Bahas-bahas…bahasa…

Kapan bahasa tercipta, mungkin tak yang pernah tahu. Kalaupun ada yang dianggap tahu, aku yakin dia pun tidak sepenuhnya tahu, atau tidak sepenuhnya benar ketika mengatakan bahwa bahasa tercipta tahun sekian, atau saat ini, saat itu. Karena aku berpendapat bahwa setiap penciptaan (kata ini pun meragukan, apakah benar manusia itu mencipta?), selalu-lah hasil akumulasi dari sekian banyak “penciptaan” lain sebelumnya. Mobil, contohnya. Adakah dia diciptakan sebagaimana bentuknya yang kita kenal kini? Tidak, dengan T besar! Penciptaan mobil tak lepas dari penemuan roda. Penciptaan karet. Penemuan alat tempa besi. Penemuan prinsip kelistrikan. And million other things!

Aku rasa logika “penciptaan” yang sama juga berlaku pada bahasa. Hal yang amazing dari bahasa (aspek “amazing” ini selalu ada di setip bentuk penciptaan, kukira), dia mampu menjadi konvensi arbitrer alias sewenang-wenang yang merasuk di ruang hidup bangsa-bangsa. Bahkan menjadi identitas. Bahasa mencerminkan bangsa! Jikalau bahasa saudara buruk rupa, maka bangsa Anda pasti tak kalah bobrok…demikiankah?

Dalam perkembangan kontemporernya, tercipta korelasi yang menarik antara bahasa dan kekuasaan. Apabila sebuah rezim telah memilih dan memilah cara berbahasanya, maka dari sana pula kita sebenarnya bisa membacai kehendak yang dimaksudkan. Sebagai contoh, kita simak praktek-prektek eufimis yang memilih penghalusan yang menyesatkan. Yah, barangkali makna kata “tuna wisma” yang kemudian di-antipadan-kan dengan “kere tak berumah” telah membuat nyenyak tidur para penindak amanat rakyat negeri ini atau melicinkan jalan baqi kucuran utang luar negeri.

Kata “diamankan” memang terdengar lebih bersahabat, lebih menentramkan dibandingkan dengan kenyataan yang harus dihadapi oleh orang-orang yang pernah mengalami “pengamanan” para hamba hukum!  Kata-kata baru ini sama sekali tidak mengubah esensi karena “diamankan” toh tetap sama saja dengan dibui! Dipenjara! Dikurung! Disel! Kenyataannya justru para “hamba hukum” ini pada prakteknya sering menjadi penguasa hukum yang luwes membolak-balik pasal-pasal peraturan hukum. Dari sisi ini, bahasa menjadi alat kekuasan untuk menghegemoni pikiran dan mendominasi wacana.

Namun, politik bahasa tidak hanya dimonopoli oleh kalangan penguasa. Jika para penguasa seringkali memaksudkan olah bahasa sebagai bentuk penaklukan atau pemagaran pada kebebasan berpikir, maka bagi kelompok-kelompok marjinal bahasa adalah perangkat dan ekspresi perlawanan pada sistem yang mengatasi dan meminggirkan mereka. Dari beberapa “gerakan perlawanan” yang ada, sebuah contoh menarik datang dari seorang “buta”, dalam arti fisikal, yang pernah kukenal. Dia adalah pengajar yang bergelar master di salah satu institusi pendidikan negeri yang selama puluhan tahun menjadi pabrik guru di Yogyakarta.  Selain aktifitas mengajar, dia juga mendirikan sebuah yayasan yang mewadahi aktifitas memperjuangkan aksesibilitas untuk “orang-orang cacat”.

Harap dicatat baik-baik: dia tidak suka frasa itu. Dia sendiri merasa bukan orang cacat, meskipun kedua matanya kehilangan kemampuan melihat sejak kanak-kanak. Menurutnya dia hanya berbeda kemampuan dengan orang-orang yang memiliki indera pengelihatan tidak terganggu. Then, he coined the word “difable”. Difable sendiri adalah perpaduan dari kata different dan ability.

Ini adalah ekspresi politik kelompok tersisih untuk memperjuangkan eksistensi mereka melalui bahasa. Difable dimaknakan sebagai “berbeda kemampuan” (dari frasa ‘different ability’), berbeda makna dengan “disable” yang disepadankan dengan kata “cacat” dalam Bahasa Indonesia. Cacat merangkum konsep keadaan tidak lengkap atau malah tidak berkemampuan, sehingga penyandang cacat hanya layak untuk dikasihani, dibantu, disendirikan atau dipinggirkan dari kompetisi yang hanya memberi ruang untuk orang “normal”. Orang cacat adalah kalangan yang tidak terhitung dalam banyak kesempatan. Kalangan yang hanya seringkali tersubtraksi ke dalam angka-angka statistik. Dan difable tidak sendirian, bersama mereka adalah para “tuna susila”, tekyan alias “anjal”, para bencong atawa “wadam, waria”.

Demikianlah, bahasa suatu bangsa cenderung menjadi cerminan dari kalangan yang dominan dan kerapkali menyisihkan empati. Benar bahwa dari waktu ke waktu ada “perbaikan” dalam diksi-diksi berbahasa, akan tetapi penerimaan kata-kata baru selalulah didahului oleh perjuangan panjang. Dan, meski telah jauh dari titik penciptaannya, bahasa kini masih terus bergerak diantara tegangan banyak kepentingan. Siap menjadi senjata pembunuh, atau sebaliknya, tameng sebuah perjuangan.
(tulisan lama nih, tahun 2003. terpicu diskusi soal difabel di priyadi.net, tak upload juga akhirnya)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s