A place where time stands still…

Sebuah perjalanan 12 jam. Tapuk mata setengah tertangkup, tapi sempat kutangkap signboard “Yogyakarta 10 Menit Lagi”. Ooo dunia yang mulai kehilangan jarak. Kota-kota kini tak lagi berukur jarak, dan waktukah yang telah menggantikannya? Berapa jauh gerangan 10 menit itu? Sepuluh kilometer? Limabelas? Atau hanya lima kilometer barangkali? Sepuluh menit kemudian aku meloncat turun di peron yang pikuk dengan orang-orang.

Dalam dunia yang serba bersicepat, jarak adalah detik-menit kejadian. Bukan lagi meter-demi-meter rentang ruang. Agaknya, logika yang ditawarkan kehidupan kini adalah kecepatan. Bukan saja dalam mengukur ruang antar ruang, namun juga dalam banyak elemen hidup lainnya: makan-minum, belajar, bekerja, olah raga…bahkan bercinta! Serba sekejap. Serba instan. Fast! Express! Quick…

Aku jadi teringat dua ruang dimana pernah secara berganti-ganti aku tinggali. Yang pertama, baru saja kutinggalkan, adalah kota dimana segala kejadian ditentukan oleh kecepatan. Jalan-jalan lebar melintang naik-turun, persimpangan-persimpangannya dipenuhi pengendara dalam sikap siap balap, produk instan berjajar di rak-rak superstore, restoran siap saji berderet kanan-kiri jalan, lembaga pendidikan dan kursus menawarkan paket singkat. Pendeknya, dia adalah sebuah kota yang semua hiruk pikuknya disimpulkan dalam satu frasa kunci: lebih cepat! Sebuah situasi yang barangkali menuju, mengutip Virilio, ‘a government of nothing but time!’

Ruang yang kedua sebuah pinggiran kota. Ya, persis seperti gambaran kamu, sawah hijau masih membentang, rumah-rumah satu lantai menyisakan halaman lebar, jalan beraspal kasar dan keramaian memusat di satu dua titik. Ruang hidup dimana pada puncak siang masih kusaksikan sepasang ibu anak asik menyisik kutu rambut dan si bapak menghumbalang di atas dipan bambu. Sebuah tempat dimana sang waktu seolah menyempatkan diri berleha.

Setiap kali berada di salah-satunya, aku mengalami kekacauan irama hidup. Aku jadi gelisah untuk bergerak ketika berada di ruang tinggal yang “perlahan”. Sementara ketika mengunjungi kota pusat segala cepat, aku selalu risau mencari ruang untuk jeda. Slow down. Bagiku, hidup di dalamnya adalah kontradiksi-kontradiksi psikologis yang tak pelak juga mempengaruhi tindak biologisku. Ruang kota dan irama kecepatan yang dibentuknya membuatku jadi seorang penuh gegas yang risau akan jeda, dan sebaliknya desa hijau yang serba ‘alon-alon’ menerbitkan hasrat gerak yang berlebih.

William Whyte, seorang urban planner, dalam salah satu risalahnya menyinggung tentang bagaimana ruang mendiktekan persepsi kita mengenai waktu dan kecepatan. Alir pengunjung di sebuah mall misalnya, biasanya diarahkan dengan desain ruang yang nirkala. Waktu dimatikan oleh ruang, sehingga tanpa terasa jam demi jam berlalu bersama keterpesonaan dan kenyamanan kita. Tak heran jika seorang teman sampai menyebut mall sebagai sebuah “oase”. Sebuah penghentian yang nyaman dari keterburu-buruan di luar sana.

Kontradiksi ini mengingatkanku pada iklan properti di sebuah harian. Di kota yang serba cepat itu, sebuah lokasi perumahan di tengah kota menawarkan “a place where time seems stand still”. Hmmm…it sounds a perfect place to live in, doesn’t it? Shall we go there? Hurry..hurry…:)
(Ditulis untuk OutMagz 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s