Menganyam Maaf Lewat Ketupat

ketupat “Iki bancakane si A, supoyo slamet, sehat, pinter sekolahe.”
“Nggih, nggih”.
“Ayo, sorak-sorak!!”
“Horeee!!!”

Pagi yang belum bermatahari seakan dikejuti sorai segerombol bocah yang berwajah cerah. Berlarian di sesela gang selebar tiga meteran, anak-anak balita sampai usia SD di Kampung Badak Raya Buntu seolah berlomba menyambangi rumah demi rumah di sepanjang gang itu. Di tangan mereka bergantungan ketupat dari sejumlah rumah yang telah dikunjungi. Saku mereka menggembung oleh uang receh dan beberapa lembar ribuan.

“Sini-sini,” undang seorang ibu di beranda rumah sambil melambaikan tangannya. Tertawa-tawa belasan bocah itu pun segera meluru ke arah rumah si ibu. Dialog serupa pun kembali terdengar. “Ini kendurinya si A (sambil menyebut nama anak atau cucunya), supaya selamat, sehat dan pintar dalam bersekolah”. “Iya-iya”. Kemudian si empunya rumah memberi aba, “Ayo, sorak-sorak!!” Anak-anak pun serempak menimpali “Horeeee!!”. Wajah mereka makin berseri karena jumlah ketupat dan uang yang mereka dapat bertambah lagi.

Ilustrasi semacam itu melekat erat dalam ingatan sebagian besar warga Kampung Badak Raya Buntu, sebuah pemukiman yang lebih layak disebut gang daripada sebuah kampung. Pada kenyataannya, tempat yang terletak di bagian tenggara kota Semarang ini hanya berupa gang kecil yang disesaki rumah tinggal sekitar 20 kk saja. Menurut Soeharto GW (60 tahun), tokoh masyarakat setempat, acara lebaran ketupat di kampungnya selalu menjadi harinya anak-anak. “Pada hari itu, anak-anak memburu ketupat yang disediakan di hampir setiap rumah di gang ini,” tuturnya. Mungkin gambarannya sama dengan perayaan Halloween di negara-negara Barat, dimana anak-anak menyambangi rumah demi rumah untuk mendapatkan bingkisan.

Bedanya, selain mendapatkan ketupat dan penganan lain anak-anak di kampung Badak Raya Buntu juga mendapatkan uang yang diselipkan diantara anyaman pembungkus ketupat. Jumlahnya bervariasi, antara Rp. 500 hingga Rp. 2000, sesuai kemampuan orang yang membagikan. Uang yang terkumpul mereka kantungi untuk dibelanjakan sesuai keinginan, sedangkan ketupat biasanya diberikan kepada keluarga masing-masing.

“Saat ini mungkin tidak sampai 20 keluarga yang masih membagikan ketupat untuk anak-anak. Semasa saya baru pindah ke kampung ini tigapuluhan tahun yang lalu, hampir semua rumah di kampung Badak Raya menyediakan ketupat,” kata Pak Harto. Usia tradisi ini, menurut Pak Harto, paling tidak sudah lebih dari 75 tahun. “Lha wong saat ibu mertua saya masih kecil, perayaan semacam itu sudah ada kok,” imbuhnya. Seiring waktu berlalu, kini tinggal penduduk di sudut Badak Raya Buntu yang masih mempertahankan tradisi ini.

Sesuai namanya, Lebaran Ketupat (Bada Kupat atau Kupatan dalam bahasa Jawa) adalah perayaan dengan ketupat sebagai menu utama. Acara tahunan ini umumnya digelar tujuh hari setelah Iedul Fitri, hari raya keagamaan umat Islam yang jatuh pada bulan Syawal, bulan kesembilan dalam penanggalan Islam yang sekaligus menandai akhir puasa Ramadhan. Pada hari itu masyarakat yang masih menjalankan tradisi ini sibuk menyiapkan ketupat dalam jumlah besar untuk menjadi hidangan keluarga. Sajian ketupat dilengkapi pula lauk tertentu seperti opor ayam dan gulai. Ketupat ini dihidangkan dalam suatu jamuan atau acara halal bi halal yang dihadiri seluruh anggota keluarga. Sebagian lainnya juga dibagi-bagikan kepada tetangga terdekat.

Uniknya, tidak semua umat Islam di Indonesia mengenal perayaan Lebaran Ketupat. Bagi sebagian besar masyarakat Yogyakarta misalnya, puncak hari raya lebaran adalah hari pertama bulan Syawal. Ketupat yang dipadu dengan opor ayam dan sambal sudah menjadi santapan utama di hari itu. Sedangkan bagi masyarakat yang merayakan Lebaran Ketupat, hari pertama bulan Syawal justru dilalui tanpa ketupat. Puncak perayaan baru berlangsung pada hari ke-tujuh, dimana ketupat menjadi sajian utama. Tradisi ini terutama dikenal masyarakat pesisir utara Jawa, Jawa Timur, Madura dan Lombok.

***

Ketupat biasanya terbuat dari beras yang ditanak dengan terbungkus anyaman daun nyiur muda. Pembungkus ketupat, oleh masyarakat Yogyakarta disebut kupat, umumnya berbentuk jajaran genjang seukuran kepalan tangan orang dewasa. Untuk membuat kupat dengan ukuran dan bentuk proporsional dibutuhkan ketrampilan dalam menganyam helai-helai daun nyiur muda yang telah dihilangkan lidinya.

Cara membuat ketupat terhitung sederhana, meskipun cukup makan waktu. Kuncinya pilihlah beras yang bermutu baik, kemudian cuci hingga benar-benar bersih. Beras kemudian direndam dalam air bersih selama 3 jam. Tahap ini beras harus benar-benar bersih, jika kurang bersih ketupat akan mudah berbau dan tidak tahan lama.

Setelah diangkat dan ditiriskan, beras dicampuri dengan sedikit kapur sirih kemudian dimasukkan sedikit demi sedikit hingga dua pertiga penuh dari pembungkusnya. Pembungkus ketupat dengan anyaman teratur dan rapat akan menghasilkan ketupat matang yang padat dan putih. Sewaktu direbus ketupat harus terendam dalam air mendidih dan setiap kali air rebusan akan habis, harus segera ditambah dengan air mendidih lagi. Untuk mendapatkan ketupat yang benar-benar matang, kenyal dan tahan lama, dibutuhkan waktu perebusan sampai 4 jam. Setelah matang, angkat dan tiriskan dengan cara digantungkan.

Saat ini, dengan alasan kepraktisan orang mulai mempergunakan kantung plastik sebagai ganti pembungkus ketupat. Cukup melubangi plastik dengan cara ditusuk-tusuk mempergunakan lidi, beras yang diisikan duapertiga penuh tinggal direbus dan akan memadat ketika matang. Besarnya tergantung ukuran plastik yang dipergunakan. Praktis. Tidak perlu bersusah payah lagi memanjat pohon nyiur dan repot menganyam.

Tapi bagi sebagian penyukanya, ketupat dengan pembungkus daun memilikii rasa dan aroma khas yang tidak dipunyai ketupat bungkus plastik. Dagingnya pun lebih lembut, kenyal dan enak dikunyah di mulut. Warnanya khas, putih agak kemerahan dengan bekas anyaman silang menyilang di sekujur tubuh ketupat. Sedangkan ketupat dengan bungkus plastik warnanya cenderung putih bersih. Ketupat biasa menjadi bagian pokok dalam masakan ketoprak, tahu guling atau sate dalam bentuk terpotong kecil-kecil.

Membicarakan ketupat, tidak akan lepas dari hari raya Iedul Fitri. Agaknya makanan ini sudah kadung identik dengan hari raya yang melambangkan kemenangan umat Islam melawan nafsu duniawi itu. Meski demikian, tidak ada sumber pasti yang menyebutkan ketupat sebagai produk kuliner budaya Muslim. Di wilayah Arab yang menjadi asal ajaran Islam, jenis makanan yang berbahan dasar beras ini tidak dikenal. Di Indonesia, walaupun bisa dikatakan semua orang mengenal makanan ini, akan tetapi tidak ada daerah yang mengklaim diri sebagai asal ketupat. Yang jelas, selain di Indonesia ketupat juga disantap oleh masyarakat Malaysia dan Brunei Darussalam. Dari situ pulalah muncul dugaan ketupat berasal dari kebudayaan Melayu, namun dugaan ini pun tidak didukung dasar historis yang kuat.

Akar muasal nama ketupat pun sama kaburnya. Asia Padmopuspito, seorang pakar Bahasa Jawa di Yogyakarta, setidaknya memiliki satu versi mengenai asal nama ketupat. “Ketupat asal bahasanya kupat. Itu kependekan dari frasa “aku lepat”, yang artinya aku merasa bersalah,” jelas Asia. Pernyataan inilah yang acap diungkap orang saat saling bermaafan di hari Iedul Fitri. Tetapi sekedar tahu saja, orang Jawa terbiasa dengan praktek othak-athik gathuk (mengutak-atik kata supaya sesuai dengan kebutuhan deskriptif). Contoh praktek ini misalnya, orang Jawa mempercayai dalam bulan Januari hujan turun sehari-hari. Ini hasil mengutak-atik kata “jan” dan “ari”. Sama halnya dengan September yang dibilang sebagai bulan “kaseping sumber” (mengeringnya mata air). Padahal jelas tata waktu bulanan ini berakar dari kebudayaan Barat, bukan hasil olah pemikiran filsuf Jawa.

***

Lepas dari muasalnya yang kabur, di banyak masyarakat di Indonesia ketupat memiliki makna filosofis tersendiri. Bagi masyarakat kampung Badak Raya Buntu, ketupat menyimbolkan rahim perempuan sebagai akar keberadaan seorang anak manusia. Filosofi ini direpresentasikan dalam bentuk ketupat yang dibelah bagian tengahnya dan diisi dengan berbagai jenis makanan, misalnya bandeng, daging, telur, bihun goreng atau gudangan. Isian yang terakhir ini adalah campuran sayur yang dibumbui kelapa parut.

“Orang sini menyebutnya Kupat Jembut,” ujar Bu Harto, istri Pak Harto yang sempat bergabung ikut dalam percakapan kami. Sebutan jembut mengacu pada belahan di tengah ketupat dan isiannya yang penampakannya menyerupai organ kelamin wanita. Jembut sendiri dalam bahasa jawa berarti rambut alat kelamin. Ketupat jenis ini biasanya disajikan bersama dengan lepet, makanan yang juga terbuat dari beras ditanak, dibungkus daun pisang dalam bentuk gulungan bulat memanjang, sebagai perlambang kejantanan. Ketupat semacam inilah yang dibagikan pada anak-anak pada hari lebaran Ketupat. “Ketika anak-anak menerima ketupat dan lepet, diharapkan mereka ingat bahwa asal mereka adalah rahim ibunya,” lanjut Bu harto.

Kalau Kupat Jembut melambangkan rahim, ada lagi jenis Kupat Luwar yang merepresentasikan hati yang bersih. Setelah mensucikan hati dengan menjalani puasa selama sebulan penuh, umat muslim merayakan Iedul Fitri dan menyempurnakan puasa dengan saling berkunjung dan bermaaf-maafan . “Iedul Fitri artinya kembali ke kesucian. Kembali ke keadaan fitrah, putih dan suci sebagaimana bayi yang baru dilahirkan,” tandas Pak Asia.

Pada hari itu orang acapkali menyuguhkan ketupat luwar, jenis ketupat yang bungkusnya dianyam dengan cara tertentu sehingga sekali tarik bisa luwar (terbuka). Diharapkan orang yang menyantap ketupat luwar akan terbebas (luwar dalam bahasa Jawa) dari belitan dosa. “Ketika anyaman terbuka, yang terlihat adalah warna nasi yang putih. Warna itu perlambang hati yang suci setelah belitan dosa dilepaskan,” tambah pengajar di Universitas Negeri Yogyakarta ini.

Apakah setelah menyantap ketupat, hati Anda benar-benar bersih atau tidak hanya Anda sendiri yang bisa menjawab. Yang pasti, ketupat seolah telah menjadi lambang Iedul Fitri, muncul di kartu ucapan dan juga ragam dekorasi. Selamat berlebaran!

(Ditulis bersama Imam Bayu Prasetyo)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s