Dilema Impor Sandang Bekas:Kebutuhan versus Peraturan

Pasar Senen, Jakarta, jam 14.00. Siang terik seolah tak dirasakan Ranti, karyawan sebuah department store di bilangan segitiga Senen. Tangannya tak henti mengaduk tumpukan sweater dan jumper yang membukit di hadapannya. Terkadang dia mengelilingi tumpukan lain, mengaduk-aduk lagi, dan sesekali mengusap peluh yang membasahi dahinya. Beberapa helai sweater, kemeja dan t-shirt sudah dipisahkannya di pinggir wadah yang terbuat dari papan kayu, dan satu persatu kemudian dicoba dipaskan dengan tubuhnya. Di bagian atas tempat Ranti berdiri, berjumbai baju-baju flannel, kemeja dan jaket ditata dengan cara digantungkan memanjang pada sebilah pipa besi. Di kanan kirinya jajaran kapstok dipenuhi berbagai jenis kemeja, kaos, daster dan celana panjang. “Saya sering belanja di sini. Selain pilihannya banyak, harganya murah lagi,” ujar Ranti bersemangat. Kok, belinya banyak sekali? ”Untuk oleh-oleh lebaran,” jelasnya singkat sembari berlalu.

Keberadaan retail sandang bekas, mulai yang berbentuk lapak sederhana sampai kios-kios permanen berukuran besar, makin menjamur empat tahun belakangan ini. Bisa dikatakan hampir semua kota besar di Indonesia, bahkan sampai kota-kota kecamatan, tidak ada yang terbebas dari serbuan produk sandang bekas. Produk yang di perjual-belikan kebanyakan berasal dari Malaysia, Hongkong, Singapura, Jepang dan Korea, walaupun tak jarang terdapat juga baju-baju dari Eropa atau Amerika. Aneka produk sandang, mulai dari kemeja, celana, jaket, kain korden, taplak meja, sarung bantal, bahkan sampai celemek, dijual dengan harga yang jauh lebih murah dibanding produk serupa yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan tekstil dalam negeri.

Bayangkan saja, selembar bed cover bahan katun hanya dibanderol seharga maksimal Rp.40.000,-saja, ini artinya hanya seperempat dari harga bed cover buatan Bandung atau Solo. “Bahkan kualitasnya jauh lebih bagus, Mas,” ujar Sujarwo, salah seorang pedagang di Senen, seakan berpromosi. Untuk celemek atau sarung tangan dapur, Anda tinggal mengulungkan selembar atau dua lembar ribuan, barang sudah bisa dibawa pulang. Bekas pakai memang. Tetapi apalah artinya bekas jika kualitas barangnya relatif bagus, dan yang penting murah! Ya, sesederhana itu. Dan diakui atau tidak, keberadaan seakan menjawab kebutuhan masyarakat akan tersedianya produk sandang berharga murah dengan kualitas (relatif) baik. Kebutuhan tersebut agaknya hingga kini belum bisa dipenuhi oleh industri TPT dalam negeri.

Lewat jalur hijau
Liku-liku perjalanan sandang bekas, meskipun dipandang sebagai praktek ilegal, ternyata tidaklah serumit yang banyak dibayangkan orang. Selama ini importir tidak perlu sembunyi-sembunyi untuk mendatangkan produk sandang bekas ke tanah air. Importir memanfaatkan jalur hijau Bea dan Cukai sehingga peti kemas bisa melenggang masuk ke pelabuhan tanpa melalui pemeriksaan fisik. Pengiriman barang, biasanya dari pelabuhan Singapura, dilakukan melalui perantaraan agen berdasarkan permintaan. Importir tinggal mengangkat telepon, dan para agen inilah yang mengurus dokumen impor, bahkan tak jarang termasuk pengiriman barang ke tempat tujuan. Proses ini memakan waktu dua hingga tiga pekan dan seringkali dalam satu kali pengiriman bisa mencapai 10 hingga 15 peti kemas berukuran 20 kaki dengan kapasitas muat 106 bal per peti kemas.

Menurut penuturan seorang importir, sebut saja Abas, komoditas sandang bekas relatif mudah melewati pelabuhan karena dikategorikan sebagai limbah. “Pokoknya, bila dalam dokumen pengiriman barang dinyatakan sebagai limbah, maka wes, wes, wes, lancar urusannya,” ungkapnya. Importir ini mengaku selain memiliki gerai penjualan sandang bekas sendiri, dia juga memasarkan sebagian komoditas yang diimpornya kepada pedagang eceran di Pasar Senen. Untuk setiap bal yang dibelinya seharga Rp. 200.000,00 dilepas dengan harga antara Rp. 500.000,00 hingga Rp. 12 juta. Harga jual sangat bervariasi tergantung isi masing-masing karung, semisal untuk produk bra, yang jumlahnya dalam satu bal bisa mencapai tiga ribu buah, bisa dibanderol hingga jutaan rupiah.

Biasanya Abas menghabiskan stok yang disimpannya di gudang dalam satu setengah bulan, atau paling lama tiga bulan. Stok akan lebih cepat habis bila mendekati hari lebaran atau musim liburan sekolah, karena permintaan dari daerah dipastikan meningkat pesat. “Jumlah permintaan bisa dua kali lipat dari hari-hari biasa,” kata Abas, “meskipun harganya juga kami naikkan sampai sepuluh atau dua puluh persen.”

Mengancam TPT dalam negeri
Meskipun menjanjikan keuntungan yang menggiurkan, terutama bagi para importir, impor sandang bekas telah memukul industri garmen dalam negeri, terutama garmen berskala kecil dan menengah. Bahkan dampaknya pun terasa hingga industri hulu yang menghasilkan kain, benang dan serat tekstil. Apalagi keberadaan pemasar sandang bekas tidak hanya terbatas berada di kota-kota besar saja, namun juga merambah daerah terpencil seperti desa pedalaman Kalimantan atau desa-desa di kaki gunung Merapi dan Merbabu, Jawa Tengah.

Menurut catatan Ketua Badan Pengurus Pusat Asosiasi Pertekstilan Indonesia (BPP API), Benny Sutrisno, sepanjang tahun 2001-2002 pihaknya menemukan indikasi penyelundupan 132 peti kemas berisi Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) bekas melalui pelabuhan Tanjung Priok saja. “Padahal pintu-pintu penyelundupan juga tersebar di beberapa pelabuhan lain di Pulau Jawa dan Luar Jawa,” lanjutnya dengan nada prihatin. “Jika kondisi tersebut dibiarkan, maka nasib industri tekstil dalam negeri perlahan-lahan akan hancur. Karena itu kami menyatakan perang pada praktek penyelundupan sandang bekas,” tandas Benny.

Kekuatiran yang disuarakan BPP API beralasan, karena sektor TPT sebelumnya telah terpukul akibatnya melemahnya perekonomian lokal dan global serta persaingan antar negara pengekspor yang semakin tajam. Selain faktor-faktor tersebut, masalah keamanan dalam negeri yang tidak kondusif dan memuncak pada peristiwa peledakan bom di Kuta, Bali dan Manado, membuat Benny memperkirakan angka ekspor PTP Indonesia akan merosot hingga 20% pada paruh awal tahun 2003. Angka ekspor PTP tahun 2002 diperkirakan mencapai tujuh milyar dollar AS.

Terkait dengan pesimisme yang di oleh anggota Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag ) Rini M.S. Soewandi, mengeluarkan peringatan keras bagi para importir sandang bekas dan mengancam akan mencabut Angka Pengenal Impor (API) setiap importir yang kedapatan menjalankan praktek illegal tersebut. Dalam pernyataannya, Menperindag mengkategorikan produk sandang bekas sebagai limbah. “Sudah diatur dalam SK Menperindag bahwa barang yang diimpor harus dalam keadaan baru, dan kami tidak pernah mengizinkan impor pakain bekas.”

Dalam SK Menperindag No. 229/MPP/Kep/7/1997, pasal 3 Ketentuan Umum di bidang impor memang disebutkan bahwa “barang yang diimpor harus baru”, dan setiap pelanggaran bisa dikenakan sanksi maksimal 8 tahun penjara dan denda sebesar Rp. 500 juta. Menurut Kepala Kanwil Bea dan Cukai Pelabuhan Tanjung Priok, Endang Tata, impor sandang bekas juga melanggar UU No. 10/1995 tentang Kepabeanan, karena barang impor tidak sesuai dengan ketentuan.

Terkait dengan hal itu, mulai tahun 2003 Menperindag berencana memberlakukan pre-shipment inspection (PSI) pada setiap pengiriman barang melalui pelabuhan. Sistem ini bakal dipakai karena dinilai ampuh untuk memberangus tindak penyelundupan sandang bekas. Selain itu, pemerintah juga akan menerapkan strategi jangka menengah dan panjang berupa kebijakan di sektor industri, diantaranya dengan menata kembali struktur TPT dengan sistem “otomatisasi penuh”, penerapan prinsip “cepat jawab” untuk memenuhi keinginan konsumen dan system “stok siap di tempat” untuk mengantisipasi kelebihan produk karena perubahan selera konsumen dalam berbusana.

Menurut Benny, langkah tersebut sudah selayaknya dilakukan mempertimbangkan selama tahun 1996-2001, industri tekstil Indonesia per tahun memasok rata-rata 17, 5 persen dari total perolehan ekspor non migas Indonesia. Sektor ini juga berperan besar dalam menyediakan lapangan kerja, diperhitungkan sekitar 1,2 juta orang terlibat langsung dalam industri sandang tanah air. Gendang perang pada praktek penyelundupan memang harus ditabuh, tetapi hendaknya juga dipertimbangkan, bahwa perdagangan sandang bekas telah menjadi tumpuan hidup ribuan pedagang dan alternatif pemenuhan kebutuhan sandang bagi masyarakat kecil. Satu lagi dilema ekonomi yang harus disikapi dengan arif. (man)

2 thoughts on “Dilema Impor Sandang Bekas:Kebutuhan versus Peraturan”

  1. Yth. Pimpinan Perusahaan / Bag Import Dept

    Kepada,

    Dengan hormat,

    Bersamaan dengan ini perkenankanlah Kami dari PT. PRESSTI ASIA INDONESIA yang bergerak di bidang Jasa

    pengurusan barang Import, bermaksud menawarkan Jasa pengurusan barang Import Kepada Bapak / Ibu,

    baik pengiriman shipment barang Via Laut atau Udara dengan rincian jasa Kami tertera di Attachment :

    keberhasilan Anda menjadi kesuksesan Kami, Solusi Kami menjadi kepercayaan Anda. Atas perhatiannya Kami ucapkan terima kasih.

    Terima Kasih

    Hormat Kami,

    TRI POLI

    PT. PRESSTI ASIA INDONESIA

    Jl. Raya Lenteng Agung Kav 22 No.20 Jakarta 12610 Selatan

    Phone :+0823 67373877

    Mobile :+0812 19937990

    Fax :+6221 – 78886594
    E-mail : tripolipressti@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s