Rokok Kretek Indie Label

Maaf, lagi miskin nih,” ungkap Wawan sambil mencomot sebatang Gudang Garam yang tergeletak di meja kerja saya. Siang harinya saku baju Wawan terlihat menghisap rokok kretek dari merek “Doa Ibu’. Bungkusnya amat mirip dengan Dji Sam Soe, hanya logonya yang berbeda, bergambarkan seorang ibu bersanggul sedang berdoa. Akhir-akhir ini Wawan memang sering berkeluh kesah soal makin mahalnya harga rokok yang menguras isi kantung. “Sekarang sembarang merek saya isap. Pokoknya asal bibir tidak asem saja,” lanjutnya sembari menyalakan sebatang kretek. Alasan bibir terasa asem atau masam, lazim dipakai para perokok untuk menggambarkan rasa ingin yang sangat untuk merokok. Kalau bibir sudah terasa masam, masalah merek atau jenis rokok pun tidak lagi menjadi persoalan.

Setahun terakhir ini ada sekitar puluhan—atau bahkan mungkin ratusan—merek rokok kretek lokal, marak kembali di pasaran. Sebut saja rokok cap Kerbau, Belimbing, Djeruk, Pompa, Tonggeng, Roda Mas, Doa Ibu, dan masih banyak lagi. Selain harga ecerannya lebih terjangkau isi dompet kalangan pekerja seperti Wawan, berkisar antara Rp. 2.000,- sampai Rp. 3.500,- per bungkus, dia berpendapat rasanya tidak kalah nikmat dari rokok merek mapan yang harganya bisa dua kali lipat. Lebih irit namun tetap nikmat. Selama ini kebanyakan orang hanya mengetahui rokok-rokok kretek yang sering tampil di iklan televisi, seperti Djarum, Gudang Garam, Dji Sam Soe. Namun ternyata masih banyak industri rokok kretek skala kecil yang mempunyai konsumennya sendiri.

***
Kebiasaan merokok pada masyarakat Indonesia mempunyai sejarah yang sangat panjang. Dalam sebuah naskah berbahasa Jawa, Babad Ing Sangkala (1601), dikisahkan bahwa tembakau telah memasuki Jawa bersama dengan mangkatnya Panembahan Senapati, pendiri Dinasti Mataram. Petikan naskah tersebut berbunyi , “Waktu Panembahan wafat di Gedung Kuning adalah bersamaan tahunnya dengan mulai munculnya tembakau, setelah itu mulailah orang merokok”.

Konon, kata rokok sebagai padanan cigarette dalam bahasa Indonesia didapatkan dari kata dalam bahasa Belanda “ro’ken , yang artinya menghisap tembakau dengan pipa. Sementara dikalangan masyarakat pribumi, sebelumnya lebih banyak digunakan istilah “udud’ atau “ses” untuk merujuk aktifitas yang sama. Saat itu, jenis rokok yang banyak digemari adalah rokok klembak, ramuan tembakau yang diimbuhi kelembak dan kemenyan. Selain itu dikenal pula rokok kawung dan klobot. Rokok jenis kretek belum dikenal hingga paruh akhir 1800-an, sampai suatu ketika Haji Djamari, seorang perokok berat asal Kudus, menemukan bahwa minyak cengkeh ternyata cukup mujarab untuk meringankan rasa sakit di bagian dalam dadanya.

Dia kemudian melakukan eksperimen dengan merajang cengkeh kering, lantas dicampurkannya dengan daun tembakau yang kemudian dibungkus daun jagung atau kelobot. Dengan cara mengisap asapnya, ternyata penyakit dadanya berangsur-angsur sembuh. Ramuan baru inipun juga disukai oleh tetangganya, sehingga memantik naluri bisnis Pak Haji. Pada tahun 1870-an, ia mulai memproduksi “rokok obat” itu secara rumah tangga, dan ternyata cukup laku. Produksinya saat itu dikenal dengan sebutan “rokok cengkeh”. Lambat laun, sebutan itu berganti menjadi “rokok kretek”. Asal mulanya, konon, rokok ini mengeluarkan bunyi berkemeretekan ketika disulut dengan api.

Selain Haji Djamari, ada sebuah nama lain yang sulit dilepaskan dari sejarah industri rokok kretek di Jawa, yaitu Nitisemito. Anak lurah di Jagalan, Kudus Kulon, ini tidak ingin menjadi lurah menggantikan ayahnya dan lebih memilih untuk jadi pengusaha. Dia mulai menggeluti berbagai bidang usaha, dari tukang jahit, blantik alias perantara jual beli kerbau, jagal kerbau, sampai persewaan dokar atau kereta kuda dan terakhir jual beli tembakau. Namun semuanya tidak cukup menguntungkan, sampai akhirnya Nitisemito memberanikan diri untuk mendirikan pabrik rokok kecil-kecilan di tahun 1906. Produksi rokok pertamanya diberi merek yang terdengar ganjil ditelinga, “Kodok Mangan Ulo”, yang berarti “katak memakan ular”. Merek ini tidak bertahan lama, karena kemudian diganti menjadi “Bal Tiga” . Merek inilah yang membawa titik balik kehidupan Nitisemito. Hanya berselang delapan tahun kemudian, Nitisemito telah menjadi pengusaha rokok yang paling terkemuka sampai meninggalnya di tahun 1953.

Mengekor di belakang kesuksesan Nitisemito, pada akhir tahun 1920-an bertumbuhan pabrik-pabrik rokok kretek baru di beberapa kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tercatat pada tahun 1934, sejumlah 269 pabrik rokok kretek lahir di wilayah Karesidenan Jepara dan Rembang ( mencakup Kudus, Blora, Jepara dan Rembang), melonjak dari hanya 66 pabrik di tahun 1929. Fenomena tersebut mengundang persainagn sengit antar pengusaha, terlebih ketika para pengusaha keturunan Cina mulai terjun ke industri ini. Persaingan tersebut memuncak memuncak menjadi kerusuhan di kota Kudus pada 31 Oktober 1918. Puluhan rumah dan tempat usaha pengusaha keturunan dirusak dan terbakar.Akibatnya beberapa pengusaha pribumi yang didakwa memicu kerusuhan dijatuhi hukuman kurungan oleh pemerintah kolonial Belanda. Peristiwa ini menyebabkan kemunduran industri rokok kretek selama beberapa waktu.

Namun industri rokok kretek tak berhenti sampai disitu saja, nyaris satu abad kemudian, industri ini tumbuh meraksasa menjadi salah satu kegiatan ekonomi terbesar di Indonesia. Industri ini secara keseluruhan menjadi salah satu penyumbang terbesar pendapatan negara. Tidak kurang dari Rp. 18,3 trilyun diterima oleh negara dari hasil penjualan sekitar 230 milyar lembar pita cukai rokok di tahun 2001, sedangkan target penerimaan cukai ditahun 2002 dipatok menjadi Rp. 22, 35 trilyun! Industri rokok melibatkan sekurangnya 4,6 juta tenaga kerja, terdiri dari para karyawan dan buruh pabrik rokok, petani tembakau dan cengkeh, sektor niaga dan sektor pendukung. Taruhlah apabila setiap pekerja memiliki tanggungan seorang istri dengan dua orang anak, berarti ada 18,4 juta jiwa atau hampir 10% dari total populasi di Indonesia yang bergantung secara langsung pada industri rokok. Luar biasa!

*****
Serbuan merek-merek baru di pasar rokok kretek, adalah wujud nyata dari geliat tersembunyi disekitar timbunan bisnis rokok yang menggembungkan pundi-pundi pemerintah hingga trilyunan rupiah tersebut. Sebuah geliat yang mewujud dalam bentuk industri rokok kelas rumah tangga—secara resmi dikategorikan sebagai Pabrik Rokok Kecil Sekali (PRKS)–yang pasarnya barangkali hanya sebatas desa tetangga. Atau kalau cukup beruntung, dihisap pula oleh warga kota terdekat. Apalagi kemampuan produksi pengusaha kelas ini juga sangat terbatas. Rokok Tonggeng, sebagai contoh, paling banyak hanya diproduksi sekitar 3.500 batang sehari. “Buruh lintingnya saja hanya satu orang,” kata Pak Bambang, pemilik rokok Tonggeng. Sementara ada satu orang lagi yang menjadi buruh mbatil—bertugas merapikan lintingan rokok—dan dua orang lainnya diperbantukan bila diperlukan untuk mengolah campuran tembakau baru.

Banyak kalangan yang mengharapkan fenomena ini sebagai gerak ekonomi masyarakat. Sayang seribu sayang, dari penuturan beberapa pelaku usaha, ada beberapa pagar yang menghalangi perkembangan pabrik skala rumah tangga. Salah satunya adalah birokrasi pembelian hak cukai dan pengajuan ijin produksi. Untuk memperoleh kelengkapan tersebut, seorang pengusaha harus mengantungi sertifikat kepemilikan tanah, HO (ijin gangguan publik) dan Ijin Mendirikan Bangunan (IMB). Belum lagi biaya administrasi yang konon jumlahnya mendekati Rp. 10 juta. Waktu pengurusan pun bisa molor relatif lama, berkisar antara dua sampai empat bulan. Selain itu, kebijakan pemerintah untuk membatasi produksi maksimal tahunan PRKS menjadi 6 juta batang—sebelumnya 20 juta batang per tahun–membuat mereka sulit berkembang. “ Produksi berlebih sedikit saja diatas enam juta batang, kami akan naik kelas sebagai Pabrik Rokok Kecil (PRK), dengan beban pajak cukai yang lebih besar,” keluh Pak Bambang. Besar beban cukai PRKS ditetapkan sebesar 4% dari harga banderol, sementara cukai PRK mencapai 8% plus PPN (pajak Pertambahan Nilai) sebesar 8,4%.

Akibat berbagai hambatan tersebut, banyak pengusaha rokok kecil tergoda menempuh jalan belakang untuk memperoleh pita cukai. Salah satu yang sering dilakukan adalah membeli hak cukai dari pabrik rokok yang vakum produksi. Pabrik-pabrik rokok yang tidak lagi berproduksi, menurut peraturan harus tetap membayar beban cukai. “Aturan itu jelas memberatkan. Nah, biasanya mereka kemudian mengalihkan hak cukai tadi pada pengusaha rokok yang tidak memiliki modal untuk mengajukan ijin cukai atau tidak mau direpotkan dengan urusan birokrasi yang berbelit dan lama,” terang Pak Bambang. Biasanya nilai pengalihan lebih mahal dibanding nilai cukai, dan ini dipandang sebagai keuntungan bagi pemilik hak cukai. Misalnya, untuk setiap lembar cukai milik pabrik rokok A yang bernilai Rp. 100, dijual seharga Rp, 140 pada pabrik rokok lain yang berminat. Hanya saja, merek rokok tidak bisa ikut dialihkan. Cara serupa ini ditempuh pula oleh pengusaha yang hendak meningkatkan volume produksinya, tanpa dibebani pajak yang lebih tinggi.

Menurut Gagas Bangun, seorang aktivis lembaga swadaya masyarakat di kota Kediri, apa yang ditempuh para pengusaha kecil ini sebenarnya adalah bentuk perlawanan pada sistem dan pengusaha-pengusaha rokok besar yang menghambat ekonomi rakyat. “Ini adalah perlawanan pada praktek gaya mafia yang dijalankan oleh pengusaha rokok besar. Karena itu saya lebih suka menyebutnya rokok perlawanan atau rokok underground,” singkapnya dengan mimik serius. Dia mencontohkan pengusaha besar seringkali menimbun atau melakukan monopoli tembakau dan cengkeh, mengambil alih pabrik-pabrik rokok kecil di berbagai daerah dan mempengaruhi pembuat kebijakan sehingga menguntungkan posisi mereka.

Perlawanan terhadap kondisi serupa juga dicetuskan oleh para perajin rokok di Kudus dan sekitarnya. Namun cara yang ditempuh agak berlainan, yakni mereka memproduksi dan memasarkan rokok kretek yang tidak dilengkapi dengan pita cukai. “Rokok polosan”, demikian masyarakat Kudus menyebut produk yang kebanyakan hanya dibungkus dengan plastik biasa atau malah sekedar diikat dengan benang per-duapuluh lima batang. Karena tidak dibebani pajak cukai, rokok jenis ini bisa dijual dengan harga sangat murah.

*****
Dalam lingkaran “perlawanan” itulah bapak Bambang mengelola rokok Tonggeng. Tonggeng adalah adalah bahasa Jawa untuk menyebut hewan penyengat sejenis kalajengking yang berukuran kecil. “Kalau ditanya mengenai kaitannya dengan rokok, ya tinggal bilang kalau rasanya akan terasa “menyengat” orang yang mengisapnya,” canda bapak tiga anak ini. Pak Bambang memulai produksi sejak bulan April 2002 lalu, dan pada bulan pertama langsung mengeluarkan dua merk Green Star dan Roda Mas. Produk tersebut mempergunakan hak cukai yang dipunyai pabrik rokok Linggarjati di Nganjuk dan pabrik rokok Jangkar di Sidoarjo yang telah menghentikan produksinya. Entah karena merk yang dipilihnya tidak membawa hoki atau rasa yang diolah kurang memenuhi selera pasar, kedua merk tersebut tidak banyak dilirik pembeli. Setelah mencoba menakar ulang campuran tembakaunya, ia pun melempar merek Tonggeng, hasil alih cukai dari rokok Surya Prakarsa, dengan harga banderol Rp. 2000,-. “Alhamdulillah, ternyata lumayan laku.”

“Kuncinya adalah perpaduan rasa tembakau. Saya coba untuk mencampurkan tembakau dari Paiton yang sangat kering dan ringan dengan tembakau Bojonegoro dan Temanggung yang lezat,” terangnya. Hasilnya, rokok kretek yang gurih namun ringan dihisap. Selama tiga bulan, rokok Tonggeng sudah keluar modal sekitar Rp. 9 juta. Untuk pemasarannya, ia dibantu pemuda tetangga yang mengedarkan Tonggeng dengan sepeda motor. Setiap hari pemuda tersebut diberi uang saku sebesar Rp. 5000,- dan dipersilahkan untuk mencari keuntungan sendiri dari setiap penjualan Tonggeng. Pak Bambang menjual rokoknya ke pemasar sebesar Rp. 1350,- per bungkus dan oleh pemasar akan dijual seharga Rp. 1750,-, sampai di warung rokoknya sudah seharga Rp. 2000,- per bungkus. “Dalam satu hari kadang laku sebanyak 1 bal (=200 bungkus). Keuntungan bersih yang diperoleh pak Bambang sekitar Rp. 200,- per bungkusnya. Seringkali ada pesanan dari luar daerah, seperti petani bawang di Bojonegoro yang digunakan untuk stok suguhan para pekerja di waktu panen.

Ketika ditanya apakah perlawanan menjadi bagian dari filosofi hidupnya, pak Bambang menjawab diplomatis. “Saya punya pegangan bahwa hidup itu harus wutah,” ujar Pak Bambang. “Wutah” dalam bahasa Indonesia berarti tumpah, atau meluber. Menurutnya, apapun yang diperolehnya selalu diusahakan untuk juga dirasakan oleh orang lain, misalnya saja ia berharap bisa membuka lapangan pekerjaan bagi para pengangguran di sekitar rumahnya (kebanyakan mantan pekerja gudang garam). Usaha pembuatan rokok yang dijalankannya adalah wujud dari filosofi hidup yang diyakininya. Secara ekonomis usaha ini tidak bisa dikatakan menguntungkan, namun hanya sekedar cukup untuk menutup biaya operasional saja. “Tetapi akan tetap saya jalankan, karena saya ingin mengatakan pada masyarakat bahwa kita bisa membuat rokok sendiri dengan kekuatan yang kita punyai” tandasnya. Meski Ia tidak tahu sampai kapan.

Pak Bambang mengaku industri rokok adalah dunianya. Dia dibesarkan ditengah keluarga yang sebagian besar bekerja di perusahaan rokok terbesar di Indonesia, PT Gudang Garam, Kediri, bahkan dia pernah menjadi mandor dan sekretaris serikat buruh di PT Gudang Garam ini. ”Saat ini, masih banyak saudara-saudara saya yang masih bekerja di sana. Lucunya mereka jadi enggan berkunjung ke rumah setelah saya keluar,” katanya sembari tertawa. Ia mengundurkan diri dari PT Gudang Garam di tahun 1983, setelah peristiwa demonstrasi buruh menuntut kenaikan upah di masa itu.

Menyinggung masalah produk yang digarapnya, setelah rokok Tonggeng, pak Bambang sudah mempersiapkan dua merek lain yaitu 698 dan Lok. Merek pertama meniru kebiasaan pengusaha Tiong Hoa untuk memberikan nama yang mengandung angka 9, yang berarti kesempurnaan. Sementara nama “lok” diambilnya dari potongan kata “lokomotif”, karena di Jawa sering ada olok-olok untuk orang yang banyak merokok dengan ungkapan “merokoknya seperti sepur (kereta)” dan lok adalah bagian kepala dari kereta. Kemudioan ceritanya terpenggal ketika batuk beruntun mengguncang tubuhnya. Sebentar kemudian kepul asap rokok kembali mengaburkan wajahnya. Sepertinya dia menikmati benar rokoknya kali ini.

“Usaha rokok ini adalah bagian dari perjuangan,” ucapnya memecah keheningan. “Sampai usaha rakyat semacam ini terbebas dari ancaman dipinggirkan,” ujar pak Bambang membayangkan cita-citanya. Lalu terdengar lagi bunyi keretek..keretek.., kepul asap pun mengisi temaram hari yang mulai beranjak sore. Dan saya pun mohon diri, meninggalkan sengat bau tembakau di belakang sana.

* ditulis untuk majalah Latitudes September 2002

7 thoughts on “Rokok Kretek Indie Label”

  1. saya jg mahasiswa ilmu sejarah Univ.Negri Yogyakarta. jG Lagi skripsi ’bout Buruh Perempuan pada Pabrik rokok kretek di Kudus. artikel kamu bagus. ow ia…saya lagi cari bukunya OngHokHam tp Ga’ ketemu.

  2. saya mahasiswa fkg unpad lg nyusun skripsi tentang hubungan prevalensi karies gigi anak-anak passive smoking pada lingkungan pemakai rokok kretek..dimohon bantuannya mengenai merek-merek dagang rokok-rokok kretek non filter beserta komposisinya yang terdapat dalam rokok tersebut..thanx..

  3. Coba cari buku “Rokok Kretek: Lintasan Sejarah dan Artinya Bagi Pembangunan Bangsa dan Negara”, karya Amen Budiman & Ong Hok Ham, terbitan Djarum Kudus (1987)

  4. saya mahasiswa ilmu seejarah universitas airlangga surabaya. saat ini sedang skripsi tentang PERSAINGAN PRIBUMI-CINA DALAM INDUSTRI KRETEK DI KUDUS.
    kebetulan saya mendapat informasi ayng penting dari blog ini.
    selanjutnya saya mohon bantuan informasinya selengkapnya yang berhubungan dengan tema skripsi saya.
    mohon di kirimkan ke email saya
    thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s