Archive for the ‘Write’ Category
Shopwiki: A Wiki-ternative to Online Shopping
Have you guys had any experience with online shopping? I myself do have little history with such kind of purchasing. From my experience, and many other as some research revealed, usually, search engines are the first harbor for people doing internet shopping. Open up Google, Yahoo!, or other engines, type the brand you quest for, and voila! A usual mix up search results left you puzzling. Haha.
Relatively in par with Google’s Froogle and Yahoo Shopping for Yahoo, but in a more specific approach, a site is stand out in terms of online shopping assistant. That is Shopwiki. Like the two search engines do, the wiki-based service also crawling for information into the web jungle. But it has single mission: to list (only) stores and products on the sale. This way, Shopwiki diverge its operation with most online shopping sites, which list only stores paid to them.
To search products on sale with Shopwiki is easy. Let’s say you hear your favorite shoe brand launched a new running collection. Your hands are itching to get one, nevertheless need to compare it with competing product from other brands. Instead of hitting search button in Google or Yahoo, you could find the info by simply typing ‘running+shoes’ in the wiki search box. Aside of showing results filtered by price and color range, a list of brands related to the search results accompanied the searched information. This give you, a brand-conscious buyer, a chance to further compare the product brands by brands.
If you want to start with a general choices, better you scroll down the directory list for Shoes, under Accessories category, which actually ended up to the same result if you type-search for ‘shoes’. Sometimes the exactly same keyword also listed in a lower category of a general category. Put as an example, there are shoes under wedding category. Developed in such a way, the category will help you to narrow down your search and find what you’re looking for.
In spite of its simple look, the site provides the visitor with general introduction as an addition to product reviews and tips, too. For me, Shopwiki is a perfect alternative, if not my main site to shop online.
Sulitnya Bertani di Jakarta!
Panas terik yang menyengat Jakarta pada akhir bulan Oktober lalu, seolah tidak dirasakan oleh Zamidi, lelaki berusia 57 tahun yang tinggal di Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat. Tangannya yang sudah berkeriput sebat memapas rumpun-rumpun lebat daun ketela pohon. Setelah mendapatkan beberapa ikat besar, ia kemudian mengambil dua ember kecil bekas kaleng cat untuk menciduk air kali yang hitam pekat karena limbah untuk menyirami “sawahnya” yang terletak di bawah sebuah jembatan penyeberangan busway.
Yang disebut “sawah” oleh Zamidi sebenarnya hanya berupa sepetak tanah kering seluas 4 x 15 meter di bibir aliran Sungai Angke. Sejak tiga bulan lewat ia menanami petaknya dengan ketela pohon dan kacang tanah. Sendirian, Zamidi telah mengolah tanah bantaran sungai itu sejak 7 tahun yang lalu. “Lumayan untuk menyambung hidup,” ujarnya, sembari menambahkan hasil panenannya kali ini telah dipesan oleh seorang pedagang sayur keliling.
Mestinya ia bukanlah satu-satunya petani di bantaran Kali Angke, karena puluhan petak “sawah” lain yang ditanami ketela pohon, ubi rambat, kacang tanah dan jagung dapat dengan mudah ditemui di sepanjang jalan menuju Bandar Udara Soekarno Hatta itu. Menurut data dari Dinas Pertanian Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, pada tahun 2005 sedikitnya 20.000 orang bekerja di bidang pertanian di seluruh propinsi ini. Hasil pertanian utama berupa sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman hias dan padi. Sebagian besar hasil pertanian baru cukup memenuhi kebutuhan pasar di Jakarta saja.
Namun di kota seluas 650 km2 dengan kepadatan penduduk mencapai 11.360 orang /km2 (tahun 2005) ini, kegiatan pertanian seolah tenggelam oleh hiruk pikuk kegiatan industri dan jasa. Coba saja Anda tanyakan pada penduduk Jakarta, pasti sebagian besar kebingungan untuk menunjukkan lokasi-lokasi pertanian di kotanya. Padahal menurut hasil pendataan Dinas Pertanian (2002), di kota ini hampir 17% wilayahnya, atau seluas 11.240 hektar, dipergunakan sebagai lahan pertanian. Dari lahan seluas itu, 2.845 hektar adalah lahan sawah dan 8.395 hektar sisanya tanah darat.
***
Berdasar hasil penelitian Ning Purnomohadi, pakar lingkungan dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta, yang berjudul “Jakarta: Urban Agriculture as an Alternative Strategy to Face the Economic Crisis” (Jakarta: Pertanian Kota sebagai Sebuah Strategi Alternatif untuk Menghadapi Krisis Ekonomi), sektor pertanian di Jakarta berkembang menyusul krisis ekonomi yang mulai menerpa Indonesia sejak paruh akhir tahun 1997. Saat itu ribuan orang kehilangan pekerjaan formal. Di sisi lain, arus urbanisasi dari berbagai daerah ke DKI Jakarta juga tidak serta merta menyusut walaupun lapangan pekerjaan menipis.
Dengan latar kondisi seperti inilah kegiatan pertanian, yang sebelumnya hanya terdapat di kawasan-kawasan pinggiran kota dan bantaran-bantaran sungai saja, muncul menjadi lapangan kerja alternatif bagi masyarakat urban yang tengah kesulitan mencari pekerjaan.
“Saya dulu bekerja jadi buruh bangunan. Anak saya juga. Setelah di PHK karena krismon (krisis moneter-red), saya mulai bertani, anak saya pulang kampung,” kisah Zamidi. Bersama sebelas tetangganya di Rawa Buaya, pada tahun 1999 ia membersihkan petak-petak tanah di bantaran Kali Angke dari semak-semak. “Saya ingat, tanah itu kemudian saya tanami kacang tanah,” kenangnya. Mereka tidak meminta izin pada siapapun ketika memanfaatkan tanah itu.
Selain pengalihan guna lahan seperti bantaran sungai, lahan pertanian di Jakarta juga meluas melalui aksi penjarahan. Segera setelah reformasi pada tahun 1998, kebebasan juga diterjemahkan sebagai keleluasaan rakyat untuk menguasai tanah. Tanah-tanah milik megara dan mantan pejabat negara, termasuk milik keluarga mantan presiden Soeharto dan kroni-kroninya, menjadi sasaran utama penjarah. Ning Purnomohadi mencatat, sekurangnya 300 orang mematok tanah di sekitar lapangan pacuan kuda Pulo Mas, Jakarta Timur, pada pertengahan tahun 1998. Pada saat yang sama, ratusan orang lainnya merambah tanah peternakan milik keluarga Soeharto di pinggiran Jakarta.
Selain melalui penjarahan, lahan pertanian juga diperoleh dengan cara menyewa kepada pemilik lahan. Sutiyoso, gubernur Jakarta yang mulai menjabat tahun 1997, memberikan ijin pemanfaatan lahan-lahan menganggur untuk kegiatan pertanian, dengan syarat meminta ijin dahulu ke pemilik lahan alih-alih melalui penjarahan. Lahan calon jalan tol yang tertunda di wilayah Jakarta Barat misalnya, dipenuhi tanaman bayam dan chaisim. Demikian juga lahan-lahan calon kompleks perkantoran dan perusahaan di kawasan Kuningan (Jakarta Selatan) dan Priok (Jakarta Utara) serta tanah-tanah kosong di seputaran bekas bandara Kemayoran. Tak ketinggalan pula tanah-tanah yang terdapat di sepanjang rel kereta api dan bantaran sungai di pusat kota.
Sebagian besar petani di Jakarta sebagian besar berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Banyak diantara mereka adalah buruh-buruh konstruksi yang yang terpaksa kehilangan pekerjaan karena terpuruknya sektor properti akibat deraan krisis ekonomi. Dengan upah antara Rp 10.000-15.000/hari, mereka terlibat dari proses penanaman, pemeliharaan hingga pemanenan tanaman pertanian.
***
Bagi Marco Kusumawijaya, pakar masalah perkotaan dan perintis gerakan Peta Hijau di Indonesia, selain menjadi solusi masalah ekonomi, pertanian kota memiliki juga memiliki peran untuk memperluas ruang terbuka hijau sekaligus memperindah wajah Jakarta.
“Pertanian kota berperan besar membantu keluarga miskin menambah penghasilan dan makanan segar, serta meningkatkan ketahanan pangan,” terang Marco. Senada dengan Purnomohadi, arsitek yang kini menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta ini menilai muasal pertanian kota di Jakarta adalah permasalahan ekonomi. Pada saat awal perkembangannya, bentuk pertanian semacam ini menjadi jawaban sementara mengatasi pengangguran sekaligus mencukupi kebutuhan produk pertanian murah bagi warga Jakarta. Sayangnya, menurut Marco, pertanian kota tidak kemudian diakomodasi menjadi bagian dari perencanaan dan tata guna lahan perkotaan.
Marco membandingkan dengan Inggris yang telah mengesahkan undang-undang pertanian kota sejak tahun 1925 dan Kanada pada tahun 1924-1947. Saat ini, tambah Marco, sejumlah kota seperti Amsterdam, London, Stockholm, Berlin, Montreal dan New York telah menjadikan pertanian kota dalam perencanaan dan tata guna lahan perkotaan mereka.
Belakangan, luasan lahan pertanian kota di Jakarta mengalami penyusutan drastis. Antara lain karena Pemerintah Kota DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan untuk memperlebar badan-badan sungai di Jakarta untuk mengantisipasi banjir. Alhasil, petak-petak pertanian di bantaran sungai pun ikut tergusur. Misalnya, petak-petak tanah yang ditanami sayuran di sepanjang saluran banjir kanal, dari wilayah Jakarta Timur hingga Jakarta Pusat, digusur untuk perluasan aliran saluran pencegah banjir yang konon juga akan dimanfaatkan untuk jalur angkutan air.
Pulihnya sektor properti dalam lima tahun belakangan ini berpengaruh besar pada menyusutnya luasan lahan pertanian kota. Di kawasan Kuningan misalnya, petak-petak tanah yang sebelumnya dihijaukan dengan sayur-sayuran atau kacang tanah dan jagung, kini dipenuhi tiang pancang dari beton bakal gedung-gedung perkantoran. Demikian juga di sejumlah titik pertanian di kawasan Priok dan Kelapa Gading yang siap berubah menjadi pemukiman mewah.
“Padahal saat membuat Peta Hijau Menteng dua tahun lalu, kami menemukan lebih dari 100 titik pertanian kota di pinggir-pinggir sungai,” ucap Marco.
Zamidi, seperti halnya para petani di Jakarta lainnya, boleh jadi tak sempat berhitung seperti yang dilakukan Purnomohadi dan Marco. Mereka tinggal menghitung hari hingga saat lahan mereka beralih peruntukan. Ah, susahnya jadi petani di Jakarta!
********
Bacaan:
Marco Kusumawijaya|Pertanian Kota
Baca juga:
Apakah Hanya Kraton?
Kraton Yogyakarta terletak di Jeron Beteng, sebuah kawasan di selingkar dalam (bekas) Benteng Baluwarti yang kini secara administratif tercakup dalam Kecamatan Kraton. Sebagai titik awal perkembangan kota Yogyakarta 250 tahun lampau, kawasan Jeron Beteng laksana gudang dari kisah-kisah historis, kultural dan aspek-aspek fisik serta sosial yang membentuk karakter kota Yogyakarta sebagai kota budaya.
Sejalan dengan fungsinya sebagai (bekas) pusat pemerintahan Kasultanan Yogyakarta, wilayah ini mewarisi bermacam-ragam peninggalan kultural yang tak ternilai. Kraton Kasultanan Yogyakarta bak museum hidup dari kehidupan tradisional yang telah berusia ratusan tahun, termasuk diantaranya ritual Sekaten yang kini tengah berlangsung. Dalem-dalem kuno tempat tinggal para bangsawan, bangunan-bangunan tradisional yang dimiliki para abdi dalem, hingga lorong-lorong plengkung benteng masih setia merekam dinamika kota yang mulai gagap diantara modernitas dan tradisionalitasnya.
Keterjagaan kekayaan budaya itulah yang menumbuhkan eksotisme yang kemudian memikat ratusan ribu wisatawan untuk mengunjungi wilayah Jeron Beteng, terutama Kraton dan Tamansari. Tak dapat disangkal, kedua lokasi tersebut memang masih menjadi jujugan utama wisatawan yang berkunjung ke Yogyakarta. Menurut catatan dari Tepas Pariwisata Kraton Yogyakarta, pada tahun 2005 angka kunjungan wisatawan dengan tujuan Kraton Yogyakarta saja mencapai lebih dari 320 ribu pengunjung. Sekitar 30.000 diantaranya wisatawan mancanegara.
Sebenarnya, selain Kraton dan Tamansari, kawasan Jeron Beteng masih menyimpan aneka daya tarik dan potensi wisata yang belum tergarap. Apa lagi? Sebelum pertanyaan ini terjawab, agaknya kita harus menyepakati dahulu terminologi “potensi wisata” yang dipakai di sini.
Apakah potensi wisata masih melulu dimaknai sebagai atraksi wisata yang berupa bangunan fisik, pranata sosial maupun elemen-elemen budaya yang berciri pada tradisi atau budaya saja? Jika ya, maka “potensi wisata” yang ada di Jeron Beteng memang hanya sebatas Kraton, Tamansari, dan beberapa Dalem serta obyek wisata formal lainnya (misalnya Masjid Agung dan museum).
Tetapi jika Anda menjawab “tidak”, maka kita bisa menyodorkan elemen-elemen lain yang berperan dalam dinamisasi kehidupan sosial-budaya kawasan Jeron Beteng. Lepas dari label apakah ia “tradisional”, “eksotis” atau malah “kontemporer”. Sebagai contoh, coba amati sejumlah mural yang tergambar pada beberapa dinding bangunan di kawasan ini. Tengok juga kantung-kantung aktifitas budaya kontemporer seperti Yayasan Seni Cemeti di Patehan dan kelompok fotografi Mess 56, komunitas pembuat film Four Colors di Nagan. Jangan lupakan juga kawasan Rotowijayan dengan kios-kios Dagadu “asli”-nya dan Jalan Wijilan dengan deretan warung gudeg-nya yang tersohor. Mereka pun sebenarnya memiliki “sihir” wisata yang tak kalah memikat.
Semuanya (walaupun tidak memiliki sisi “tradisionalitas” yang seringkali diidentikkan dengan aktifitas wisata di Jeron Beteng) mewakili “potensi wisata” yang tidak banyak diperhatikan di kawasan ini. Meskipun tidak sampai ribuan, lokasi-lokasi ini juga mampu mendatangkan wisatawan, terutama dari kalangan yang memiliki minat khusus. Perannya dalam menduniakan nama dan reputasi kota Jogja sebagai pusat kebudayaan juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Dengan adanya mereka, paling tidak kita bisa mengatakan bahwa potensi wisata Jeron Beteng bukanlah Kraton saja.
Ayo, Ramai-ramai Berguru Pada Alam
“Jadikanlah alam gurumu”, seru William Wordsworth suatu kali. Lewat puisi-puisinya penyair kawakan Inggris yang tenar pada pertengahan tahun 1800-an itu mengingatkan kita agar tak segan berguru pada alam. Pada masa itu, Wordsworth dan generasinya menyaksikan Inggris diharubirukan oleh Revolusi Industri yang mengeksploitasi alam dan sumberdaya manusia secara habis-habisan. Read the rest of this entry »
Gula Jawa Berfilosofi Semut
Dusun Penggung tampak tenteram sore itu. Sesekali bunyi serangga meningkahi tawa sejumlah perempuan paruh baya yang tengah asik membelah kelapa dengan arit di bagian belakang sebuah rumah yang berada di bibir tebing. Di ruang dalam, dua orang perempuan lainnya sibuk mengaduk adonan di atas wajan yang berkepul-kepul. Read the rest of this entry »
Sekolah itu penindasan!
“Bersekolah itu sama artinya menikmati penindasan!”. Ujaran pedas ini bukan diungkap oleh Paulo Freire, filsuf pendidikan asal Brasil yang kondang dengan buku “Pendidikan Bagi Kaum Tertindas” itu. Bukan pula datang dari mulut para pakar kurikulum pendidikan di tanah air, apalagi menteri pendidikan, melainkan dari seorang mantan pengelola serikat tani di Salatiga. Ia, Bahruddin namanya, adalah lulusan sekolah tinggi agama di Semarang. Dan ia merasa pernah menjadi salah seorang korban penindasan. Read the rest of this entry »
Merengkuh Kepercayaan Lewat Siaran
Menurut tengara Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Nusa Tenggara Barat, pada tahun 2005 sekurangnya 10% dari sejumlah 2700 koperasi di propinsi ini dalam status “beku”. Artinya, mereka tidak melakukan aktifitas sama sekali. Sebagian besar diantaranya adalah koperas tani dan koperasi simpan pinjam yang tersisih akibat tekanan persaingan dengan lembaga keuangan lain, semisal bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang memiliki modal lebih besar dan tingkat bunga lebih rendah. Read the rest of this entry »
Ketika Air Mengucur di Kamal Muara
Ketersediaan air bersih menjadi isu kritis di akhir abad ini, bahkan dibeberapa negara telah menjadi pemicu konflik horisontal antar masyarakat. Selain disebabkan oleh merosotnya daya dukung lingkungan dan pencemaran karena aktifitas industri dan masyarakat, masalah akses yang adil terhadap sumberdaya air juga dipengaruhi oleh kebijakan pengelolaannya. Read the rest of this entry »
Berbekal TI, Kebumen Melawat ke Stockholm
Satu lagi prestasi ditorehkan kalangan teknologi informasi (TI) Indonesia di kancah TI dunia. Setelah pencapaian membanggakan dari sejumlah siswa sekolah menengah Indonesia yang memenangkan kompetisi Google Code Jam yang diadakan bulan Maret 2006 lalu, kali ini giliran aktifitas Komunitas TI di Kebumen, Jawa Tengah, yang layak mendapat acungan jempol. Read the rest of this entry »
Tenar Berkat Rakom: Di Lombok, Samsudin Saingi Peterpan
Nasib orang siapa sangka. Pepatah itu nampaknya berlaku benar bagi Samsudin, warga Desa Kuripan, Kecamatan Kediri, Lombok Barat. Lelaki 30 tahun asli Sasak itu saat ini tengah mereguk ketenaran di kawasan Lombok Barat (Lobar) berkat lagunya Ndeq Kembe-kembe (dalam bahasa Indonesia berarti tidak apa-apa, red).
Telah hampir setahun belakangan ini, Ndeq Kembe-kembe, lagu yang dikemas dalam bahasa Sasak itu wara-wiri mengudara di hampir seluruh radio komunitas (rakom) di wilayah Lobar. Lagu yang dicipta dan dibawakan sendiri oleh Samsudin itu tak hanya menarik minat pendengar rakom di wilayah Lobar saja, melainkan juga mampu menggaet banyak pendengar dari wilayah Lombok Tengah dan Timur. Bahkan dari kuantitas, jumlah request untuk lagu Ndeq Kembe-kembe di rakom berhasil mengalahkan kelompok musik tenar asal Bandung, Peterpan. Dalam sehari, sebuah rakom bisa menerima hingga 30 request yang khusus meminta diputarkan lagu Ndeq Kembe-kembe. Alhasil, seperti halnya lagu-lagu Peterpan syair lagu Ndeq Kembe-kembe juga banyak dihapal luar kepala oleh anak-anak kecil. Read the rest of this entry »
Kringgg…Kriingg, Ada Kiriman Uang untuk Sairah…
Lagu-lagu bernuansa tradisional dalam bahasa Sasak—bahasa lokal masyarakat Pulau Lombok–tengah mengalun dari dua speaker kecil yang terpasang di luar bangunan kecil bercat biru di sudut sebuah rumah di Moncok Karya, Pajeruk Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Rimbun dedaunan pohon mangga sedikit menghalangi jendela kaca berukuran besar yang bertuliskan “Radio Komunitas Bragi FM”. Read the rest of this entry »
Andai Kris Dayanti Mampir ke Karangbanjar
Anda tahu Kris Dayanti, penyanyi kondang yang suka tampil berganti-ganti gaya rambut itu? Boleh jadi dia akan kegirangan setengah mati jika berkesempatan mengunjungi Desa Karangbanjar, Purbalingga. Apa pasal? Di desa ini, terdapat ratusan rumah tangga yang menekuni keahlian menyusun helai-helai rambut menjadi aneka produk wig, sanggul atau cemara. Belum lagi belasan pabrik besar, tersebar di sekitar kota Purbalingga, dengan puluhan ribu pekerja yang siap memproduksi jutaan produk wig dan bulu mata sintetis setiap bulannya. Read the rest of this entry »
Hi, I am from Pare. And I speak English…
Bila ada kisah penguasaan Bahasa Inggris bisa mengubah nasib atau karir seseorang, itu biasa. Kalau bahasa Inggris mampu mengubah wajah suatu perkampungan, itu baru di laur kebiasaan. Hal yang belakangan inilah yang terjadi di Kota Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kota kecamatan kecil yang terletak 24 kilometer timur laut dari Kota Kediri ini, selain terkenal dengan komoditas madu lebah dan sawo manila, kini memiliki beberapa desa yang dilekati predikat sebagai kampung Inggris. Bukan, bukan karena banyak bule yang berlalu-lalang di sana, melainkan karena menjamurnya tempat kursus Bahasa Inggris di wilayah ini.
Antara Misi Pemberdayaan dan Strategi Pemasaran
Menyusul beberapa daerah di Propinsi Jawa Tengah, pada bulan September 2005 lalu tiga desa di tiga kecamatan di wilayah Kabupaten Sleman, Propinsi Daerah istimewa Yogyakarta, resmi menyandang predikat sebagai digital village alias desa digital. Tiga desa tersebut yaitu Trumpon, Turi dan Brajan yang berlokasi di Kecamatan Tempel, Kecamatan Turi dan Kecamatan Godean. Read the rest of this entry »
Berawal dari kerekan..
Ibarat papan puzzle, keping-keping sejarah penciptaan lift dipasangkan oleh banyak sosok dan dalam rentang waktu yang panjang, sebelum akhirnya hadir dengan bentuk seperti kita kenal sekarang ini.
Keping penemuan pertama berupa ide mengenai alat angkut vertikal yang muncul sejak abad ke-2900 BC. Saat itu, alat kerekan (hoist) dalam bentuk sederhana dipergunakan untuk mengangkat batu-batu seberat 5 ton dalam pembangunan piramida Cheops di Mesir Kuno. Read the rest of this entry »












