Genjer: Makanan Rakyat yang Dibungkam Politik

“Kamu pernah makan pecel genjer?”. Tiba-tiba saja seorang karib mengajukan pertanyaan itu saat bersantap siang di sebuah warung SGPC-singkatan dari Sego Pecel (Nasi Pecel)–di kawasan Yogya utara. Tentu aku pernah mendengar tentang tumbuhan genjer, tetapi mencicipi pecel genjer? Gelengan kepalaku disambungnya dengan cerita mengenai seorang petani di sebuah dusun di daerah Bantul, tempat temanku ini pernah menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN), yang suatu kali pernah menyuguhkan pecel genjer untuk makan siang para mahasiswa. “Rasanya lezat sekali. Pating gelenyer (bahasa jawa–terasa licin di tenggorokan)”, ujarnya sembari mengacungkan ibu jarinya.

Menurut literatur, Genjer (Limnocharis flava) termasuk jenis tumbuhan darat liar, meskipun seperti halnya kangkung, semanggi dan bopong yang termasuk ke dalam jenis yang sama, genjer hanya akan tumbuh subur di lahan yang banyak tergenang air. Selain tumbuh di lembah sungai, biasanya pada bagian lapisan tanah gembur atau lumpur yang tergenang air dangkal, genjer juga mudah ditemukan di lahan persawahan yang digenangi air setelah masa panen atau disela tanaman padi yang masih muda. Genjer memiliki daun yang berbentuk membulat, pada tumbuhan yang subur ukurannya bisa mencapai lebar telapak tangan orang dewasa, yang ditopang batang bersegi tiga yang berongga di dalamnya. Orang Jawa terkadang menyebutnya “enthongan”, karena perpaduan bentuk batang dan daunnya yang menyerupai sendok sayur.

Di beberapa daerah di Indonesia, daun genjer sudah sejak lama dikenal sebagai sayur yang bisa diolah menjadi beragam masakan. Masyarakat Jawa Timur, misalnya, mengolah daun dan batang genjer menjadi tumis atau urap, sementara di daerah Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, gampang ditemui penjual nasi pecel dengan sayur daun genjer. Pada musim

Dalam salah satu petikan seri tulisan “Surat dari Negeri Kincir Angin”, Hersri Setiawan, seorang sastrawan Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat)–sebuah lembaga kebudayaan yang berafiliasi pada Partia Komunis Indonesia (PKI) di tahun 1960-an– menyajikan catatan yang menarik mengenai masakan daun genjer. Hersri menuliskan bahwa sebelum masa penjajahan Jepang, genjer hanya dimanfaatkan sebagai campuran pakan ternak. Bagian batang dan daunnya dicacah menjadi potongan kecil-kecil, kemudian dicampur dengan bekatul atau dedak untuk makanan sapi dan kambing. Pada masa penjajahan Jepang, yang terhitung singkat (1942-1945) tetapi telah menyudutkan bangsa Indonesia pada kondisi yang paling fakir, paceklik pangan memaksa rakyat untuk menyantap genjer sebagai pengganjal perut.

Biasanya sayur genjer diolah menjadi pelengkap makan dengan menu utama Gatotkaca atau Anjasmara. Gatutkaca adalah sebutan pasemon (jw-penghalus) untuk singkong, sementara Anjasmara adalah gogik, sisa-sisa makanan yang diawetkan dengan cara dijemur sampai kering dan direbus kembali bila hendak dimakan. Sebagai tambahan disajikan pula bekicot bakar, yang konon bisa menghindarkan penyakit busung lapar.

Bagi bangsa Indonesia, genjer tidak hanya memantik ingatan pada masa-masa sulit pangan saja, tetapi juga pada sebuah lagu yang menjadi top hit pada rentang awal tahun 1960-an. Judul lagu tersebut adalah Genjer-genjer, sebuah lagu yang bertutur mengenai tumbuhan genjer dalam tiga bait lirik berbahasa Jawa. Pada masanya lagu ini sangat dikenal luas sebagai lagu rakyat, bahkan sangking merakyatnya, menurut beberapa kalangan, seakan menjadi lagu wajib pembuka dan penutup pada hampir semua pementasan wayang atau ketoprak.
*****
Popularitas lagu Genjer-genjer agaknya terkait erat dengan strategi politik yang dijalankan oleh organisasi-organisasi sosial politik di masa pemerintahan Soekarno. Sebagai contoh, partai-partai politik yang ada seringkali memanfaatkan bentuk-bentuk kesenian rakyat untuk dijadikan pemikat dalam merekrut sebanyak-banyaknya anggota baru. Pada tahun 1960-an, selain lagu Genjer-genjer yang kerap diidentikkan sebagai lagunya orang-orang Partai Komunis Indonesia (PKI), dikenal juga sebuah lagu yang berjudul “Turi-turi Putih”. Lagu yang terakhir ini dianggap sebagai lagu untuk orang-orang Partai Nasional Indonesia (PNI).

Lirik lagu Genjer-genjer yang berkisah tentang tumbuhan genjer, tumbuhan sawah yang memiliki kedekatan dengan kehidupan petani dan masyarakat kecil, menjadikannya mudah diterima oleh masyarakat luas. Boleh jadi mereka menyukai lagu ini karena lariknya mengisyaratkan keberpihakan pada rakyat kecil. Lirik lagu Genjer-genjer ditulis dalam bahasa Jawa, meski beberapa sumber menyebutkan adanya perbedaan lirik di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur akibat digunakannya logat bahasa Jawa yang berbeda. Salah satu versi lirik yang banyak dikenal seperti tertulis dibawah ini:

Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Gendjer-gendjer neng ledokan pating keleler
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Emake thole teka-teka mbubuti gendjer
Oleh satenong mungkur sedot sing tolah-tolih
Gendjer-gendjer saiki wis digawa mulih

Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
Gendjer-gendjer esuk-esuk digawa nang pasar
didjejer-djejer diunting pada didasar
didjejer-djejer diunting pada didasar
emake djebeng tuku gendjer wadahi etas
gendjer-gendjer saiki arep diolah

Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
Gendjer-gendjer mlebu kendil wedange umob
setengah mateng dientas digawe iwak
setengah mateng dientas digawe iwak
sega sa piring sambel penjel ndok ngamben
gendjer-gendjer dipangan musuhe sega

(Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan
Gendjer-gendjer ada di lahan berhamparan
Ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer
ibunya anak-anak datang mencabuti gendjer
Dapat sebakul dipilih yang muda-muda
Gendjer-gendjer sekarang sudah dibawa pulang

Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Gendjer-gendjer pagi-pagi dibawa ke pasar
Ditata berjajar diikat dijajakan
Ditata berjajar diikat dijajakan
Emaknya jebeng beli genjer dimasukkan dalam tas
Gendjer-gendjer sekarang akan dimasak

Gendjer-gendjer masuk belanga airnya masak
Gendjer-gendjer masuk belanga airnya masak
setengah matang ditiriskan dijadikan lauk
setengah matang ditiriskan dijadikan lauk
nasi sepiring sambal pecel duduk di ambin
Gendjer-gendjer dimakan musuhnya nasi)

Mengenai muasal lagu Genjer-genjer, Hersri Setiawan memiliki catatan menarik. Dia mengisahkan bahwa pada bulan Desember 1962, para sastrawan dari beberapa lembaga kebudayaan di Indonesia, mendapat undangan untuk mengikuti sebuah konferensi yang diselenggarakan oleh Komite Eksekutif Biro Pengarang Asia-Afrika di kota Denpasar, Bali. Selain wakil-wakil dari Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), berangkat juga perwakilan dari Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN) dan Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi). Utusan dari Lekra dipimpin oleh Jubaar Ajoeb dangan peserta antara lain Rivai Apin, Hr. Bandaharo, Pramudya Ananta Toer, Bujung Saleh Puradisastra, Dodong Jiwapraja, Samandjaja, Sobron Aidit dan Nyoto alias Iramani.

Sebelum menyeberang ke pulau Bali, rombongan tersebut menyempatkan diri untuk singgah di kota Banyuwangi, Jawa Timur. Disana mereka memperolah sambutan hangat dari pimpinan Lekra cabang setempat, salah satunya adalah M. Arif, pemimpin Lembaga Musik. Bersamanya hadir pula sekelompok perempuan berkain kebaya, yang kemudian memainkan alat musik angklung dan membawakan beberapa buah komposisi musik sebagai bentuk ucapan selamat datang. Dalam kesempatan itulah lagu Genjer-genjer, yang dibawakan sebagai lagu pembuka dan penutup reportoar, mampu memikat hati para tetamu dari Jakarta. Seusai acara penyambutan, mereka ramai memperbincangkan lagu yang digubah oleh M. Arif dan dinyanyikan dalam logat Banyuwangi itu. Bahkan Njoto sempat melontarkan komentar yang bernada ramalan bahwa lagu Genjer-genjer akan terkenal secara luas dan menjadi lagu nasional.

Belakangan, rerasan Nyoto, yang saat itu menjabat sebagai Ketua III CC-PKI dan sebelumnya juga dikenal sebagai seniman musik yang acap mengisi acara musik di Radio Republik Indonesia (RRI) bersama Bing Slamet, ternyata tidak meleset. Lebih kurang satu tahun setelah diperdengarkan dihadapan perwakilan Lekra di Banyuwangi, lagu Genjer-genjer mulai sering mengalun di ibukota melalui siaran RRI dan Televisi Republik Indonesia (TVRI). Bahkan lagu tersebut dinyanyikan oleh Bing Slamet, penyanyi tenar saat itu, dan direkam dalam piringan hitam yang dijual bebas dipasaran.

Lagu Genjer-genjer, dan sebuah tarian yang juga dikenal dengan nama yang sama, kemudian sering dipentaskan di Jakarta oleh sebuah kelompok hiburan, Paduan Suara Gembira. Pada acara ulang tahun Konferensi Asia-Afrika pada bulan April 1965, lagu dan tarian tersebut disuguhkan pula oleh Paduan Suara Gembira ke hadapan para tamu terhormat dari negara-negara Asia-Afrika.

*****
Sebuah geger politik besar yang terjadi pada tanggal 30 September 1965, atau pada masa Orde Baru lebih dikenal sebagai peristiwa Pengkhianatan G 30 S/PKI, telah memutar-balik tata keadaan. Lepas dari kontroversi yang berkembang saat ini seputar kejadian yang sebenarnya, peristiwa penculikan dan pembunuhan 6 jendral dan satu perwira utama angkatan bersenjata, yang ditudingkan dilakukan oleh PKI, makin mempertebal lembaran buram catatan sejarah Indonesia.

Memasuki awal bulan Oktober 1965, media-media masa seolah berebut memberitakan dan sekaligus menyemburkan caci-maki pada kekejian Gerwani dan Pemuda Rakyat, SOBSI dan BTI, lembaga-lembaga mantel PKI, yang dituding menjadi eksekutor tujuh petinggi militer di kawasan Lubang Buaya, Jakarta. Mingguan Angkatan Bersenjata, harian Berita Yudha dan Api Pantjasila, ketiga media ini diterbitkan oleh kalangan militer, menggambarkan peristiwa pembunuhan tersebut sebagai “pesta setan”. Dalam kejadian yang kemudian disebut sebagai “Upacara Harum Bunga”, dikabarkan bahwa sekitar 100 orang perempuan anggota Gerwani menari-nari tanpa penutup tubuh sambil menyanyikan lagu Genjer-genjer, sementara melakukan perbuatan mesum dan penyiksaan kepada para jendral. Dengan pisau silet mereka menyayat muka dan tubuh tawanannya, bahkan memotong alat kelamin dan mencungkil bola mata para korban, sebelum tubuh-tubuh mereka disiram peluru dan digulingkan kedalam sumur sempit sedalam 12 meter.

Berita tersebut serta merta memancing ungkapan kesedihan, perasaan jijik dan kemarahan luar biasa ditengah masyarakat. Luapan kemarahan pun diluncaskan pada segala bentuk keterkaitan dengan Partai Komunis Indonesia, mulai dari pembantaian masal “anggota” PKI, penghancuran fasilitas-fasilitas yang dipandang sebagai milik PKI dan pelarangan nilai-nilai serta ajaran yang dikembangkan oleh partai ini.

Pun lagu Genjer-genjer yang dinilai mengandung ajaran komunis dalam lirik-liriknya, dan juga dianggap sebagai lagu pengiring upacara tak bermoral, tak lagi didendangkan. Tudingan tersebut juga diperkuat oleh penemuan “dokumen” berupa buku kumpulan lagu-lagu paduan suara yang berisi lagu-lagu rakyat dari berbagai daerah, salah satunya lagu Genjer-genjer, di lokasi kejadian. Buku yang diterbitkan oleh CC PKI dan dipergunakan untuk panduan paduan suara, dipandang sebagai bagian dari gerakan politik yang dilakukan PKI untuk melakukan perebutan kekuasaan. Apalagi bagian lirik yang berbunyi “..neng kledokan pating keleler” (..di lahan berhamparan), seringkali diartikan sebagai simbolisasi tubuh-tubuh para jendral yang berhamparan meregang nyawa. Sejak saat itu, Genjer-genjer yang pernah demikian akrab ditelinga berbagai kalangan masyarakat dipandang sebagai lagu yang dilekati dosa politik dan “terlarang”.

Lucunya, peristiwa tersebut juga mempengaruhi urusan dapur sebagian besar rakyat Indonesia. Orang merasa jeri untuk memasak ataupun menyantap masakan dari genjer, atau kalaupun masih memasaknya pasti dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Bagi sementara kalangan, ada perasaan kuatir dicap sebagai komunis namun juga perasaan heroik bila menikmati sayur genjer. Seiring ambruknya Orde Baru, rezim yang “mengharamkan” genjer, dan terkuaknya borok-borok politik dari peristiwa 1965, genjer seolah lepas dari sungkup beban politik. Bahkan kalau beruntung, kini anda bisa menemukan beberapa ikat genjer yang tertata rapi diantara sayuran lain diatas rak dingin supermarket ternama.[]

genjer ikan asin

Genjer bisa diolah menjadi beberapa jenis masakan yang lezat. Mungkin Anda tertarik untuk mencoba salah satu resep dibawah ini:

TUMIS GENJER IKAN ASIN
BAHAN :
400 gram genjer yang sudah disiangi
50 gram ikan teri, goreng sebentar
150 gram tahu kuning, potong kotak, goreng sebentar
2 cm lengkuas, dimemarkan
2 lembar daun salam
150 ml air
garam dan merica secukupnya
2 sendok makan minyak untuk menumis

BUMBU IRIS :
6 butir bawang merah
2 siung bawang putih
4 buah cabai merah
3 buah cabai hijau

CARA MEMBUAT :
Tumis bumbu iris bersama lengkuas dan salam sampai harum. Masukkan daun genjer. Aduk sampai berubah warna. Tambahkan teri dan tahu. Aduk sampai menyebar. Tambahkan air, garam, dan merica. Aduk sebentar lalu angkat.

(Artikel ini ditulis untuk Majalah Latitudes, Bali, sdisi 18 Juli 2002)

18 thoughts on “Genjer: Makanan Rakyat yang Dibungkam Politik”

  1. klow soal makanan genjer….aku suka juga loh……masakan dari genjer ini…..kalow di daerah ku disebut nya dg “mereka kembali”….karena kayaknya genjer ini gak bs di cerna dg sempurna oleh alat pencernaan kita….jadi klo kita BAB, maka mereka akan kembali spt itu…..he he he

  2. Genjer2 adalah sudah menjadi suatu mitos kuat produksi orde baru dengan penanda-penanda yang juga merupakan produk media. ini adalah kenyataan di mana masyarakat kita, bahkan sampai sekarang, masih dengan mudahnya terombang ambing informasi dan tidak bisa kritis. lagu ini buat saya sangat horor, khususnya yang versi Lilis Suryani (1962) dengan kresen2 radio tuanya. horor, bukan karena ini disebut lagi PKI, lagu ini horor karena pemaknaannya di masyarakat yang membuat saya merasa saya hidup di masyarakat zombie, yang dengan mudah dapat dkendalikan dukunnya (kekuasaan). kita harus mendekonstruksi lagu in!! harus!

  3. sepertinya kita harus memperbaiki pola pikir yang telah dibentuk oleh rezim orde baru yaitu pola pikir “gebyah uyah” sudah bukan zamannya lagi…kita harus mengembalikan lagu genjer-genjer ke porsi awal…art for art…seperti sebuah pistol..bukan salah pistolnya tapi siapa yang memegang pistol dan untuk apa pistol tersebut digunakan…bagaimana kalau lagu genjer-genjer dimasukkan ke pelajaran kesenian sebagai lagu daerah…ada yang setuju…

  4. saya nggak taw knapa lagu genjer2 begitu dilarang sekarang…juga lagunya menjadi hilang di pasaran,tapi untung saya punya 2 versi asli yang bener2 asli…ada sekitar 2 versi lagi yang udah di modif…ya lumayanlah!!
    sekarang saya sedang mencari lagu turi-turi putih dan puspa dewinya titiek puspa,ada yang bisa membantu?

  5. Wah..Genjer?? ini makanan rakyat kesukaan sayang.

    emm…..kasih TAUCO, Udang syegar (atau teri asing)..cabe hijau, bawang putih, bawang merah…garam secukupnya..

    dannn…tumis deh……nyam nyamm…..nyammm

    Lebarang kemarin, istriku masak tuh…heehehehehe….
    yang namanya “rendang”?..parkir dolo
    ..GENJER must go first..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s