Archive for August 2006
Sekolah itu penindasan!
“Bersekolah itu sama artinya menikmati penindasan!”. Ujaran pedas ini bukan diungkap oleh Paulo Freire, filsuf pendidikan asal Brasil yang kondang dengan buku “Pendidikan Bagi Kaum Tertindas” itu. Bukan pula datang dari mulut para pakar kurikulum pendidikan di tanah air, apalagi menteri pendidikan, melainkan dari seorang mantan pengelola serikat tani di Salatiga. Ia, Bahruddin namanya, adalah lulusan sekolah tinggi agama di Semarang. Dan ia merasa pernah menjadi salah seorang korban penindasan. Read the rest of this entry »
OLPC: Satu Laptop untuk Tiap Anak

Dunia teknologi selama ini dihidupi oleh inovasi alias terobosan-terobosan, yang tak jarang bersifat spekulatif, untuk menghasilkan produk-produk teknologi yang semakin canggih, terjangkau, namun tetap penuh manfaat. Upaya-upaya itu apabila dikawinkan dengan semangat filantropis—berderma—seringkali berujung pada hal yang tak terduga.
Salah satu bentuk pengikatan teknologi dengan filantropi adalah gagasan pengadaan laptop—komputer jinjing–seharga $100 AS untuk mendukung pendidikan dasar di negara-negara berkembang. Ya, harga yang dipatok hanya 100 dollar Amerika Serikat atau kurang dari Rp 1 juta! Padahal saat ini rata-rata harga terendah untuk laptop berkisar Rp 5 – 6 juta. Murah sekali bukan, tetapi apakah mungkin terealisasi? Read the rest of this entry »
Ndeq Kembe kembe: Ndak Apa apa
Ini lirik lagu berbahasa Sasak yang dipopulerkan oleh Samsudin melalui radio-radio komunitas di Nusa Tenggara Barat. Kisah lengkapnya, silahkan tilik di sini.
Araq Dedare Taoq Ku Berangen
Putiq Kuning Polak Bulune
Baruk Ku Bedait Leq Kubur Cine
Iye Jual Tahu Aku Jual Pindang
Iye Wah Bebalu Alu Lalo Midang Read the rest of this entry »
Book Cover Designs
Beberapa cover buku dan poster terbitan Laksbang yang kudesain. Ada sekitar sepuluh desain lain yang kubuat. Kalo ada yang butuh desain dengan gaya macam ini, boleh deh hubungi aku di sendaljapit@lycos.com rohmanyuliawan@gmail.com
Ilmukomputer.com: Pengetahuan Gratis Papas Kesenjangan Digital
Awal bulan Maret yang lalu, aparat kepolisian di Jakarta dikabarkan berhasil meringkus kelompotan pemalsu komputer yang disinyalir telah memasarkan ribuan komputer bekas hasil rekondisi. Oleh kalangan teknologi informasi (TI), keberhasilan polisi ini dianggap sebagai sebuah ironi karena mereka berpandangan praktek rekondisi komputer bukanlah aksi kriminal, melainkan upaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan komputer murah.
Kalangan TI berargumen ketersediaan komputer dengan harga terjangkau akan membantu upaya pemerintah untuk mengikis kesenjangan digital di tengah masyarakat, sebagaimana target Tujuan Pembangunan Milenium (MDG–Millenium Development Goals) yang mengamanatkan separuh dari jumlah populasi di Indonesia harus melek teknologi komputer pada tahun 2015. Ini berarti minimal 100 juta penduduk Indonesia harus mengenal komputer dalam dalam 8 tahun mendatang.
Pada kenyataannya, saat ini kurang dari 10% atau 21 juta penduduk negara kita yang telah mengenal komputer, tertinggal jauh dibanding negara-negara lain di Asia. Coba tengok kondisi beberapa negara tetangga terdekat kita, seperti Singapura, Malaysia dan Thailand. Di ketiga negara ini, tingkat kepemilikan komputer rata-rata mencapai 30% dari jumlah penduduk. Yang lebih mengagumkan adalah India, meski tingkat kepemilikan komputer hanya 12 unit per 1000 penduduk (atau hanya 0,12%) namun lapangan kerja dalam bidang TI telah mampu menyedot lebih dari 500.000 pekerja profesional. Angka ini melampaui jumlah pekerja di pusat industri TI Silicon Valley di Amerika Serikat.
Dari kasus India di atas dapat disimpulkan tingkat kesenjangan digital bukan melulu dipengaruhi oleh tinggi-rendahnya tingkat kepemilikan komputer, namun juga tingkat penguasaan dan pemanfaatan aneka jenis piranti lunak (software). Dalam hal ini, negara kita masih serba salah. Pertengahan tahun 2004 lalu Business Software Alliance (BSA), aliansi perusahaan-perusahaan piranti lunak komersial sedunia, mengeluarkan sinyalemen bahwa 87% sistem operasi dan aplikasi yang terpasang di semua komputer di Indonesia adalah produk ilegal alias bajakan.
Fakta di atas memunculkan dilema bagi dunia TI Indonesia. Tetap mempergunakan piranti lunak ilegal sama artinya melanggar Undang-undang Hak Cipta No 19/2002 dan terancam sanksi internasional, namun untuk sepenuhnya mempergunakan piranti lunak legal kemampuan ekonomi sebagian besar pemilik komputer di Indonesia masih belum memadai. Di sisi lain, tawaran alternatif untuk menggunakan piranti lunak open source (sumber bebas—sebagian besar dapat diperoleh dengan gratis) masih kurang populer bagi sebagian besar pengguna komputer. Menyikapi hal ini, tentu dibutuhkan solusi cerdas sehingga target 50% penduduk Indonesia melek komputer pada tahun 2015 tidak berakhir menjadi mimpi muluk.
Belajar TI Gratis
Sebuah sodoran solutif diajukan melalui www.ilmukomputer.com, sebuah situs internet yang menyediakan ratusan materi aneka pengetahuan mengenai komputer. Situs yang hadir sejak tahun 2003 ini dipelopori oleh Romi Satria Wahono, seorang staf Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Menariknya, materi-materi ini bisa didapatkan secara gratis, sebuah tawaran langka ditengah maraknya praktek komersialisasi ilmu pengetahuan di negara kita.
Penyuka aplikasi perkantoran tentu akan terbantu oleh uraian mengenai Microsoft Office (terdiri atas aplikasi MS Word, Excel, Access, Powerpoint dan Frontpage) dan Open Office. Bagi yang ingin belajar mengenai sistem operasi, tersedia panduan mengenai sistem operasi Windows dan Linux. Tersedia juga tutorial aplikasi untuk membuat database, desain grafis, teknik mengelola jaringan, merakit komputer, pemrograman hingga sejumlah artikel mengenai sejarah komputer, tokoh-tokoh komputer, netiket (etiket di dunia internet) dan beberapa makalah hasil penelitian. Layanan-layanan itu cukup mudah dimanfaatkan, terlebih semua materi disajikan dalam Bahasa Indonesia.
Sumberdaya tersebut tidak dikembangkan seorang diri oleh Romi, tetapi juga melibatkan ratusan kontributor sukarela dari berbagai kota di Indonesia dan luar negeri. Melalui internet, para kontributor mengirimkan tutorial/materi kuliah, terjemahan, ulasan, atau bermacam-ragam tips praktis yang kemudian disajikan ke dalam kategori-kategori materi kuliah pengantar, umum atau berseri. Bentuk kontribusi tidak hanya sebatas menyumbangkan materi tertulis, namun juga konsultasi online dengan Yahoo Messenger hingga menjadi panitia seminar.
Meskipun sebagian materi kuliah bisa dibaca atau didengar langsung pada websitenya, namun hampir seluruh materi kuliah harus didownload terlebih dahulu. Dokumen disajikan dalam bentuk dokumen elektronis pdf yang bisa dibaca dengan aplikasi gratis Adobe Acrobat Reader yang juga disediakan di situs ini. Jika sambungan internet atau waktu Anda terbatas untuk melakukan download, jangan kuatir karena pengelola situs ini juga menyediakan layanan pengiriman materi-materi yang telah disimpan dalam cakram data (CD) ke alamat Anda. Sebagai alternatif, anda juga bisa mengambil sendiri kiriman CD ke distributor-distributor yang tersebar di 18 kota di Indonesia dan beberapa kota di Arab Saudi, Korea serta Qatar. Seperti halnya layanan lainnya, pengiriman CD ini juga tidak dikenakan biaya sepeserpun.
Dengan semboyan “Kuliah Ilmu Komputer Gratis”, situs ini seolah mendesakkan kesadaran bahwa ilmu pengetahuan selayaknya diperoleh secara cuma-cuma dan tidak harus diburu melalui bangku pendidikan formal.
Situs Terbaik, Materi Lama
Dibalik perwajahan situs yang tetap sederhana, pada bulan Januari 2006 pengelola berupaya membuat terobosan dengan memperkenalkan layanan kuliah radio online (siaran radio digital yang didistribusikan melalui koneksi internet). Dalam program yang disiarkan setiap hari mulai pukul 17.00-20.00, pengunjung situs bisa mengikuti dua kuliah seperti lazimnya mendengarkan radio. Sayangnya, terobosan serupa itu tidak dilakukan pada materi tertulis. Sebagian besar materi yang tersedia dikembangkan pada tahun 2003, dan yang paling baru ditulis bulan Oktober 2005. Padahal perkembangan teknologi komputer terjadi dalam hitungan bulan, sehingga informasi dalam materi-materi kuliah di situs ini sudah terhitung ketinggalan jaman.
Perkembangan jenis layanan memunculkan konsekuensi meningkatnya biaya operasional yang harus ditanggung pengelola. Selama ini pengelola ilmukomputer.com masih bisa menyandarkan diri pada hasil donasi dan sponsorship dalam bentuk pemasangan iklan. Sesekali kebutuhan ini dicukupi dengan melakukan aksi heroik “mengamen” dihadapan para peserta yang mengikuti seminar-seminar yang mereka selenggarakan secara gratis.
Kegigihan para pengelola ilmukomputer.com mengupayakan terkikisnya kesenjangan digital rupanya tidak luput dari perhatian dan penghargaan sejumlah pihak termasuk dari kalangan pemerhati TI internasional. Karena dedikasi dan manfaatnya, pada tahun 2003 situs ini dianugerahi Diamond Web Award dan Golden Web Award. Setahun kemudian penghargaan dari WSIS Award 21 Continental Best Practice Example kategori e-Learning diraihnya. Beberapa penghargaan dari lembaga-lembaga di dalam negeri juga diperolehnya.
Tentu saja rendahnya tingkat melek komputer di Indonesia tidak serta merta terpapas habis dengan hadirnya situs ilmukomputer.com. Namun tidak dapat disangkal kehadirannya telah menjadi elemen penting dalam proses pembelajaran digital di tengah masih minimnya dukungan infrastruktur dan kebijakan pemerintah pada dunia teknologi informasi (TI).
(Buletin Kombinasi Edisi 9, Desember 2005)
Merengkuh Kepercayaan Lewat Siaran
Menurut tengara Dinas Koperasi dan UKM Propinsi Nusa Tenggara Barat, pada tahun 2005 sekurangnya 10% dari sejumlah 2700 koperasi di propinsi ini dalam status “beku”. Artinya, mereka tidak melakukan aktifitas sama sekali. Sebagian besar diantaranya adalah koperas tani dan koperasi simpan pinjam yang tersisih akibat tekanan persaingan dengan lembaga keuangan lain, semisal bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang memiliki modal lebih besar dan tingkat bunga lebih rendah. Read the rest of this entry »
Ketika Air Mengucur di Kamal Muara
Ketersediaan air bersih menjadi isu kritis di akhir abad ini, bahkan dibeberapa negara telah menjadi pemicu konflik horisontal antar masyarakat. Selain disebabkan oleh merosotnya daya dukung lingkungan dan pencemaran karena aktifitas industri dan masyarakat, masalah akses yang adil terhadap sumberdaya air juga dipengaruhi oleh kebijakan pengelolaannya. Read the rest of this entry »
Berbekal TI, Kebumen Melawat ke Stockholm
Satu lagi prestasi ditorehkan kalangan teknologi informasi (TI) Indonesia di kancah TI dunia. Setelah pencapaian membanggakan dari sejumlah siswa sekolah menengah Indonesia yang memenangkan kompetisi Google Code Jam yang diadakan bulan Maret 2006 lalu, kali ini giliran aktifitas Komunitas TI di Kebumen, Jawa Tengah, yang layak mendapat acungan jempol. Read the rest of this entry »
Tenar Berkat Rakom: Di Lombok, Samsudin Saingi Peterpan
Nasib orang siapa sangka. Pepatah itu nampaknya berlaku benar bagi Samsudin, warga Desa Kuripan, Kecamatan Kediri, Lombok Barat. Lelaki 30 tahun asli Sasak itu saat ini tengah mereguk ketenaran di kawasan Lombok Barat (Lobar) berkat lagunya Ndeq Kembe-kembe (dalam bahasa Indonesia berarti tidak apa-apa, red).
Telah hampir setahun belakangan ini, Ndeq Kembe-kembe, lagu yang dikemas dalam bahasa Sasak itu wara-wiri mengudara di hampir seluruh radio komunitas (rakom) di wilayah Lobar. Lagu yang dicipta dan dibawakan sendiri oleh Samsudin itu tak hanya menarik minat pendengar rakom di wilayah Lobar saja, melainkan juga mampu menggaet banyak pendengar dari wilayah Lombok Tengah dan Timur. Bahkan dari kuantitas, jumlah request untuk lagu Ndeq Kembe-kembe di rakom berhasil mengalahkan kelompok musik tenar asal Bandung, Peterpan. Dalam sehari, sebuah rakom bisa menerima hingga 30 request yang khusus meminta diputarkan lagu Ndeq Kembe-kembe. Alhasil, seperti halnya lagu-lagu Peterpan syair lagu Ndeq Kembe-kembe juga banyak dihapal luar kepala oleh anak-anak kecil. Read the rest of this entry »
Wikipedia, Ensiklopedi Keroyokan 100 Bahasa

“Welcome to Wikipedia, the free encyclopedia anyone can edit!” Demikian kalimat pengantar yang tertulis di halaman pertama situs internet yang beralamat di www.wikipedia.org. Jika dialihbahasakan dalam Bahasa Indonesia, kira-kira berbunyi seperti ini: “Selamat datang di Wikipedia, ensiklopedi gratis yang bisa disunting siapa saja”. Ensiklopedi gratis dan bebas sunting? Ya, benar. Anda pun bisa melakukannya…
Wikipedia adalah sumber aneka informasi berbasis internet yang disajikan dalam bentuk artikel, foto atau ilustrasi dilengkapi dengan link-link antar item informasi yang berkaitan. Pemaparan informasi dikemas dalam bentuk sebuah ensiklopedi, yakni informasinya dipilah berdasarkan kategorisasi. Misalnya anda menginginkan informasi mengenai komik, maka detail-detail informasi mulai dari sejarah komik, nama-nama komikus, jenis-jenis komik sampai paparan mengenai ideologi si komikus akan muncul di layar komputer. Sesuai dengan pernyataan dalam kalimat pengantarnya, informasi-informasi tersebut dapat ditambahi, disunting atau bahkan dihapus sama sekali oleh siapapun, kecuali untuk beberapa bagian yang diproteksi. Read the rest of this entry »
Kringgg…Kriingg, Ada Kiriman Uang untuk Sairah…
Lagu-lagu bernuansa tradisional dalam bahasa Sasak—bahasa lokal masyarakat Pulau Lombok–tengah mengalun dari dua speaker kecil yang terpasang di luar bangunan kecil bercat biru di sudut sebuah rumah di Moncok Karya, Pajeruk Kecamatan Ampenan, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. Rimbun dedaunan pohon mangga sedikit menghalangi jendela kaca berukuran besar yang bertuliskan “Radio Komunitas Bragi FM”. Read the rest of this entry »
Andai Kris Dayanti Mampir ke Karangbanjar
Anda tahu Kris Dayanti, penyanyi kondang yang suka tampil berganti-ganti gaya rambut itu? Boleh jadi dia akan kegirangan setengah mati jika berkesempatan mengunjungi Desa Karangbanjar, Purbalingga. Apa pasal? Di desa ini, terdapat ratusan rumah tangga yang menekuni keahlian menyusun helai-helai rambut menjadi aneka produk wig, sanggul atau cemara. Belum lagi belasan pabrik besar, tersebar di sekitar kota Purbalingga, dengan puluhan ribu pekerja yang siap memproduksi jutaan produk wig dan bulu mata sintetis setiap bulannya. Read the rest of this entry »
Hi, I am from Pare. And I speak English…
Bila ada kisah penguasaan Bahasa Inggris bisa mengubah nasib atau karir seseorang, itu biasa. Kalau bahasa Inggris mampu mengubah wajah suatu perkampungan, itu baru di laur kebiasaan. Hal yang belakangan inilah yang terjadi di Kota Pare, Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kota kecamatan kecil yang terletak 24 kilometer timur laut dari Kota Kediri ini, selain terkenal dengan komoditas madu lebah dan sawo manila, kini memiliki beberapa desa yang dilekati predikat sebagai kampung Inggris. Bukan, bukan karena banyak bule yang berlalu-lalang di sana, melainkan karena menjamurnya tempat kursus Bahasa Inggris di wilayah ini.
Ir. Roy, Internet dan Pendidikan Demokratis
Dari sekian banyak kesenjangan global yang paling kentara pada dekade ini, ketimpangan penguasaan teknologi dan informasi adalah salah satunya. Kemiskinan seringkali kemudian dituding sebagai biang utamanya. Keterbatasan finansial diinterpretasikan berbanding lurus dengan keterbatasan akses pada teknologi dan informasi, yang pada gilirannya memapas kesempatan kelompok miskin untuk memperbaiki kondisi kehidupannya. Read the rest of this entry »
Juru Sembuh Radio Komunitas dari UNRAM
Setiap pengelola radio komunitas pasti pernah pusing tujuh keliling ketika perangkat siar mereka kena masalah. Sebagai misal, transmitter mati sama sekali atau siaran bocor menyusup ke pesawat televisi milik warga (biasanya disebut “splet” atau interferensi). Beruntunglah radio yang memiliki pengelola yang memiliki kemampuan untuk memperbaiki kerusakan semacam itu. Jika tidak, pilihannya kerapkali hanya dua: berhenti siaran sama sekali atau harus membeli peralatan baru. Read the rest of this entry »













