Merdeka Bersama Copyleft

1_copyleft
Apabila berpuluh tahun lalu kemerdekaan kita raih dengan perjuangan yang berdarah-darah, saat ini semakin banyak orang yang menawarkan “kemerdekaan” yang bisa kita peroleh tanpa harus menitikkan darah, atau bahkan sekedar keringat saja. Salah satu contoh muncul belakangan ini adalah kemerdekaan yang ditawarkan dunia teknologi informasi melalui konsepsi open source alias sumber terbuka. Istilah ini mengacu pada pengertian pemanfaatan, pendistribusian dan pengembangan piranti lunak secara bebas tanpa terikat lisensi.

Sebelum maraknya praktek open source, dikenal juga istilah copyleft. Meskipun lebih terdengar sebagai plesetan atau permainan kata-kata dari copyright yang lebih dikenal umum, copyleft diakui sebagai landasan ideologis bagi pengembangan open source. Praktek ini berupa cara untuk membuat sebuah program menjadi free software (piranti lunak bebas), dan menjamin kebebasan untuk memodifikasi program tersebut berdasar lisensi.

Konsep copyleft diperkenalkan pertama kali oleh Richard Stallman pada tahun 1984 gara-gara dia tidak diijinkan untuk mengakses hasil pengembangan program Lisp oleh perusahaan Symbolics. Padahal awalnya Lisp dibangun oleh Stallman yang membebaskan pemakaian dan pengembangannya untuk umum. Merasa berang dengan perlakuan Symbolics, Stallman lantas mempraktekkan aksi “penimbunan piranti lunak” (software hoarding), yakni melakukan pembatasan akses ke piranti-piranti lunak terbuka yang sudah dikembangkan olehnya.

Belakangan, Stallman merasa praktek penimbunan tidak praktis dan malah merugikannya dalam menghadapi pranata Hak Kekayaan Inteletual (HaKI). Dia lantas mengubah strateginya dengan memilih cara main yang sama dengan HaKI, namun dengan melakukan modifikasi penerapannya. Sama halnya dengan piranti lunak berhak cipta yang dilindungi dan didistribusikan berdasar lisensi, produk Stallman juga memiliki lisensi. Bedanya, pemegang lisensi produk Stallman memperolah jaminan untuk melakukan modifikasi dan distribusi lanjutan secara bebas. Lisensi tersebut kemudian dinamai General Public License (GPL–Lisensi Publik Umum). Inilah lisensi copyleft yang pertama,

Copyleft lantas sering diartikan sebagai perlawanan atau penolakan terhadap copyright dan menentang perlindungan terhadap hak cipta. Padahal sebenarnya copyleft memanfaatkan aturan copyright untuk tujuan yang bertolak belakang. Artinya, jika copyright bertujuan melindungi kepemilikan pribadi dari pembajakan, copyleft sebaliknya karena tidak berambisi menjadikannya sebagai milik pribadi, tetapi justru menginginkan agar perangkat lunak itu tetap bebas (free software). Selain membebaskan modifikasi dan distribusi lanjutan oleh pengguna, penjaminan melalui copyleft mengantisipasi penyalahgunaan oleh para pengembang piranti lunak yang mungkin berkeinginan mejadikannya piranti lunak terbatas.

Nah, ketika merdeka setara artinya dengan bebas, tentu copyleft bisa diartikan sebagai satu lagi tawaran untuk “merdeka”. Setuju?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s