Daun : Pembungkus dari Alam Sekitar

daun pisangSrrrrt. Srreettt. Tangan keriput Mbok Rejo dengan sebat namun penuh kehati-hatian menyerutkan bilah pisau sepanjang batang gedebok daun pisang. Lembar demi lembar daun pisang bertumpuk setengah tergulung di sisi kanan kakinya yang diselonjorkan.

“Beginilah nak pekerjaan ibu sehari-hari. Ya, hasilnya sekedar cukup untuk belanja kebutuhan sehari hari dan membeli oleh-oleh untuk cucu,” ujar wanita yang telah memasuki usia enampuluhan ini. Kemudian tangannya meraih tumpukan daun pisang yang berserak, melipatnya tiap tiga lembar menjadi satu bongkok (lipat) yang akan dijualnya seharga Rp. 500,00 setiap gulung.

Hari itu dia mengumpulkan sekitar lima belas bongkok daun pisang. Hampir genap satu dasawarsa nenek dari tiga cucu ini menekuni pekerjaannya sebagai penjual daun pisang dan bithing (rautan bambu seukuran tusuk gigi untuk mengunci bungkusan dari daun dengan cara ditusukkan) di sebuah pasar di daerah Yogyakarta utara. Di depan pintu masuk pasar tersebut, selain Mbok Rejo, masih ada seorang pedagang lagi yang mengais rejeki dengan berjualan daun pisang.

Daun pisang memang banyak diperjual-belikan untuk dimanfaatkan sebagai pembungkus alami yang sangat serbaguna dan mudah ditemui di tengah masyarakat kita. Mulai dari nasi bungkus, bubur jenang, nasi lontong, kue lemper, tempe sampai bunga tabur kebanyakan dibungkus dengan daun pisang. Serat-seratnya membuat daun ini cukup kuat untuk dilipat-lipat, apalagi jika dipanaskan terlebih dulu sehingga agak layu dan tidak mudah sobek. Daun pisang juga relatif mudah dibersihkan, cukup mengelap permukaan daunnya dengan kain dan aneka makanan dapat dibungkus dengannya tanpa perlu menambahkan pelapis tambahan.

daun pisang2Sebetulnya, selain daun pisang, ada berbagai jenis daun lain yang kerap dimanfaatkan sebagai alat pembungkus. Daun jati, daun kelapa muda (janur), daun pace, daun waru dan lembaran serupa daun yang membungkus buah jagung (klobot) juga banyak dipergunakan sebagai alat pembungkus atau wadah. Daging segar akan lebih tahan lama jika dibungkus dengan daun jati bila dibandingkan dengan dibungkus plastik, karena itu tidaklah mengherankan bila hingga kini masih banyak penjual daging di pasar-pasar tradisional menyediakan daun jati sebagai pembungkus.

Di daerah dimana banyak ditanam pohon jati, seperti di Gunung Kidul, Ngawi, Blora dan beberapa daerah lainnya, daun jati juga dimanfaatkan sebagai pembungkus nasi, tempe atau dibuat menjadi besek (wadah) untuk hantaran kenduri. Daun jati untuk pembungkus yang paling baik adalah daun yang masih muda karena lebih ulet dan tidak mudah sobek. Aroma daun-daun pembungkus tersebut biasanya terbawa pada makanan yang diwadahi, terutama jika makanan masih dalam keadaan panas atau hangat, semisal masakan nasi, bubur atau jenang. Namun justru aroma semacam itulah yang biasanya menjadikan makanan dengan pembungkus dari daun disukai oleh para pembeli.

Kini, dengan alasan kepraktisan dan kebersihan, juga pertimbangan-pertimbangan komersial, dedaunan sebagai alat pembungkus mulai digantikan dengan plastik, styrofoam atau aluminium foil. Logika pemasaran masa kini memang lebih mengedepankan penampilan produk dibanding kualitas sehingga pembungkus dari daun, yang dinilai kurang “menjual”, mulai banyak ditinggalkan. Tempe pun kini tampil lebih “cantik” dengan pembungkus dari plastik yang bersablon nama pembuat dan memiliki bentuk yang lebih bervariasi.

Ketupat yang biasanya direbus dalam pembungkus anyaman daun kelapa muda, mungkin karena alasan kepraktisan, juga direbus dalam bungkus plastik. Demikianlah, pincuk (piring makan dari daun) mulai tergeser oleh styrofoam, kemudian aluminium foil dan kertas menggusur pembungkus dari klobot dan kini anda pun bisa meminta bubur dan sayur hangat untuk dibungkus dengan plastik.

Beberapa waktu lalu pembungkus sintetik, terutama styrofoam, sempat membuat heboh masyarakat karena ditengarai dapat menimbulkan penyakit kanker (karsinogenik) dan menganggu fungsi endokrinologi dan reproduksi (Endocrine Disrupting Chemical/ EDC) karena adanya kandungan polistiren (polystyrene). Molekul-molekul polistiren dalam styrofoam akan terlepas jika terkena panas, padahal wadah ini banyak dipakai sebagai kemasan mie instan dan tempat makanan lainnya. Kendati akhirnya diketahui dari penelitian bahwa kandungan polistiren yang terlepas jika terkena panas berada di bawah ambang membahayakan, yaitu maksimal sekitar 13 mikrogram dari batas 15 mikrogram, namun masyarakat sempat was-was dan menghindari kemasan dari bahan styrofoam selama beberapa waktu.

Penggunaan kemasan dari kertas pun sempat pula dipermasalahkan. Penjual nasi bungkus misalnya, seringkali membungkus nasi jualannya dengan kertas koran bekas padahal tinta pada lembar kertas koran kemungkinan besar luntur dan berisiko mencemari makanan yang dibungkus. Kemasan plastik juga termasuk bahan yang rawan resiko kesehatan, pasalnya plastik mengandung PVC (polivinyl chloride) yang juga bersifat karsinogenik serta mengandung dioksin yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia. Disamping mendatangkan masalah kesehatan bagi manusia, kemasan sintetik juga dituding sebagai sumber pencemaran lingkungan, terutama karena kandungan dioksinnya serta materi jenis ini dikenal sangat sulit atau bahkan hampir tidak mungkin terurai secara alamiah.

Meskipun pemanfaatan alat pembungkus sintetis telah demikian umum di tengah masyarakat kita, namun hingga kini pembungkus dari daun masih tetap dibutuhkan oleh sebagian anggota masyarakat. Entah sampai kapan. “Semoga nanti orang tidak membungkus kue lemper dengan plastik, ya nak,” ucap Mbok Rejo setengah bercanda. Perlahan dia beranjak dari duduknya, melingkarkan kain jarit pada tenggok yang telah kosong dan mulai melangkah menuju rumahnya sembari menggumamkan harap agar pembungkus daun tetap menjadi bagian dari kehidupan generasi penerusnya.

4 thoughts on “Daun : Pembungkus dari Alam Sekitar”

  1. Nice blog here! Also your website loads up very fast! What host are you using?
    Can I get your affiliate link to your host?
    I wish my website loaded up as fast as yours lol

  2. Kenapa daun jati bisa menjaga kesegaran daging lebih lama?

    apa Kandungan yang ada di dalam daun jati?

    Terima kasih.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s