Menaketrans, supir perempuan dan gagap kamera

Hari ini Menakertrans Erman Suparno berkunjung ke PTI selama dua hari. Oleh bos, AF, kami ditugaskan untuk mendokumentasikan aktifitas menteri selama di PTI dan sekitarnya, termasuk kunjungan ke rumah dinas Bupati Luwu Timur di Malili, sekitar 60 kilometer dari Sorowako, untuk mendengar paparan bupati tentang rencana pengembangan kawasan mandiri di Kabupaten Luwu Timur.

Setelah acara basa-basi dengan manajemen PTI di Taman Antarbangsa, menteri menuju Pusat Pelatihan Industri (PPI), lembaga kursus yang didirikan PTI dan Pemkab Luwu Timur untuk mengakomodasi kebutuhan warga lokal mendapatkan pelatihan praktis berbagai aspek kerja industri. Berlatar pembekalan ini, peserta latih berkesempatan ikut kompetisi perekrutan karyawan PTI dengan daya saing tak kalah dari lulusan perguruan tinggi.

Pertengahan tahun ini, sekurangnya 70 lulusan PPI diterima menjadi karyawan PTI, termasuk 6 perempuan yang lolos menjadi pengemudi triple-7, truk angkut segede gajah yang berkapasitas 90 ton. Saking besarnya, ban-nya saja berdiameter hampir tiga meter! Tapi toh, berkat pelatihan ini mereka tak kalah lincah mengemudi truk bermerk Komatsu ini dibanding sejawatnya yang lelaki. Setelah meneriakkan yel-yel “PPI!” yang disambut tempik-sorak “yes! yes!”dari ratusan peserta latih, menteri kemudian bertolak ke Malili.

Malili, kota kecil tak jauh dari Teluk Bone ini sejak tiga tahun lalu dijadikan ibu kota Kabupaten Luwu Timur yang menjadi hasil pemekaran Kabupaten Luwu Utara di tahun 2003. Bangunan-bangunan pemerintahan yang ada sangat sederhana, terutama jika dibandingkan bangunan-bangunan pemerintah di Jawa misalnya, mencerminkan kemudaan umur Pemda Luwu Timur. Kawasan pemda yang lebih representatif tengah dibangun di Puncak Indah, sekitar satu atau dua kilometer dari lokasi saat ini.

Namun kesederhanaan itu tak melulu dikarenakan kemudaan daerah ini, tetapi juga  orientasi dan kebijakan pembangunan yang berani beda. Andi Hatta Marakarma, Bupati Luwu Timur yang pertama, dalam paparannya pada Menakertrans mengungkapkan bahwa 30% dari APBD wilayahnya dialokasikan untuk pendidikan sehingga semua siswa hingga tingkatan SMU bebas dari biaya SPP.

Hatta juga mengatakan pembangunan fisik daerah Luwu Timur tidak dipusatkan di satu tempat saja, melainkan diupayakan secara merata di semua kecamatan. Tak heran jika pusat pemerintahannya tak terlihat mentereng seperti kebanyakan daerah lain di nusantara. Bupati juga memaparkan rencana kawasan mandiri di Mahalona, yang diproyeksikan menjadi model bagi pembangunan di kota-kota kecamatan lain di wilayah Luwu Timur. Setelah bersantap, kami bertolak pulang ke Pontada.

***

Maghrib telah lewat ketika kami tiba di Pontada. Hanya ada setengah jam untuk mandi dan bersiap, sebelum kami kembali ke TAB untuk mendokumentasikan proses penandatangan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara PTI dengan Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi dan P (FSP-KEP) di lingkup PTI. Perjanjian tersebut adalah perjanjian yang ke-dua belas yang diperbarui dan ditandatangani setiap dua tahun sekali.  Artinya, sudah 24 tahun usia saling kesepahaman antara manajemen perusahaan dengan FSP KEP yang saat ini mewakili 2.036 karyawan PTI. Menurut Menaker, di indonesia PTI hanya kalah dari ABN Amro (?) yang telah melakukan penandatanganan PKB sebanyak 13 kali (?).

Seperti siang tadi, saya sibuk mengabadikan aneka momen dengan kamera Sony HDV XL 1 yang baru sekali ini kupegang. Ukurannya lumayan ramping dibanding kamera Betacam yang dibawa kameramen TVRI Makassar maupun dua kameraman dari ANTV dan RCTI yang tergabung dalam rombongan 11 wartawan yang menyertai menteri sejak dari Jakarta. Tapi beratnya lumayan juga, sekitar 3-4 kilogram, yang cukup membuat saya keringatan kalau terus menerus mengangkatnya lebih dari 10 menit.

Karena ruangan TAB remang-remang, citra pada layar LCD kamera terlalu gelap. Saya coba pasang lampu pada body kamera. Setelah shooting sana sini, saya jeda sebentar dan duduk satu meja dengan kameraman dari dua tv swasta Jakarta tadi. Mereka memuji kamera yang saya pakai, sembari mengutak-atik beberapa tombol setting.

“Lah, ini filter nggak di matikan saja”, tanya salah satu kameraman. Ia menunjukkan tombol di sisi kiri bawah kamera, sembari menjetikkannya ke bawah. Tuing, layar LCD pun terlihat terang tanpa dinyalakan lampunya. “Wah, pantas pakai lampu segala. Saya pikir untuk mendapat efek tertentu atau gimana kok pakai lampu,” komentarnya yang makin bikin saya tengsin. Sudah terlanjur malu, sekalian saya bilang masih awam dan minta diajarin. Mereka dengan senang hati menjelaskan manfaat beberapa fitur dan teknik pengambilan gambar untuk berita. close up, ditambah beberapa long shot, cukup sudah, ujarnya.

Acara di TAB bubar sekitar pukul 10.00 wita, tapi rupanya kami belum bisa istirahat. Beberapa wartawan koran lokal berniat menumpang mengetik berita di kantor sekaligus mengirimkannya ke redaksi masing-masing melalui email. So, kami harus menunggui mereka di kantor. Kami mengakhiri hari ini jam dua malam dengan tangan dan kaki pegal.  Alhamdulillah tidurku nyenyak karenanya. Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s