sendaljepit

all about sendal in my jepit :)

Archive for the ‘Others’ Thought’ Category

Shopwiki: A Wiki-ternative to Online Shopping

leave a comment »

Have you guys had any experience with online shopping? I myself do have little history with such kind of purchasing. From my experience, and many other as some research revealed, usually, search engines are the first harbor for people doing internet shopping. Open up Google, Yahoo!, or other engines, type the brand you quest for, and voila! A usual mix up search results left you puzzling. Haha.

Relatively in par with Google’s Froogle and Yahoo Shopping for Yahoo, but in a more specific approach, a site is stand out in terms of online shopping assistant. That is Shopwiki. Like the two search engines do, the wiki-based service also crawling for information into the web jungle. But it has single mission: to list (only) stores and products on the sale. This way, Shopwiki diverge its operation with most online shopping sites, which list only stores paid to them.

To search products on sale with Shopwiki is easy. Let’s say you hear your favorite shoe brand launched a new running collection. Your hands are itching to get one, nevertheless need to compare it with competing product from other brands. Instead of hitting search button in Google or Yahoo, you could find the info by simply typing ‘running+shoes’ in the wiki search box. Aside of showing results filtered by price and color range, a list of brands related to the search results accompanied the searched information. This give you, a brand-conscious buyer, a chance to further compare the product brands by brands.

If you want to start with a general choices, better you scroll down the directory list for Shoes, under Accessories category, which actually ended up to the same result if you type-search for ‘shoes’. Sometimes the exactly same keyword also listed in a lower category of a general category. Put as an example, there are shoes under wedding category. Developed in such a way, the category will help you to narrow down your search and find what you’re looking for.

In spite of its simple look, the site provides the visitor with general introduction as an addition to product reviews and tips, too. For me, Shopwiki is a perfect alternative, if not my main site to shop online.

Written by sendaljepit

1 July, 2009 at 4:40 pm

Posted in Others' Thought, Write

100 untuk Rossi!

with one comment

DSC06917

Adu balap Valentino Rossi dengan Jorge Lorenzo pada ajang MotoGP di Catalunya terulang di sirkuit Assen, Belanda, 27 Juni 2009. Pembalap berjuluk The Doctor ini kembali memaksa Lorenzo, dan Casey Stoner, mengekornya setelah saling kebut pada lap terakhir.

Kemenangannya kali ini mencatatkan Rossi sebagai pembalap kedua yang mencatat 100 kali finish di urutan pertama dalam ajang MotoGP. Pembalap pertama yang berhasil mengantungi 100 kemenangan adalah
Giacomo Agostini, yang juga berasal dari Italia. Agostini mencatat 122 kemenangan sepanjang karirnya.

100 untuk Rossi! Brummmm!

Written by sendaljepit

27 June, 2009 at 9:34 pm

Manusia Pas-pasan

with 8 comments

01

Pathetic sekali judul di atas ya? Saya tak hendak mengatakan pikiran kita mengenai kata pas-pasan seragam, tetapi saya kok yakin anda mengartikan kata itu sebagai suatu kondisi yang serba tanggung, setengah-setengah. Atau kondisi lain yang tak maksimal, tapi bukan juga minimal, tak pucuk namun bukan pula pangkal, bukan top meski bukan juga bongkot. Separuh-separuh, atau nge-pas, ya persisnya pas-pasan tadi.

Kalau dalam konteks penghasilan, pas-pasan barangkali bisa kita ilustrasikan sebagai kondisi keuangan yang mencukupi untuk kebutuhan dasar, tetapi tak tersisa untuk memenuhi tuntutan-tuntutan sekunder, apalagi tersier. Malah kadang untuk tabungan saja tak tersisa (btw, menabung itu sebenarnya termasuk kategori kebutuhan sekunder, tersier, atau malah primer?).

Dalam konteks keahlian atau intelektualitas, penguasaan atas suatu keahlian atau pengetahuan pas-pasan artinya hanyalah cukup untuk berhadapan dengan tuntutan-tuntutan yang biasa-biasa saja. Taruhlah sebagai contoh, saya menyukai fotografi dan desain grafis, menggambar, dan utak-atik komputer. Saya juga lumayan suka membaca, berdiskusi, dan menulis. Tapi ya itu, semuanya hanya sekadar bisa saja. Tak ada yang istimewa.

Bahwa saya pernah bekerja di beberapa media cetak dan menjadi penulis lepas untuk majalah yang lumayan berkelas, dan sekarang kuli kata-kata dan citra sebuah perusahaan besar, itu memang benar. Tapi tulisan-tulisan yang saya buat tak pernah sampai pada tataran inspiratif atau kreatif-idealis (hayah!) Demikian juga dengan kemampuan saya dalam desain grafis yang gitu-gitu saja, meski pernah juga saya mendesain sampul dan menata perwajahan sekitar 12 buku, beberapa poster, dan sejumlah tata letak advertorial yang dirilis oleh tempat kerja saya saat ini. So so.

Demikian halnya dengan fotografi, menggambar, oprek komputer, dan lainnya, juga aktifitas membaca, atau berdiskusi yang hanya mentok sampai tataran kelas kampung atau komunitas kecil saja. Belum pernah lebih.

Beralasan kiranya ketika, sekitar dua tahun yang lalu, aku pernah “menegaskan” pada L bahwa diriku ini manusia pas-pasan. Tapi, jangan sangka kalau penyebabnya adalah munculnya kesadaranku akan kemampuan dan intelektualitas yang segitu-segitu saja, melainkan karena angka. Iya, karena angka!

Sebetulnya, sejak enam bulan sebelum aku mengatakan hal pas-pasan tadi ke L, aku sudah kerap menemui kejadian ini: mendapati angka-angka pada kombinasi yang “pas”, baik pada arloji, kalender, jam meja, jam komputer, jam HP, dan alat-alat penunjuk angka lainnya. kalau hanya sekali dua kali sih mungkin aku nggak kepikiran, tetapi kejadian ini aku alami 7-10 kali dalam sehari, dan hampir setiap hari.

Misalnya, suatu saat ketika saya mengambil HP dari tas karena hendak mengirim sms, saya mendapati jam HP berkedip pada angka 10:01. Atau saat saya menyalakan laptop, begitu log in, jam memperlihatkan angka 05:50, 12:21, 12:34, 17:07 (ini tanggal dan bulan lahir saya). Hari kemarin, saya menerima email dari bos yang dikirim jam 4:44, malamnya menerima sms dari L jam 00:00.

Written by sendaljepit

3 February, 2007 at 1:01 pm

Posted in Others' Thought

Only the Good Die Young?

with 3 comments

Sekali berarti, kemudian mati. Kurang lebih begitu tulis penyair Chairil Anwar. Tapi, dalam dunia yang geraknya semakin absurd tak terpahami kini, apakah tiap-tiap orang akan sempat memberi arti pada dirinya sebelum mati? Tengok saja, kematian di hari ini mungkin datang dalam rupa ledak mesiu yang merajam daging tubuh menjadi serpih-serpih. Atau dalam bentuk sambaran mesin besar di jalan raya yang melumat daging-tulang dalam potongan-potongan kecil tanpa engkau sempat sadar apa yang telah menimpamu.

Dan sialnya, ada kemungkinan engkau hanya akan dikenali dalam angka-angka. Jika jalan kematian demikian yang ditemui, akan masih berartikah nyawa yang tercerabut? Kalau pun kematianmu cukup berarti sehingga sempat membuat sekian ratus kepala bercucur air mata dan menyebut-sebut namamu dalam pembicaraan selama seminggu dua minggu berikutnya, toh tetap saja bagi sebagian besar orang lain maknamu tak lebih dari angka-angka. A mere statistic!

Padahal, statistik adalah kebohongan paling telanjang!—(sayangnya, aku lupa siapa yang mengatakan ini). Namun tidak sedikit orang yang merasa nyaman dengan kebohongan yang tak empatik ini, agaknya. Betapa tidak, hanya dengan angka-angka engkau bisa menggantikan gambaran nyawa-nyawa meregang–ketika kulit terkelupas disembur api, tubuh dibolongi timah runcing, kaki-tangan, kelamin, rambut, usus terburai dihumbalangkan oleh ledak mesiu. Hanya dengan angka-angka!

Harap dicatat, angka 143 korban mati tertimbun sampah di Leuwigajah, Cimahi, yang mungkin tertera pada tabel di papan pengumuman sebuah kantor kecamatan hingga ruang kerja gubernur Jawa Barat misalnya, adalah sama halnya dengan 143 rasa sakit yang menerpa dengan luka-luka, pedih yang sangat, dan, tanya MENGAPA yang barangkali tak pernah terjawab! Bisakah engkau bayangkan dirimu cacat atau malah mati bersama segala penasaran tanpa jawab? Atau, dan ini menjadi semakin absurd, apakah mereka mati untuk menjadi contoh, menjadi preseden, bagi manusia-manusia sejaman atau setelahnya? Ha. Mereka yang alasan penciptaannya sama-sama menjadi khalifah bumi, akhirnya mati hanya untuk jadi contoh bagi yang lainnya!

Punya arti barangkali adalah masalah eksistensial yang kerap kali menggugat-gugat isi kepala banyak orang. Meski pun toh nilainya relatif satu sama lain, orang selalu mencoba mencari ukuran yang bisa dikenakan ke setiap siapa untuk menentukan seberapa berarti kamu di konteks tertentu. Katakanlah dalam lingkup sebuah universitas, seberapa berarti engkau jika dirimu adalah seorang mahasiswa tua yang sudah bertahun-tahun lalu seharusnya telah menyelesaikan studi? Mungkin birokrat fakultas akan banyak mencibir dan para administrator kampus sibuk mencari alasan untuk segera menendangmu keluar dari kampus.

Juga, berartikah bagimu sekian ratus nyawa yang melayang hampir setiap hari di Iraq atau Palestina sana? Mungkin akan lebih menyedihkan bagimu kematian biasa seorang paman dari pihak ibu yang selalu membawakan permen di kala kecilmu, daripada kematian seratus atau dua ratus kanak-kanak atau pemuda di belahan bumi sana karena timah panas dari rezim yang sangat tidak adil.

Benar, kita lantas bicara masalah kehilangan. Tentang sebuah ruang kosong yang tak dikehendaki, yang dimunculkan oleh setiap kematian dari bagian yang intim dengan kita. Jika demikian, apakah keberartian selalu ditentukan oleh keintiman? Jika memang keberartian bergantung pada tingkat keintiman, apakah ketika engkau dalam lingkup yang intim telah dianggap cukup memiliki arti, maka engkau dapatlah mati dengan tenang. Begitukah?

Aku sendiri tidak tahu jawabannya, tetapi jika musti menjawab, maka jawaban yang akan kuberikan adalah: tidak! Toh masalah kapan engkau, atau aku, mati tidak pernah ada sangkut pautnya dengan telah seberapa jauh atau seberapa besar engkau punya arti, kan? Dalam Qur’an dinyatakan, setiap hidup berjodoh dengan maut, tanpa peduli apakah engkau sempat hidup sekian tahun untuk menyatakan eksistensimu atau belum. Buktinya, dari waktu ke waktu tetap angka kematian bayi tetap tinggi (here is another statistic…:), entah karena kekurangan gizi atau dicekik si pelahir yang tak menghendakinya.

Berlatar pemikiran ini, jangan percaya dengan frasa “only the good die young”! Karena boleh jadi orang akan secara nakal memaknainya secara terbalik, “it’s good that you die young!”, yang maknanya “baguslah engkau segera mati karena keberadaanmu tak lagi dikehendaki oleh masyarakat”. Nah, lho!

Written by sendaljepit

6 October, 2006 at 2:44 am

Posted in Others' Thought

Bahas-bahas…bahasa…

leave a comment »

Kapan bahasa tercipta, mungkin tak yang pernah tahu. Kalaupun ada yang dianggap tahu, aku yakin dia pun tidak sepenuhnya tahu, atau tidak sepenuhnya benar ketika mengatakan bahwa bahasa tercipta tahun sekian, atau saat ini, saat itu. Karena aku berpendapat bahwa setiap penciptaan (kata ini pun meragukan, apakah benar manusia itu mencipta?), selalu-lah hasil akumulasi dari sekian banyak “penciptaan” lain sebelumnya. Mobil, contohnya. Adakah dia diciptakan sebagaimana bentuknya yang kita kenal kini? Tidak, dengan T besar! Penciptaan mobil tak lepas dari penemuan roda. Penciptaan karet. Penemuan alat tempa besi. Penemuan prinsip kelistrikan. And million other things!

Aku rasa logika “penciptaan” yang sama juga berlaku pada bahasa. Hal yang amazing dari bahasa (aspek “amazing” ini selalu ada di setip bentuk penciptaan, kukira), dia mampu menjadi konvensi arbitrer alias sewenang-wenang yang merasuk di ruang hidup bangsa-bangsa. Bahkan menjadi identitas. Bahasa mencerminkan bangsa! Jikalau bahasa saudara buruk rupa, maka bangsa Anda pasti tak kalah bobrok…demikiankah?

Dalam perkembangan kontemporernya, tercipta korelasi yang menarik antara bahasa dan kekuasaan. Apabila sebuah rezim telah memilih dan memilah cara berbahasanya, maka dari sana pula kita sebenarnya bisa membacai kehendak yang dimaksudkan. Sebagai contoh, kita simak praktek-prektek eufimis yang memilih penghalusan yang menyesatkan. Yah, barangkali makna kata “tuna wisma” yang kemudian di-antipadan-kan dengan “kere tak berumah” telah membuat nyenyak tidur para penindak amanat rakyat negeri ini atau melicinkan jalan baqi kucuran utang luar negeri.

Kata “diamankan” memang terdengar lebih bersahabat, lebih menentramkan dibandingkan dengan kenyataan yang harus dihadapi oleh orang-orang yang pernah mengalami “pengamanan” para hamba hukum!  Kata-kata baru ini sama sekali tidak mengubah esensi karena “diamankan” toh tetap sama saja dengan dibui! Dipenjara! Dikurung! Disel! Kenyataannya justru para “hamba hukum” ini pada prakteknya sering menjadi penguasa hukum yang luwes membolak-balik pasal-pasal peraturan hukum. Dari sisi ini, bahasa menjadi alat kekuasan untuk menghegemoni pikiran dan mendominasi wacana.

Namun, politik bahasa tidak hanya dimonopoli oleh kalangan penguasa. Jika para penguasa seringkali memaksudkan olah bahasa sebagai bentuk penaklukan atau pemagaran pada kebebasan berpikir, maka bagi kelompok-kelompok marjinal bahasa adalah perangkat dan ekspresi perlawanan pada sistem yang mengatasi dan meminggirkan mereka. Dari beberapa “gerakan perlawanan” yang ada, sebuah contoh menarik datang dari seorang “buta”, dalam arti fisikal, yang pernah kukenal. Dia adalah pengajar yang bergelar master di salah satu institusi pendidikan negeri yang selama puluhan tahun menjadi pabrik guru di Yogyakarta.  Selain aktifitas mengajar, dia juga mendirikan sebuah yayasan yang mewadahi aktifitas memperjuangkan aksesibilitas untuk “orang-orang cacat”.

Harap dicatat baik-baik: dia tidak suka frasa itu. Dia sendiri merasa bukan orang cacat, meskipun kedua matanya kehilangan kemampuan melihat sejak kanak-kanak. Menurutnya dia hanya berbeda kemampuan dengan orang-orang yang memiliki indera pengelihatan tidak terganggu. Then, he coined the word “difable”. Difable sendiri adalah perpaduan dari kata different dan ability.

Ini adalah ekspresi politik kelompok tersisih untuk memperjuangkan eksistensi mereka melalui bahasa. Difable dimaknakan sebagai “berbeda kemampuan” (dari frasa ‘different ability’), berbeda makna dengan “disable” yang disepadankan dengan kata “cacat” dalam Bahasa Indonesia. Cacat merangkum konsep keadaan tidak lengkap atau malah tidak berkemampuan, sehingga penyandang cacat hanya layak untuk dikasihani, dibantu, disendirikan atau dipinggirkan dari kompetisi yang hanya memberi ruang untuk orang “normal”. Orang cacat adalah kalangan yang tidak terhitung dalam banyak kesempatan. Kalangan yang hanya seringkali tersubtraksi ke dalam angka-angka statistik. Dan difable tidak sendirian, bersama mereka adalah para “tuna susila”, tekyan alias “anjal”, para bencong atawa “wadam, waria”.

Demikianlah, bahasa suatu bangsa cenderung menjadi cerminan dari kalangan yang dominan dan kerapkali menyisihkan empati. Benar bahwa dari waktu ke waktu ada “perbaikan” dalam diksi-diksi berbahasa, akan tetapi penerimaan kata-kata baru selalulah didahului oleh perjuangan panjang. Dan, meski telah jauh dari titik penciptaannya, bahasa kini masih terus bergerak diantara tegangan banyak kepentingan. Siap menjadi senjata pembunuh, atau sebaliknya, tameng sebuah perjuangan.
(tulisan lama nih, tahun 2003. terpicu diskusi soal difabel di priyadi.net, tak upload juga akhirnya)

Written by sendaljepit

6 October, 2006 at 2:40 am

Posted in Others' Thought

Ayo, Ramai-ramai Berguru Pada Alam

with 8 comments

“Jadikanlah alam gurumu”, seru William Wordsworth suatu kali. Lewat puisi-puisinya penyair kawakan Inggris yang tenar pada pertengahan tahun 1800-an itu mengingatkan kita agar tak segan berguru pada alam. Pada masa itu, Wordsworth dan generasinya menyaksikan Inggris diharubirukan oleh Revolusi Industri yang mengeksploitasi alam dan sumberdaya manusia secara habis-habisan. Read the rest of this entry »

Written by sendaljepit

3 October, 2006 at 2:37 pm

Posted in Others' Thought, Write

Hari Hak Untuk Tahu Internasional

leave a comment »

hakuntuktahuTanggal 28 September lalu diperingati oleh sejumlah negara sebagai International Right to Know Day atau Hari Hak Untuk Tahu. Peringatan tahun 2006 ini adalah yang ke-empat kalinya menyusul penetapannya pada tanggal 28 September 2002 di Sofia, Bulgaria, pada saat acara workshop keterbukaan informasi yang diikuti sejumlah organisasi yang bergerak dalam bidang media, pembangunan dan HAM dari seluruh dunia. Read the rest of this entry »

Written by sendaljepit

2 October, 2006 at 2:10 am

Posted in Others' Thought

Gula Jawa Berfilosofi Semut

with 17 comments

Dusun Penggung tampak tenteram sore itu. Sesekali bunyi serangga meningkahi tawa sejumlah perempuan paruh baya yang tengah asik membelah kelapa dengan arit di bagian belakang sebuah rumah yang berada di bibir tebing. Di ruang dalam, dua orang perempuan lainnya sibuk mengaduk adonan di atas wajan yang berkepul-kepul. Read the rest of this entry »

Written by sendaljepit

2 October, 2006 at 1:22 am

Posted in Others' Thought, Write

Leopard Nggak Support G3?

leave a comment »

leopardLeopard, versi terbaru system operasi untuk mesin-mesin Macintosh yang bakal dirilis awal tahun 2007, jadi bahan perbincangan ramai di beberapa milis dan forum pengguna Mac. Kopian DVD developer versionnya beredar dari tangan ke tangan mereka yang pengin segera menjajal fitur baru semacam Time Machine atau Spaces. Read the rest of this entry »

Written by sendaljepit

1 September, 2006 at 1:21 pm

Posted in Others' Thought

Sekolah itu penindasan!

with 6 comments

“Bersekolah itu sama artinya menikmati penindasan!”. Ujaran pedas ini bukan diungkap oleh Paulo Freire, filsuf pendidikan asal Brasil yang kondang dengan buku “Pendidikan Bagi Kaum Tertindas” itu. Bukan pula datang dari mulut para pakar kurikulum pendidikan di tanah air, apalagi menteri pendidikan, melainkan dari seorang mantan pengelola serikat tani di Salatiga. Ia, Bahruddin namanya, adalah lulusan sekolah tinggi agama di Semarang. Dan ia merasa pernah menjadi salah seorang korban penindasan. Read the rest of this entry »

Written by sendaljepit

26 August, 2006 at 12:51 pm

Posted in Others' Thought, Write

Ndeq Kembe kembe: Ndak Apa apa

with 2 comments

Ini lirik lagu berbahasa Sasak yang dipopulerkan oleh Samsudin melalui radio-radio komunitas di Nusa Tenggara Barat. Kisah lengkapnya, silahkan tilik di sini.

Araq Dedare Taoq Ku Berangen
Putiq Kuning Polak Bulune
Baruk Ku Bedait Leq Kubur Cine
Iye Jual Tahu Aku Jual Pindang
Iye Wah Bebalu Alu Lalo Midang Read the rest of this entry »

Written by sendaljepit

22 August, 2006 at 11:14 pm

Posted in Others' Thought

Book Cover Designs

with one comment

poster pomosiBeberapa cover buku dan poster terbitan Laksbang yang kudesain. Ada sekitar sepuluh desain lain yang kubuat. Kalo ada yang butuh desain dengan gaya macam ini, boleh deh hubungi aku di sendaljapit@lycos.com rohmanyuliawan@gmail.com :)

Read the rest of this entry »

Written by sendaljepit

21 August, 2006 at 9:12 am

Posted in Others' Thought, Works

Wikipedia, Ensiklopedi Keroyokan 100 Bahasa

leave a comment »

wikipe

“Welcome to Wikipedia, the free encyclopedia anyone can edit!” Demikian kalimat pengantar yang tertulis di halaman pertama situs internet yang beralamat di www.wikipedia.org. Jika dialihbahasakan dalam Bahasa Indonesia, kira-kira berbunyi seperti ini: “Selamat datang di Wikipedia, ensiklopedi gratis yang bisa disunting siapa saja”. Ensiklopedi gratis dan bebas sunting? Ya, benar. Anda pun bisa melakukannya…

Wikipedia adalah sumber aneka informasi berbasis internet yang disajikan dalam bentuk artikel, foto atau ilustrasi dilengkapi dengan link-link antar item informasi yang berkaitan. Pemaparan informasi dikemas dalam bentuk sebuah ensiklopedi, yakni informasinya dipilah berdasarkan kategorisasi. Misalnya anda menginginkan informasi mengenai komik, maka detail-detail informasi mulai dari sejarah komik, nama-nama komikus, jenis-jenis komik sampai paparan mengenai ideologi si komikus akan muncul di layar komputer. Sesuai dengan pernyataan dalam kalimat pengantarnya, informasi-informasi tersebut dapat ditambahi, disunting atau bahkan dihapus sama sekali oleh siapapun, kecuali untuk beberapa bagian yang diproteksi. Read the rest of this entry »

Written by sendaljepit

14 August, 2006 at 1:19 pm

Posted in Others' Thought

Growing Through an Icon

leave a comment »

(Below article has been 4 years old. It recounted a “habitat” where i’ve been there for several years. open mind was it keywords. [aikon!] was how it written)

IBonWEB.com – It started as the only company producing an alternative tabloid with information that was only touched on as supplementary or even trivial news by the mainstream media. Now, even after being joined in the field by a number of competitors, it has survived, having operated for more than seven years. Today, while other publications provide similar information to that of Aikon, this tabloid continues to exist, and is still distributed free-of-charge. Read the rest of this entry »

Written by sendaljepit

13 August, 2006 at 12:23 am

Posted in Others' Thought

childhood revisited

with one comment

tak semua orang punya kesempatan, atau keberanian, untuk mengunjungi lagi masa kanak-kanaknya. demikian juga aku. tapi kali ini masalahnya bukan kesempatan atau keberanian, tetapi masalah cara. Ya, gimana caranya mengunjungi kembali masa kanak-kanakku? Apakah dengan menyusuri kembali jalan-jalan setapak yang kulalui semasa sekolah dasar dulu? ataukah dengan mengunjungi sosok-sosok yang kukenal di masa kanak-kanakku dulu; teman masa kanak-kanak, para guru sekolah, guru mengaji atau tetangga-tetangga yang pernah mengisi kepalaku dengan kisah-kisah sekitar? Read the rest of this entry »

Written by sendaljepit

12 August, 2006 at 1:20 am

Posted in Others' Thought

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.