Ayo, Ramai-ramai Berguru Pada Alam

“Jadikanlah alam gurumu”, seru William Wordsworth suatu kali. Lewat puisi-puisinya penyair kawakan Inggris yang tenar pada pertengahan tahun 1800-an itu mengingatkan kita agar tak segan berguru pada alam. Pada masa itu, Wordsworth dan generasinya menyaksikan Inggris diharubirukan oleh Revolusi Industri yang mengeksploitasi alam dan sumberdaya manusia secara habis-habisan.
Akibatnya, alam rusak dan tatanan sosial hancur berantakan meskipun di sisi lain kehidupan ekonomi meningkat pesat. Kerusakan lingkungan ditandai dengan sungai-sungai yang pekat oleh limbah industri, tanah penuh polusi dan udara yang tercemar asap beracun. Sementara itu pemukiman kumuh menjamur akibat urbanisasi besar-besaran yang dibarengi pula praktek eksploitasi pekerja perempuan dan anak-anak.

Seruan Wordsworth agaknya tak lekang oleh jaman, inspirasinya juga tak terhalang oleh batas-batas negara. Semangat untuk menjadi murid alam saya temui di Seloliman, sebuah desa kecil di kaki barat Gunung Penanggungan, Mojokerto, Jawa Timur. Terletak hanya 3 jam dari Surabaya dan 6 jam dari Yogyakarta, desa yang terletak di ketinggian 350 meter dari permukaan laut (dpl) ini menjadi jujugan belasan ribu pengunjung setiap tahun. Mereka meluangkan waktu untuk menjadi murid alam di Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Seloliman.

Jalur termudah untuk mencapai Seloliman adalah melalui kawasan wisata Trawas via Pandaan untuk pengunjung dari Malang atau Bali. Sedangkan dari arah Yogyakarta atau Surabaya lebih mudah dicapai melalui Ngoro Industri via pertigaan Japanan di ujung pintu tol Gempol, Pasuruan.

Di lokasi yang rimbun dengan aneka pepohonan besar, kebun-kebun yang disesaki tanaman-tanaman langka, kandang ternak dan bungalow bernuansa alami, setiap akhir minggu ratusan anak–anak balita hingga sekolah menengah atas, bahkan kelompok paruh baya ramai memenuhi halaman PPLH. Mereka mencoba mengenali alam dengan menyurusi sungai, berkelana di hutan untuk menyentuh pepohonan dan mengenali manfaatnya serta menyantap hidangan yang diolah secara sehat dari bahan-bahan organik dengan panduan staf PPL.H

PPLH Seloliman diresmikan oleh Pangeran Bernhard dari Belanda, saat itu ia menjabat sebagai ketua World Wide Fund (WWF—lembaga donor dunia untuk bidang lingkungan hidup) pada tanggal 15 Mei 1990. Peresmian ini ditandai dengan penanaman pohon Keben yang kini tumbuh besar menaungi lahan seluas 3,7 hektar itu.

“Untuk mendapatkan lahan seluas itu, waktu itu dibutuhkan dana sekitar Rp 150 juta,” kisah Suroso, direktur PPLH Seloliman yang menjabat sejak tahun 2000. “Tapi harga tanah juga masih murah, hanya sekitar Rp 2.000 per meter. Semua dana pembelian sokongan dari WWF,” lanjut warga asli Seloliman yang telah bergabung dengan PPLH sejak tahun 1991.

Menurut Suroso, awalnya PPLH Seloliman dipelopori oleh pegiat Yayasan Indonesia Hijau (YIH) dengan visi membangun kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan hidup yang lestari dan berkelanjutan melalui pendidikan lingkungan hidup. Gagasan yang disemai di Seloliman ini kemudian tersebar di tiga lokasi lain dengan munculnya PPLH di Propinsi Bali, Sulawesi Selatan dan Sumatera Barat.
peta-pplh.jpg

seloliman1.jpg

seloliman2.jpg

tk-masak.jpg
Digarap Arsitek Jerman
Diapit aliran sungai yang berhulu di Gunung Penanggungan dan jalan beraspal menuju Candi Jalatunda (peninggalan arkeologis dari abad ke-15 Masehi). lahan yang kini ditempati oleh PPLH dahulunya tandus dan bertingkat-tingkat yang hanya bisa ditanami pohon pisang.

“Tapi proses untuk menjadikannya seperti ini bukan seperti sulap. Butuh paling tidak 10 sampai 15 tahun untuk menghutankan dan menata kawasan ini,” terang Suroso.

Penampilan fisik PPLH saat ini tak lepas dari sentuhan seorang arsitek dari Jerman, Uli Furhe yang sukarela menyumbangkan desain-desain bangunan dan lanskap. Uli mampu menampilkan wajah PPLH Seloliman yang cantik namun tetap fungsional dan selaras dengan lingkungannya.

Contohnya bungalow—bangunan penginapan dengan unit-unit terpisah—dilengkapi jendela-jendela pada perpotongan dindingnya, sehingga bukaan semakin lebar untuk memberikan penerangan alami. Berbeda dengan kebanyakan penginapan, alas tidurnya pun memakai kasur kapas.

“Sengaja tidak memilih kasur busa atau spring bed, karena kapas bisa didaur ulang. Lagipula, Seloliman terkenal sebagai penghasil kapuk randu,” ujar Sisyantoko, Wakil Direktur PPLH. Cak Toko, demikian panggilan akrabnya, menambahkan setiap masa panen tak kurang dari 600 ton kapuk randu (kapas dari buah pohon randu) dihasilkan oleh desa ini. Selain bungalow, fasilitas penginapan diperkaya dengan dua homestay berkapasitas 6 dan 10 orang dan sebuah asrama dengan kapasitas 80 orang. Seperti halnya bungalow, bangunan-bangunan ini pun ditata dengan mempertimbangkan efesiensi ruangan, pemakaian energi listrik dan penggunaan bahan lokal.

Disamping menjadi contoh praktik arsitektur ekologis, fasilitas penginapan juga menjadi sumber pemasukan untuk PPLH. Rombongan-rombongan pengunjung maupun peserta program outward bound, salah satu layanan paling laris di PPLH, kerap memanfaatkan fasilitas penginapan ini.

“Banyak keluarga yang berkunjung ke sini keudian menginap di bungalow. Kalau asrama dan homesaty biasanya dipakai oleh rombongan besar, misalnya rombongan dari sekolah atau lembaga pemerintah,” ujar Toko. “Selain penginapan kami juga mengelola restoran, ruang seminar, paket-paket pendidikan lingkungan untuk pelajar dan keluarga serta outward bound (aktifitas petualangan luar ruang secara berkelompok untuk membangun kerjasam tim-red),” tambahnya. Dari aktifitas-aktifitas itu sekitar 70% dari operasional lembaga bisa dicukupi secara mandiri. Tigapuluh persen sisanya masih mengandalkan lembaga donor.

Dari Produk Organik hingga Listrik
Menurut Suroso, pada dekade awal keberadaannya kalangan pendidikan lingkungan sempat meragukan keberanjutan model pendidikan ala PPLH. “Mereka meragukan masalah pendanaan dan dukungan dari masyarakat. Masalh yang pertama sedikit demi sedikit sudah dapat kami atasi dengan program-program yang bisa menghasilkan uang, seperti outbound, restoran dan penginapan,” terangnya.

Dukungan masyarakat sekiar tercermin dari komposisi staf PPLH yang bersala dari masyarakat setempat. Sekitar 40 dari 50 staf PPLH berasal dai desa-desa di sekitar Seloliman. Upaya merangkul masyarakat setempat juga dilakukan melalui program-program pemberdayaan dalam bidang pertanian dan ekonomi, salah satunya dengan melakukan pendampingan pertanian organik.

Saat ini telah terbentuk sebuah jaringan pertanian organik yang meliputi wilayah tiga kecamatan di Kabupaten Mojokerto, yakni Tretes, Pacet dan Ngoro yang diwadahi dalam sebuah lembaga bernama Jaringan Pertanian Organik (JAPO).

Jumadi, salah seorang pengurus KAPOR (Kumpulan Petani Organik Sempur) yang tergabung dalam JAPO mengiyakan adanya dukungan dari PPLH bagi petani-petani organik. “Dukungannya tidak terbatas pada urusan produksi saja, tetapi juga dalam pemasaran. PPLH mempromosikan produk kami ke lembaga-lembaga lain dan juga membantu pemasaran secara langsung melalui Pasar Tugu,” ungkapnya. Pasar Tugu adalah singkatan dari Pasar Sabtu Minggu untuk menyebut warung khusus produk organik yang dibuka hanya hari Sabtu dan Minggu di halaman PPLH.

“Selain itu sda juga acara PHM atau Pertemuan Hari Minggu. Tanggal 30 April lalu, kami mengikuti presentasi pemasaran produk organik dengan pemateri dari PT Sayur Mayur Indonesia (SAMAI-red) dari Surabaya,” lanjut Jumadi. PHM adalah sebuah acara rutin yang digelar secara mingguan di ruang seminar PPLH Seloliman. Forum ini mengakomodasi komunitas di sekitar PPLH maupun komunitas lainnya, semisal dari kampus-kampus, LSM maupun institusi pemerintah untuk mepergunakan fasilitas ruang seminar.

Masyarakat Dusun Sempur tak hanya belajar mengembangkan pertanian lestari melalui pertanian organik, tetapi juga melakukan penghematan energi listrik dengan dikembangkannya pembangkit listrik tenaga air skala kecil (micro hydro). Berbekal turbin yang mampu menghasilkan daya listrik sebesar 25 KW, 40 kepala keluarga dan 2 unit usaha kecil di Sempur mampu mencukupi kebutuhan listrik mereka secara mandiri. Malah sisanya masih dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan penerangan di kompleks PPLH.

“Total daya yang terpakai hanya 11 KW, sisanya kita jual pada PLN,” terang Cak Toko. Hasil penjualan listrik PLN besarnya Rp 4,5 juta per bulan dimanfaatkan untuk menyokong biaya operasional PPLH.

Kombinasi antara pendanaan mandiri dan pelibatan masyarakat setempat terbukti menjadi resep manjur untuk menepis keraguan berbagai pihak akan keberlanjutan model PPLH. Lembaga yang menapaki usia enam belas tahun pada tanggal 15 Mei lalu ini, menargetkan diri untuk mandiri sepenuhnya pada tahun 2010 mendatang. Tetu saja dengan tetap meneguhi peran mereka sebagai “universitas” untuk berguru pada alam. Selamat belajar!

8 thoughts on “Ayo, Ramai-ramai Berguru Pada Alam”

  1. ada yang punya no kontak arsiteknya nggak, q mau buat microhydro di daerah semeru, lumajang…. kalau ada volunteer yang mau ikut bisa daftar ke q hub 031-72655996

  2. saya pernah ke trewas. memang menarik untuk dikaji tentang sosial budayanya yang unik. didukung oleh alam yang sangat ramah.

    postingan yang bagus dan menarik.

    makasih atas dukungannya terhadap masyarakat dan lingkungan

    1. tapi PPLH ini sempat juga terimbas lumpur sidoarjo. pengunjung dari surabaya menurun drastis, padahal selama ini 70% pengunjung dari sana. moga2 menemu jalan untuk bertahan

  3. perkenalkan saya M.fatkhuri masih mahasiswa
    sedang mencoba mengembangkan dan memasyaratkan pertania organik didaerah sendiri (Tegal) mohon bantuannya cara metodenya seperti apa yang efektif dan masyarakat bisa menerima, selain itu saya juga sedang memasarkan produk pupuk organik barang kali ada yang tertarik

  4. Wah, suka sekali tulisan ini “mengundang’ datang meski gak tahu kapan bisa ke sana. Tulisan ini juga ‘inspiratif’ banget bbt yang kelelahan dan jenuh dengan aroma polusi kota besar. O, ya salam kenal …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s