sendaljepit

all about sendal in my jepit :)

Archive for the ‘Computer’ Category

Powerbook G4 dan Tetanus

with 3 comments

korosi

Tetanus memang bukan penyakit yang setenar flu burung atau HIV-AIDS. Demikian juga Powerbook bikinan Apple yang boleh jadi kalah populer oleh Dell atau IBM, setidaknya di tempat mukimku saat ini. Tapi, tentunya bukan karena sama-sama tidak populer lantas keduanya saya jadikan judul tulisan ini.

Dalam pengetahuan saya yang awam, salah satu penyebab tetanus adalah luka akibat terkena logam berkarat. Gara-gara pemahaman awam ini, semasa masih kuliah beberapa tahun lalu, olok-olok sumber tetanus sempat dialamatkan pada saya. Apa pasal? Motor antik IFA MZ keluaran Jerman Timur akhir tahun 1960-an yang saya kendarai waktu itu dianggap lumayan kuno, dan karenanya diasosiasikan dengan barang karatan. Setiap kali saya muncul dengan motor ini, sejumlah teman langsung berloncatan menjauh sembari berteriak-teriak, “Awas, ketabrak kena tetanus. Ketabrak kena tetanus!”. Padahal motor saya yang bercat merah hitam itu bodinya mulus-lus, nyaris nggak ada bagiannya yang berkarat.

Ada pula, menurut sejumlah teman pada masa kecil saya, keyakinan yang mengatakan tetanus disebabkan tahi kuda. Konon, jika ada bagian tubuh kita yang memiliki luka terbuka, hendaknya jangan sampai terpapar tahi kuda yang, kabarnya, dipenuhi kuman-kuman penyebab tetanus. Konon lagi, tak hanya satu dua orang yang meninggal karena tahi hewan penghela andong, dokar dan semacamnya yang kini musti mengenakan “cawat” agar kotorannya tidak pating glundhung di jalan itu.

Nah, karena saya masih berpegang pada pemahaman dasar bahwa salah satu penyebab tetanus adalah logam berkarat, saya sempat berkerut kening juga sewaktu mendapati pada bagian palm rest kanan powerbook G4 second yang barusan saya beli terdapat garit-garit karat yang meskipun tak begitu kentara tapi terasa di telapak tangan.

Iseng saya browsing mengenai soal ini, saya menemukan beberapa thread di forum-forum pengguna macintosh yang mengangkat masalah karat pada powerbook G4. Pada seri-seri awal, powerbook G4 yang berbalut casing titanium (konon ini jenis metal yang dipakai untuk melapisi pesawat ulang alik dan dikenal memiliki durabilitas tinggi) juga dikeluhkan gampang terkelupas dan berkarat, terutama di bagian palm rest.

Mulai seri Powerbook G4 12″ 867Ghz yang dirilis awal tahun 2003, casing titanium yang diperkenalkan sejak Januari 2001 digantikan pelat-pelat alumunium yang dianggap lebih tahan lama dan ringan. Mestinya juga anti karat. Namun toh, masalah karat pada casing powerbook alu, demikian seri ini biasa disebut, masih juga muncul meski tidak sebanyak yang menimpa seri-seri titanium.

Pada beberapa kasus (yang sebenarnya sangat sedikit, tetapi karena sebagian besar pemakai produk-produk Apple selalu berharap produk yang mereka miliki sempurna tanpa cacat, maka cacat remeh temeh pun menjadi kasus), karat muncul dalam rupa bintik-bintik korosi di bagian palm rest, alias dudukan pergelangan hingga telapak tangan di sisi kanan-kiri trackpad.

Pada kasus powerbook g4 15″ 1.33ghz yang saya pakai saat ini, pada palm rest sisi kanan, terutama pada bagian tepi di mana saya biasa menempatkan pergelangan tangan, terdapat beberapa garit tipis dan deretan titik-titik berwarna kehitaman dan terasa agak kasar ketika diraba. Memang karat, tak diragukan lagi.

Soal penyebabnya, saya tidak tahu. Apalagi laptop ini baru di tangan saya sekitar satu minggu yang lalu, setelah mengalami “perjalanan” ribuan kilometer dari Jakarta ke satu kota kecil di selangkangan Sulawesi.

Boleh jadi ini masalah kimiawi. Lah? Pada beberapa thread yang saya singgung di atas, disebutkan sejumlah dugaan penyebab munculnya karat pada bagian palm rest powerbook aluminium dikarenakan keringat si pemakai. Tak sembarang keringat, melainkan keringat yang barangkali mengandung garam yang berlebihan sehingga memancing karat pada bagian-bagian “aus” di tubuh powerbook.

Konon, menurut Bos B yang menjual laptop ini ke saya, pemilik sebelumnya adalah ekspatriat yang membelinya dari Prancis. Beralasan memang, karena layout keyboardnya memang mengikuti layout yang lazim di pakai di Prancis dan Belgia. Tombol huruf Y, sebagai contoh, terletak pada lokasi di mana biasanya terdapat tombol huruf Z pada layout keyboard ala Amerika. Sebaliknya, tombol key huruf Z menempati lokasi Y. jadinya susunan layout keyboardnya bukanlah QWERTY, melainkan QWERTZ…

Nah, apakah layout keyboard QWERTZ ini berpengaruh pada akan meluas atau tidaknya bidang berkarat pada palm rest dan membuat saya rentan terkena tetanus, tentu anda tahu jawabannya. Jelas tidak ada hubungannya. Jadi, apakah powerbook Anda juga berkarat?

Written by sendaljepit

3 February, 2007 at 1:04 pm

Belajar “Telanjang” di Internet

with 2 comments

Korupsi sudah berurat-akar di negara kita. Itu sih bukan berita baru, mungkin demikian tanggapan Anda. Apalagi seringkali kita mendengar frase sinis yang berbunyi “budaya korupsi”, yang artinya korupsi sudah dianggap menjadi bagian dari pola pikir dan pola tindak alias budaya dari bangsa kita. Apakah tengara itu benar?

Dari sigi yang dilakukan oleh Transparency Internasional, sebuah lembaga yang setiap tahun menyusun ranking berdasar tingkat korupsi di seluruh negara di dunia, pada tahun 2006 Indonesia menempati posisi 140 dari total 159 negara. Posisi ini di bawah Kamerun dan Ethiopia dan di atas Iraq dan Liberia. Coba bandingkan dengan ranking negara tetangga kita, Singapura dan Malaysia, yang masing-masing menempati ranking ke-5 dan ke-39. Kita tertinggal jauh sekali, bukan?

Keberhasilan Singapura menduduki ranking ke-5 (mengungguli Jerman, Amerika dan Prancis yang berturut-turut pada ranking 16, 17, dan 18) bukanlah proses yang pendek. Dalam salah satu upayanya, sejak tahun 1970-an pengelola negara ini telah merintis teknologi informasi (TI) yang memudahkan mekanisme pelayanan publik. Pemanfaatan TI memungkinkan pengawasan oleh publik, sehingga meminimalkan potensi terjadinya penyelewengan dan korupsi.

Meski dinilai terlambat, pemerintah kita pun bukannya tinggal diam. Salah satu gebrakan yang dilakukan adalah dengan membentuk Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2002. Komisi ini antara lain berhasil mengungkap kasus mark-up (penggelembungan anggaran) dalam pengadaan logistik pemilihan umum oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan kasus korupsi pengadaan helikopter oleh Gubernur Aceh. Meski demikian KPK jauh dari berhasil dalam mengikis habis praktek korupsi di negara kita.

Celah korupsi masih menganga di mana-mana. Seperti halnya yang telah diungkap KPK, salah satu celah yang paling lebar adalah proses pengadaan barang dan jasa (procurement) dari suatu institusi pemerintah, baik di pusat maupun daerah serta Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Badan Usaha Milik daerah (BUMD). Proses procurement kerapkali dilakukan secara tidak transparan dan sarat nuansa korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN).

Untuk menyiasatinya, mulai tahun 2003 dikembangkan upaya-upaya transparansi proses pengadaan barang dan jasa melalui sistem yang dikenal sebagai e-procurement.

****
E-procurement adalah sistem manajemen pengadaan atau pembelian barang dan jasa yang dilakukan secara elektronik melalui internet. Selain mengefisienkan proses pengadaan barang dan jasa, e-procurement juga dinilai sebagai cara yang efektif untuk transparansi proses pengadaan dan memangkas biaya. Sudah bukan rahasia lagi jika proses pengadaan barang dan jasa secara konvensional sarat dengan “biaya siluman” atau “ongkos bawah meja” yang berujung pada pembengkakkan anggaran.

Embrio e-procurement di Indonesia adalah Keputusan Presiden (Keppres) No 80 Tahun 2003 yang menetapkan prinsip-prinsip pengadaan barang dan jasa yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dengan mempergunakan teknologi informasi, terbuka, bersaing, transparan, dan tidak diskriminatif. Prosedur e-procurement yang belum termuat dalam Keppres di atas kemudian dijabarkan dalam Peraturan Presiden No 8 Tahun 2006.

Dalam tataran praktik, sejumlah instansi telah menjalankan pendekatan ini, antara lain melalui proyek percontohan di lima departemen, yaitu Bappenas, Departemen Keuangan, Departemen Pekerjaan Umum, Departemen Komunikasi dan Informasi, dan Menteri Koordinator Perekonomian.

Selain itu e-procurement juga telah diterapkan di lingkungan Departemen Kesehatan, Departemen Pendidikan Nasional, Departemen Perhubungan, Pemerintah Kota Surabaya, dan beberapa BUMN seperti PT Telkom, PT Pertamina, dan PT Kereta Api Indonesia. Pemerintah menargetkan pada tahun 2010 semua pemerintah daerah di Indonesia sudah mempaktikkan e-procurement.

****
Pemerintah Kota Surabaya seringkali disebut-sebut sebagai contoh keberhasilan penerapan e-procurement di tingkat pemerintah daerah. Melalui website yang beralamat di http://www.surabaya-eproc.or.id aneka penawaran dan proses lelang pengadaan barang dan jasa di lingkup Kota Surabaya bisa diikuti secara online. Hingga bulan Oktober 2006, telah dilakukan sekurangnya 12 putaran lelang dengan nilai lebih dari Rp 300 milyar.

Layanan e-procurement Pemkot Surabaya dikembangkan berdasar Keppres No 80 tahun 2003 dan dikuatkan dengan Peraturan Walikota Surabaya Nomor 10 Tahun 2005, tentang Pedoman Pelaksanaan Proses Pemilihan Penyedia Barang/Jasa Pemerintah Daerah Dengan Sistem E-Procurement.

Website ini dilengkapi dengan tautan (link) informasi yang cukup mendetail mengenai jadwal dan ketersediaan lelang pengadaan barang dan jasa, persyaratan dan prosedur lelang, termasuk penggambaran alur lelang dan uraian mengenai paket pekerjaan yang ditawarkan. Informasi-informasi ini sangat memudahkan perusahaan-perusahaan calon peserta lelang, yang sebelumnya diharuskan mendaftar secara on-line, untuk mengetahui peluang lelang yang bisa diikuti, para pesaing lelangnya hingga informasi mengenai hasil lelang.

Melalui mekanisme ini, proses lelang menjadi ajang persaingan terbuka yang meminimalisir terjadinya praktik kongkalingkong (kolusi) antara peserta lelang dengan pengelola lelang. Selain transparansi, cara ini rupanya juga menghemat biaya pengadaan barang dan jasa antara 20% hingga 30% pada setiap putaran lelang.

Nah, jika semua kalangan sudah tak sungkan lagi untuk belajar “telanjang” alias transparan, tentunya pemerintahan yang baik (good governance), efisen dan bebas korupsi bukanlah mimpi di siang bolong.

Written by sendaljepit

16 October, 2006 at 2:30 pm

Merdeka Bersama Copyleft

leave a comment »

1_copyleft
Apabila berpuluh tahun lalu kemerdekaan kita raih dengan perjuangan yang berdarah-darah, saat ini semakin banyak orang yang menawarkan “kemerdekaan” yang bisa kita peroleh tanpa harus menitikkan darah, atau bahkan sekedar keringat saja. Salah satu contoh muncul belakangan ini adalah kemerdekaan yang ditawarkan dunia teknologi informasi melalui konsepsi open source alias sumber terbuka. Istilah ini mengacu pada pengertian pemanfaatan, pendistribusian dan pengembangan piranti lunak secara bebas tanpa terikat lisensi.

Sebelum maraknya praktek open source, dikenal juga istilah copyleft. Meskipun lebih terdengar sebagai plesetan atau permainan kata-kata dari copyright yang lebih dikenal umum, copyleft diakui sebagai landasan ideologis bagi pengembangan open source. Praktek ini berupa cara untuk membuat sebuah program menjadi free software (piranti lunak bebas), dan menjamin kebebasan untuk memodifikasi program tersebut berdasar lisensi.

Konsep copyleft diperkenalkan pertama kali oleh Richard Stallman pada tahun 1984 gara-gara dia tidak diijinkan untuk mengakses hasil pengembangan program Lisp oleh perusahaan Symbolics. Padahal awalnya Lisp dibangun oleh Stallman yang membebaskan pemakaian dan pengembangannya untuk umum. Merasa berang dengan perlakuan Symbolics, Stallman lantas mempraktekkan aksi “penimbunan piranti lunak” (software hoarding), yakni melakukan pembatasan akses ke piranti-piranti lunak terbuka yang sudah dikembangkan olehnya.

Belakangan, Stallman merasa praktek penimbunan tidak praktis dan malah merugikannya dalam menghadapi pranata Hak Kekayaan Inteletual (HaKI). Dia lantas mengubah strateginya dengan memilih cara main yang sama dengan HaKI, namun dengan melakukan modifikasi penerapannya. Sama halnya dengan piranti lunak berhak cipta yang dilindungi dan didistribusikan berdasar lisensi, produk Stallman juga memiliki lisensi. Bedanya, pemegang lisensi produk Stallman memperolah jaminan untuk melakukan modifikasi dan distribusi lanjutan secara bebas. Lisensi tersebut kemudian dinamai General Public License (GPL–Lisensi Publik Umum). Inilah lisensi copyleft yang pertama,

Copyleft lantas sering diartikan sebagai perlawanan atau penolakan terhadap copyright dan menentang perlindungan terhadap hak cipta. Padahal sebenarnya copyleft memanfaatkan aturan copyright untuk tujuan yang bertolak belakang. Artinya, jika copyright bertujuan melindungi kepemilikan pribadi dari pembajakan, copyleft sebaliknya karena tidak berambisi menjadikannya sebagai milik pribadi, tetapi justru menginginkan agar perangkat lunak itu tetap bebas (free software). Selain membebaskan modifikasi dan distribusi lanjutan oleh pengguna, penjaminan melalui copyleft mengantisipasi penyalahgunaan oleh para pengembang piranti lunak yang mungkin berkeinginan mejadikannya piranti lunak terbatas.

Nah, ketika merdeka setara artinya dengan bebas, tentu copyleft bisa diartikan sebagai satu lagi tawaran untuk “merdeka”. Setuju?

Written by sendaljepit

16 October, 2006 at 1:23 pm

OLPC: Satu Laptop untuk Tiap Anak

with 9 comments

olpc

Dunia teknologi selama ini dihidupi oleh inovasi alias terobosan-terobosan, yang tak jarang bersifat spekulatif, untuk menghasilkan produk-produk teknologi yang semakin canggih, terjangkau, namun tetap penuh manfaat. Upaya-upaya itu apabila dikawinkan dengan semangat filantropis—berderma—seringkali berujung pada hal yang tak terduga.

Salah satu bentuk pengikatan teknologi dengan filantropi adalah gagasan pengadaan laptop—komputer jinjing–seharga $100 AS untuk mendukung pendidikan dasar di negara-negara berkembang. Ya, harga yang dipatok hanya 100 dollar Amerika Serikat atau kurang dari Rp 1 juta! Padahal saat ini rata-rata harga terendah untuk laptop berkisar Rp 5 – 6 juta. Murah sekali bukan, tetapi apakah mungkin terealisasi? Read the rest of this entry »

Written by sendaljepit

24 August, 2006 at 9:00 pm

Posted in Computer

Tagged with , , ,

Ilmukomputer.com: Pengetahuan Gratis Papas Kesenjangan Digital

with 14 comments

ilmukomp

Awal bulan Maret yang lalu, aparat kepolisian di Jakarta dikabarkan berhasil meringkus kelompotan pemalsu komputer yang disinyalir telah memasarkan ribuan komputer bekas hasil rekondisi. Oleh kalangan teknologi informasi (TI), keberhasilan polisi ini dianggap sebagai sebuah ironi karena mereka berpandangan praktek rekondisi komputer bukanlah aksi kriminal, melainkan upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan komputer murah.

Kalangan TI berargumen ketersediaan komputer dengan harga terjangkau akan membantu upaya pemerintah untuk mengikis kesenjangan digital di tengah masyarakat, sebagaimana target Tujuan Pembangunan Milenium (MDG–Millenium Development Goals) yang mengamanatkan separuh dari jumlah populasi di Indonesia harus melek teknologi komputer pada tahun 2015. Ini berarti minimal 100 juta penduduk Indonesia harus mengenal komputer dalam dalam 8 tahun mendatang.

Pada kenyataannya, saat ini kurang dari 10% atau 21 juta penduduk negara kita yang telah mengenal komputer, tertinggal jauh dibanding negara-negara lain di Asia. Coba tengok kondisi beberapa negara tetangga terdekat kita, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Di ketiga negara ini, tingkat kepemilikan komputer rata-rata mencapai 30% dari jumlah penduduk. Yang lebih mengagumkan adalah India, meski tingkat kepemilikan komputer hanya 12 unit per 1000 penduduk (atau hanya 0,12%) namun lapangan kerja dalam bidang TI telah mampu menyedot lebih dari 500.000 pekerja profesional. Angka ini melampaui jumlah pekerja di pusat industri TI Silicon Valley di Amerika Serikat.

Dari kasus India di atas dapat disimpulkan tingkat kesenjangan digital bukan melulu dipengaruhi oleh tinggi-rendahnya tingkat kepemilikan komputer, namun juga tingkat penguasaan dan pemanfaatan aneka jenis piranti lunak (software). Dalam hal ini, negara kita masih serba salah. Pertengahan tahun 2004 lalu Business Software Alliance (BSA), aliansi perusahaan-perusahaan piranti lunak komersial sedunia, mengeluarkan sinyalemen bahwa 87% sistem operasi dan aplikasi yang terpasang di semua komputer di Indonesia adalah produk ilegal alias bajakan.

Fakta di atas memunculkan dilema bagi dunia TI Indonesia. Tetap mempergunakan piranti lunak ilegal sama artinya melanggar Undang-undang Hak Cipta No 19/2002 dan terancam sanksi internasional, namun untuk sepenuhnya mempergunakan piranti lunak legal kemampuan ekonomi sebagian besar pemilik komputer di Indonesia masih belum memadai. Di sisi lain, tawaran alternatif untuk menggunakan piranti lunak open source (sumber bebas—sebagian besar dapat diperoleh dengan gratis) masih kurang populer bagi sebagian besar pengguna komputer. Menyikapi hal ini, tentu dibutuhkan solusi cerdas sehingga target 50% penduduk Indonesia melek komputer pada tahun 2015 tidak berakhir menjadi mimpi muluk.

Belajar TI Gratis
Sebuah sodoran solutif diajukan melalui www.ilmukomputer.com, sebuah situs internet yang menyediakan ratusan materi aneka pengetahuan mengenai komputer. Situs yang hadir sejak tahun 2003 ini dipelopori oleh Romi Satria Wahono, seorang staf Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Menariknya, materi-materi ini bisa didapatkan secara gratis, sebuah tawaran langka ditengah maraknya praktek komersialisasi ilmu pengetahuan di negara kita.

Penyuka aplikasi perkantoran tentu akan terbantu oleh uraian mengenai Microsoft Office (terdiri atas aplikasi MS Word, Excel, Access, Powerpoint dan Frontpage) dan Open Office. Bagi yang ingin belajar mengenai sistem operasi, tersedia panduan mengenai sistem operasi Windows dan Linux. Tersedia juga tutorial aplikasi untuk membuat database, desain grafis, teknik mengelola jaringan, merakit komputer, pemrograman hingga sejumlah artikel mengenai sejarah komputer, tokoh-tokoh komputer, netiket (etiket di dunia internet) dan beberapa makalah hasil penelitian. Layanan-layanan itu cukup mudah dimanfaatkan, terlebih semua materi disajikan dalam Bahasa Indonesia.

Sumberdaya tersebut tidak dikembangkan seorang diri oleh Romi, tetapi juga melibatkan ratusan kontributor sukarela dari berbagai kota di Indonesia dan luar negeri. Melalui internet, para kontributor mengirimkan tutorial/materi kuliah, terjemahan, ulasan, atau bermacam-ragam tips praktis yang kemudian disajikan ke dalam kategori-kategori materi kuliah pengantar, umum atau berseri. Bentuk kontribusi tidak hanya sebatas menyumbangkan materi tertulis, namun juga konsultasi online dengan Yahoo Messenger hingga menjadi panitia seminar.

Meskipun sebagian materi kuliah bisa dibaca atau didengar langsung pada websitenya, namun hampir seluruh materi kuliah harus didownload terlebih dahulu. Dokumen disajikan dalam bentuk dokumen elektronis pdf yang bisa dibaca dengan aplikasi gratis Adobe Acrobat Reader yang juga disediakan di situs ini. Jika sambungan internet atau waktu Anda terbatas untuk melakukan download, jangan kuatir karena pengelola situs ini juga menyediakan layanan pengiriman materi-materi yang telah disimpan dalam cakram data (CD) ke alamat Anda. Sebagai alternatif, anda juga bisa mengambil sendiri kiriman CD ke distributor-distributor yang tersebar di 18 kota di Indonesia dan beberapa kota di Arab Saudi, Korea serta Qatar. Seperti halnya layanan lainnya, pengiriman CD ini juga tidak dikenakan biaya sepeserpun.

Dengan semboyan “Kuliah Ilmu Komputer Gratis”, situs ini seolah mendesakkan kesadaran bahwa ilmu pengetahuan selayaknya diperoleh secara cuma-cuma dan tidak harus diburu melalui bangku pendidikan formal.

Situs Terbaik, Materi Lama
Dibalik perwajahan situs yang tetap sederhana, pada bulan Januari 2006 pengelola berupaya membuat terobosan dengan memperkenalkan layanan kuliah radio online (siaran radio digital yang didistribusikan melalui koneksi internet). Dalam program yang disiarkan setiap hari mulai pukul 17.00-20.00, pengunjung situs bisa mengikuti dua kuliah seperti lazimnya mendengarkan radio. Sayangnya, terobosan serupa itu tidak dilakukan pada materi tertulis. Sebagian besar materi yang tersedia dikembangkan pada tahun 2003, dan yang paling baru ditulis bulan Oktober 2005. Padahal perkembangan teknologi komputer terjadi dalam hitungan bulan, sehingga informasi dalam materi-materi kuliah di situs ini sudah terhitung ketinggalan jaman.

Perkembangan jenis layanan memunculkan konsekuensi meningkatnya biaya operasional yang harus ditanggung pengelola. Selama ini pengelola ilmukomputer.com masih bisa menyandarkan diri pada hasil donasi dan sponsorship dalam bentuk pemasangan iklan. Sesekali kebutuhan ini dicukupi dengan melakukan aksi heroik “mengamen” dihadapan para peserta yang mengikuti seminar-seminar yang mereka selenggarakan secara gratis.

Kegigihan para pengelola ilmukomputer.com mengupayakan terkikisnya kesenjangan digital rupanya tidak luput dari perhatian dan penghargaan sejumlah pihak termasuk dari kalangan pemerhati TI internasional. Karena dedikasi dan manfaatnya, pada tahun 2003 situs ini dianugerahi Diamond Web Award dan Golden Web Award. Setahun kemudian penghargaan dari WSIS Award 21 Continental Best Practice Example kategori e-Learning diraihnya. Beberapa penghargaan dari lembaga-lembaga di dalam negeri juga diperolehnya.

Tentu saja rendahnya tingkat melek komputer di Indonesia tidak serta merta terpapas habis dengan hadirnya situs ilmukomputer.com. Namun tidak dapat disangkal kehadirannya telah menjadi elemen penting dalam proses pembelajaran digital di tengah masih minimnya dukungan infrastruktur dan kebijakan pemerintah pada dunia teknologi informasi (TI).

(Buletin Kombinasi Edisi 9, Desember 2005)

Written by sendaljepit

14 August, 2006 at 3:16 pm

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.