Apakah Hanya Kraton?

Kraton Yogyakarta terletak di Jeron Beteng, sebuah kawasan di selingkar dalam (bekas) Benteng Baluwarti yang kini secara administratif tercakup dalam Kecamatan Kraton. Sebagai titik awal perkembangan kota Yogyakarta 250 tahun lampau, kawasan Jeron Beteng laksana gudang dari kisah-kisah historis, kultural dan aspek-aspek fisik serta sosial yang membentuk karakter kota Yogyakarta sebagai kota budaya.

Sejalan dengan fungsinya sebagai (bekas) pusat pemerintahan Kasultanan Yogyakarta, wilayah ini mewarisi bermacam-ragam peninggalan kultural yang tak ternilai. Kraton Kasultanan Yogyakarta bak museum hidup dari kehidupan tradisional yang telah berusia ratusan tahun, termasuk diantaranya ritual Sekaten yang kini tengah berlangsung.  Dalem-dalem kuno tempat tinggal para bangsawan, bangunan-bangunan tradisional yang dimiliki para abdi dalem, hingga lorong-lorong plengkung benteng masih setia merekam dinamika kota yang mulai gagap diantara modernitas dan tradisionalitasnya.

Keterjagaan kekayaan budaya itulah yang menumbuhkan eksotisme yang kemudian memikat ratusan ribu wisatawan untuk mengunjungi wilayah Jeron Beteng, terutama Kraton dan Tamansari. Tak dapat disangkal, kedua lokasi tersebut memang masih menjadi jujugan utama wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Menurut catatan dari Tepas Pariwisata Kraton Yogyakarta, pada tahun 2005 angka kunjungan wisatawan dengan tujuan Kraton Yogyakarta saja mencapai lebih dari 320 ribu pengunjung. Sekitar 30.000 diantaranya wisatawan mancanegara.

Sebenarnya, selain Kraton dan Tamansari, kawasan Jeron Beteng masih menyimpan aneka daya tarik dan potensi wisata yang belum tergarap. Apa lagi? Sebelum pertanyaan ini terjawab, agaknya kita harus menyepakati dahulu terminologi “potensi wisata” yang dipakai di sini.

Apakah potensi wisata masih melulu dimaknai sebagai atraksi wisata yang berupa bangunan fisik, pranata sosial maupun elemen-elemen budaya yang berciri pada tradisi atau budaya saja? Jika ya, maka “potensi wisata” yang ada di Jeron Beteng memang hanya sebatas Kraton, Tamansari, dan beberapa Dalem serta obyek wisata formal lainnya (misalnya Masjid Agung dan museum).

Tetapi jika Anda menjawab “tidak”, maka kita bisa menyodorkan elemen-elemen lain yang berperan dalam dinamisasi kehidupan sosial-budaya kawasan Jeron Beteng. Lepas dari label apakah ia “tradisional”, “eksotis” atau malah “kontemporer”.  Sebagai contoh, coba amati  sejumlah mural yang tergambar pada beberapa dinding bangunan di kawasan ini. Tengok juga kantung-kantung aktifitas budaya kontemporer seperti Yayasan Seni Cemeti di Patehan dan kelompok fotografi Mess 56, komunitas pembuat film Four Colors di Nagan. Jangan lupakan juga kawasan Rotowijayan dengan kios-kios Dagadu “asli”-nya dan Jalan Wijilan dengan deretan warung gudeg-nya yang tersohor. Mereka pun sebenarnya memiliki “sihir” wisata yang tak kalah memikat.

Semuanya (walaupun tidak memiliki sisi “tradisionalitas” yang seringkali diidentikkan dengan aktifitas wisata di Jeron Beteng) mewakili “potensi wisata” yang tidak banyak diperhatikan di kawasan ini. Meskipun tidak sampai ribuan, lokasi-lokasi ini juga mampu mendatangkan wisatawan, terutama dari kalangan yang memiliki minat khusus. Perannya dalam menduniakan nama dan reputasi kota Jogja sebagai pusat kebudayaan juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan adanya mereka, paling tidak kita bisa mengatakan bahwa potensi wisata Jeron Beteng bukanlah Kraton saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s