Only the Good Die Young?

Sekali berarti, kemudian mati. Kurang lebih begitu tulis penyair Chairil Anwar. Tapi, dalam dunia yang geraknya semakin absurd tak terpahami kini, apakah tiap-tiap orang akan sempat memberi arti pada dirinya sebelum mati? Tengok saja, kematian di hari ini mungkin datang dalam rupa ledak mesiu yang merajam daging tubuh menjadi serpih-serpih. Atau dalam bentuk sambaran mesin besar di jalan raya yang melumat daging-tulang dalam potongan-potongan kecil tanpa engkau sempat sadar apa yang telah menimpamu.

Dan sialnya, ada kemungkinan engkau hanya akan dikenali dalam angka-angka. Jika jalan kematian demikian yang ditemui, akan masih berartikah nyawa yang tercerabut? Kalau pun kematianmu cukup berarti sehingga sempat membuat sekian ratus kepala bercucur air mata dan menyebut-sebut namamu dalam pembicaraan selama seminggu dua minggu berikutnya, toh tetap saja bagi sebagian besar orang lain maknamu tak lebih dari angka-angka. A mere statistic!

Padahal, statistik adalah kebohongan paling telanjang!—(sayangnya, aku lupa siapa yang mengatakan ini). Namun tidak sedikit orang yang merasa nyaman dengan kebohongan yang tak empatik ini, agaknya. Betapa tidak, hanya dengan angka-angka engkau bisa menggantikan gambaran nyawa-nyawa meregang–ketika kulit terkelupas disembur api, tubuh dibolongi timah runcing, kaki-tangan, kelamin, rambut, usus terburai dihumbalangkan oleh ledak mesiu. Hanya dengan angka-angka!

Harap dicatat, angka 143 korban mati tertimbun sampah di Leuwigajah, Cimahi, yang mungkin tertera pada tabel di papan pengumuman sebuah kantor kecamatan hingga ruang kerja gubernur Jawa Barat misalnya, adalah sama halnya dengan 143 rasa sakit yang menerpa dengan luka-luka, pedih yang sangat, dan, tanya MENGAPA yang barangkali tak pernah terjawab! Bisakah engkau bayangkan dirimu cacat atau malah mati bersama segala penasaran tanpa jawab? Atau, dan ini menjadi semakin absurd, apakah mereka mati untuk menjadi contoh, menjadi preseden, bagi manusia-manusia sejaman atau setelahnya? Ha. Mereka yang alasan penciptaannya sama-sama menjadi khalifah bumi, akhirnya mati hanya untuk jadi contoh bagi yang lainnya!

Punya arti barangkali adalah masalah eksistensial yang kerap kali menggugat-gugat isi kepala banyak orang. Meski pun toh nilainya relatif satu sama lain, orang selalu mencoba mencari ukuran yang bisa dikenakan ke setiap siapa untuk menentukan seberapa berarti kamu di konteks tertentu. Katakanlah dalam lingkup sebuah universitas, seberapa berarti engkau jika dirimu adalah seorang mahasiswa tua yang sudah bertahun-tahun lalu seharusnya telah menyelesaikan studi? Mungkin birokrat fakultas akan banyak mencibir dan para administrator kampus sibuk mencari alasan untuk segera menendangmu keluar dari kampus.

Juga, berartikah bagimu sekian ratus nyawa yang melayang hampir setiap hari di Iraq atau Palestina sana? Mungkin akan lebih menyedihkan bagimu kematian biasa seorang paman dari pihak ibu yang selalu membawakan permen di kala kecilmu, daripada kematian seratus atau dua ratus kanak-kanak atau pemuda di belahan bumi sana karena timah panas dari rezim yang sangat tidak adil.

Benar, kita lantas bicara masalah kehilangan. Tentang sebuah ruang kosong yang tak dikehendaki, yang dimunculkan oleh setiap kematian dari bagian yang intim dengan kita. Jika demikian, apakah keberartian selalu ditentukan oleh keintiman? Jika memang keberartian bergantung pada tingkat keintiman, apakah ketika engkau dalam lingkup yang intim telah dianggap cukup memiliki arti, maka engkau dapatlah mati dengan tenang. Begitukah?

Aku sendiri tidak tahu jawabannya, tetapi jika musti menjawab, maka jawaban yang akan kuberikan adalah: tidak! Toh masalah kapan engkau, atau aku, mati tidak pernah ada sangkut pautnya dengan telah seberapa jauh atau seberapa besar engkau punya arti, kan? Dalam Qur’an dinyatakan, setiap hidup berjodoh dengan maut, tanpa peduli apakah engkau sempat hidup sekian tahun untuk menyatakan eksistensimu atau belum. Buktinya, dari waktu ke waktu tetap angka kematian bayi tetap tinggi (here is another statistic…:), entah karena kekurangan gizi atau dicekik si pelahir yang tak menghendakinya.

Berlatar pemikiran ini, jangan percaya dengan frasa “only the good die young”! Karena boleh jadi orang akan secara nakal memaknainya secara terbalik, “it’s good that you die young!”, yang maknanya “baguslah engkau segera mati karena keberadaanmu tak lagi dikehendaki oleh masyarakat”. Nah, lho!

3 thoughts on “Only the Good Die Young?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s