Awas, Bollywood siap menggoyang dunia!

Setiap tahun, tak kurang dari 800 judul film dihasilkan oleh insan film di Bollywood. Maaf, perhatikan baik-baik bahwa “Bollywood” di sini bukanlah Hollywood yang ada di Amerika. Bollywood terletak di kota Bombay, India, sebuah kawasan industri perfilman paling progresif di dunia, yang bahkan dari segi produktifitas mengalahkan Hollywood. Sejarah industri film Bollywood yang telah dimulai sejak pertengahan abad ke-20, kini bahkan menjadi kekuatan budaya baru yang mendunia.

Dekade terakhir abad ini menjadi tahun yang menyesakkan sekaligus menggairahkan bagi pelaku industri film di India. Selagi para pelaku bisnis film dibuat pusing dengan serbuan film produksi Hollywood yang semakin gencar, jumlah penonton yang menyurut drastis dan kreatifitas yang mandeg, film-film produksi Bollywood justru dinanti oleh para penonton di luar negeri.

Dalam kosa kata Bollywood, selama ini kata “luar negeri” hanya merujuk pada Hollywood, industri film terbesar di mana para sutradara biasa menyontek alur cerita film atau malah meniru habis suatu skenario. Namun kini arti “luar negeri” semakin meluas, dan menjangkau segmen yang terdiri dari ekspatriat Indian yang kaya. Kalangan ini secara resmi oleh pemerintah India disebut sebagai Non-Resident India (NRI). Yang termasuk NRI adalah warga negara atau keturunan India yang tinggal di Birmingham, Inggris, New Jersey di Amerika Serikat, semua negara di Timur Tengah, terutama Qatar dimana populasi warga India mencapai dua setengah kali lipat jumlah penduduk lokal. Selain itu termasuk juga Fiji, Malaysia, Indonesia, Singapura, Hong Kong, Mauritius, Kanada, Australia, Selandia Baru dan Afrika Timur.

“Pasar luar negeri kini semakin penting bagi produser film Bollywood, terutama di negara-negara dengan populasi NRI yang cukup tinggi,” ungkap Aditya Shroff, direktur Shringar Films, salah satu distributor film India terbesar yang kini juga bergerak menembus pasar internasional. “Sekurangnya 20 juta keturunan India tersebar di wilayah Asia, dan mereka adalah peluang pasar bagi film-film Bollywood. Selain itu, penonton film dimanapun juga mulai menyukai film India.” Dipelopori oleh Hum Aapke Hain Koun, film yang dirilis Rajshri Pictures di tahun 1994, luar negeri adalah ceruk pasar baru yang menjadi “juru selamat” bagi perfilman India.

Menjadi juru selamat karena fenomena tersebut datang pada saat yang tepat. Dari sekurangnya 800 judul film yang dirilis Bollywood dalam setahun, dua ratus judul diantaranya berbahasa Hindi, sisanya dalam bahasa Telugu dan Tamil. Dari 200 judul berbahasa Hindi tersebut, hanya 8 judul diantaranya yang berhasil di pasaran. Akibatnya, diperkirakan Bollywood merugi sebesar Rs 7miliar (US$ 145,5 juta) setahun. Agaknya para penikmat film di India mulai bosan dengan formula cerita usang, peran aneh ataupun karya film yang bermutu rendah. Mereka memilih menonton TV atau film Hollywood sebagai gantinya.

Sebaliknya, para NRI tidak begitu pemilih. Yang terpenting bagi kelompok ini, film Bollywood telah menyentuh sisi emosional mereka dengan menawarkan kesempatan untuk menyaksikan tanah air—India. Sajian Bollywood, meski setawar apapun, membawa penontonnya seolah berada di tanah air.

Buntung di dalam negeri, untung di luar negeri
Subhash Ghai, seorang bekas aktor yang gagal namun sukses menjadi pembuat film dan kini dijuluki sebagai “badshah” (maharaja) Bollywood, selama dua dekade telah menghasilkan film-film paling laris di India. Ghai biasanya menyajikan melodrama spektakuler yang dipenuhi musik-musik bagus, bintang-bintang top dan jalinan cerita yang kompleks. Namun, sejak akhir tahun 1990-an, sinar keberuntungannya mulai memudar.

Film Yaadein yang dibintangi dua bintang top India, Hrithik Roshan dan Kareena Kapoor, gagal menjadi box office di India. Akan tetapi Ghai rupanya tidak terlalu terganggu dengan kegagalan tersebut, karena karyanya menjadi film India yang berhasil mendatangkan keuntungan terbesar di pasar luar negeri, yakni 140 juta rupee (sekitar 2,9 juta dolar AS). Film-film India lainnya, seperti Dilwale Dulhaniya Le Jayenge dan Kuch Kuch Hota Hai, masing-masing menghasilkan Rs 110 juta. Taal dan Hum Dil De Chuke Sanam masing masing Rs 90 juta, sementara Dil To Pagal Hai, sebuah film yang ditujukan untuk remaja, menangguk untung sebesar Rs 80 juta. Di Amerika, Kabhi Khushi Kabhi Gam besutan sutradara Karan Johar, menjadi film India pertama yang mampu mengumpulkan lebih dari AS$ 1 juta hanya dalam waktu tiga hari.

Salah satu alasan makin larisnya film India di luar negeri, terkait dengan meningkatnya populasi NRI—secara kuantitas maupun kualitas. Dari data terbaru sensus penduduk di AS, jumlah keturunan India mencapai 1,9 juta jiwa; kelompok ras Asia terbesar ketiga di AS setelah China (2,7 juta) dan Filipino (2,4 juta). Dari sisi kualitas, para penikmat film dari kalangan NRI bukan lagi mereka yang berprofesi sebagai supir taksi, karyawan atau penjaga toko. Para movie goer NRI saat ini adalah insinyur software, dokter atau profesional mandiri, yang tidak akan ternganga ketika disodori harga tiket bioskop yang mahal di London atau New York.

Melalui IFEA (Asossiasi Eksportir Film India), Bollywood kini juga mengincar pasar China dan Jepang. IFEA kini tengah terlibat pembicaraan dengan kalangan TV di China untuk memasok sekitar 150 judul film setiap tahunnya. Pasar di Korea Selatan, Uzbekistan dan Afrika Selatan, bahkan Afghanistan juga mulai dijajagi. Paska jatuhnya rezim Taliban di Afghanistan, mulai September tahun lalu televisi pemerintah di Kabul telah menayangkan kembali film-film India. Pada bulan yang sama tahun ini, sebuah film India berjudul Elaan mulai di putar di bioskop Bakhtar, Kabul.

Langkah promosi agresif pun dijalankan oleh para produser Bollywood, diantaranya dengan mendatangi pemutaran-pemutaran film perdana atau festival film seperti di Cannes, Prancis. Mereka juga mencoba merilis film produksi mereka langsung di ibukota-ibukota film dunia, misalnya bulan Oktober tahun lalu pemutaran perdana film Mission Kashmir dilakukan bersamaan di London, New York dan New Delhi.

Bebas pajak
Ada faktor lain yang membuat pasar luar negeri lebih menggiurkan bagi Bollywood: bebas pajak penghasilan. Mulai bulan Februari 1998, pemerintah India mengeluarkan kebijakan untuk menghapus pajak pendapatan dari ekspor film bioskop dan televisi. Alhasil, kebijakan tersebut mendorong pengusaha film di India makin bergairah untuk menembus pasar luar negeri. Apalagi pemasukan dari luar negeri bisa berlipat kali dibandingkan pemasukan dalam negeri. “Pasalnya tiket bioskop di India hanya berkisar £1-2 (Rp. 15.000,00-Rp. 30.000,00), sementara di London bisa mencapai £ 10. Jadi pemasukan rata-rata per-tiket jauh lebih menguntungkan di luar negeri,” ujar Aditya Shroff.

Selain meraih keuntungan dengan menjual film mereka ke distributor asing, para produser film India juga mempertebal pundi keuntungan mereka dari penjualan DVD, CD musik dan kaset lagu-lagu yang menjadi musik latar (original sound track). Pendapatan dari produk ini diperhitungkan terus meningkat akhir-akhir ini. Tahun lalu saja, India mengekspor film dalam bentuk DVD dan CD senilai Rs 6 milyar, naik sebesar 40 persen dari nilai di tahun sebelumnya. Tahun ini diharapkan angka tersebut akan meningkat menjadi Rs 9 milyar, sebuah peningkatan luar biasa bila dibandingkan dengan pendapatan di tahun 1990-an yang hanya berkisar Rs 500 juta per tahun saja.

Dilirik Hollywood
Pesona Bollywood pun tak lepas dari amatan para biang film di Hollywood. 20th Century Fox, perusahaan film yang 85% sahamnya dikuasai raja media Rupert Murdoch, berencana untuk memproduksi tiga film India yang diarahkan oleh sutradara berbakat Ram Gopal Varma. Ek Hasina Thi, film pertama mereka diperkirakan bakal menghabiskan dana lebih dari Rs 70 juta.

Star TV India, yang juga dimiliki Murdoch, bahkan memiliki rencana yang lebih ambisius, termasuk memproduksi 25 features Bollywood, membangun sebuah studio di India dan membuka saluran film India 24-jam! Columbia Tristar yang memasuki distribusi film India sejak setahun lalu, ada di balik kesuksesan beberapa film produksi Bollywood seperti Monsoon Wedding, Bend It Like Beckham dan 16 December. Hyperion Pictures, sebuah production house yang berkedudukan di Hollywood, telah menanamkan Rs 500 juta untuk memproduksi film keluarga India. Bahkan Disney, perusahaan film yang merajai animasi dunia, seolah tidak ingin ketinggalan dengan rencana mengembangkan sebuah studio animasi di India.

Nah, jika Hollywood pun telah melirik, artinya Bollywood siap menggoyang dunia. Setidaknya seperti optimisme yang diutarakan oleh Suraj Makhija, seorang produser film Bollywood. “Sebagaimana kari India, film Bollywood pun akan tersaji diseluruh pelosok dunia.” Hmmmm.

3 thoughts on “Awas, Bollywood siap menggoyang dunia!”

  1. bener bgt tuh sekarang jauh sangat luar biasa dari beberapa th lalu yang hanya menjual mimpi
    dan serat dg lari2 ditaman bunga……….ga bgt kaleeeeeeeeeeeeeee
    tapi sekarang sangat luar biasa bahkan hollywood z sangat tertarik dg bollywood ………….
    sekali lagi maju terus bollywood……………….

  2. media-dakwah

    *
    *
    *

    [media-dakwah] Fwd: [Himatel-Polban] Mohon Bantuan ,please di BACA…..

    Handry Gantina
    Thu, 03 May 2007 18:46:34 -0700

    Mohon bantuannya…………

    >Content-return: prohibited
    >Date: Wed, 02 May 2007 21:27:16 -0700 (PDT)
    >From: “‘ADI’ (Sofian Hadi)”
    >Subject: [Himatel-Polban] Mohon Bantuan ,please di BACA…..
    >Sender: [EMAIL PROTECTED]
    >To: [EMAIL PROTECTED]
    >Reply-to: [EMAIL PROTECTED]
    >Message-id:
    >Content-type: multipart/alternative;
    > boundary=”Boundary_(ID_z2zXWbadtQ89cLwm84IZ5w)”
    >Comment: DomainKeys? See http://antispam.yahoo.com/domainkeys
    >DomainKey-Signature: a=rsa-sha1; q=dns; c=nofws; s=lima; d=yahoogroups.com;
    >
    >b=J9B1loMIHe8c4TrctV0efqLpBKrAxv/4uwuM+aLa/mXs7ne+hcj2rM3THV5xs5hdeba6mX0oe4P+SHVMV4pObBwGeMUqNh59fVaQs1E7p/DH4KfJCqk9T1iH5pB309ik;
    >List-Unsubscribe:
    >List-Id:
    >Original-recipient: rfc822;[EMAIL PROTECTED]
    >
    >Blog Entry
    >Ibu
    >Sulis, Semoga Ada Yang Bisa Membantumu
    >:(May 2, ’07 9:55 AM
    >for everyone
    >
    >[]
    >Beberapa hari yang lalu, saya ditelepon oleh
    >seorang Bapak, beliau adalah temannya teman saya
    >Beliau mengabarkan bahwa ada seorang Ibu yang
    >saat ini terbaring sakit di RSCM. Beberapa hari
    >kemudian, saya mendapatkan cerita Ibu tersebut
    >via email. Dan berikut ini adalah kisah Ibu Sulis, yang sakit tersebut…:((
    >Ibu Sulis adalah ibu rumah tangga yang memiliki
    >3 orang anak yang masih sekolah yaitu, Putri,
    >Ayu dan Ratih. Beliau bekerja sebagai pedagang
    >kaki lima di wilayah Cawang , UKI. Suaminya
    >bernama Didik Varianto, yang saat ini menderita
    >penyakit stroke yaitu menderita lumpuh tubuh
    >bagian kiri yang disebabkan karena ada gumpalan
    >akibat benturan di bagian kanan otak kecilnya.
    >Pak Didik saat ini tidak dapat berkerja secara
    >maksimal seperti suami pada umumnya, beliau
    >harus minum obat seumur hidup agar penyakitnya tidak makin parah.
    >Kondisi inilah yang kemudian mendorong Ibu Sulis
    >di depan terowongan UKI. Untuk memenuhi
    >kebutuhan keluarga, warung beliau yang menjual
    >minuman kemasan dan makanan kecil tersebut harus
    >buka selama 24 jam. Pak Didik yang sedang sakit
    >pun, ternyata masih bisa membantu untuk jaga warung di malam hari.
    >Pada awal Ramadhan tahun 2005, Ibu Sulis
    >mendapat musibah, kaki beliau menginjak paku
    >payung. Karena Bu Sulis menderita diabetes, kaki
    >beliau menjadi “baal” / mati rasa, sehingga
    >ketika menginjak paku payung tersebut, beliau
    >tidak merasa kesakitan hingga akhirnya kaki
    >beliau bengkak dan bernanah. Dan beliau baru
    >tersadar, ternyata ada sekitar tiga buah paku
    >payung yang bersarang di kakinya. Makin hari,
    >kaki Ibu Sulis makin membegkak dan terus
    >mengeluarkan nanah. Dokter klinik yang dipanggil
    >ke rumah pun sudah menyerah dan menyarankan agar
    >Ibu Sulis dibawa ke Rumah Sakit.
    >Makin hari kondisi Ibu Sulis makin parah, panas
    >badannya mencapai 400C. Sewaktu dibawa ke Rumah
    >Sakit, masalah demi masalah muncul. Satu di
    >antaranya karena Ibu Sulis berasal dari keluarga
    >kurang mampu. Alhamdulillah, dengan menggunakan
    >SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu), ada sedikit
    >keringanan untuk biaya Rumah Sakit. Namun
    >setelah satu bulan kaki beliau tak kunjung
    >membaik, dan dokter pun menyarankan agar kaki
    >Ibu Sulis diamputasi. Dengan berat hati, Ibu
    >Sulis pun akhirnya merelakan kakinya diamputasi
    >hingga mata kaki. Berdasarkan hasil
    >laboratorium, bakteri yang bersarang di kaki Ibu
    >Sulis adalah bakteri resisten yang sulit untuk
    >dihentikan dengan obat-obat biasa.
    >Tiga hari sebelum lebaran akhirnya kaki Ibu
    >Sulis dioperasi, mungkin ini jalan terbaik yang
    >Allah SWT kehendaki, Ibu Sulis harus merayakan
    >Idul Fitri di Rumah Sakit, yang lebih
    >menyedihkan kaki beliau yang satu kini sudah
    >tidak ada. Setelah dirawat sekitar 1,5 bulan
    >kondisi Ibu Sulis membaik, sehingga beliau diizinkan untuk pulang.
    >Setelah kakinya diamputasi, aktivitas Ibu Sulis
    >tidak bisa seperti dulu lagi. Beliau hanya bisa
    >membuat makanan kecil seperti gorengan dan
    >lontong. Setelah satu tahun, Allah kembali
    >memberikan ujian kepada Ibu Sulis yaitu
    >memberikan penyakit bisul di punggungnya yang
    >terus membesar dan bernanah. Alhamdulillah,
    >penyakit bisul itu bisa disembuhkan dengan obat-obatan herbal.
    >Namun ujian yang diberikan Allah SWT ternyata
    >tidak berakhir sampai di situ, beberapa bulan
    >setelah bisulnya sembuh, betis kaki kanan Ibu
    >Sulis kembali terluka akibat panci panas.
    >Lagi-lagi Ibu Sulis tidak merasakan sakit, baru
    >tersadar ketika kakinya melepuh dan terkelupas.
    >Episode berikutnya, terjadi di pertengahan Maret
    >2006, Ibu Sulis mendapat undangan pernikahan
    >sepupunya yang tinggal di Kelapa Gading. Karena
    >sepupunya tersebut sangat baik, Ibu Sulis tidak
    >ingin mengecewakannya. Untuk menghadiri undangan
    >tersebut, sebenarnya Ibu Sulis ingin naik taksi,
    >tapi karena ketiadaan dana, akhirnya beliau
    >dibonceng motor pinjaman oleh anaknya.
    >Dan lagi-lagi kaki Ibu Sulis pun “baal”, beliau
    >tidak sadar kalau yang diinjaknya bukan pedal,
    >melainkan knalpot. Sakit yang diderita Ibu Sulis
    >makin menjadi. Beliau sempat dibawa ke beberapa
    >Rumah Sakit di Jakarta, namun kondisinya belum
    >membaik. Sampai akhirnya beliau dibawa ke RSCM.
    >Setelah 3 hari dirawat di IGD, Ibu Sulis harus
    >menjalani operasi pembersihan luka. Saat ini Ibu
    >Sulis dirawat di kamar IGD lt 2 ruang 2. Setelah
    >dioperasi kaki Ibu Sulis semakin parah, kini jari-jari kakinya membusuk.
    >Akhirnya dokter yang menangani Ibu Sulis
    >mengatakan bahwa operasi pertama yang dilakukan
    >gagal. Waktu operasi dokternya sedikit ceroboh
    >sehingga kumannya menjalar kemana-mana. Akhirnya
    >dokter pun mengatakan bahwa kaki ibu sulis harus
    >diamputasi untuk kedua kalinya hingga batas lutut.
    >Satu lagi, saat ini Ibu Sulis ditagih hutang
    >oleh orang yang memberi pinjaman modal dagang.
    >Padahal beliau sangat membutuhkan dana untuk
    >pengobatan sakitnya. Adakah di antara saudaraku
    >yang ingin meringankan beban Ibu Sulis dan keluarganya ?
    >InsyaAllah kami di Portalinfaq siap menjadi
    >koordinator penggalangan bantuan untuk Ibu
    >Sulis. Bantuan untuk beliau bisa ditransfer ke rekening :
    >- Bank Syariah Mandiri Cab. Warung Buncit No.Rek.0030035790
    >- Bank Mandiri Cab. Kuningan No.Rek.124-0001079798
    >- BCA Cab. Arteri Pondok Indah No. Rek.291-300-5244
    >Setelah transfer, mohon keikhlasannya untuk
    >memberikan konfirmasi ke Kosi, bisa lewat SMS di
    >08128510372, YM : anak_ngw, atau email :
    >[EMAIL PROTECTED]
    > dengan menuliskan : SULIS, Nama Bank, Jumlah Bantuan.
    >Tiada kata yang bisa kami ucapkan selain ucapan
    >terima kasih atas bantuan para donatur. Do’a
    >kami, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan
    >rahmat dan ridhoNya kepada kita semua. Amiin yaa Rabbal’alamiin…
    >Berikut ini adalah data Ibu Sulis :
    >: Sulis Martini
    >TTL : Kediri, 13 Juli 1964
    >Umur : 42 th
    >Alamat : Jl. Let Jend Soetoyo Rt007/Rw07 No 2A
    >Kel. Kebon Pala Kec. Makasar Jakarta Timur 13650
    >
    >Data Keluarga
    >
    >Nama Suami : Didik Varianto
    >Pekerjaan : Pedagang
    >Anak :
    >1. Putri Dian Hapsari : Mahasiswa STAI “TIARA”
    >2. Diah Ayu Anggraini : Pelajar kelas XI Ips “PERSIS69”
    >3. Ratih Retno Palupi : Pelajar kelas XI Ipa “SMAN68”
    >
    >Note : Mohon bantuannya untuk me-link tulisan
    >ini dan menyebarkan ke rekan atau milis yang lain. Terima kasih🙂
    >
    >
    >Ahhh…imagining that irresistible “new car” smell?
    >Check out
    >new
    >
    >cars at Yahoo! Autos.
    >

    [Non-text portions of this message have been removed]

    *
    [media-dakwah] Fwd: [Himatel-Polban] Mohon Bantuan ,please di BACA….. Handry Gantina

    *
    Kirim email ke

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s