Slow down, you move too fast…

aat mendengar orang bergosip!”. Demikian jawaban seorang kolega ketika saya tanya kesenangan terbesarnya saat bersepeda. Ia selalu datang berlulur peluh di kantor setelah satu jam penuh mengayuh pedal. Jawabannya di atas pasti membuat siapapun berkerut kening. Jamaknya, jawaban pertanyaan kenikmatan dalam bersepeda tak jauh dari alasan karena lebih mengirit ongkos transportasi, membuat badan sehat, atau jawaban semi-idealis semacam “agar punya kontribusi pada pelestarian lingkungan”.

Ternyata, gara-gara bersepeda teman saya itu kerap berkesempatan mencuri dengar obrolan serombongan pengayuh sepeda, yang beriringan dari arah Bantul menuju kota Yogyakarta. Sambil bersepeda mereka bertukar cerita tentang kondisi rumah tangga, pekerjaan atau berkeluh kesah tentang hidup yang kian susah dan rejeki yang semakin seret dihantam kenaikan BBM plus gempa. Inilah hiburan utama teman saya saat harus mengayuh pedal 16 kilometer pulang balik setiap harinya.

“Slow down, you move too fast…”. Pada kesempatan lain frasa ini membawa ingatan saya pada ujaran seorang teman lain yang tinggal dan bekerja di Jakarta, kota yang menjadi pusat segala sibuk dan gegas. Ya, saya ingat dia pernah mengajak saya untuk beberapa jenak duduk berbincang sembari minum kopi di puncak siang, justru ketika deadline pekerjaan tengah memburu.

Dalam perbincangan, sang teman yang seingat saya tidak pernah bersepeda ini berkisah tentang tradisi siesta (tidur ayam) di Portugal, Spanyol dan negara-negara berlatar kebudayaan Latin. Saat hari melewati setengah perjalanan, setelah makan siang, sebagian besar penduduk usia dewasa meluangkan seperempat sampai setengah jam waktu istirahat makan siang untuk relaksasi. Tak sedikit yang menyempatkan diri untuk tidur. Setelahnya, mereka akan kembali melanjutkan aktifitas dengan tubuh dan pikiran yang lebih segar.

siesta

Kini, saya seolah menemu benang merah dari dua frasa di atas, tentang gosip dan slow down, dengan aktifitas bersepeda. Aktifitas bersepeda, sembari misalnya mengisi kayuhan demi kayuhan dengan gosip, punya hasil ikutan tubuh dan pikiran yang sehat segar seperti halnya yang dicapai dengan siesta. Sedangkan siesta dalam bingkai kesadaran untuk ‘slow down’ telah memunculkan kesempatan rehat dan mengevaluasi pencapaian dalam hari itu sebelum kembali beraktifitas dengan gegas baru.

Di jaman orang keranjingan dengan segala yang berbau kecepatan ini, ajakan untuk slow down boleh jadi menemukan penerjemahan idealnya lewat kegiatan bersepeda. Kenapa? Saat bersepeda, Anda tidak bisa terlalu cepat berkendara dengan sepeda tanpa resiko menubruk atau ditubruk orang, karenanya lebih aman berkendara dengan pelan. Dus, justru karena pilihan untuk pelan inilah maka bersepeda jadi bernilai lebih. Anda lebih punya banyak kesempatan untuk mencerap kejadian, suasana dan pengalaman ruang yang berbeda. Dengan bersepeda akan tersadari banyak hal yang tak pernah terlihat, apalagi terpikirkan, saat berkendara dengan sepeda motor atau mobil.

Bagi saya, setelah mencobanya untuk sekian bulan, bersepeda seolah telah memberi “mata baru” untuk memandang, mencermati dan memikirkan ruang-ruang yang saya lalui. Sebuah mata baru yang menjadi pembuka bagi bentuk-bentuk pengenalan, dan semoga, berlanjut pada kepedulian. Sebuah kesempatan untuk menemukan alasan mencintai sebuah ruang dan dinamika di dalamnya.

Maka, ketika Anda merasa melaju terlalu cepat sehingga melupakan sekeliling, slow down…atau mulailah bersepeda!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s