Ketika Safety Ditelan Raungan Knalpot
Barangkali mereka hanyalah anak-anak muda yang menganggap kemenangan suara sebagai unjuk eksistensi. Atau ekspresi. Walau, tak tertutup kemungkinan raungan knalpot adalah ungkapan agitasi, agresi atau dominasi. Yang tak saya ketahui, aksi semacam ini entah mereka tujukan pada siapa.
Sejak akhir tahun 2008 lalu, ketika saya mulai bermukim (kembali) di Sorowako, kawasan pertambangan nikel di selangkangan Pulau Sulawesi, adu kencang suara motor agaknya mulai lumrah. Tak puas hanya adu suara knalpot, seringnya pengendara motor adu kebut di jalanan umum yang sempit nan ramai. Tak sekali dua kali terjadi kecelakaan fatal. Saya kurang tahu persis angkanya, yang pasti ratusan kecelakaan lalu lintas, dari kelas lecet-lecet sampai tubuh hancur terjadi setiap tahunnya. Terhitung tinggi prosentasenya, mengingat jumlah penduduk Sorowako dan sekitarnya baru di bilangan 30-an ribu jiwa saja.
Kejadian itu adalah ironi bagi kampung yang berjuluk “kota nikel” ini. Pasalnya, isu keselamatan alias safety sebetulnya bukan barang baru. Malah bisa dikatakan sebagai isu yang hot lagi seksi alias kerap didengungkan sebagai wacana utama. Meski lebih sering dalam konteks kegiatan pertambangan.
Dari yang saya ingat, pada tahun 2007 dan 2008, selain mengadakan pelatihan keselamatan berkendara secara aman (safety driving/riding training) bagi ribuan pekerja tambang, beberapa kali diadakan juga pelatihan untuk masyarakat umum. Pengojek dan kalangan muda menjadi sasaran utama. Bagi karyawan, pelatihan yang disusul ujian praktik ini adalah syarat dasar memerolah surat ijin mengemudi (SIM) perusahaan. Yakni lisensi yang menyatakan ia tahu dan mampu melintasi rupa-rupa jenis medan dan situasi di kawasan tambang. Sedangkan para pengojek dan anak-anak sekolah lebih memburu helm gratis dan diskon 75%!
Pelatihan yang dipandu trainer profesional dari Indonesian Defensive Driving Training (IDDT) ini menekankan perilaku berlalulintas secara defensif atau antisipatif. Pengendara mobil atau motor dibekali teori mengantisipasi celaka berkendara, mencakup pengetahuan akan rambu lalu-lintas, spesifikasi dan kemampuan teknis kendaraan, risiko-risiko berkendara, bahkan cara perawatan kendaraan bermotor. Usai teori, praktik perawatan kendaraan dan mengemudi wajib dijalani.
Yang mengesan bagi saya, waktu mencari SIM perusahaan, adalah sesi commentary driving. Saat berkendara, oleh instruktur kita diminta melisankan situasi jalanan dan tindakan yang kita ambil. Pokoknya disuruh bicara sendiri, bisa bergumam atau lebih baik lagi dengan suara kencang.
Misalnya, ketika kita sedang menyetir mobil melalui kompleks sekolah dasar, idealnya kita mendeskripsikan suasana seperti “limapuluh meter meter lagi sekolah, sepertinyas sedang jam istirahat, banyak anak sekolah menyeberang jalan dan belarian di kanan kiri jalan. Di depan ada polisi tidur cukup tinggi, kurangi kecepatan, turun ke gigi dua, bunyikan klakson untuk berkomunikasi. Di kiri jalan bus sekolah parkir menghalangi separuh jalan, belakang aman, klakson lagi untuk memastikan…dst”.
Prosedur commentary driving dimaksudkan untuk membiasakan kita mengamati situasi, dan bertindak antisipatif pada setiap potensi kecelakaan. Dari sekadar gumaman, kesiagaan akan terlatih. Tapi, kini gumaman keselamatan diri agaknya terancam raib ditelan bunyi knalpot! Wah!
Baca juga:
- Tranqualities and Roars
- Matano Lake Festival: Celebrating Unity of Diversity
- Kabel-kabel Gegar Budaya









[...] Ketika Safety Ditelan Raungan Knalpot [...]
tranquilities and roars « sendaljepit
28 July, 2009 at 10:44 pm
hehehe..dah pernah neh saya disuruh ngoceh sendiri saat ujian SDT
chokey
27 July, 2009 at 12:00 pm
supaya ketahuan punya motor gitu?
wa..kakkkkakkk
gimana kalo besok ABG punya loader? wah…tak bisa dibayangkannn
yufinats
10 July, 2009 at 3:37 pm
Yaaa namanya ABG ya wajar kalau doyan dengan naik motor yang make knalpotnya di bobrok supaya gede suaranya
Yang kagak enak kalo dijalan kalo pass dibelakang motor yang suara knalpotnya bisa bikin budeg kuping…
BolaNaga
9 July, 2009 at 6:17 pm
Nah saya seringnya kebagian yang nggak enak itu Bos. Lagian jaman sekarang lebih baik jadi ABG yang gak wajar kok, biasanya ABG yang wajar itu nantinya gak jadi apa-apa…hehe
sorowako
13 July, 2009 at 6:08 am