sendaljepit

all about sendal in my jepit :)

Archive for the ‘Environment’ Category

Matano Lake Festival 2009, Celebrating the Unite of Diversity

with 3 comments

A group of enthusiastic youth of  Sorowako, a small nickel-mining town in South Sulawesi, clubbed themselves in Pongkia Art Production, is going to hold the first Matano Lake Festival (Festival Danau Matano) 2009. In collaboration with several other youth organizers, the two days event will present local-traditional dances, folk songs, dishes, traditions, as also competitions.

Themed as Tuwu Mate Memoroko, in local tongue literally means “unite whether in live or death”, the festival fostering the idea that in spite of any disagreements, the people should keep holding hands to strive for collective aspirations.

Arranged at the popular public Ide Beach, on 6-7 June, the festival will exhibit musik bambu (group performance with bamboo wind-instruments), Nohu Bangka (women chanting while pounding on wooden boat-shaped container), Monsado dance (a welcoming dance).

Also a numbers of competitions based on tradition, such as Meulele (free dive into the lake), Katinting Race (traditional long-shaped-boat race), Meopudi (group of women compete to catch opudi or telmatherinidae fishes with net dan palm leaves), Moladu (traditional style fishing), Butini brew preparation (butini or Glossogobius matanensis is catfish-like endemic fish), and mini boat race.

The festival landscape itself is a natural wonder. Circled with rocky and material rich Verbeek mountains, Matano Lake’s is a four-million-old tectonically-trenched lake in the heart of Celebes. With an approximately 594 meters deep, it claims the 8th position as the deepest lakes in the world and is categorized as cryptodepression, the lake base is deeper than sea water level (source: National Geographic Indonesia, Nov 2008).

Some studies further reveal the 16,408 hectares natural reservoir is home to endemic fishes, crabs, mollusks, and plants. The lake is a part of the Malili Lakes System, the complex comprising of five lakes, namely Mahalona (a million years old and 60 meters deep), Towuti (a million years, 200 meters), Masapi, Lantoa, and Matano (source: Inkomunikasi magazine, 27th edition 2008).

Matano inherited its name from the old native settlement of Matano, on the west side of the lake, where one of the lake’s main springs located. Beside Matano and Sorowako people, the natives dwell in the lake surrounding, like in Nuha, Tapulemo, and Soluro, are Padoe, Karunsie, and Tambee tribes. In the present day, Sorowako is flocked with people from diverse cultural backgrounds from across Indonesia, who pursue dough from nickel mining.

To get further details on the event, please confirm to below contacts.

Secretariat : Jl. Pongkia No.75, Sorowako, Sulawesi Selatan, 92984
Phone : +6281241751590 (F. Magani), +62811424359 (Puput)
Email : festivaldanaumatano@gmail.com
Facebook : festivaldanaumatano sorowako
Website : www.festivaldanaumatano.110mb.com

Written by sendaljepit

30 May, 2009 at 10:45 am

Sulitnya Bertani di Jakarta!

with 3 comments

Panas terik yang menyengat Jakarta pada akhir bulan Oktober lalu, seolah tidak dirasakan oleh Zamidi, lelaki berusia 57 tahun yang tinggal di Rawa Buaya, Cengkareng, Jakarta Barat. Tangannya yang sudah berkeriput sebat memapas rumpun-rumpun lebat daun ketela pohon. Setelah mendapatkan beberapa ikat besar, ia kemudian mengambil dua ember kecil bekas kaleng cat untuk menciduk air kali yang hitam pekat karena limbah untuk menyirami “sawahnya” yang terletak di bawah sebuah jembatan penyeberangan busway.

Yang disebut “sawah” oleh Zamidi sebenarnya hanya berupa sepetak tanah kering seluas 4 x 15 meter di bibir aliran Sungai Angke. Sejak tiga bulan lewat ia menanami petaknya dengan ketela pohon dan kacang tanah. Sendirian, Zamidi telah mengolah tanah bantaran sungai itu sejak 7 tahun yang lalu. “Lumayan untuk menyambung hidup,” ujarnya, sembari menambahkan hasil panenannya kali ini telah dipesan oleh seorang pedagang sayur keliling.

Mestinya ia bukanlah satu-satunya petani di bantaran Kali Angke, karena puluhan petak “sawah” lain yang ditanami ketela pohon, ubi rambat, kacang tanah dan jagung dapat dengan mudah ditemui di sepanjang jalan menuju Bandar Udara Soekarno Hatta itu. Menurut data dari Dinas Pertanian Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, pada tahun 2005 sedikitnya 20.000 orang bekerja di bidang pertanian di seluruh propinsi ini. Hasil pertanian utama berupa sayur-sayuran, buah-buahan, tanaman hias dan padi. Sebagian besar hasil pertanian baru cukup memenuhi kebutuhan pasar di Jakarta saja.

Namun di kota seluas 650 km2 dengan kepadatan penduduk mencapai 11.360 orang /km2 (tahun 2005) ini, kegiatan pertanian seolah tenggelam oleh hiruk pikuk kegiatan industri dan jasa. Coba saja Anda tanyakan pada penduduk Jakarta, pasti sebagian besar kebingungan untuk menunjukkan lokasi-lokasi pertanian di kotanya. Padahal menurut hasil pendataan Dinas Pertanian (2002), di kota ini hampir 17% wilayahnya, atau seluas 11.240 hektar, dipergunakan sebagai lahan pertanian. Dari lahan seluas itu, 2.845 hektar adalah lahan sawah dan 8.395 hektar sisanya tanah darat.

***
Berdasar hasil penelitian Ning Purnomohadi, pakar lingkungan dari Universitas Indonesia (UI) Jakarta, yang berjudul “Jakarta: Urban Agriculture as an Alternative Strategy to Face the Economic Crisis” (Jakarta: Pertanian Kota sebagai Sebuah Strategi Alternatif untuk Menghadapi Krisis Ekonomi), sektor pertanian di Jakarta berkembang menyusul krisis ekonomi yang mulai menerpa Indonesia sejak paruh akhir tahun 1997. Saat itu ribuan orang kehilangan pekerjaan formal. Di sisi lain, arus urbanisasi dari berbagai daerah ke DKI Jakarta juga tidak serta merta menyusut walaupun lapangan pekerjaan menipis.

Dengan latar kondisi seperti inilah kegiatan pertanian, yang sebelumnya hanya terdapat di kawasan-kawasan pinggiran kota dan bantaran-bantaran sungai saja, muncul menjadi lapangan kerja alternatif bagi masyarakat urban yang tengah kesulitan mencari pekerjaan.

“Saya dulu bekerja jadi buruh bangunan. Anak saya juga. Setelah di PHK karena krismon (krisis moneter-red), saya mulai bertani, anak saya pulang kampung,” kisah Zamidi. Bersama sebelas tetangganya di Rawa Buaya, pada tahun 1999 ia membersihkan petak-petak tanah di bantaran Kali Angke dari semak-semak. “Saya ingat, tanah itu kemudian saya tanami kacang tanah,” kenangnya. Mereka tidak meminta izin pada siapapun ketika memanfaatkan tanah itu.

Selain pengalihan guna lahan seperti bantaran sungai, lahan pertanian di Jakarta juga meluas melalui aksi penjarahan. Segera setelah reformasi pada tahun 1998, kebebasan juga diterjemahkan sebagai keleluasaan rakyat untuk menguasai tanah. Tanah-tanah milik megara dan mantan pejabat negara, termasuk milik keluarga mantan presiden Soeharto dan kroni-kroninya, menjadi sasaran utama penjarah. Ning Purnomohadi mencatat, sekurangnya 300 orang mematok tanah di sekitar lapangan pacuan kuda Pulo Mas, Jakarta Timur, pada pertengahan tahun 1998. Pada saat yang sama, ratusan orang lainnya merambah tanah peternakan milik keluarga Soeharto di pinggiran Jakarta.

Selain melalui penjarahan, lahan pertanian juga diperoleh dengan cara menyewa kepada pemilik lahan. Sutiyoso, gubernur Jakarta yang mulai menjabat tahun 1997, memberikan ijin pemanfaatan lahan-lahan menganggur untuk kegiatan pertanian, dengan syarat meminta ijin dahulu ke pemilik lahan alih-alih melalui penjarahan. Lahan calon jalan tol yang tertunda di wilayah Jakarta Barat misalnya, dipenuhi tanaman bayam dan chaisim. Demikian juga lahan-lahan calon kompleks perkantoran dan perusahaan di kawasan Kuningan (Jakarta Selatan) dan Priok (Jakarta Utara) serta tanah-tanah kosong di seputaran bekas bandara Kemayoran. Tak ketinggalan pula tanah-tanah yang terdapat di sepanjang rel kereta api dan bantaran sungai di pusat kota.

Sebagian besar petani di Jakarta sebagian besar berasal dari Jawa Barat dan Jawa Tengah. Banyak diantara mereka adalah buruh-buruh konstruksi yang yang terpaksa kehilangan pekerjaan karena terpuruknya sektor properti akibat deraan krisis ekonomi. Dengan upah antara Rp 10.000-15.000/hari, mereka terlibat dari proses penanaman, pemeliharaan hingga pemanenan tanaman pertanian.

***
Bagi Marco Kusumawijaya, pakar masalah perkotaan dan perintis gerakan Peta Hijau di Indonesia, selain menjadi solusi masalah ekonomi, pertanian kota memiliki juga memiliki peran untuk memperluas ruang terbuka hijau sekaligus memperindah wajah Jakarta.

“Pertanian kota berperan besar membantu keluarga miskin menambah penghasilan dan makanan segar, serta meningkatkan ketahanan pangan,” terang Marco. Senada dengan Purnomohadi, arsitek yang kini menjadi ketua Dewan Kesenian Jakarta ini menilai muasal pertanian kota di Jakarta adalah permasalahan ekonomi. Pada saat awal perkembangannya, bentuk pertanian semacam ini menjadi jawaban sementara mengatasi pengangguran sekaligus mencukupi kebutuhan produk pertanian murah bagi warga Jakarta. Sayangnya, menurut Marco, pertanian kota tidak kemudian diakomodasi menjadi bagian dari perencanaan dan tata guna lahan perkotaan.

Marco membandingkan dengan Inggris yang telah mengesahkan undang-undang pertanian kota sejak tahun 1925 dan Kanada pada tahun 1924-1947. Saat ini, tambah Marco, sejumlah kota seperti Amsterdam, London, Stockholm, Berlin, Montreal dan New York telah menjadikan pertanian kota dalam perencanaan dan tata guna lahan perkotaan mereka.

Belakangan, luasan lahan pertanian kota di Jakarta mengalami penyusutan drastis. Antara lain karena Pemerintah Kota DKI Jakarta mengeluarkan kebijakan untuk memperlebar badan-badan sungai di Jakarta untuk mengantisipasi banjir. Alhasil, petak-petak pertanian di bantaran sungai pun ikut tergusur. Misalnya, petak-petak tanah yang ditanami sayuran di sepanjang saluran banjir kanal, dari wilayah Jakarta Timur hingga Jakarta Pusat, digusur untuk perluasan aliran saluran pencegah banjir yang konon juga akan dimanfaatkan untuk jalur angkutan air.

Pulihnya sektor properti dalam lima tahun belakangan ini berpengaruh besar pada menyusutnya luasan lahan pertanian kota. Di kawasan Kuningan misalnya, petak-petak tanah yang sebelumnya dihijaukan dengan sayur-sayuran atau kacang tanah dan jagung, kini dipenuhi tiang pancang dari beton bakal gedung-gedung perkantoran. Demikian juga di sejumlah titik pertanian di kawasan Priok dan Kelapa Gading yang siap berubah menjadi pemukiman mewah.

“Padahal saat membuat Peta Hijau Menteng dua tahun lalu, kami menemukan lebih dari 100 titik pertanian kota di pinggir-pinggir sungai,” ucap Marco.

Zamidi, seperti halnya para petani di Jakarta lainnya, boleh jadi tak sempat berhitung seperti yang dilakukan Purnomohadi dan Marco. Mereka tinggal menghitung hari hingga saat lahan mereka beralih peruntukan. Ah, susahnya jadi petani di Jakarta!

********

Bacaan:

Penelitian Ning Purnomohadi

Marco Kusumawijaya|Pertanian Kota

Baca juga:

Written by sendaljepit

15 February, 2007 at 5:06 pm

Slow down, you move too fast…

leave a comment »

aat mendengar orang bergosip!”. Demikian jawaban seorang kolega ketika saya tanya kesenangan terbesarnya saat bersepeda. Ia selalu datang berlulur peluh di kantor setelah satu jam penuh mengayuh pedal. Jawabannya di atas pasti membuat siapapun berkerut kening. Jamaknya, jawaban pertanyaan kenikmatan dalam bersepeda tak jauh dari alasan karena lebih mengirit ongkos transportasi, membuat badan sehat, atau jawaban semi-idealis semacam “agar punya kontribusi pada pelestarian lingkungan”.

Ternyata, gara-gara bersepeda teman saya itu kerap berkesempatan mencuri dengar obrolan serombongan pengayuh sepeda, yang beriringan dari arah Bantul menuju kota Yogyakarta. Sambil bersepeda mereka bertukar cerita tentang kondisi rumah tangga, pekerjaan atau berkeluh kesah tentang hidup yang kian susah dan rejeki yang semakin seret dihantam kenaikan BBM plus gempa. Inilah hiburan utama teman saya saat harus mengayuh pedal 16 kilometer pulang balik setiap harinya.

“Slow down, you move too fast…”. Pada kesempatan lain frasa ini membawa ingatan saya pada ujaran seorang teman lain yang tinggal dan bekerja di Jakarta, kota yang menjadi pusat segala sibuk dan gegas. Ya, saya ingat dia pernah mengajak saya untuk beberapa jenak duduk berbincang sembari minum kopi di puncak siang, justru ketika deadline pekerjaan tengah memburu.

Dalam perbincangan, sang teman yang seingat saya tidak pernah bersepeda ini berkisah tentang tradisi siesta (tidur ayam) di Portugal, Spanyol dan negara-negara berlatar kebudayaan Latin. Saat hari melewati setengah perjalanan, setelah makan siang, sebagian besar penduduk usia dewasa meluangkan seperempat sampai setengah jam waktu istirahat makan siang untuk relaksasi. Tak sedikit yang menyempatkan diri untuk tidur. Setelahnya, mereka akan kembali melanjutkan aktifitas dengan tubuh dan pikiran yang lebih segar.

siesta

Kini, saya seolah menemu benang merah dari dua frasa di atas, tentang gosip dan slow down, dengan aktifitas bersepeda. Aktifitas bersepeda, sembari misalnya mengisi kayuhan demi kayuhan dengan gosip, punya hasil ikutan tubuh dan pikiran yang sehat segar seperti halnya yang dicapai dengan siesta. Sedangkan siesta dalam bingkai kesadaran untuk ‘slow down’ telah memunculkan kesempatan rehat dan mengevaluasi pencapaian dalam hari itu sebelum kembali beraktifitas dengan gegas baru.

Di jaman orang keranjingan dengan segala yang berbau kecepatan ini, ajakan untuk slow down boleh jadi menemukan penerjemahan idealnya lewat kegiatan bersepeda. Kenapa? Saat bersepeda, Anda tidak bisa terlalu cepat berkendara dengan sepeda tanpa resiko menubruk atau ditubruk orang, karenanya lebih aman berkendara dengan pelan. Dus, justru karena pilihan untuk pelan inilah maka bersepeda jadi bernilai lebih. Anda lebih punya banyak kesempatan untuk mencerap kejadian, suasana dan pengalaman ruang yang berbeda. Dengan bersepeda akan tersadari banyak hal yang tak pernah terlihat, apalagi terpikirkan, saat berkendara dengan sepeda motor atau mobil.

Bagi saya, setelah mencobanya untuk sekian bulan, bersepeda seolah telah memberi “mata baru” untuk memandang, mencermati dan memikirkan ruang-ruang yang saya lalui. Sebuah mata baru yang menjadi pembuka bagi bentuk-bentuk pengenalan, dan semoga, berlanjut pada kepedulian. Sebuah kesempatan untuk menemukan alasan mencintai sebuah ruang dan dinamika di dalamnya.

Maka, ketika Anda merasa melaju terlalu cepat sehingga melupakan sekeliling, slow down…atau mulailah bersepeda!

Written by sendaljepit

16 October, 2006 at 1:53 pm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.