Matano dan merah putih obar abir

Bangun jam 11.00 Wita dengan kepala berat. SB tidak muncul sebagaimana ia janjikan. Makan siang di Yanti, salah satu kantin di Pontada, kemudian ngamar lagi. Jam 3 sore ST mengajak keluar. Sebentar kemudian kami sudah menapaki jalan setapak di antara kontainer-kontainer yang telah disulap jadi tempat tinggal ber-AC, dilengkapi kamar mandi dalam dan dua ruang tidur. Beberapa bertuliskan ATCO dan beberapa lainnya, yang dari warna catnya tampak lebih baru, bersih tanpa tulisan apapun.

Setelah sekitar 15-20 menit berjalan, kami sampai ke Pantai Idee di bibir Danau Matano. Terlihat beberapa keluarga tengah bersantai, satu dua pasang remaja asik pacaran, dan beberapa anak muda tengah mencuci sepeda motor di teluk kecil.

Matano memang luar biasa sore itu. Meski permukaannya turun sekitar 100 centimeter dari permukaan maksimal di musim penghujan, terlihat dari bekas air pada dinding pinggir danau, sore itu ombaknya mengingatkan saya pada ombak-ombak tanggung pantai utara Jawa. Bebatuan serupa karang seolah membenarkan teori yang pernah saya baca di sebuah blog bahwa aktifitas lempeng tektonik jutaan tahun lalu telah mengangkat dasar lautan menjadi jajaran pegunungan Verbeek yang membentuk rupa Sulawesi seperti saat ini.

Menurut kajian para geolog, dari analisis batuannya diperkirakan mangkuk Matano terbentuk sekurangnya 4 juta tahun lalu, jauh lebih tua dibanding dua danau di dekatnya, Danau Towuti dan Mahalona, yang diperkirakan terbentuk kurang dari 1 juta tahun lampau. Selain dinilai sebagai danau terdalam di Indonesia dan terdalam ke delapan di dunia, yakni 594 meter, sehingga hampir 200 meter dasar danau berada di bawah pemukaan laut, Matano juga memiliki sejumlah keistimewaan lain. Sebut saja airnya yang demikian jernih sehingga kita bisa melihat sampai kedalaman 23 meter dari permukaan, perbedaan suhu antara permukaan danau dengan dasarnya hanya terpaut 2 derajad Celcius, dan adanya sejumlah spesies air endemik khas danau ini. Dengan karakteristik ini, kabarnya Matano bisa diusulkan menjadi salah satu “world heritage”.

Dari Matano, kami menapaki jalan pintas menembus sisi belakang kompleks perumahan karyawan PTI  yang nampaknya belum lama didirikan. Meski bentuknya nyaris sama dengan rumah-rumah yang ada di sekitar dormitory, mereka kelihatan berbeda dengan cat warna cokelat gelap serupa warna natural  dan ukurannya yang lebih besar dan sosoknya yang lebih jangkung. Bagiku rumah-rumah ini terlihat lebih keren dibanding yang bercat hijau, putih atau biru menyala yang banyak terlihat di Pontada dan Salonsa. Lokasi yang disebut belakangan ini adalah kompleks pemukiman karyawan PTI level atas.

Di belakang rumah-rumah itu, berdekatan dengan danau, terlihat sejumlah rumah kayu berukuran kecil, beratap rumbia sehingga bagiku lebih mirip dangau dibanding tempat tinggal. Satu dua orang tampak beraktivitas di luar rumah, tengah menyiangi gulma diantara batang-batang padi yang baru setinggi lutut. Aku nggak tahu apakah mereka dibebaskan PTI untuk bertani di kawasan ini atau memang itu tanah mereka. Para petani yang tersisa dari daerah yang telah mengkota ini.

Melewati gang di sesela perumahan panggung, kami muncul di halaman luas dojo Tae Kwon Do cabang Sorowako. Hall dengan arsitektur atap –kayaknya–tradisional itu terlihat sepi. Di sisi depan kanan bangunan ini kami mendapat kejutan.

Pada salah satu dari tiga tiang bendera yang ada di situ berkibar bendera Indonesia yang telah lusuh dan compang-camping berkibar dengan gagahnya. Warna merahnya telah luntur dan ukurannya pun tinggal sebagian karena sisanya telah berupa robekan-robekan kain yang seolah siap menjadi serpih-serpih. Obar-abir, dalam bahasa Jawa. Kibarannya mengingatkan saya pada bendera-bendera perompak yang rapuh dimakan uap asin air laut dan terik matahari. Ia seolah mengabarkan ketegarandan kegagahan yang tak lekang dimakan usia. Ataukah kebandelan yang tak tahu diri? Wallahualam. Hidup Indonesia! Salam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s