Waterfront: tepi air untuk semua ?

William Whyte, seorang pengamat masalah perkotaan dari Amerika, suatu kali berujar “What attract people most, in sum, is other people”. Isyarat Whyte boleh jadi benar, karena hasrat dasar manusia sebagai mahluk sosial adalah menuntaskan kebutuhannya untuk berada di tengah manusia lainnya. Sebab itulah kebutuhan akan ruang terbuka adalah niscaya bagi sebuah kota.

Sebuah wilayah terbuka berupa lapangan, alun-alun, plasa, taman kota atau muka air (waterfront) menjadi bentukan ruang yang dapat menampung beragam aktifitas penghuni kota dan mewadahi interaksi sosial. Agak berbeda dengan ruang terbuka lainnya, menurut Marco Kusumawijaya, aktivis lingkungan binaan dan pengamat masalah kota, muka air (ruang sepanjang tepi badan air; sungai, laut maupun danau) menyodorkan langgam interaksi yang lebih bermakna–yakni antara wilayah profan, artifisial dan memusat ke diri manusia dengan suatu wilayah tanpa batas, alamiah dan jujur, dimana manusia akan menyadari kekerdilannya dihadapan alam (dan tentu Sang Pencipta!).

Pembicaraan mengenai potensi kawasan muka air mulai marak di tahun 1960-an, ketika di Amerika muncul kegairahan baru untuk menengok kembali kawasan tepi air, sebuah sisi kota yang mulai “terabaikan”. Ann Breen dan Dick Rigby, penulis buku “Waterfronts; Cities Reclaim Their Edge”, menuturkan bahwa di tahun 1950-an pelabuhan-pelabuhan tua yang romantik di Amerika Utara, mulai ditingalkan seiring berkembangnya fasilitas transportasi udara dan sarana pengapalan barang yang lebih modern di kawasan Amerika bagian selatan. Akhirnya, kawasan tersebut makin nelangsa ketika industri dan pemukiman memuarakan limbahnya disana.

Di rentang tahun 1960-an, munculnya kesadaran masyarakat akan nilai historis bangunan tepi pantai, tempat dimana perkembangan kota bermula, dan tumbuh kepedulian akan masalah lingkungan hidup yang memantikkan semangat untuk merevitalisasi kawasan tepi air. Caranya adalah dengan menjadikan kawasan tersebut menjadi ruang dimana publik bisa bercampur-gaul dengan nyaman. Kemudian muncullah ruang-ruang publik tepi air yang demikian indah, seperti Harbour Place di New Hampshire atau Bayside Marketplace di Miami, Florida. Kemudian disusul pula proyek-proyek pengembangan muka air lain diluar Amerika, semisal di sepanjang Sungai Thames yang membelah kota London, Inggris, dan pelabuhan di kota Barcelona, Spanyol.

***
Indonesia sebetulnya banyak memiliki kawasan muka air yang tak kalah potensial menjadi ruang publik yang indah dan nyaman, terutama di kota-kota pantai atau kota yang terletak di pinggir sungai besar. “Contohnya adalah kota Palembang. Sungai Musi yang membelah kota mempertontonkan vitalitas yang mengagumkan, terutama karena aktifitas ekonomi dan sosial pernah, dan masih, berpusar dipermukaannya,” kata Marco. Ditambahkan pula kota Makassar dan Menado juga memiliki kawasan muka air yang mempesona apabila digarap dengan baik.

Namun secara umum, sebagian besar muka air masih dijadikan “halaman belakang” dari suatu kota. Sungai-sungai yang bermuara di pantai, terus digelontor dengan limbah dan aneka macam kotoran kota. Sementara pantai digerus atau diurug sehingga menghilangkan daya dukung alamiahnya.

Pantai, sebuah lingkup muka air yang seharusnya menjadi hak publik, digarap pula menjadi properti yang hanya bisa diakses oleh kalangan terbatas. Kawasan Ancol atau Pantai Indah Kapuk di Jakarta, misalnya, memperlihatkan betapa hak masyarakat umum untuk menikmati bentangan pantai secara bebas telah dibatasi oleh kepentingan pariwisata dan modal. Dan para pengembang dengan abai menyebut kawasan tersebut sebagai “waterfront city”. Padahal, menurut Marco, sebuah “city” mansyaratkan ruang akomodasi bagi kepentingan khalayak, sementara tak secuilpun ruang dari bentang pantai Jakarta sepanjang lebih kurang 30 kilometer disisakan sebagai “ruang publik” yang adab.

Banyak kota telah terjebak untuk memasrahkan kawasan tepi airnya ke tangan modal, seperti halnya Jakarta, yang ujung-ujungnya hanya berkutat pada perhitungan-perhitungan ekonomis saja. Akhirnya ruang yang terbentuk, sekalipun dapat dikunjungi umum, cenderung menyisihkan hak masyarakat untuk menikmatinya secara cuma-cuma.

Sumber :Waterfronts; Cities Reclaim Their Edge, Ann Breen &Dick Rigby, Mc Graw-Hill, 1994; Wawancara Marco Kusumawijaya

One thought on “Waterfront: tepi air untuk semua ?”

  1. Yang jadi masalah di Indonesia adalah, masih ada yang membuang sampah di Sungai. Pemerintah harus tegas tanpa pandang bulu menindak siapapun yang membuang sampah ke sungai dan laut, sampah apapun: baik sampah organik, anorganik Rp 50.000 dendanya. Sampah B3 (misalnya baterai, pestisida, dll) jauh lebih berat lagi.

    Ini adalah hal sepele, tapi bisa menjadi sensasi bagi Pemimpin Daerah ataupun Presiden. Pengawasnya bisa LSM disertai Polisi.

    Kapan bisa ter-realisir, ya?

    Rico – Pekanbaru.
    Environmental warrior.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s