mendekati lokasi kami mendapati portal dari batang kayu yang dilintangkan sekadarnya dan pos retribusi berupa bilik kayu sederhana yang ditunggui sejumlah pemuda tanggung dan sorang ibu separuh baya yang tubuhnya berbelit baju dan kain yang kedodoran. Kami dikutip Rp 10.000 untuk biaya parkir di lahan sempit yang hanya cukup untuk tiga mobil saja.

Air terjunnya sendiri cukup indah. Tersusun dalam belasan tingkat (ada yang menyebut 11, ada pula yang yakin 17 tingkat) dengan ketinggian bervariasi, gemuruh air terjun ini terdengar jelas dari jarak 200 meter di bawahnya. Meski tengah surut, pesona air jatuh yang ditingkahi tiang-tiang cahaya matahari yang menerobos dedaunan seolah membetot inginku untuk mencebur. Kalau nggak ingat berjam-jam berendam di Matano pagi harinya, saya mungkin akan nyebur di salah satu kedungnya yang dangkal.  Akhirnya, saya hanya jeprat-jepret saja dengan kamera kantor, Canon EOS 350D. ST juga terlihat sibuk dengan Kodak pocket  3 MP-nya.

Jalan menuju air terjun teratas berupa setapak kecil yang menanjak di gigir tebing, di beberapa tempat diberi potongan dahan pohon sebagai pengaman. Di jalan ini, pengunjung musti menghimpitkan badan ke dinding batu kapur atau berpegangan pada pohon ketika saling berpapasan. Setelah separuh ketinggian dari air terjun yang berurut ini, kami mendapati badan air dan bidang-bidang datar kering yang cukup luas. Di sini terdapat sebuah warung yang ditunggu beberapa pemuda asal Wasuponda, salah satunya mengaku bernama Riger.

Menurut Riger, puluhan orang, terutama pasangan-pasangan remaja dan keluarga, mengunjungi Mata Buntu setiap harinya. Ia dan teman-temanya kemudian berinisiatif  membangun warung berdinding kayu yang menyediakan minuman hangat dan mie instant. Di seberang deretan air terjun, pada ketinggian yang lebih rendah, terdapat satu warung lainnya yang beratap kain terpal.

Mereka, para pemilik warung dan warga sekitar air terjun, berinisiatif menyediakan tangga-tangga dari batang kayu yang ditakik sebagai pengganti tangga untuk naik ke air terjun bagian teratas. Sayangnya, takikan yang cukup dalam juga saya temukan pada batu-batu kapur, berdekatan dengan goresan kasar nama-nama orang yang sengaja ditorehkan dengan semangat “anjing kencing” (anjing atau kucing biasanya menandai teritori dan kehadiran dengan mengencingi tempat atau benda di sekitarnya. Semacam maklumat ” i was here”).

Di sudut ini pula saya menemukan beberapa kaleng minuman ringan, plastik-plastik pembungkus makanan dan seonggok abu sisa sampah yang dibakar. Semakin menyedihkan ketika di hulu air terjun sejumlah potongan batang pohon berukuran besar terhumbalang begitu saja. Sekitar lima puluh meter di atas lereng, terlihat pokok-pokok gundul dan semak yang tersibak. Beberapa batang kayu sudah dalam bentuk potongan-potongan kotak yang tampak dari warnanya telah dibiarkan beberapa lama. Agaknya, kayu-kayu ini sisa pembalakan liar yang sempat marak melanda hutan-hutan lindung di Sulawesi Selatan dan Tengah hingga awal tahun ini.

Lepas dari pembalakan liar dan swa-kelola setengah hati, perjalanan ke Mata Buntu ini sungguh mencerahkan meski juga menyisakan pegal di badan. Alhasil, pada malam harinya kami tidur bleg-set alias ‘ambleg’ (jatuh), terus ‘set’  tak bergerak-gerak lagi hingga pagi. Ah, Matano. Wah, Mata Buntu! Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s