Kraton Yogyakarta, Tak Seindah Warna Aslinya

“Maaf Pak, topinya mohon dilepas,” pinta seorang perempuan separuh baya yang menyongsong saya di gerbang Sri Manganti, pintu masuk utama bagi wisatawan Kraton Yogyakarta. Beberapa lelaki tua bersandangkan baju bermotif lurik dan bawahan kain batik, lengkap dengan tutup kepala blangkon, menengok ke arah saya kemudian mengangguk sembari tersenyum. Anggukan kepala para abdi dalem itu seolah mendorong saya untuk tanpa ragu melepas topi lapangan yang bertenger di atas kepala. Toh, terik matahari tidak terlalu menyengat di dalam sini, pikir saya.

Setelah melewati gerbang Sri Manganti, akses utama wisatawan untuk menuju bagian dalam Kraton, tak urung saya tergoda juga untuk bertanya juga pada perempuan tadi yang ternyata menjadi pemandu saya. “Kenapa topi saya harus dilepas. Apa bisa kualat kalau memakai penutup kepala di Kraton?” tanya saya. Ibu Sri, nama pemandu wisata ini, menerangkan bahwa perintah melepas topi hanyalah simbol untuk menghormati penghuni Kraton. “Tapi kalau topi bagian dari seragam, kopiah atau kerudung, tetap dipakai tidak apa-apa,” lanjutnya. Sebuah perkecualian yang aneh. Tapi bukankah keanehan selalu punya daya tarik, bahkan daya jual? Mungkin inti pariwisata adalah upaya menjual ketidak-biasaan, demikian pikiran yang terlintas di benak saya kemudian.

Saya pikir bisnis pariwisata di Yogyakarta salah satunya berawal dari ketidak-biasaan itu. Kerajaan-kerajaan di pedalaman Jawa, salah satunya Kasultanan Yogyakarta, adalah beberapa yang tersisa dari puluhan atau mungkin ratusan kerajaan yang pernah tumbuh di Nusantara. “Kebandelan” mereka untuk mempertahankan feodalisme dan bertahannya dukungan formal dan kultural dari masyarakat ditengah desakan modernisme, bagaimana pun juga telah menumbuhkan eksotisme yang menggoda, menarik perhatian dan menjadikannya sosok yang tidak biasa di tengah konteks modernitas abad XX.

Sosok yang kita bicarakan ini, Kraton Yogyakarta, dibangun 248 tahun lalu oleh Pangeran Mangkubumi Sukowati, seorang bangsawan kerajaan Mataram Islam yang waktu itu berkedudukan di Kartasura. Mangkubumi menguasai separuh bagian dari wilayah Mataram paska perang saudara yang berlangsung antara tahun 1746-1755. Sebuah perang yang berakhir pahit dengan dipecahnya kerajaan ini menjadi dua wilayah, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, berdasar perjanjian Giyanti pada awal tahun 1755 M. Sejarah panjang yang dijalaninya, ternyata telah menumbuhkan sebuah ruang sosial lain: pariwisata.

Secara historis, dunia pariwisata Yogyakarta boleh jadi merasa berhutang budi pada dua hal: Kraton Yogyakarta dan kereta api. Stasiun kereta api pertama di Yogyakarta dibangun di Lempuyangan pada tahun 1872, dan kemudian menyusul Stasiun Tugu pada tahun 1887. Layanan kereta api inilah tonggak awal sesungguhnya pariwisata di Yogyakarta. Kemudahan akses antar kota rupanya menumbuhkan minat rombongan wisatawan untuk menyaksikan pesona kehidupan tradisional yang direpresentasikan oleh Kraton Yogyakarta.

Isaac Groneman,seorang dokter berkebangsaan Belanda yang diperbantukan di Kraton Yogyakarta, melihat kecenderungan ini dan dia termasuk yang pertama-tama, pada tahun 1900, menerbitkan buku panduan wisata di Yogyakarta untuk mempromosikan Kraton dan Tamansari—petirahan Sultan yang dibangun tahun 1758 dan runtuh akibat gempa di tahun 1867. Saya tidak mendapatkan banyak data mengenai perkembangan pariwisata pada masa-masa setelahnya. Namun dalam catatan Denys Lombard, disebutkan bahwa tujuh puluh tahun setelah diterbitkannya karya Groneman mulai muncul upaya-upaya sadar untuk mempromosikan Kraton dan elemen-elemennya sebagai atraksi wisata. Upaya ini ditandai dengan diselenggarakannya kembali prosesi Garebeg pada tahun 1971, setelah terhenti sama sekali sejak masa penjajahan Jepang di rentang tahun 1942-1945.

Kini, pada tahun 2004, tak kurang dari 300ribu wisatawan mengaliri pelataran-pelataran dalam Kraton setiap tahunnya. Jumlah kunjungan wisatawan pertahun dalam satu dekade terakhir ini memang tidak banyak berbeda, meskipun memperlihatkan grafik menaik. Berdasarkan catatan Tepas Pariwisata–pos milik Dinas Pariwisata Provinsi Daerah istimewa Yogyakarta yang menangani penjualan tiket masuk dan koordinasi guide–selama bulan Januari hingga September 2004, jumlah wisatawan yang berkunjung mencapai 290.715 orang, 35.848 diantaranya adalah wisatawan mancanegara.

“Sebagian besar datang dari negara-negara Eropa, seperti Belanda, Jerman dan Inggris. Turis Amerika hanya sedikit, lainnya wisatawan Jepang, Taiwan dan Singapura dan satu dua dari negara-negara lain,” ungkap Ibu Brahmana, salah seorang pegawai di Tepas Pariwisata. Menurut ibu yang murah senyum ini, jumlah kunjungan terbanyak biasanya pada bulan Januari dan Juni yang bisa mencapai lebih dari 50.000 pengunjung per bulan.

Harga tiket masuk Kraton Yogyakarta terhitung murah, hanya Rp. 2.500,00 untuk wisatawan domestik dan Rp. 7.500,00 untuk wisatawan mancanegara. Tambahan Rp. 1.000,00 dikenakan apabila Anda membawa kamera. Kesempatan berkunjung pun terbuka setiap hari, mulai pukul 09.00-14.00 WIB, kecuali hari Sabtu hanya buka sampai pukul 13.00 WIB. Menurut Ibu Brahmana, tiket masuk sudah termasuk guide yang cukup fasih berbahasa asing dan beberapa diantaranya benar-benar menguasai sejarah, mitos serta filosofi material yang ada di Kraton.

“Biasanya turis mancanegara memang lebih tertarik pada filosofi dan arsitektur bangunan. Karena itu setiap guide harus tahu tentang itu,” lanjut Ibu Brahmana. Sayangnya, saya kemudian sempat mengamati sejumlah guide cenderung terburu-buru ketika memandu para wisatawan dengan berjalan dan menerangkan cepat-cepat dari satu lokasi ke lokasi lain, padahal tampak oleh saya wisatawan yang dipandunya masih mengagumi ukir-ukiran atau koleksi benda-benda yang dipamerkan. Atau para guide itu hanya peduli pada uang tips? Entahlah.

*****
Alur wisata Kraton dimulai dari Gerbang Sri Manganti, masuk menuju pelataran berpasir dengan dua pendapa—bangunan terbuka yang beratap joglo, disangga empat tiang dibagian tengah dan tiang-tiang pendukung di sekelilingnya—yang disebut sebagai bangsal. Bangunan pertama, yang ada di sisi kiri gerbang, bernama Bangsal Trajumas. Tempat ini seolah menjadi ruang pamer benda-benda kuno, disesaki oleh dua perangkat gamelan perunggu yang konon dibuat pada masa kerajaan Majapahit (12 M), dua pasang jempana atau tandu dari masa Hamengku Buwono VII serta beberapa benda kecil yang menjadi perlengkapan berhias keluarga Sultan dan perlengkapan upacara inisiasi anak-anak bangsawan (tedak sinten).

Upacara tedak sinten diselenggarakan untuk bayi yang baru belajar merangkak, sekitar umur 6 bulan, dengan menempatkan si bayi dibawah kurungan—bentuknya sama persis dengan kurungan ayam, terbuat dari bilah bambu atau rotan yang dianyam jarang-jarang, tertutup di bagian atas dan terbuka di bagian bawah— bersama beberapa jenis benda yang menyimbolkan masa depan si bayi kelak. Benda-benda yang disediakan biasanya berupa peralatan berhias, alat tulis dan perhiasan atau uang. “Waktu manjalani upacara tedhak sinten, dulu Sultan HB IX memilih semua benda yang disediakan. Makanya, selain pintar, beliau juga tampan dan kaya raya,” kata Ibu Sri, guide saya, sembari menunjuk sebuah kurungan besar yang terbuat dari rotan.

Bangsal satunya bernama Bangsal Sri Manganti, dimana terdapat seperangkat gamelan lengkap dengan para niyaga—pemain gamelan—untuk mengiringi pertunjukan kesenian yang dipertontonkan pada wisatawan. Pertunjukan kesenian tradisional semacam itu digelar setiap hari secara berganti-ganti, mulai dari pertunjukan wayang orang, wayang kulit, wayang golek, macapatan sampai pagelaran tari, mulai pukul 09.00-12.00 WIB. Waktu saya berkunjung, sedang berlangsung pertunjukan wayang golek yang ditonton tidak sampai sepuluh orang. Menurut Ibu Sri, pertunjukan semacam itu memang kurang peminatnya.

“Barangkali karena dipentaskan di bagian depan, Bu. Orang kan masih harus melihat bagian-bagian Kraton lainnya, sementara banyak wisatawan tidak punya banyak waktu,” kata saya, disambut anggukan setuju Ibu Sri. Menurutnya, rombongan wisatawan pelajar memang biasanya terburu-buru seolah-olah mereka berwisata ke Kraton hanya sebatas formalitas belaka.

Pelataran Sri Manganti dipisahkan dengan pelataran berikutnya oleh gerbang Danapratapa. Pada dinding bagian dalam gerbang tergantung lambang Kraton Yogyakarta yang disebut Hobo, dari dua karakter huruf Jawa “ha” dan “ba” atau HB dalam aksara latin, yang merupakan singkatan dari gelar sultan-sultan Yogyakarta, Hamengku Buwono. Arti dari gelar Hamengku Buwono sendiri secara literal adalah “memangku alam raya”.

Keluar dari gerbang, terpapar sebuah pelataran berpasir yang sedikit lebih luas di banding pelataran Sri Manganti. Inilah Pelataran Dalam, bagian inti Kraton Yogyakarta di mana terdapat bangunan-bangunan utama yang sebagian besar diantaranya tidak bisa dimasuki umum, termasuk Gedong Kuning yang menjadi tempat tinggal Sultan dan Bangsal Prabayeksa, tempat paling sakral di Kraton yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan pusaka-pusaka dan perhiasan milik Keraton yang paling keramat dan bernilai. “Tidak seorang pun boleh melihat pusaka-pusaka itu, kecuali pangkatnya di Kraton sudah bupati ke atas,” kata Ibu Sri, seolah menanggapi pikiran saya yang berkeinginan menyaksikan langsung kumpulan benda-benda keramat tersebut.

Selain bangsal Prabayeksa, terdapat dua bangsal penting lainnya, yakni Bangsal Kencana dan Bangsal Manis. “Bangsal Kencana dipakai untuk acara penobatan Sultan dan menerima tamu-tamu penting Kesultanan. Dulu saya sempat melihat Pangeran Charles dan Lady Di diterima Sultan di situ. Hillary Clinton juga pernah. Pokoknya banyak orang terkenal yang pernah di situ,” dengan semangat Ibu Sri berkisah. Bangsal Manis, yang terletak lebih di muka, dimanfaatkan untuk menggelar perjamuan atau pesta untuk para tetamu. Kayu-kayu yang dijadikan tiang dan kaso bangsal diukir dengan stilir sulur-suluran yang indah dan dicat dengan warna dominan hijau, kuning gading dan merah bata, warna-warna tradisional yang banyak ditemui di Kraton Yogyakarta.

Meninggalkan pelataran dalam, saya diajak memasuki Museum Sri Sultan HB IX yang didirikan pada tahun 1992 oleh putranya yang bertahta sebagai sultan saat ini, Sri Sultan HB X . Museum ini terdiri atas empat bangunan bangunan utama, termasuk sebuah bangsal berdinding kaca yang disangga tiang-tiang berwarna gelap yang berukir indah, ditimpa gurat warna merah dan prada. Bangsal museum terletak di tengah, diapit bangunan lain yang membentuk huruf U. Koleksi museum disajikan dalam urutan kronologis, memperlihatkan masa muda Sultan HB IX hingga beliau meninggal.

Dalam bangsal tersimpan beberapa koleksi, seperti meja kerja dan dokumen-dokumen penghargaan asli, diantaranya surat pengangkatan beliau sebagai pahlawan nasional. Pada bagian tengah ruangan tertata seperangkat meja kursi bersejarah, yang konon dipakai untuk merundingkan strategi untuk melancarkan aksi serangan gerilya, yang kemudian dikenal dalam sejarah sebagai Serangan Umum 1 Maret 1949, terhadap tentara Belanda yang saat itu menguasai kota Yogyakarta. Dalam aksi yang direncanakan dengan brilian tersebut, para gerilyawan republik berhasil menguasai kota selama 6 jam sekaligus membuktikan pada publik internasional bahwa Republik Indonesia masih ada. Pada tahun itu pula, Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Republik Indonesia.

Bangunan berikutnya berisi koleksi foto, barang-barang hobi, peralatan makan dan alat-alat memasak. Terlihat juga sebuah diploma yang diterima Sri Sultan HB IX dari Fakultas Sastra, Universitas Leiden, Belanda. “Beliau satu-satunya Sultan yang berpendidikan luar negeri. Hobinya pun luar biasa banyak, dari kegiatan pandu, berkuda, sepakbola, fotografi sampai memasak,” terang Ibu Sri sembari tangannya sibuk menunjuk benda-benda yang dipajang berjajar di dalam etalase. Ada pakaian, sepatu berkuda dan pelana, sepatu sepakbola, beberapa merk kamera foto, peralatan untuk membuat es krim dan memasak. Pada etalase di ujung dekat pintu keluar dipajang sejumlah kemasan dan botol kecil berisi bumbu untuk memasak yang telah diawetkan. Para guide selalu mengisahkan bahwasanya bumbu-bumbu tersebut adalah yang terakhir dipakai oleh Sultan sebelum beliau meninggal. Di ujung yang sama, pada sebelah kanan, terpajang seperangkat pakaian adat yang dilengkapi kain bawahan berlapis emas murni. Pakaian ini dipakainya saat beliau disunat dalam berumur belasan tahun dan masih menyandang nama muda Darodjatun.

Dalam ruangan berikutnya dipamerkan kelengkapan tahta seorang Sultan. Sejumlah replika ampilan dalem (palace regalia), yaitu benda-benda yang harus selalu disertakan ketika Sultan memimpin suatu upacara, mengapit sebuah lukisan besar Sri Sultan HB IX dalam busana Sultan lengkap. Menurut sejarah, beliau diangkat menggantikan ayahandanya yang tengah sakit berat, Sri Sultan HB VIII, pada tahun 1940 ketika dia berusia 27 tahun dan tengah kuliah di Universitas Leiden. Sri Sultan HB IX kemudian bertahta selama 48 tahun sampai beliau mangkat pada tanggal 3 Oktober 1988.

Replika ampilan dalem yang mengapit lukisan dirinya terdiri atas sembilan macam benda yang konon aslinya terbuat dari emas bertatahkan permata. Lima diantaranya berwujud hewan, yakni angsa (banyak), rusa (dalang), ayam jantan (sawung), merak (galing) dan naga (ardawalika). Empat benda lainnya adalah sapu tangan emas (kacu mas), kutuk (sejenis ikan), lentera (kandil) dan wadah alat (saput). Ke sembilan benda tersebut masing-masing menyimbulkan watak yang harus dimiliki dan peran yang harus dipanggul seorang Sultan. “Yang asli disimpan di bangsal Prabayeksa,” kata Ibu Sri.

Ruangan terakhir museum ini berisi berbagai pernik yang dimiliki beliau selama menjadi negarawan. Vandel-vandel dan bintang kehormatan dari berbagai negara serta pin dari berbagai kegiatan terpajang di etalase, termasuk pakaian-pakaian seragam pramuka dan pakaian resmi yang pernah dipakai beliau. Pada salah satu dinding, tergantung lukisan realis karya perupa batik ternama dari Yogyakarta, Amri Yahya, yang memperlihatkan wajah Sri Sultan HB IX bersandingkan tulisan sabdanya yang terkenal “Tahta Untuk Rakyat”. Tergantung pada paku yang agaknya ditancapkan secara serampangan, sebuah foto ukuran besar memperlihatkan ribuan orang menyemut di sekitar kereta jenazah yang membawa jasad Sri Sultan HB IX.

Selepas museum, masih ada beberapa ruang pamer lain yang kesannya hanya sebagai atraksi tambahan. Terkadang para guide melewatkan ruang-ruang tersebut, padahal di dalamnya terdapat koleksi-koleksi menarik milik Kraton. Misalnya, koleksi gelas-gelas kristal, lukisan-lukisan kuno dan peralatan makan yang dihadiahkan oleh kerajaan-kerajaan lain di luar negeri, bahkan ada perangkat makan yang dihadiahkan oleh Napoleon Bonaparte. Ruangan lainnya diisi dengan kursi-kursi mewah milik sultan-sultan terdahulu dan foto-foto dari berbagai aktifitas di Kraton masa kini.

Di sebuah kompleks yang terpisah, yaitu Gedong Kesatriyan atau kompleks tempat tinggal bangsawan laki-laki yang masih lajang, dipamerkan koleksi lukisan-lukisan tua keluarga Kraton, termasuk juga foto ukuran besar sultan saat ini, Sri Sultan HB X beserta permaisuri, GKR Hemas dan lima orang putrinya. Di bagian tengah kompleks terdapat pendapa dimana tersimpan dua perangkat gamelan keramat, Kyai Naga Wilaga dan Kyai Guntur Madu. Keduanya hanya dibunyikan untuk mengawali perayaan Sekaten, pasar rakyat yang diadakan setahun sekali untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad. Setiap hari, mulai pukul 09.00-12.00 WIB Anda bisa menyaksikan abdi dalem berlatih macapatan—menyanyikan tembang Jawa—di pendapa ini.

Tour disertai guide biasanya berakhir di halaman ini, sebelum kemudian kembali lagi ke bagian depan Kraton melalui gerbang Sri Manganti. Tapi Anda juga bisa melanjutkan penelusuran mandiri dimulai dari Pelataran Dalam ke arah selatan, keluar dari Gerbang Balerata, Anda akan muncul di pelataran Kemagangan, areal terbuka yang dahulu dipakai untuk berlatih bela diri para pangeran dan prajurit terpilih. Di pelataran yang bisa diakses umum ini berlaku kepercayaan yang unik, yakni semua pengendara kendaraan roda dua, termasuk juga becak yang beroda tiga, ketika memintas melaluinya harus turun dan menuntun kendaraannya.

Pada kedua mulut jalan, terpaut sekitar 200 meter, terdapat tugu setinggi 3 meter dengan prasasti bertuliskan huruf Jawa yang berisikan perintah bagi para pemintas untuk turun dari segala jenis kendaraan sampai tugu berikutnya, terkecuali bagi yang berpangkat bupati dan atasan-atasannya. Akhir tahun 2003 lalu, di sisi kanan dibangun craft shop “Sarinah” dan rumah makan “Bale Raos” yang memanfaatkan bangunan Kraton. Selepas Kemagangan masih terdapat Gerbang Gadung Mlati, akses menuju Kemandungan. Jika Anda terus menyusuri jalan ke arah selatan akan sampai di Siti Hinggil dan berakhir di Alun-alun selatan. Tidak banyak yang bisa dilihat pada bagian ini, kecuali anda tertarik pada filosofi arsitektural bangunan-bangunannya.

*****
Dunia pariwisata Yogyakarta seolah mendapat nafas baru, ketika pada tahun 2001 Sri Sultan Hamengku Buwono X, selaku Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mempublikasikan sebuah brand name untuk kota Yogyakarta, yakni Jogja Never Ending Asia. Konon, label ini dimaksudkan untuk meningkatkan positioning dan daya saing dunia bisnis dan pariwisata di Yogyakarta pada lingkup internasional. Langkah ini seolah mengikuti jejak negara tetangga, Malaysia, yang beberapa waktu sebelumnya memperkenalkan brand “Truly Asia”.

Namun, berseberangan dengan optimisme kalangan usahawan dan pelaku pariwisata, banyak pihak mengkuatirkan bahwa pelabelan tersebut mengarah melulu pada pengkomoditasan aspek-aspek tradisionalitas Yogyakarta saja. Jika benar demikian, tentu saja Kraton Yogyakarta tak akan dapat mengelak untuk menjadi salah satu komoditas unggulannya. Saya jadi teringat pada salah satu baliho besar yang dipampangkan di pusat kota untuk mempublikasikan “nama bisnis” Yogyakarta itu, gambar Kraton terlihat menjadi latarnya yang dominan.

“Saya sih ikut senang Kraton ramai oleh orang-orang piknik. Tapi, kalau anak sekolah kok sepertinya malah kurang perhatian,” kata Sedya Utomo (73), seorang abdi dalem yang lebih senang dipanggil dengan nama aslinya, Pak Harno. “Biasanya mereka bergerombol, berjalan cepat-cepat sambil mengobrol,” lanjutnya. Dalam catatan statistik tahunan Dinas Pariwisata, jumlah wisatawan pelajar hampir tujuh puluh persen dari keseluruhan wisatawan yang mengunjungi Kraton. Selebihnya terdiri atas wisatawan asing, instansi dan masyarakat umum. Pak Harno, yang saya temui ketika sedang berjaga di Gedong Kesatriyan ini, mengaku lebih senang menyaksikan wisatawan yang benar-benar mempunyai perhatian pada benda-benda di Kraton. “Saya senang melihat mereka terkagum-kagum pada isi Kraton. Itu artinya mereka menghargai budaya kita,” nilainya.

“Wisatawan yang berduyun-duyun itu ada pengaruh ekonominya tidak bagi bapak?” tanya saya sekenanya. “Wah, enggak mas. Yang biasanya dapat tips itu mereka yang jadi guide. Kalau untuk abdi dalem seperti saya, paling hanya diajak foto bersama,” tanggap Pak Harno datar. Berbeda dengan para guide yang terkadang menerima tips dari wisatawan yang dipandu, abdi dalem memang tidak berinteraksi langsung dengan wisatawan.

Adakalanya beberapa wisatawan mengajaknya mengobrol atau sekedar bertanya ini itu, yang baginya cukup untuk mengobati kesunyian berjaga sendirian selama 6 jam, mulai pukul 09.00-14.00 WIB. Tapi toh obrolan saja tidak menambah jumlah gajinya yang, akunya, hanya Rp.2.500,00 setiap bulan dengan jadwal kerja sepuluh hari sekali. “Yang penting hati saya tenteram, mas. Mengabdi begini kan bukan untuk mencari materi, tapi untuk kepuasan batin,” tambahnya. Sesuai sebutannya, abdi dalem yang berarti “pelayan atau pengikut Sultan”, benarlah jika kepatuhan dan pengabdian menjadi atribut utamanya.

Namun apakah penghargaan batiniah saja mencukupi? “Ya bagaimana lagi, wong yang mampu disediakan Kraton memang baru segitu,” kata lelaki berputra tujuh ini pasrah. Yah, menurut saya mestinya ditambahkan sikap “pasrah” sebagai atribut abdi dalem. Kondisi ini sebenarnya ironis mengingat peran para abdi dalem ibarat roda utama yang menggerakkan kehidupan Kraton, namun di sisi lain mereka kurang dihargai secara materi.

Saya tidak berhasil mendapatkan angka pasti berapa ribu abdi dalem yang bekerja—apakah pengabdian mereka layak disebut sebagai bekerja?—di lingkungan Kraton saat ini. Namun dari sebuah catatan Belanda pada tahun 1910, sekurangnya 2.750 orang mengabdikan dirinya untuk melayani keperluan istana, mulai dari mengerjakan pekerjaan “kasar” seperti membersihkan ruangan dan halaman, memasak makanan, merawat hewan peliharaan Sultan, atau pun menangani pekerjaan-pekerjaan “halus”, semisal menjadi juru tulis, mengelola perpustakaan atau menyelenggarakan ritual-ritual regular oleh Kraton.

Tapi saya rasa memang tidak pada tempatnya membandingkan pilihan menjadi abdi dalem, yang orientasi dasarnya mencari kepuasan batin, dengan profesi-profesi formal yang ada saat ini. Yang menarik, menurut Pak Harno, muncul kegelisahan di kalangan abdi dalem karena kesulitan mencari calon abdi dalem baru dari kalangan anak muda. “Sekarang jarang ada anak muda yang tertarik olah batin,” ujarnya. Jika orientasinya penghargaan material saja, jelas menjadi abdi dalem bukan pilihan menarik meskipun prestise sosial menjadi bagian langsung dari Kraton masih terasa. “Semua tetangga, bahkan dari lain desa sekali pun, kenal dengan saya. Pak Harno yang abdi dalem itu,” katanya tanpa bermaksud menyombongkan pengakuan masyarakat pada status sosialnya. Menilik rendahnya minat anak muda untuk menjadi abdi dalem, barangkali prestise semacam itu tidak lagi laku di kalangan generasi muda.

Secara umum pun telah muncul persepsi baru dalam memandang keberadaan Kraton dan kehidupan tradisionalnya sebagai sekedar museum hidup. Namun di sisi lain, terdapat pula pengakuan sepenuh hati terhadap karisma kultural Kraton dari berbagai kelompok masyarakat. Mungkin masih terekam jelas di benak masyarakat Yogyakarta, ketika jutaan orang dengan wajah sedih memadati kanan-kiri jalan sepanjang 17 kilometer, dari Yogyakarta sampai Imogiri, untuk mengantar jenazah Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1988. Sepuluh tahun kemudian, jutaan orang berjalan kaki dari seantero Yogyakarta mendatangi Kraton untuk menyatakan satu kata dengan Sri Sultan Hamengkubuwono X menuntut mundurnya rezim Orde Baru.

Pengakuan serupa, dalam bentuk yang lebih ekstrem tampak dalam ritual-ritual Kraton yang melibatkan masyarakat, seperti Garebeg dan Jamasan Kereta Pusaka. Pada ritual-ritual tersebut, telihat benar histeria dan keyakinan masyarakat akan kekeramatan Kraton yang penuh tuah dan berkah. Garebeg yang berakar pada ritual masyarakat Majapahit pada abad ke-14, muncul dalam bentuk yang sama namun pelaksanaannya diadaptasi berdasar penggalan Jawa dan Islam. Ritual ini diselenggarakan setiap tanggal 1 Syawal, 10 Dzulhijah dan 12 Maulud setiap tahunnya dalam penanggalan Islam.

Sultan mengeluarkan belasan gunungan—aneka jenis makanan dan sayuran yang disusun dalam bentuk kerucut—sebagai perlambang kemurah-hatian dan kedekatan Sultan pada rakyatnya. Ribuan masyarakat akan memperebutkan bagian-bagian dari gunungan, seringkali dengan hiruk pikuk yang brutal, yang dipercaya mengandung berkah dari Sultan. Demikian halnya dengan Jamasan Kereta, atau upacara memandikan sejumlah kereta milik Kraton, yang dilaksanakan setiap tahun pada hari Selasa atau Jum’at Kliwon pertama dalam bulan Sura (Muharram). Masyarakat tak segan-segan meraup air bekas cucian kereta langsung dari tanah atau menampungnya dalam wadah yang mereka bawa, dan mengusapkannya pada muka. “Biar berkah,” selalu demikian jawaban yang mereka berikan.

Ritual-ritual semacam itu memang mendekatkan kalangan Kraton dengan rakyatnya, namun dalam banyak hal upaya penjarakan tetap muncul dalam mitos-mitos dan simbolisasi. Mitos telah menciptakan misteri bagi orang kebanyakan, dan dalam khasanah kekuasaan Jawa penguasaan misteri secara ekslusif telah memberikan legitimasi kekuasaan pada pemegangnya. Akan tetapi, ketika kini penguasa Kraton telah ditanggalkan kekuasaan riilnya, apakah mitos-mitos masih perlu dipertahankan? Ataukah pihak penguasa Kraton, katakanlah demi kepentingan pariwisata, telah mengambil keuntungan dari legitimasi masyarakat, misalnya dari para abdi dalem, untuk menyempurnakan “pertunjukan teater” mengenai kerajaan tradisional Jawa?

Entahlah, saya hanya bisa menduga-duga jawabannya. Hanya saja, ketika berjalan pulang melewati Alun-alun Utara saya tergoda untuk memplesetkan tagline iklan sebuah produk film kamera. (Kraton Yogyakarta, ternyata) “tak seindah warna aslinya.”

Travelling Tips mengunjungi Kraton Yogyakarta:

- Dilarang mengenakan topi di lingkungan dalam Kraton. Jika anda tidak tahan sengatan matahari, bawalah kain selendang atau scarf sebagai penutup kepala karena banyak bagian terbuka di Kraton dengan sedikit pepohonan sedangkan ada larangan berteduh di bawah bangunan-bangunan yang ada.
– Berkunjunglah lebih awal, selain cuaca belum terlalu panas, seringkali loket tutup satu jam lebih awal daripada jam yang ada pada jadwal.
– Jangan segan meminta guide untuk berjalan lebih pelan dan menerangkan lebih banyak hal-hal yang ingin Anda ketahui.
– Bawalah kamera yang dilengkapi lampu kilat/blitz. Lampu penerangan di beberapa ruang pamer kurang memadai.
– Jika Anda tertarik menyaksikan pertunjukan seni tradisional tertentu, tanyakan jadwal lengkapnya di Tepas Pariwisata (loket penjualan karcis masuk) dan datanglah lebih awal karena semua pertunjukan diakhiri pukul 12.00 WIB

6 comments

  1. Jogjakarta tak seindah warna aslina…hmmm…???artikel yg cukup menarik perhatian..terimakasih atas kunjungan dan pesan2 yang di sampaikan..kami masyarakat yogyakarta selalu terbuka dengan saran demi kemajuan..silahkan berkunjung kemabali dan Yogyakarta selalu berhati Nyaman..

  2. Jika benar keraton tak seindah warna aslinya mungkin akan lebih bijak jika kita melihat abdi dalem bukan dengan pandangan keluhan..ada sisi heroik dari para abdi dalem itu,dimana beliau berusaha tetap menjaga kearifan lokal pada keraton jogjakarta..
    ada sebuah pengabdian tanpa batas disitu..
    keraton jogja akan tetap indah dimata dunia..dan dimata kita bangsa indonesia sangatlah bangga memiliki kota tua dengan kearifan budaya..hidup penuh etika..tata krama&ingat akan leluhur..

  3. yogyakarta…..apalagi kratonnya….
    kalau anda orang jawa asli pasti mengerti
    knapa tempat tersebut bukan hanya menjadi sekedar pariwisata
    coba rasakan anda masuk dufan dengan masuk kraton yogyakarta…
    samakah?

    namun ketika anda tidak nyaman dengan kekratonan itu,,,
    itu manusiawi….
    hanya saja saya rasa, kunjungilah tempat yang sesuai dengan kepribadian kita…
    so, akan enjoy!

  4. it’s simply jogya. Ngayogyokerto!
    Japemethe! Sarkem? Seniman? Bau Uyuh Jaran Malioboro?
    They are simply ngayogya!

    It’s simply djocdja!
    Kaliurang? Parangkusumo? KuthoGde? Kali Progo? Prambanan?
    The hollywood alias SouthHill? Kilen Pragi alias wessproxx?
    Tugu?

    Still remember…. around May 1998:
    i was riding my bike in a strange, weird, and mystical midday, a mid day??!!. It was very hot day as The mighty sun was shining very bright, but …silent. “Where is everyone?” i remember when i rose my head and looked up the sky. Far beyond, somewhere out djocja, might be neighboring places, or her town-sister, Sala-Kertosuro-Klaten. They looked very dark up the sky. i didn’t recount why. However, as i slighly read a message (adding the name of His Majesty Ngarso Dalem-X) saying “Yogyakarta kota anti kerusuhan”

    …. i was feeling strange then!
    i was thinking, If i could be in many places at the same time, i would witness such segawon segawon glathak running amok. i could be one of them, too, might be.
    I don’t know. I was a bad guy too, but i hated over-reacting of racist thing among my people! Aren’t those segawon javanese?

    i slowly passed a silent solo street….. i passed almost everyday the road but not like that day. It brought such a hot atmosphere there…

    i was awkward….so awkward as i could forget meanwhile my lost pride.

    several days ago i also lost one, it was my bad day: some young men of my age embarassed me right in front of my girl’s eyes. (the shit is still on my face now, but i got no revenge! I’ve got none, i lost my girl finally then)

    I’ve lost my pride at a night in y o g y a k a r t a. i know how it feels to have nothing.
    i won’t say i still have dignity, but let me warn you. For Javanese men, A man who is dead with a good name, he’s still alive some way. But a man living without pride and dignity, he’s dead.”

    It’ s just a lesson. Not more. And djogdjacharta taught me one. Tiada seindah warna aseli, memang…!

    Japemethe “Ad Maiorem Dei Gloriam”
    Jebolan Kandhang Manoek Jalan Sala.

  5. no coment…! coz setiap tempat pasti ada peraturannya. Begitu juga jika kit masuk rumah orang pastinya kita juga akan mengikuti pearturan yang dibuat oleh si pemilik rumah. Bayang kan jika kita tidak mematuhi peraturan si pemilik rumah apakah kita akan di perbolehkan masuk? Ya jika ia kita oasti segera di tendang keluar! ja di jika keraton bersama abdi dalemnya bersikap seperti itu adalah sesuatu hal yang sangat wajar dan tidak perlu kita permasalah kan oke…..!! boy???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s