sendaljepit

all about sendal in my jepit :)

Archive for the ‘sorowako’ Category

Ketika Safety Ditelan Raungan Knalpot

with 5 comments

Barangkali mereka hanyalah anak-anak muda yang menganggap kemenangan suara sebagai unjuk eksistensi. Atau ekspresi. Walau, tak tertutup kemungkinan raungan knalpot adalah ungkapan agitasi, agresi atau dominasi. Yang tak saya ketahui, aksi semacam ini entah mereka tujukan pada siapa.

Sejak akhir tahun 2008 lalu, ketika saya mulai bermukim (kembali) di Sorowako, kawasan pertambangan nikel di selangkangan Pulau Sulawesi, adu kencang suara motor agaknya mulai lumrah. Tak puas hanya adu suara knalpot, seringnya pengendara motor adu kebut di jalanan umum yang sempit nan ramai. Tak sekali dua kali terjadi kecelakaan fatal. Saya kurang tahu persis angkanya, yang pasti ratusan kecelakaan lalu lintas, dari kelas lecet-lecet sampai tubuh hancur terjadi setiap tahunnya. Terhitung tinggi prosentasenya, mengingat jumlah penduduk Sorowako dan sekitarnya baru di bilangan 30-an ribu jiwa saja.

Kejadian itu adalah ironi bagi kampung yang berjuluk “kota nikel” ini. Pasalnya, isu keselamatan alias safety sebetulnya bukan barang baru. Malah bisa dikatakan sebagai isu yang hot lagi seksi alias kerap didengungkan sebagai wacana utama. Meski lebih sering dalam konteks kegiatan pertambangan.

Dari yang saya ingat, pada tahun 2007 dan 2008, selain mengadakan pelatihan keselamatan berkendara secara aman (safety driving/riding training) bagi ribuan pekerja tambang, beberapa kali diadakan juga pelatihan untuk masyarakat umum. Pengojek dan kalangan muda menjadi sasaran utama. Bagi karyawan, pelatihan yang disusul ujian praktik ini adalah syarat dasar memerolah surat ijin mengemudi (SIM) perusahaan. Yakni lisensi yang menyatakan ia tahu dan mampu melintasi rupa-rupa jenis medan dan situasi di kawasan tambang. Sedangkan para pengojek dan anak-anak sekolah lebih memburu helm gratis dan diskon 75%!

Pelatihan yang dipandu trainer profesional dari Indonesian Defensive Driving Training (IDDT) ini menekankan perilaku berlalulintas secara defensif atau antisipatif. Pengendara mobil atau motor dibekali teori mengantisipasi celaka berkendara, mencakup pengetahuan akan rambu lalu-lintas, spesifikasi dan kemampuan teknis kendaraan, risiko-risiko berkendara, bahkan cara perawatan kendaraan bermotor. Usai teori, praktik perawatan kendaraan dan mengemudi wajib dijalani.

Yang mengesan bagi saya, waktu mencari SIM perusahaan, adalah sesi commentary driving. Saat berkendara, oleh instruktur kita diminta melisankan situasi jalanan dan tindakan yang kita ambil. Pokoknya disuruh bicara sendiri, bisa bergumam atau lebih baik lagi dengan suara kencang.

Misalnya, ketika kita sedang menyetir mobil melalui kompleks sekolah dasar, idealnya kita mendeskripsikan suasana seperti “limapuluh meter meter lagi sekolah, sepertinyas sedang jam istirahat, banyak anak sekolah menyeberang jalan dan belarian di kanan kiri jalan. Di depan ada polisi tidur cukup tinggi, kurangi kecepatan, turun ke gigi dua, bunyikan klakson untuk berkomunikasi. Di kiri jalan bus sekolah parkir menghalangi separuh jalan, belakang aman, klakson lagi untuk memastikan…dst”.

Prosedur commentary driving dimaksudkan untuk membiasakan kita mengamati situasi, dan bertindak antisipatif pada setiap potensi kecelakaan. Dari sekadar gumaman, kesiagaan akan terlatih. Tapi, kini gumaman keselamatan diri agaknya terancam raib ditelan bunyi knalpot! Wah!

Baca juga:

Written by sendaljepit

3 July, 2009 at 4:53 pm

Kabel-kabel Gegar Budaya?

leave a comment »

P1010016

Menjadi pekerja lepas menyodorkan luang yang terkadang bingung untuk saya isi kegiatan apa. Jika tiba enggan untuk menulis, melukis, membuat sket atau bikin komik online, kerapkali, sembari menjagai toko kelontong milik mertua, saya merebahkan diri di sofa lama yang apek dan keras meski telah ditumpuki dengan kain-kain selimut tebal. Kemudian jari-jariku memainkan tombol remote control televisi.

Pilihan saya antara berita politik, yang semakin hari kian membosankan, di TV One atau Metro, yang berselang-seling dengan update kasus Manohara, Prita, Siti Hajar, dan kecelakaan pesawat AU, atau liputan travelling di Trans 7-TV, maka saya akan berlama-lama menyimak National Geographic Channel, HBO atau (Cine)Max. Barulah ketika kanal-kanal itu mulai kehilangan pesonanya, jemariku kembali menekan pilihan kanal naik-turun, mendapati imaji yang berloncatan dari puluhan kanal stasiun televisi nasional, lokal, dan mancanegara.

Semua siaran itu kami (baca: sebagian besar penduduk Sorowako) peroleh dari jaringan teve kabel lokal yang menyampuradukkan paket-paket Telkomvision dan Indovision. Sejak awal 90-an, jaringan ini dikelola oleh tiga “bandar” yang masing-masing setidaknya memiliki seribu pelanggan. Para pelanggan ini dahulunya mengandalkan parabola untuk mendapatkan siaran teve, karena wilayah Sorowako yang dikepung pegunungan Verbeek termasuk wilayah blank spot siaran televisi.

Biaya sambung televisi kabel pun relatif murah, cukup mengangsurkan Rp.250ribu untuk biaya pemasangan awal dan iuran bulanan berkisar Rp.25-30ribu (tergantung bandar), 42 kanal televisi pun siap dijelajahi. Selain kanal-kanal nasional dan lokal, termasuk Sorowako Channel yang baru menampilkan foto itu-itu saja plus backsound cempreng entah-lagu-apa, terdapat pula 4 kanal olahraga, MTV, Channel Asia, Al Jazeera, V Channel, F-TV, Cartoon Network, TV 5, hingga Z Channel Music dari India, TVTL-nya Timor Leste, plus beberapa saluran berbahasa Arab dan China.

Tetapi, bukan ihwal teve yang akan saya bicarakan. Menurut saya, berlimpahnya saluran televisi boleh jadi menjadi faktor dari gegar budaya tahap kedua yang dialami masyarakat Sorowako. Gegar pertama bermula dari beroperasinya PT Inco pada paruh akhir 1960. Saat itu, segelintir masyarakat lokal bersitumbuk dengan pendatang dari berbagai latar budaya, jenis-jenis pekerjaan yang tak terbayang sebelumnya, juga silang sengketa pertanahan.

Masyarakat lokal yang menjalani profesi-profesi utama sebagai petani/pekebun, pemburu, dan nelayan danau, tiba-tiba dihadapkan, dan sebagian besar tergoda dengan pilihan menjadi pekerja konstruksi, eksplorasi, operator kendaraan berat, mesin-mesin tanur peleburan, hingga pembantu rumah tangga. Tentu ini lompatan sosiologis yang signifikan. Belum lagi berubahnya irama kerja secara drastis dan penghasilan dari tak tentu waktu dan besarnya mendadak menjadi rutin dan jauh, jauh, jauh lebih besar.

Interaksi sosial yang intensif dengan ribuan pekerja pendatang, kala itu konon tak hanya datang dari penjuru nusantara tetapi juga sekurangnya dari 20 negara, yang tinggal berjubel di barak-barak semi permanen, kontainer, atau kolong-kolong rumah panggung, tak pelak menimbulkan benturan nilai dan budaya yang tak kecil dampaknya bagi tatanan kultural pemukim lokal, secara positif maupun negatif.

Percepatan, atau lompatan sosiologis yang lekas dari komunitas agraris menjadi industrial, memunculkan gamang dan gagap. Sebagian besar anak muda Sorowako yang lahir ketika roda industri telah bergulir, tidak meguasai bahasa lokal, enggan pula mewarisi profesi lama yang dipandang marjinal.

Kathryn May Robinson, antropolog dari Australian National University, lewat bukunya yang bertajuk Stepchildren of Progress: The Political Economy of Development in an Indonesian Mining Town, dengan tajam memotret dinamika sosial yang dialami penduduk lokal Sorowako. Dari penelitian yang dilakukannya pada rentang 1978-1982, ia mengurai pergeseran sosial dapat dirabai lewat munculnya kelas-kelas sosial, tata nilai dan kegiatan ekonomi baru yang muncul di kota kecil tepi Danau Matano ini. Hasil telisik Kathryn hampir tiga puluh tahun lalu itu, menurut saya, sebagian besar masih relevan pada konteks saat ini.

Kembali ke televisi, kalaupun terlalu berlebihan untuk dikatakan sebagai penyulut gegar budaya kedua, ia tetap bisa dibilang sebagai pemantap gegar pertama. Paling tidak dari perspektif bahwa siaran-siarannya telah mengukuhkan nilai-nilai baru yang digosokkan sebelumnya. Jadi….ufff! Spiderwick Chronicle main di HBO!! Saya nonton dulu ye! Hehe…

Written by sendaljepit

15 June, 2009 at 8:34 am

The Only Hotspot in Town

leave a comment »

Walau tidak memakai kata-kata promosi persis seperti di atas, tapi layaklah kalau Hotel Lusiana di Jalan Tambora mengklaim diri sebagai satu-satunya tempat yang memiliki fasilitas internet hot spot di Sorowako.

Beberapa kali mencoba Saya sendiri belum pernah mencoba layanan ini, selain karena jarang punya kesempatan berkunjung ke Lusiana,  sambungan internet di kantor bisa diakses kapanpun, bahkan hingga tengah malam. Lagipula iBook G3 saya tidak dilengkapi airport card atau wifi card untuk mengakses wireless internet.

Area hotspot di lokasi ini terpusat di restoran dan halaman tengah hotel. Dari selebaran yang saya comot di bar restoran tadi malam, rate yang dikenakan untuk  akses internet setiap jamnya sebesar Rp 15.000 dan kelipatannya. Jika waktu akses lebih dari satu jam, namun kurang dari satu setengah jam, maka rate dihitung setara satu jam saja. Tetapi jika lebih dari satu setengah jam, misalnya satu jam 45 menit, maka dihitung dua jam.

Selain penghitungan berdasar jam pemakaian, ada juga paket harian, mingguan dan bulanan. Rate untuk paket harian sebesar Rp 75.000, mingguan Rp 150.000 dan bulanan Rp 300.000. Cuman aturan pakai yang detail seperti apa, saya belum memperoleh informasinya.

Dalam selebaran ini juga dicantumkan prosedur untuk mendapatkan koneksi melalui wifi: pertama, tamu melakukan registrasi ke resepsionis, kemudian tamu akan memperoleh nomor IP address. Billing internet akan dihitung berdasar paket internet yang dipilih atau berdasar waktu log in dan log out. Ditambahkan juga pihak hotel menyediakan penyewaan alat wireless untuk user/tamu.

Selain Nah, for a wireless experience di Sorowako, silahkan jajal hotspot di hotel yang berslogan “a nice place in the nickel village” ini.

Written by sendaljepit

8 December, 2006 at 8:22 pm

Posted in sorowako

No for Mac

leave a comment »

Di tempat kerja saya sekarang, sekurangnya 2008 komputer saling terhubung (baku hubung, dalam dialek lokal) dalam jaringan intranet dan masing-masing memiliki akses ke internet. Dari ribuan komputer itu, hampir semuanya PC desktop dan laptop bermerek IBM. Merek lain semisal Dell atau HP nyelip hanya satu dua saja, demikian pula PC jangkrikan alias rakitan. Diantara kerumunan PC itu, saya belum menemu pengguna Apple sebijipun.

Secara “resmi”, departemen IT di PTI memang tidak menyarankan sistem operasi selain “jendela” (ini kata yang kerap dipakai kalangan pengguna Mac untuk menyebut sistem operasi keluaran Micro$oft). No Mac OS. No Linux. Apalagi Unix atau Solaris. Soal kenapa, aku belum pernah menanyakannya ke orang-orang IT. Tapi kayaknya tak jauh-jauh dari masalah “kompatibilitas”,  “uniformitas” sistem operasi atau istilah sejenis yang intinya demi kemudahan operasional. Beralasan, memang.

Bos saya kabarnya pernah menyodorkan proposal untuk pengadaan komputer multimedia bikinan Apple. Ajuannya ditolak dengan alasan di atas, alih-alih ia dijanjikan bakal mendapatkan PC tower dual core dengan RAM sekian giga dan hardisk ratusan giga. Sekian bulan berlalu, hingga sekarang pesanannya belum jua datang.

So, jika Anda pemakai Mac dan suatu saat berkesempatan tinggal dan bekerja di lingkungan PTI, lebih baik tukarkan Mac anda dengan IBM atau PC lain berbasis jendela. Kecuali anda tahan “kesepian” atau (menghibur diri mode on) bertekad untuk “be different” dengan Mac tersayang, seperti saya saat ini :) . Salam.

Written by sendaljepit

29 November, 2006 at 10:17 am

Posted in sorowako

Mantap, aman atau deal

leave a comment »

Pak D menghampiri bilik kerja kami. ia melempar senyum sembari mengulurkan tangan. Sejurus kemudian ia berucap dengan nada tanya yang tegas, “Mantap, mantap?”. Serentak saya dan beberapa teman menjawab dengan kata yang sama, namun dengan nada konfirmatif dan pengucapan yang lebih panjang, “Mantaaap!”

Lain hari, Pak Haji R, dari kejauhan bertukar sapa dengan SB. “Aman, aman, aman?” tanya beliau. “Aman, Bos!” tanggap SB.  Artinya? Kurang lebih segalanya under control, beres dan tak ada masalah. Sedangkan “mantap” secara fleksibel bisa dipertukarkan untuk antara makna dari pertanyaan “kabar baik?”, “semua beres?” atau “adakah masalah?”.

Ada lagi sejumlah kata yang berulangkali melubangi gendang telinga saya, dan menjadi ekspresi sehari-hari rekan-rekan di kantor. Sebutlah sapaan “haji”, atau “fren” yang kerap disandangkan pada setiap sapaan. Sama halnya dengan “boss”, sapaan fren biasa dipertukarkan antarkaryawan yang merasa satu level yang artinya setara dengan “teman” atau “kawan”. Namun pada kesempatan lain, sapaan bos juga kerap dipakai dalam konteks hirarkis, yakni ketika seorang subordinat memanggil atasannya.

Sedangkan “haji”, hanya dipakai untuk menyapa orang-orang yang telah menunaikan rukun Islam ke-5, yaitu ziarah haji di tanah suci Makkah (meski ada juga yang sekadar berhaji di Gunung Bawakaraeng J). Kebetulan di kantor saya banyak karyawan dan tetamu yang telah ber-haji, karenanya tak jarang jika ada yang berteriak memanggil “ji, haji” misalnya, tak hanya satu dua orang saja yang merespons.

Belakangan, seiring populernya acara TV superdeal satu milyar, kata “deal” juga sering muncuk di percakapan. Seperti halnya dalam kuis, kata deal menyiratkan juga dipakai untuk menegaskan hal-hal yang telah disepakati. Jadi, Boss Haji bisakah Fren mempertahankan kondisi agar tetap Aman dan Mantap? Jika ya, deal! Salam.

Written by sendaljepit

24 November, 2006 at 11:16 am

Posted in sorowako

Komunitas “kurang gawean”

leave a comment »

Minggu-minggu ini acara halal bi halal kerap digelar di lingkup PTI, biasanya bertempat di gedung pertemuan Ontaeluwu yang hany terpisah sepenggal jalan dari kantorku. Hari ini Sorowako Woman’s League (SWL) yang punya hajat. Puluhan ibu-ibu yang berdandan apik, termasuk juga sejumlah ibu-ibu berkulit putih dan berambut pirang disasak yang tampak luwes dalam balutan kebaya, berkumpul sejak pukul 9 pagi hingga usai jam makan siang.

Entah apa saja acara yang dilangsungkan di situ, soalnya ST yang kebagian meliput dan jeprat-jepret pakai kamera. Kabarnya, ibu-ibu bule tadi menari dengan kebaya di atas panggung. Wuih, kedengarannya ramai juga :)

Tapi saya tak hendak membahas soal halal bi halal heboh ini, melainkan fenomena menjamurnya berbagai komunitas di Sorowako. Selain SWL, ada pula Sorowako Photographer Society (SPC), Golongan Lupa Umur (GLU), Sorowako Diving Club (SDC), Sorowako Hash, Sorowako Tennis Club (STC), Sorowako Golf Club (SGC), SOBEC (Sorowako Bicycle Club?), Toast Master, Sorowako Volunteers dan beberapa komunitas olah raga serta sosial lain yang pernah selintasan kudengar aktifitasnya namun belum kuketahui namanya.

Secara berkelakar aku pernah berasumsi pengikut kegiatan komunitas ini sebagai kelompok “kurang gawean” alias bingung mau mengerjakan apa. Agak masuk akal juga, karena sejumlah besar karyawan membawa serta keluarganya untuk tinggal di Sorowako, terutama di kawasan Old camp, Salonsa, Pontada dan Camp F. ketika suami/istri bekerja praktis yang ditinggal di rumah minim aktifitas. Padahal banyak diantara mereka, ketika masih tinggal di daerah asal, memiliki banyak aktifitas. Jadi asumsi hadirnya komunitas sebagai wadah penyaluran waktu luang nggak terlalu meleset, kan?

Sebagian besar komunitas didirikan dan dihidupi operasionalisasi dan kegiatannya oleh karyawan-karyawan PTI. Meski begitu tak sedikit warga lokal Sorowako yang juga bergabung dan menangguk manfaat dari komunitas yang dimasukinya. Sebut saja Tito, warga Sorowako yang pernah menjadi karyawan kontrak di PTI, yang menjadi salah seorang pemain golf cemerlang dari SGC.

Tito, yang kerapkali secara berkelakar kami panggil Tito Wood mengikuti nama pegolf tenar Tiger Wood, mengenal golf dari awal sekali. Ia mengaku dulunya hanya sering nongkrong di pinggir lapangan golf PTI, satu-satunya lapangan golf di kota ini, atau sesekali menjadi caddy, sembari mengamati para pegolf mengayun stick. Tak terbayang olehnya suatu saat ia menjadi salah satu diantara mereka. Gerak-gerik, tehnik, bahkan dandanan para pemain golf ini mencap benar dalam benaknya.

Watcher’s luck, barangkali ini idiom yang tepat untuk menggambarkan bagaimana Tito kemudian ditawari untuk mencoba mengayun tongkat golf oleh seorang pegolf. Ia sepenuhnya mengandalkan ingatannya mengenai tehnik memukul bola golf seperti yang selama ini disaksikannya. Berkali-kali mencoba, hanya beberapa kali stick melentingkan bola dengan benar.

Tito mengaku saat itu jadi susah tidur setelah pengalaman pertama mengayun stick, karena malam-malam berikutnya ia mendamba hari segera pagi sehingga ia bisa segera mencekal dan mangayun stick golf lagi. Setelah beberapa lama, ia segera akrab dengan lekuk liku lapangan golf sembilan holes yang dibangun pertengahan 1970-an ini. Setahun kemudian, dalam kejuaraan Japan Day Golf Competition, awal bulan ini, ia menyabet posisi teratas mengungguli pegolf lain yang jauh lebih senior. Ia menyimpan ambisi untuk merebut gelar yang sama pada acara Sorowako Golf Tournament yang ke-29 awal Desember mendatang.

Lain halnya dengan AJ yang bergabung dengan komunitas bahasa Inggris Toast Master. Berkumpul setiap rabu malam di teras Ontaeluwu atau Otuno, komunitas ini memanfaatkan metode toast master yang sudah mendunia untuk mengasah kefasihan berbahasa Inggris sekaligus kemampuan memberikan presentasi. AJ mengaku bahasa Inggrisnya semakin terasah dan ia kini cukup percaya diri mempresentasikan suatu topik dalam bahasa Inggris.

Dua contoh di atas mengilustrasikan bagaimana kebutuhan manusia sebagai hewan sosial mendapatkan penyaluran. Bukan, bukan karena kurang gawean atau tidak ada kerjaan. Malah sebaliknya, justru karena atmosfir pekerjaan begitu kental di Sorowako maka komunitas-komunitas bertumbuhan untuk mencairkannya. Salam.

Written by sendaljepit

21 November, 2006 at 5:23 pm

Posted in sorowako

Ke Himalaya, Hasan, atau Inalahi?

leave a comment »

Pilihlah, Himalaya atau Hasan? Atau  ke Harapan saja? Kalau masih belum bisa memutuskan, masih ada sederet pilihan lain kok. Tinggal tunjuk Hollywood, Anoa, Koro, atau Butoh.  Jangan bingung, nama-nama di atas bukanlah nama gunung, kota atau pun orang, apalagi tarian klasik dari Jepang. Melainkan penamaan untuk bukit-bukit di kawasan penambangan PTI di sekitar Sorowako.

Bukan bukit saja yang dinamai serupa nama orang atau tempat-tempat populer, tetapi juga pond atau kolam serta dam-dam air yang difungsikan sebagai tempat pengendapan jika tejadi erosi di musim hujan. Fungsi utamanya adalah mengendapkan chrome yang banyak terkandung dalam tanah-tanah dan batuan yang ditambang. Pond dan dam-dam tersebut semuanya di beri nama perempuan. Berbeda dengan bukit yang masih ada nama Indonesia, nama-nama pond dan dam adalah nama-nama asing. Nama-nama perempuan lagi, misalnya Fiona, Debbie, …

Sampai saat ini saya belum bertemu orang yang bisa bercerita banyak mengenai asal muasal penamaan itu. Dari salah satu tulisan di terbitan internal PTI edisi lama, bukit Himalaya, mengikuti nama puncak tertinggi di dunia, dinamai demikian karena dari puncak bukit ini seantero kawasan penambangan dan kota Sorowako serta lanskap berlatar danau terlihat semua. Puncak Himalaya, yang sering dipakai sebagai tempat seremoni penanaman pohon lokal oleh tamu-tamu penting PTI, mulai dari para menteri, dirjen hingga tokoh-tokoh nasional.  Pohon-pohon yang ditanam pun diambilkan dari jenis lokal, misalnya pohon dengen, beringin, albasia, dan eukaliptus.

Ada pula lokasi yang namanya mengundang tanya sekaligus tawa, yakni Inalahi. Yang ini bukan nama bukit atau pun pond, melainkan padang rumput dengan tanah tandus yang penuh rekahan. Menurut Pak Kai, seorang teknisi pengecekan sampel air yang hapal dengan liku-liku jalan di kawasan tambang, di bawah tanah tandus itu terdapat lapisan lumpur lunak yang saking dalamnya bisa menyedot siapapun yang terperosok ke dalamnya tanpa ampun. Karena potensi mematikannya, lokasi ini dinamai Inalahi, pengucapan pendek dalam lidah lokal dari ucapan bahasa Arab Innalillahi Wa Inna Illaihi Rajiun yang biasa menyertai berita kematian.

What’s in a name, kata Shakespeare. Tetapi ketika nama Inalahi akan mengingatkan kita untuk waspada dari ancaman yang mematikan, tentunya nama itu bukanlah suatu hal yang main-main. That’s something in a name, mister!

Written by sendaljepit

17 November, 2006 at 6:13 pm

Posted in sorowako

Safety, safety dan safety!

leave a comment »

Safety, safety, safety! Kata-kata itu seolah terus diteriakkan di desa kecil yang dipaksa mengkota oleh derasnya persilangan budaya dan aliran uang. Safety alias keamanan memang menjadi kata ampuh di Sorowako, terutama di kalangan karyawan PTI.  Selama dua hari ini, SB dan sebagian besar karyawan PTI diharuskan mengikuti tes kecakapan mengemudi untuk memperoleh lisensi mengendarai kendaraan di kompleks PTI, semacam SIM perusahaan. Untuk memperolehnya, selain harus lulus tes tadi, si karyawan juga harus memiliki SIM A dari kepolisian dahulu sebelumnya.

Nah, sebetulnya hampir seluruh karyawan PTI telah memiliki SIM perusahaan. Tetapi mereka diwajibkan mengikuit kembali tes keamanan mengemudi karena PTI baru saja merekrut konsultan safety baru, SDT, yang konon berpusat di Australia. Praktis lisensi yang dipakai sebelum ini dan dikeluarkan oleh departemen EHS (Environment, Health, and Safety) tidak lagi berlaku.

Selain tes kecakapan memaju mundurkan mobil, zig-zag, juga kemampuan untuk mengemudi di berbagai medan, termasuk kawasan penambangan dengan medan jalan tanah yang diperkeras dengan gravel (kerakal) dan slag (material yang kandungannya didominasi Fe atau besi, sisa peleburan dalam suhu 1500 derajad C untuk memisahkan nikel dengan material lain), jalanan naik turun dan diselingi belokan tajam. Belum lagi harus berpapas jalan dengan truk 777 atau triple seven yang bannya saja setinggi 2,5 meter.

Karena itu setiap mobil yang memasuki kawasan penambangan wajib dilengkapi dengan buggy whip (bendera berukuran kecil, berwarna merah, berbentuk segitiga dan ditopang selonjor tiang elastis yang berbahan entah apa, setinggi kurang lebih 3 meter). Selain itu, di atas kap mobil harus dipasangkan pula strobo light, lampu berkelap-kelip warna kuning menyerupai lampu sirene polisi yang berbentuk setengah lingkaran. Tujuannya agar keberadaan mobil diketahui oleh pengemudi kendaraan berat.

Selain kemahiran mengemudi, masalah ketaatan pada aturan lalu lintas juga terlihat dominan. Sebagai contoh, pada setiap persimpangan yang berambu segitiga merah terbalik, pengemudi kendaraan bermotor diharuskan untuk berhenti sekitar 3 detik sebelum melaju kembali, meski tidak ada kendaraan lain dari arah yang berbeda.

Tak hanya mengamankan jiwa, urusan safety ini juga mengamankan rejeki. Pasalnya, pelanggaran pada aspek safety bisa diganjar berat oleh perusahaan. Bahkan salah satu resikonya adalah pemecatan. Safety..oh safety…

 

Written by sendaljepit

16 November, 2006 at 11:56 pm

Posted in sorowako

Laundry tukar-tukar

leave a comment »

Kaus kaki saya tertukar setelah masuk laundry, hanya sebelah lagi. Memang sih warna, dan ukurannya hampir sama, tapi jelas stilirnya berbeda. Kepunyaan saya bermotif garit hingga ujung  dan kainnya masih halus. Sementara kaus kaki sebelah kanan ini motif garitnya hanya setengah pergelangan dan benangnya sudah banyak yang mbradhul alias koyak.

Ternyata, memakai kaus kaki beda merek, kualitas dan usia bisa memicu gatal-gatal di kaki. Alhasil, di kantor sepatu sempat saya copot untuk sekedar menggaruk telapak kaki kanan yang gatal nggak ketulungan. Saat jalan pulang ke pondokan, saya hanya memakai kaus kaki sebelah saja, satunya lagi, yang ternyata telah berbau, saya jejalkan ke dalam tas laptop.

Kejadian tak mengenakkan dengan laundry bukan cuma persoalan barang tertukar. Satu minggu lalu, saya juga baru tersadar kalau celana pendek favorit dan sehelai t shirt gombrong warna misty juga lenyap. Saya sempat berpikiran telah meninggalkannya di Jogja-kah?  Tapi saya jelas-jelas ingat pernah memakainya ketika masih tinggal di dormitory. Juga sehelai kaos yang semula berwarna putih saya temukan menjadi kebiruan setelah dipulangkan dari laundry.

AJ bilang memang kejadian seperti itu kerap terjadi, kalau tidak tertukar ya hilang karena terbawa bersama cucian orang lain atau rusak minor. Ya, saya pun sempat memiliki satu t shirt yang nggak jelas pemiliknya sebelum saya kembalikan via pengambil cucian. Entah kembali ke pemiliknya atau enggak, saya kurang tahu.

Tapi, berlangganan laundry di sini memang enak. Selain gratis karena sudah ditanggung perusahaan, selesainya cepat pula. Di ambil pagi sekitar jam 8, pukul 3 sore sudah siap pakai. Sudah disetrika dan, terkadang, cukup wangi baunya. Bayangkan kalau tak ada layanan ini, repot benar mau mencuci di kamar mandi yang lumayan sempit, belum lagi harus beli ember, sabun cuci dan tali jemuran. Sejumlah pengelola laundry di Pontada, yakni para kontraktor yang diharuskan mengikuti tender setiap tahun, agaknya saling adu kualitas agar bisa mendapatkan kontrak terusan di akhir tahun. Tapi, meski cepat, rapi dan wangi, kalau masih saja ada “layanan” tukar-tukar yang memperlihatkan kecerobohan, apa ya masih layak dipertahankan?

Nah, yang ada di pikiran saya sekarang, kalau suatu saat bersua dengan orang yang mengenakan t-shirt atau celana yang saya yakin itu milik saya, apa yang akan saya lakukan ya? Memberi tahu si pemakai bahwa yang dikenakan milik saya? Atau, dengan diam-diam menguntitnya untuk mencari tahu tempat mukimnya, kemudian mencari kesempatan untuk memungutnya dari box laundry yang umumnya pada ditaruh di muka pintu? Hmmmm..ada saran? Salam.

Written by sendaljepit

14 November, 2006 at 7:12 pm

Posted in sorowako

Teluk Bayur dan Aqua muahal!

leave a comment »

Mungkin ini makan siang terenak selama dua minggu lebih sejak kedatangan kami di Sorowako. Kali ini kami, ST, M, SB dan saya, menjejalkan diri di antara antrian berjubel di rumah makan padang Teluk Bayur, persis di pertigaan lapangan Persesos. Deretan mobil dan motor, sebagian besar kendaraan dinas karyawan atau kontraktor PTI, parkir hingga seberang jalan. Hari ini memang hari pertama warung Teluk Bayur melayani pelanggannya setelah lebih dari sebulan tutup ditinggal pulang kampung ke Padang sana. Lokasi Teluk Bayur sekitar 4 kilometer dari kantor.

Secuil paha ayam rebus yang diguyur sambal berminyak baru datang hampir setengah jam setelah kami mendapatkan meja. Gara-garanya, nasi habis dan kami harus menunggu nasi berikutnya tanak. Untunglah di meja tersaji kerupuk, pisang dan segelas es jeruk yang yummi, beda jauh dengan es jeruk yang dihidangkan warung-warung di Jogja yang rasanya alakadarnya itu (kecuali di warung si mak, pogung:). Nasi datang, dengan segera obrolan kami berganti acara kunyah mengunyah. Setelah dua tiga sendok terkunyah, baru tersadar nasi masih belum sepenuhnya matang. But, a hell with that, nasi padang je!

Saatnya membayar: bergiliran kami menyebut apa-apa yang telah kami ganyang. Selain dua porsi nasi berlauk ayam sambal, saya juga menyikat tiga pisang dan dua  plastik kerupuk. Untuk semuanya saya membayar Rp 20.000. Saya menyambar sebuah pisang lagi ketika tahu buah ini, seperti halnya air putih, dihidangkan secara gratis. Wah. Meski  jauh lebih mahal dibanding harga masakan padang di warung sekelasnya di Jogja, yang bisa dinikmati hanya dengan membayar sekitar Rp 8000 untuk porsi yang sama, tapi saya merasa puas sekaligus kekenyangan. Dua minggu lebih makan di yanti, sevariatif apa pun masakannya, lama-lama bosan juga. Kiranya, Teluk Bayur cukup mampu mengobati.

Tapi, malamnya kami “terpaksa” mengunjungi yanti lagi :) . malam itu, sup kepala ikannya terasa keasinan. Lumayanlah masih ada pisang hijau dan jeruk sebagai penutup. Usai santap malam, kami mampir di warung Dengkeng untuk membeli air mineral merk Aqua satu galon sekaligus tempatan plastiknya. Harganya Rp 65.000, tidak terpaut jauh dari harga rata-rata di Jogja yang berkisar antara 40-50 ribu rupiah. Hanya kami terbelalak ketika tahu harga isi ulangnya Rp 30.000. Alamak! itu artinya tiga kali lipat harga isi ulang di Jogja.

Yah, barangkali kami harus sering-sering keluyuran di Teluk Bayur untuk menyeruput air putih gratis!  Salam.

Written by sendaljepit

13 November, 2006 at 2:29 pm

Posted in sorowako

Mencelupkan diri di Matano dan Mata Buntu

leave a comment »

Dari ketinggian Dash 7 Pelita Air Service yang akan mendarat dua minggu lalu, Danau Matano tampak keperakan di bawah cahaya siang.  Satu hari berikutnya, ST dan saya sempat menghabiskan sore di bibirnya yang berbatu dan ombaknya yang hempas. Setelah itu, praktis kami hanya selintas menengoknya dari kejauhan ketika berangkat ke kantor. Ya, antara kantor kami yang berada di ketinggian dengan Danau Matano hanya dipisahkan jarak kurang dari 1 kilometer.

Memang, pada hari Minggu minggu pertama kami berada di Sorowako, ST dan saya sempat melenggang dengan raft di atas Matano, menyusuri tepian danau hingga sekitar 3 kilometer ke arah barat. Kami mendapat kesempatan ini ketika kantor menjamu sejumlah wartawan lokal yang usai meliput kunjungan menakertrans sekaligus meng-entertain Syafii Maarif, mantan ketua umum Muhammadiyah yang menjadi pembicara dalam acara halal bihalal antara perusahaan dan masyarakat pada malam harinya.

Saat itu, di sekitar lokasi yang disebut sebagai goa bawah air, salah satu sumber mata air Matano yang berupa goa kecil di dasar tebing karang dengan separuh mulutnya terbenam air, ketika raft bersandar, kami sempat selama setengah jam mendayung kano di seputar raft. Meski jernihnya air dan dangkalnya dasar danau menggoda untuk direnangi, saya sungkan dengan para tetamu. Apalagi saya tidak membawa handuk dan pakaian ganti, dan saat itu masih mengenakan atasan batik :)

Nah, hari ini, kami berkesempatan menceburkan diri dalam kesejukan Matano. Sehari sebelumya M menawarkan untuk mengantar kami berenang di yacht club, lokasi renang ekslusif dan dermaga raft untuk karyawan PTI di Salonsa. Mungkin ia kasihan melihat kami seringkali membahas kemungkinan berenang di danau tanpa pernah kesampaian. Sayangnya, karena dermaga di pakai untuk acara sebuah departemen, terpaksa kami pindah ke Pantai Ide, satu kilometer lebih ke timur yang ramai dijejali pengunjung.

Dilengkapi dermaga-dermaga (piers) kayu yang menjorok hingga 100 meter ke arah danau, kami memilih tempat berenang di ujung dermaga yang memiliki kedalaman sekitar 2-3 meter. Saat  itu air tengah surut hingga 1 meter lebih rendah dari ketinggian air maksimal akibat musim kemarau. Di lokasi ini air masih relatif jernih, dasar danau masih terlihat, sedangkan 25 meter lebih ke pinggir air keruh sangking banyaknya orang yang berenang di bagian yang kedalamannya hanya berkisar 1,5 meter.

Hanya tahan lima belas menit memandangi orang berenang-renang, ST dengan celana jeans dan t-shirt akhirnya nekat ikut nyebur. Padahal sebelumnya ia ragu untuk ikut nyemplung karena sama sekali tidak bisa berenang. Jernihnya Matano rupanya telah mengalahkan takutnya pada air.

Setelah sekitar sejam lebih direndam air, saya susah payah mengangkat diri dari air dan tergeletak dengan napas ngos-ngosan di atas dermaga. Berbaring miring, saya bisa melihat Desa Nuha sekitar 7 kilometer di seberang danau. Pada peringatan hari kemerdekaan tahun ini, diadakan lomba renang menyeberangi danau dari yacht club ke Nuha. Ya, 7 kilometer ke seberang danau sedalam 594 meter ini! Huah…saya renang tak sampai 50 meter non stop saja sudah KO gini…

***

Full and contend, segar setelah mengguyur badan di shower, kami segera ke kantor karena SB  menunggu di sana. Setelah sempat setting mac mini untuk burn beberapa file pesanan AJ, kami beranjak ke plan site untuk isi bensin dan jemput S, istri SB. Ajakan S untuk mengisi perut dengan bakso di Wawondula kami angguki. Sekitar lima kilometer sebelum danau Towuti yang masih banyak buayanya itu, tepat sebelum gerbang batas desa Wawondula (?), warung bakso kecil yang dijalankan oleh Yono, orang Sukoharjo yang ternyata juga pernah menjadi tetangga SB, menjadi jujugan kami.  Tak seberapa enak, tapi lumayanlah karena warung bakso ini satu-satunya dalam radius 20-an kilometer. Wah, asal punya masakan sedikit enak saja, warung di Sorowako dan sekitarnya pasti cepat terkenal, ujar saya waktu itu. SB dan S mengangguk setuju.

Dalam perjalanan menuju Wasuponda, kami bertukar rumor antardepartemen. S yang menjadi salah seorang auditor di PTI punya banyak cerita soal rencana take over pemilik saham terbesar PTI oleh perusahaan pertambangan asal negeri Samba. Yang mengejutkan, perusahaan ini ternyata hanya CV! Ya, padahal sebagian besar dari ratusan kontraktor yang menjadi vendor outsourcing PTI sudah berbentuk PT dan sisanya CV. Lah, CV dari Brasil ini kok luar biasa bisa membeli perusahaan tambang lain dengan nilai tak kurang dari 190 trilyun?, kami nanya begitu. Dengan kalem S menjawab, “Maklumlah, nama lengkap CV ini adalah CVRD (Companhia Vale Ro Doces ) yang beroperasi di 9 negara, memiliki karyawan 39.000 dan total aset …. trilyun”. Pantaslah, ternyata CV palsu tho? :P

Setelah mengantarkan S ke rumahnya, untuk menghabiskan separuh hari tersisa kami bergerak ke  air terjun Mata Buntu. Sejumlah kalangan di Wasuponda, kota kecil yang menjadi ibukota Kecamatan Nuha, Luwu Timur, sekitar 25 kilometer arah selatan Sorowako, memilih menyebutnya dalam bahasa lokal Meruruno atau suara yang bergemuruh. Sedang Mata Buntu, menurut SB, adalah nama lokal untuk mata air yang berada di sekitar air terjun.

***

Separuh jalan menuju lokasi ini, yang hanya sekitar 6 kilometer dari Wasuponda, masih berupa jalur  tanah yang penuh lubang. Di beberapa tempat terdapat batu mencuat dan jembatan darurat dari kayu. Tampaknya Pemda Luwu Timur masih menempatkan pariwisata sebagai prioritas ke sekian. Asumsi ini semakin menguat ketika mendekati lokasi kami mendapati portal dari batang kayu yang dilintangkan sekadarnya dan pos retribusi berupa bilik kayu sederhana yang ditunggui sejumlah pemuda tanggung dan sorang ibu separuh baya yang tubuhnya berbelit baju dan kain yang kedodoran. Kami dikutip Rp 10.000 untuk biaya parkir di lahan sempit yang hanya cukup untuk tiga mobil saja.

Air terjunnya sendiri cukup indah. Tersusun dalam belasan tingkat (ada yang menyebut 11, ada pula yang yakin 17 tingkat) dengan ketinggian bervariasi, gemuruh air terjun ini terdengar jelas dari jarak 200 meter di bawahnya. Meski tengah surut, pesona air jatuh yang ditingkahi tiang-tiang cahaya matahari yang menerobos dedaunan seolah membetot inginku untuk mencebur. Kalau nggak ingat berjam-jam berendam di Matano pagi harinya, saya mungkin akan nyebur di salah satu kedungnya yang dangkal.  Akhirnya, saya hanya jeprat-jepret saja dengan kamera kantor, Canon EOS 350D. ST juga terlihat sibuk dengan Kodak pocket  3 MP-nya.

Jalan menuju air terjun teratas berupa setapak kecil yang menanjak di gigir tebing, di beberapa tempat diberi potongan dahan pohon sebagai pengaman. Di jalan ini, pengunjung musti menghimpitkan badan ke dinding batu kapur atau berpegangan pada pohon ketika saling berpapasan. Setelah separuh ketinggian dari air terjun yang berurut ini, kami mendapati badan air dan bidang-bidang datar kering yang cukup luas. Di sini terdapat sebuah warung yang ditunggu beberapa pemuda asal Wasuponda, salah satunya mengaku bernama Riger.

Menurut Riger, puluhan orang, terutama pasangan-pasangan remaja dan keluarga, mengunjungi Mata Buntu setiap harinya. Ia dan teman-temanya kemudian berinisiatif  membangun warung berdinding kayu yang menyediakan minuman hangat dan mie instant. Di seberang deretan air terjun, pada ketinggian yang lebih rendah, terdapat satu warung lainnya yang beratap kain terpal.

Mereka, para pemilik warung dan warga sekitar air terjun, berinisiatif menyediakan tangga-tangga dari batang kayu yang ditakik sebagai pengganti tangga untuk naik ke air terjun bagian teratas. Sayangnya, takikan yang cukup dalam juga saya temukan pada batu-batu kapur, berdekatan dengan goresan kasar nama-nama orang yang sengaja ditorehkan dengan semangat “anjing kencing” (anjing atau kucing biasanya menandai teritori dan kehadiran dengan mengencingi tempat atau benda di sekitarnya. Semacam maklumat ” i was here”).

Di sudut ini pula saya menemukan beberapa kaleng minuman ringan, plastik-plastik pembungkus makanan dan seonggok abu sisa sampah yang dibakar. Semakin menyedihkan ketika di hulu air terjun sejumlah potongan batang pohon berukuran besar terhumbalang begitu saja. Sekitar lima puluh meter di atas lereng, terlihat pokok-pokok gundul dan semak yang tersibak. Beberapa batang kayu sudah dalam bentuk potongan-potongan kotak yang tampak dari warnanya telah dibiarkan beberapa lama. Agaknya, kayu-kayu ini sisa pembalakan liar yang sempat marak melanda hutan-hutan lindung di Sulawesi Selatan dan Tengah hingga awal tahun ini.

Lepas dari pembalakan liar dan swa-kelola setengah hati, perjalanan ke Mata Buntu ini sungguh mencerahkan meski juga menyisakan pegal di badan. Alhasil, pada malam harinya kami tidur bleg-set alias ‘ambleg’ (jatuh), terus ‘set’  tak bergerak-gerak lagi hingga pagi. Ah, Matano. Wah, Mata Buntu! Salam.

Written by sendaljepit

11 November, 2006 at 4:28 pm

Posted in sorowako

Pahlawan saya hari ini

leave a comment »

Merah putih dipancang di halaman-halaman rumah dan kantor di Town Site, juga rumah-rumah penduduk di kawasan F Sorowako pagi-pagi jam 06.45 wita ketika M dan saya dalam perjalanan menuju Plan Site. Saya baru sadar hari ini hari pahlawan. Selintasan aku jadi teringat secarik bendera merah putih “obar-abir” alias tercabik-cabik dan lusuh yang kulihat bersama ST di halaman dojo tae kwon do di Pontada. Sudah sempat diganti apa belum ya?

Tiba di Plan Site, seperti biasa penumpang harus turun ketika mobil di cek, dan saya harus berjalan melewati lorong penumpang sebelum menunggu di ujung gerbang. Kami menuju kantor EHS (Environment, Health and Safety) untuk bertemu teknisi yang akan melakukan water sampling pagi ini. Rencananya, kami akan menggarap iklan bergambar mengenai aktifitas water sampling di lingkup PTI untuk ditampilkan di harian Fajar, salah satu koran harian terbesar di Sulawesi Selatan.

Teknisi yang betugas hari ini adalah Pak Kaimuddin, lelaki Sumbawa yang telah bekerja di PTI selama 31 tahun sejak awal tahun 1976. Ia kini berusia 50 tahun, namun wajahnya masih terlihat segar dan gerak-geriknya masih cekatan. Setelah mempersiapkan sejumlah peralatan, kami mengendarai Isuzu D-Max 4 WD menuju stasiun geometerologi yang terletak di perbukitan, sekitar satu kilometer dari Plant Site. Peralatan pemantau cuaca di tempat ini cukup canggih dan lengkap. Menurut Pak Kai, peralatan-peralatan yang masih dijalankan secara manual sudah ada sejak akhir 80-an, sedangkan peralatan digital baru ditambahkan tahun lalu.

Salah satu perangkat yang memikat perhatian saya adalah bola kaca yang dipakai untuk mengukur durasi matahari bersinar dalam sehari.  Dipasangkan pada dudukan besi serupa busur, bola kaca berdiameter sekitar 10 centimeter ini memusatkan sinar matahari menjadi titik api yang membakar kertas dengan ukuran kurang lebih 2 x 15 cm yang diselipkan di bagian bawahnya. Kertas yang bertanda garis-garis bernomor untuk menandai setiap angka waktu ini dipasang sejajar arah gerak matahari. Nah, dari kertas yang terbakar memanjang pada bagian tengahnya itu lama matahari bersinar dalam hari pengambilan sampel bisa diketahui.

Menurut Pak Kai, sembari sibuk membersihkan tabung pada alat penghitung curah hujan, hasil penghitungan stasiun meteorologi PTI selalu dikirimkan ke Badan Metrologi dan Geofisika (BMG) propinsi di Makassar.  Sayangnya, dua anggota (sebutan umum untuk staf di bawah koordinasi si penutur) terhitung kurang rajin merawat dan menyetel peralatan di lokasi ini sehingga selain air di bak bundar pengukuran tingkat penguapan air telah kotor dan berkurang ketinggian airnya, setelan perangkat digital pengukur suhu, kelembaban, ketinggian dan informasi lainnya jarang dicek ketepatannya.  Satu tindakan fatal untuk informasi yang dijadikan referensi.

Selesai dengan stasiun metrologi, jujugan kami berikutnya adalah Lamangka, biasa disingkat LMK, stasiun pengecekan air yang terletak di tengah lebat hutan lindung yang kerap jadi sasaran pembalakan liar alias illegal logging. Menurut Pak Kai, panggilan akrab Kaimuddin, lokasi ini berjarak sekitar 8 kilometer dari Plan Site dan hanya sekitar 2 kilometer dari Danau Mahalona yang masih dipenuhi buaya.

Beberapa waktu lalu, ketika illegal logging masih marak, ia kerap menemui pelakunya tengah menghela potongan-potongan kayu besar dengan bantuan kerbau. Orang-orang ini lari berserabutan setiap kali bertemu dengan mobil Pak Kai, mungkin jeri dikira diuber polisi hutan.  Padahal, aku pak Kai, ia juga tak kalah takut kalau para penebang kayu itu mengalami kecelakaan karena ketika lintang pukang melarikan diri. BIsa-bisa saya yang dituduh menyebabkan kecelakaan dan diserang oleh mereka, ujarnya. Padahal kerapkali para penebang liar ini berbekal senjata tajam aneka rupa.

Untuk mencari aman, Pak Kai kemudian berupaya memanggil mereka dan bilang bahwa ia teman. Ia tidak akan melarang mereka menebang kayu asalkan jika terdapat batang-batang yang jatuh melintang jalan mereka mau menyingkirkannya. Suatu saat, “pertemanan” itu bermanfaat juga ketika roda mobil Pak Kai terperosok lubang, para penebang liar dan sejumlah kerbau membantunya menarik mobil hingga terbebas dari lubang.

Mendekati LMK (dua kilo lagi, katanya), ia menerangkan frekuensi water sampling bervariasi antar tempat. Untuk LC 3, pos pengetesan air di samping kali kecil yang menjadi outlet sejumlah pond di lokasi penambangan dan Process Plant, water sampling dilakukan satu kali sehari. Sedangkan berapa tempat lain seperti LMK, Fiona Dam, dan sejumlah pond dilakukan satu minggu sekali. Air Danau Matano pun tak luput dari pengecekan yang dilakukan tiga bulan sekali.

Sebentar saja kami di LMK, hanya untuk mengambil sampel air dan pemotretan. Lokasi berikutnya LC 3 di dekat Rumah Sakit Sorowako. Lokasi ini paling berdekatan dengan Process Plant yang diasumsikan memiliki potensi cemaran tinggi sehingga paling sering diambil sampel airnya, yakni sehari sekali. Di LC 3, pos pengecekana sudah dilengkapi peralatan penyedot air yang secara otomatis memompa air setiap jam sekali dan memasukkannya ke dalam tabung-tabung kaca yang terdapat di dalam bejana besi. Peralatan ini ditempatkan di sebuah pondok kecil dari kayu dan dikelilingi pagar besi.

Seusai LC 3, kami mampir laboratorium rumah sakit untuk menguji kandungan sampel air yang kami peroleh hari ini. Lab yang tampak luarnya sederhana ini ternyata dipenuhi peralatan digital canggih yang sebagian besar bermerk Hewllet Packard! Di sini kami bersua dengan Ern dan teman-temannya yang antusias ketika Pak Kai mengangsurkan tabung-tabung serupa dinamit atau tabung sonar yang katanya dipergunakan untuk memancing awan saat pembuatan hujan buatan. Mereka memang memesan dari EHS untuk diteliti kandungannya, karena kabarnya tabung-tabung itu didatangkan dari luar negeri entah mana. Mereka makin antusias ketika tahu akan dijadikan obyek pemotretan yang akan digunakan untuk iklan di koran Fajar.

Tak terasa empat jam sudah berlalu ketika kami akhirnya  berpisah dengan Pak Kai di halaman EHS. Sebelum kembali ke Town Site untuk sholat Jum’at, kami sempat mampir di Pasar Magani untuk sarapan (telat) coto Makassar yang menurut M, orang Bugis asli, rasanya biasa-biasa saja. Tapi toh, karena jarangnya warung makan yang menyajikan makanan enak di Sorowako ia terlihat lahap menyantap semangkuk coto dan sebotol teh botol.

Sisa hari saya manfaatkan untuk me-lay out iklan bergambar yang menampilkan Pak Kai dari arah samping bawah, dengan posturnya yang terlihat gagah tengah mengempit peralatan lengkap untuk water sampling. Foto ini diambil ketika pengecekan di LMK. Saya tambahkan juga jajaran tiga foto kecil yang menggambarkan proses pengecekan air termasuk ketika sampel air diperiksa di laboratorium. Iklan kali ini konsepnya clean dengan sedikit teks, termasuk tag line yang berbunyi “21 tahun ia mengujinya. Hasilnya: negatif!”

Meski lupa dengan hari pahlawan kali ini, saya rasa hari yang baru lalu saya lewatkan dengan seorang “pahlawan” juga: AM Kaimuddin namanya. Nah, siapakah pahlawan Anda hari ini? Salam.

Written by sendaljepit

10 November, 2006 at 5:05 pm

Posted in sorowako

IT Help Desk

leave a comment »

Laptop SB mendadak dipenuhi virus ketika ia membuka attachment sebuah email. Pop up dari Antivir mengabarkan 600 sekian virus ditemukan di IBM T41 yang jarang dijinjingnya ke mana-mana alih-alih selalu terbuka dan menancap pada dock di atas mejanya. Ia langsung memutuskan untuk mencangkingnya ke IT yang terletak di Plant Site, sekitar 10 menit bermobil dari kantor kami. Ia mengajak saya serta.

Selain laptop SB, kami juga membawa dua desktop IBM p4 2,66 GHz yang setiap kali booting selalu berakhir pada window blue screen dan pemberitahuan bahwa start up disk nya tidak terdeteksi. Jelas hardisknya yang menjadi biang masalah.

Gedung IT didominasi warna biru, dengan lorong-lorong berpintu pegas dan ruang-ruang kecil di kanan kiri gang. Berbeda dengan kebanyakan kantor lainnya di kompleks PTI, dinding kantor IT terbuat dari semacam batako, bukan kayu atau pun pelat besi.  Semua komputer yang kami bawa berakhir di ruang di mana belasan desktop bertumpuk, ruang IT consultant demikian mereka menyebutnya. Agaknya kami harus sabar mengantri sebelum komputer kami diobati.

IT memang punya peran sentral di PTI, karena ribuan komputer dari berbagai lokasi yang jaraknya terpisah hingga sekitar 10 kilometer harus dikoneksikan satu sama lain. IT pula yang bertanggungjawab pada pengelolaan intranet yang berisi aneka informasi dari berbagai departemen di PTI, mulai dari sekadar undangan kerja bakti hingga pengumuman kenaikan pangkat dan aturan-aturan baru di lingkungan perusahaan.

Tetapi, tidak setiap masalah komputer harus diselesaikan dengan menjinjingnya ke gedung IT seperti yang terpaksa kami lakukan hari ini. Untuk masalah-masalah ringan, seperti kesulitan log in, permasalahan mengupload data ke intranet hingga setting printer misalnya, bisa dilakukan dengan menghubungi extensi 9333 yang lebih dikenal sebagai IT Help Desk. Operator di divisi inilah yang kemudian menyelesaikan masalah komputer secara remote dengan panduan per telepon dari pengguna komputer. IT Help Desk, selamat pagi. Ada yang bisa saya bantu? Salam.

Written by sendaljepit

8 November, 2006 at 8:26 am

Posted in sorowako

Mie ayam and jet!

leave a comment »

Starting the day a little late than usual. Got up on 07.30, taking a bath in seconds and walk for office. We passed a breakfast at yanti’s this morning, yet to have it on 10.00 o’clock after a first media meeting with AF and SB. From the meeting i got the future responsibilities will be a knock down days for all of us if we don’t invite other soldiers joining the war.

Just imagine: two consecutive annual reports, two volumes of in house magazine, weekly and biweekly advertorial at the regional dailies Tribun and Fajar as also the upcoming thrice a month publications at Pedoman Rakyat. Added to them are biweekly Katalis “serious” newsletter and weekly PAS flyer. That’s a lot for 4 people, whom two of them also burdened with other respos, like entertaining company’s vip guests, journalists or managing promotional events.

I have my lunch, together with ST and SB, at a food stall at Sorowako’s bus terminal complex. Mmm..it is not a bus terminal in a common sense as only a handful bus ever stopped here. Instead five or six innovas of toyota’s brand, with yellow police numbers, parked with all windows and doors wide open showing waiting passengers in the cars. The “luxurious” public transportation is common in this area since the late of 1990′s.

At that javanese run Mas Untung food stall, we have mie ayam that taste more like salty soup and paid 24.000 for four bowls! Thats twice as much as the same dish at Jogja :(

During lunch SB revealed that next month we, ST and I, have to pay with our own money for every meal at yanti’s or adhimaya’s. For the first 30 days, our meal is on the expense of media relation cost center, coded as G 2101. Waw, that will be the biggest expense we should cover, as a decent lunch or dinner at both canteens priced at 15.000-20.000 rupiah !  Thankfully, we dont have to pay for the accommodation and, thanks god, the laundry!

Heard from colleagues at office that the new owner of INCO Ltd, the Canadian company which hold the major shares of PTI, will visit Sorowako next week. The executives are rumored to fly on their own jet that longer landing field at Sorowako Airport is needed. That’ s just answered my question. When we passed the airport this afternoon, three excavators seem “doing something” on the landing field.

Well, we will wait for the jet. Hopefully, it arrives with yellow police number! Hehe…salam.

Written by sendaljepit

6 November, 2006 at 10:02 pm

Posted in sorowako

Menaketrans, supir perempuan dan gagap kamera

leave a comment »

Hari ini Menakertrans Erman Suparno berkunjung ke PTI selama dua hari. Oleh bos, AF, kami ditugaskan untuk mendokumentasikan aktifitas menteri selama di PTI dan sekitarnya, termasuk kunjungan ke rumah dinas Bupati Luwu Timur di Malili, sekitar 60 kilometer dari Sorowako, untuk mendengar paparan bupati tentang rencana pengembangan kawasan mandiri di Kabupaten Luwu Timur.

Setelah acara basa-basi dengan manajemen PTI di Taman Antarbangsa, menteri menuju Pusat Pelatihan Industri (PPI), lembaga kursus yang didirikan PTI dan Pemkab Luwu Timur untuk mengakomodasi kebutuhan warga lokal mendapatkan pelatihan praktis berbagai aspek kerja industri. Berlatar pembekalan ini, peserta latih berkesempatan ikut kompetisi perekrutan karyawan PTI dengan daya saing tak kalah dari lulusan perguruan tinggi.

Pertengahan tahun ini, sekurangnya 70 lulusan PPI diterima menjadi karyawan PTI, termasuk 6 perempuan yang lolos menjadi pengemudi triple-7, truk angkut segede gajah yang berkapasitas 90 ton. Saking besarnya, ban-nya saja berdiameter hampir tiga meter! Tapi toh, berkat pelatihan ini mereka tak kalah lincah mengemudi truk bermerk Komatsu ini dibanding sejawatnya yang lelaki. Setelah meneriakkan yel-yel “PPI!” yang disambut tempik-sorak “yes! yes!”dari ratusan peserta latih, menteri kemudian bertolak ke Malili.

Malili, kota kecil tak jauh dari Teluk Bone ini sejak tiga tahun lalu dijadikan ibu kota Kabupaten Luwu Timur yang menjadi hasil pemekaran Kabupaten Luwu Utara di tahun 2003. Bangunan-bangunan pemerintahan yang ada sangat sederhana, terutama jika dibandingkan bangunan-bangunan pemerintah di Jawa misalnya, mencerminkan kemudaan umur Pemda Luwu Timur. Kawasan pemda yang lebih representatif tengah dibangun di Puncak Indah, sekitar satu atau dua kilometer dari lokasi saat ini.

Namun kesederhanaan itu tak melulu dikarenakan kemudaan daerah ini, tetapi juga  orientasi dan kebijakan pembangunan yang berani beda. Andi Hatta Marakarma, Bupati Luwu Timur yang pertama, dalam paparannya pada Menakertrans mengungkapkan bahwa 30% dari APBD wilayahnya dialokasikan untuk pendidikan sehingga semua siswa hingga tingkatan SMU bebas dari biaya SPP.

Hatta juga mengatakan pembangunan fisik daerah Luwu Timur tidak dipusatkan di satu tempat saja, melainkan diupayakan secara merata di semua kecamatan. Tak heran jika pusat pemerintahannya tak terlihat mentereng seperti kebanyakan daerah lain di nusantara. Bupati juga memaparkan rencana kawasan mandiri di Mahalona, yang diproyeksikan menjadi model bagi pembangunan di kota-kota kecamatan lain di wilayah Luwu Timur. Setelah bersantap, kami bertolak pulang ke Pontada.

***

Maghrib telah lewat ketika kami tiba di Pontada. Hanya ada setengah jam untuk mandi dan bersiap, sebelum kami kembali ke TAB untuk mendokumentasikan proses penandatangan Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara PTI dengan Federasi Serikat Pekerja Kimia, Energi dan P (FSP-KEP) di lingkup PTI. Perjanjian tersebut adalah perjanjian yang ke-dua belas yang diperbarui dan ditandatangani setiap dua tahun sekali.  Artinya, sudah 24 tahun usia saling kesepahaman antara manajemen perusahaan dengan FSP KEP yang saat ini mewakili 2.036 karyawan PTI. Menurut Menaker, di indonesia PTI hanya kalah dari ABN Amro (?) yang telah melakukan penandatanganan PKB sebanyak 13 kali (?).

Seperti siang tadi, saya sibuk mengabadikan aneka momen dengan kamera Sony HDV XL 1 yang baru sekali ini kupegang. Ukurannya lumayan ramping dibanding kamera Betacam yang dibawa kameramen TVRI Makassar maupun dua kameraman dari ANTV dan RCTI yang tergabung dalam rombongan 11 wartawan yang menyertai menteri sejak dari Jakarta. Tapi beratnya lumayan juga, sekitar 3-4 kilogram, yang cukup membuat saya keringatan kalau terus menerus mengangkatnya lebih dari 10 menit.

Karena ruangan TAB remang-remang, citra pada layar LCD kamera terlalu gelap. Saya coba pasang lampu pada body kamera. Setelah shooting sana sini, saya jeda sebentar dan duduk satu meja dengan kameraman dari dua tv swasta Jakarta tadi. Mereka memuji kamera yang saya pakai, sembari mengutak-atik beberapa tombol setting.

“Lah, ini filter nggak di matikan saja”, tanya salah satu kameraman. Ia menunjukkan tombol di sisi kiri bawah kamera, sembari menjetikkannya ke bawah. Tuing, layar LCD pun terlihat terang tanpa dinyalakan lampunya. “Wah, pantas pakai lampu segala. Saya pikir untuk mendapat efek tertentu atau gimana kok pakai lampu,” komentarnya yang makin bikin saya tengsin. Sudah terlanjur malu, sekalian saya bilang masih awam dan minta diajarin. Mereka dengan senang hati menjelaskan manfaat beberapa fitur dan teknik pengambilan gambar untuk berita. close up, ditambah beberapa long shot, cukup sudah, ujarnya.

Acara di TAB bubar sekitar pukul 10.00 wita, tapi rupanya kami belum bisa istirahat. Beberapa wartawan koran lokal berniat menumpang mengetik berita di kantor sekaligus mengirimkannya ke redaksi masing-masing melalui email. So, kami harus menunggui mereka di kantor. Kami mengakhiri hari ini jam dua malam dengan tangan dan kaki pegal.  Alhamdulillah tidurku nyenyak karenanya. Salam.

Written by sendaljepit

4 November, 2006 at 10:30 pm

Posted in sorowako

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.